
Denis kaget mendengar perkataan Meli yang mengatakan kalau dia dan Farid telah menikah. Denis merasa tak percaya dengan perkataan dari Meli karena Farid terkenal sangat dingin dengan wanita dan juga tak pernah dekat dengan wanita mana pun. Sama dengan bosnya, Liyon yang tak pernah ada kabar kalau dia dekat dengan seorang wanita meskipun banyak wanita yang berusaha ingin mendekati mereka berdua.
"Tunggu dulu, jadi kamu sudah menikah dengan tuan Farid? Itu artinya kalian sudah menjadi suami istri?" tanya Denis menatap Meli tak percaya, dan Meli menjawab hanya dengan anggukan kepalanya.
"Katakan sejak kapan kalian menikah dan menjadi pasangan suami istri. Apa kah kalian tinggal bersama dan juga tidur bersama?" tanya Denis lagi.
"Tidak - tidak, aku tidur dikamar ku sendiri dan kami tak pernah tidur bersama selama menikah. Pernikahan kami terjadi begitu saja karena keinginan papaku, dan pernikahan kami sudah berjalan 2 bulan. Tolong maafkan aku." jawab Meli dengan panik dan juga merasa bersalah pada Denis.
"Jadi dia tak pernah menyentuhmu selama kalian menikah? Tapi kalian telah menjadi sepasang suami istri, lalu bagaimana dengan diriku sayang?" tanya Denis dengan raut wajah sedih.
"Maafkan aku, aku akan minta cerai nanti saat semuanya sudah selesai." jawab Meli merasa bersalah pada Denis.
"Tolong jangan pernah mau dekat atau pun tidur dengan dia ya sayang. Aku tak akan rela jika kalian melakukannya dan jujur sekarang aku jadi merasa cemas juga cemburu." ucap Denis menggenggam tangan Meli.
"Maafkan aku. Aku janji aku pasti akan minta cerai padanya nanti." jawab Meli meyakinkan Denis.
"Baiklah sayang aku percaya kamu akan bisa menjaga diri mu, ayo sekarang aku antarkan kamu pulang. Nanti aku turunkan agak jauh dari rumah kamu." ucap Denis pada Meli, dan mereka pun pulang bersama dengan Denis mengantarkan sampai di persimpangan jalan.
Sementara dari arah jalan yang berlawanan Farid mendapati mereka berdua dalam mobil, serta adegan apa yang mereka lakukan berdua didalam mobil. Farid hanya bisa mengeratkan pegangannya pada setir mobil menyaksikan sesuatu yang tak pantas dilakukan oleh seorang wanita yang sudah bersuami.
"Sampai besok sayang." ucap Denis pada Meli yang turun dari mobil Denis dengan wajah sumringah.
"Hati - hati dijalan." ucap Meli dan melambaikan tangannya lalu berjalan ke arah rumahnya.
...🍂🍂🍂...
Farid yang melihat menunggu sampai Meli masuk kedalam rumah sampai 5 menit agar Meli tak kaget kalau dia tiba - tiba mendapati dirinya masuk begitu Meli masuk rumah.
__ADS_1
"Huuuff, sadar Rid kau menikahinya hanya untuk bertanggung jawab atas kehamilannya saja tak lebih dari itu, jadi jangan mengharapkan yang lebih dari situ." Farid bergumam berusaha untuk menguatkan hatinya dan menyadarkan dirinya atas tujuannya menikahi Meli.
"Sudah di rumah. Kapan pulang?" tanya Farid saat dia masuk kedalam rumah dan mendapati Meli di dapur sedang masak.
"Sudah dari tadi." jawab Meli cepat.
"Belum makan? Mau masak apa? Biar aku buatkan." Farid mendekat setelah dia melepaskan jas-nya dan melipat lengan kemejanya.
"Tidak usah aku bisa masak sendri." tolak Meli yang gak mau merepotkan Farid
"Jangan makan mie instan, duduklah aku buatkan makanan. Dan maaf aku tak membuatkan untuk mu tapi untuk anak ku, karena aku gak mau kamu memberinya makanan mie instan saja nanti usus dia jadi kecil." jawab Farid menyingkirkan Meli dan mendorongnya ke kursi meja makan.
Dengan cepat Farid membuat nasi goreng dengan telur mata sapi dan sosis bakar. Farid yang dari dulu memang selalu masak sendiri sama Liyon saat mereka tinggal bersama jadi membuat Farid terlihat sangat mahir membuat masakan.
"Kenapa dia terlihat sangat cekatan menggunakan alat dapur? Dan dia juga terlihat sangat santai seolah sudah mengetahui apa fungsi semua alat dapur yang ada." gumam Meli saat mengawasi Farid memasak.
"Makan lah pelan - pelan masih panas." ucap Farid pada Meli saat dia menghidangkan masakan nasi gorengnya pada Meli.
"Makan pelan - pelan saja gak ada yang mau merebut makanannya, setelah itu minum vitamin dan susunya terus tidur." ucap Farid mengusap kepala Meli dan melangkah masuk kedalam kamarnya untuk mandi dan istirahat.
Keesokan paginya seperti biasa Farid membuat sarapan dan menatanya di atas meja makan. Namun untuk pagi ini agak sedikit berbeda, karena Farid tak menunggu Meli sampai bangun dia sudah pergi dan hanya meninggalkan pesan singkat saja yang ditulis ke subuah kertas dan diselipkan dibawah piring.
Malam itu saat Farid pulang dia sudah mendapati Meli duduk menunggunya, gak sedikit aneh bagi Farid yang datang disambut oleh Meli, Farid hanya diam memperhatikan Meli dan mengikuti arahan Meli untuk mengikuti dia.
"Duduklah tuan Farid," ucap Meli pada Farid, lalu menyerahkan sebuah kertas pada Farid saat mereka sudah duduk di ruang tengah.
"Ini apa?" tanya Farid yang merasa penasaran.
__ADS_1
"Tuan Farid buka saja, dan saya minta agar tuan Farid menyetujuinya tanpa sulit." ucap Meli dengan sangat percaya diri.
Farid mengerjap berkali - kali saat dia membaca isi dari kertas itu, seolah tak percaya Farid terus membacanya berulang kali dan berusaha menahan sesak di dadanya.
"Ini adalah perjanjian cerai?" tanya Farid menatap Meli tak percaya.
"Iya, aku tau tuan akan menepati janji tuan. Tapi aku juga ingin sebuah kepastian sebagai pegangan saya untuk membuat hati saya tenang. Kan tuan sendiri yang bilang kalau saya tak boleh merasa khawatir dan juga harus menjaga suasana hati agar selalu senang dan bahagia karena itu mempengaruhi kehamilan serta kesehatan calon anak tuan yang sedang tinggal didalam perut saya." ucap Meli tertunduk karena tak berani menatap Farid.
"Kamu takut pada ku?" tanya Farid dan Meli tak menjawab.
Farid menghela nafas dalam, "Kamu tak perlu takut begitu agar anakku juga tak takut pada ku. Aku tak akan mengganggu kehidupanmu tapi aku mohon jaga kandungan mu dengan baik itu saja yang ku minta." ucap Farid dengan nada lembut.
"Apa kamu sudah makan malam?" tanya Farid dan Meli mengangguk sebagai jawaban.
Farid bangun dari duduknya menghampiri Meli, "Cepat istirahat sudah malam, jangan lupa minum vitamin dan susunya." ucap Farid mengusap kepala Meli dan juga mengecupnya.
"Eh?" Meli yang kaget menyentuh puncak kepalanya yang baru saja dikecup oleh Farid, lalu menatap Farid yang masuk kedalam kamar dengan memegangi belakang lehernya yang terasa sakit dan kaku.
"Dia mengecup ku."gumam Meli yang masih memegangi kepalanya.
"Eh, dia juga sudah menanda tangani suratnya tanpa bertanya yang aneh - aneh, mudah sekali. Kenapa aku tak melakukannya dari dulu ya." Meli tersenyum melihat Farid sudah menanda tangani surat perjanjian cerai yang diajukannya.
Saat malam hari kebiasaan Farid tetap sama, yaitu terbangun ditengah malam dan akan masuk kedalam kamar Meli untuk melihat kondisi Meli dan juga kandungannya Meli, namun malam ini Farid tak jadi masuk karena dia mendengar Meli masih terbangun dan terdengar sedang berbincang dengan seseorang lewat panggilan telepon.
Farid menutup matanya dan berusaha menahan diri dengan menghembuskan nafas panjangnya dengan kasar berkali - kali dan kembali lagi masuk kedalam kamarnya sendiri.
Setiap pagi Farid masih tetap membuatkan sarapan untuk Meli seperti biasa seolah tak terjadi apa - apa diantara dirinya dan Meli. Hanya bedanya hari - hari yang dilewati Meli sendirian tanpa ada teguran atau omelan dari Farid lagi. 1 minggu, 2 minggu hingga minggu - minggu berikutnya. Farid hanya mengantar Meli dan bertegur sapa dengan Meli saat mau memeriksakan kehamilannya saja, selebihnya Farid benar - benar tak ikut campur dengan urusan Meli lagi. Bahkan saat mereka bertemu disebuah restoran Farid juga melewati Meli dan Denis begitu saja.
__ADS_1
Semakin hari usia kehamilan Meli semakin besar sehingga Meli tak bisa lagi menyembunyikan semuanya dari Denis dan mulai menceritakan semua kisahnya pada Denis. Dan penerimaan Denis serta tak berkurangnya rasa sayang Denis pada dirinya membuat Meli jadi semakin menyukai Denis.
"Pak, Bu kini usia kehamilannya sudah memasuki bulan kedelapan dan biar bisa mempercepat kelahiran normal sebaiknya digunakan untuk berhubungan suami-istri agar proses persalinannya nanti bisa secara alami." tegas dokter saat Meli melakukan pemeriksaan kehamilan diantar oleh Farid.