
Setelah mendengar pengakuan dari lira liyon terdiam tak bersuara, Yang ada dalam pikiran liyon adalah bagaimana bisa kabar itu bocor padahal dia belum menyetujui dan juga belum dipublikasikan.
"Jadi kakak memang sudah berencana untuk pergi meninggalkan aku?" liyon bertanya dengan tatapan sedih.
"Bukan begitu, aku hanya ingin membuat pertahan diri agar aku tak merasakan sakit yang lebih sakit lagi dari pada dulu. Jadi setelah aku mendengar kabar itu aku berusaha keras untuk menanamkan pada pikiran ku bahwa kamu hanyalah mimpi terindah ku. Dengan begitu aku pasti tak ada merasa sakit yang lama, karena sebuah mimpi hanya akan tinggal dalam angan tak untuk jadi nyata. Maafkan aku liyon." lira menangkap wajah liyon setelah mengatakan isi hatinya.
"Tak bisakah kakak hanya melihat diriku saja dan hanya tubuh ku yang tak punya apa - apa, hanya seorang liyon." pinta liyon pada lira karena dia sudah mulai merasa takut akan rencana pemikiran lira.
"Maaf aku telah membuat mu takut, tapi aku benar - benar tak bermaksud begitu"
"Hem" wajah sendi liyon semakin terlihat.
"Apakah tau malam itu saat aku menyadari tentang perasaan ku, tanpa peduli aku berlari ke taman untuk menghubungi dirimu dan aku tak peduli kamu sedang apa di sana, karena yang aku pikirkan adalah aku mau mengutarakan isi hatiku dan mengatakan bahwa aku mencintaimu serta ingin mengajakmu pacaran. Aku berlari seperti orang gila waktu itu." lira menjelaskan tentang kejadian malam dia menyatakan cintanya pada liyon.
"Aku tau, karena kakak emang sudah gila karena aku." jawab liyon tersenyim dan menempelkan dahinya pada dahi lira.
"Jangan lagi berfikir untuk pergi meninggalkan aku karena alasan perbedaan status atau karena pria lain. Karena jika itu terjadi maka aku akan menangkap kakak dan akan memberi hukuman yang sangat berat, mengerti?"
"Hahaha, kamu akan memberiku hukuman apa? Hukuman cambuk apa hukuman pancung?" lira bertanya sambil tertawa.
"Tidak keduanya, karena aku sangat mencintai mu." jawab liyon memeluk lira.
"Berjanjilah bahwa kakak tak akan meninggalkan aku dan akan selalu berada disisi ku, berjanjilah kak." pinta liyon yang masih memeluk lira.
"Ya aku janji, aku janji." lira menjawab dengan memeluk liyon balik.
"Aku sangat mencintaimu liyon, maukah kau menikah dengan ku?" ucap lira seketika.
Liyon terkejud dan tertawa seketika,"Kenapa kakak bilang begitu? Harusnya yang bilang begitu adalah aku, bukan kakak."
"Aku akan mengatakan kata - kata itu saat aku selesai menyelesaikan semuanya, karena itulah aku ingin kakak bertahan dan menunggu sebentar lagi. Kakak mau kan menunggu ku sedikit lagi?" tanya liyon dengan menatap lira penuh dengan kasih sayang.
"Iya aku mau, aku mau liyon." lira memeluk liyon lagi.
"Aku tak pernah menyangka kalau aku bisa melihat sisi Bos ku yang seperti ini, orang yang biasanya tegas juga dingin bagaimana bisa menangis dan begitu sedih seperti ini." lira menangkap kedua pipi liyon dan tersenyum manis pada liyon.
"Hanya kepada kakak aku memperlihatkan diriku yang sebenarnya, dan hanya kakak seorang wanita yang akan tau sisiku yang ini. Karena kakak adalah wanitaku, kekasihku dan dunia ku." jawab liyon dan ikut tersenyum.
"Kenapa kau begitu manis." lira mendekat dan menc*um bibir liyon.
Liyon terkejud dan langsung mendorong tubuh lira, "Apa yang kakak lakukan? Aku sudah bertahan dari tadi jangan membuat ku kalah dengan tekad ku, aku sudah berjanji tak akan melakukan itu tanpa persetujuan dari kakak." jawab liyon seketika.
"Aku tau, aku tau itu. Tapi sebulan yang lalu kamu sudah menyentuh ku kan." jawab lira mengingatkan liyon.
"Tapi itu..." kalimat liyon terjeda, "Itu kan saat aku terkena pengaruh obat dan aku tau kakak terpaksa melakukan itu untuk menolong ku. Karena itu aku minta maaf, aku tak akan melakukannya lagi dan aku akan bertahan untuk itu." jawab liyon menundukkan wajahnya karena dia merasa bersalah pada lira.
__ADS_1
"Bukankah tadi kamu bilang bahwa kamu tak pernah bisa bertahan jika berada didekat ku, dan kamu juga bilang pertahanan mu selalu jebol saat berada bersama ku.?" lira berdiri menatap liyon yang tertunduk.
"Karena itu, karena itu aku berusaha untuk melakukannya dengan benar sebab aku ingin menghormati keputusan kakak dan juga menepati janjiku pada kakak. Jadi tolong jangan menggoda ku karena aku tak akan bisa mempertahankannya lagi." jawab liyon yang masih tertunduk.
"Jangan ditahan lagi dan jangan menahan diri, aku didepan mu dan aku menginginkanmu sekarang karena aku mencintai mu liyon." bisik lira ditelinga liyon.
"Kak." liyon menatap dengan tatapan sayu.
"Iya, apa kau tak ingin melakukannya dengan ku? Kau tak merindukan ku? Aku sangat, emm." kalimat lira tertelan oleh c*uman liyon yang dalam.
"Kak aku sudah tak sanggup lagi." liyon mengangkat tubuh lira dan membawahkan masuk kedalam salah satu kamar yang ada di vila itu.
Liyon menatap lira dan dengan cepat membuat tubuh lira terekspos dengan jelas oleh kedua bola mata liyon.
"Kenapa kakak begitu manis, jangan tunjukkan tatapan seperti itu pada orang lain, tunjukkanlah tatapan itu hanya pada ku saja. Aku sangat mencintai mu kak." ucap liyon dan langsung menc*um kening, pipi, hidung bibir dan turun ke leher lalu berhenti di dada lira sebentar, terus melanjutkannya sampai bawah hingga kaki lira. Liyon seolah ingin menunjukkan pada lira bahwa dia sangat mencintai lira dan seluruh yang ada pada diri lira.
"Kak kau adalah candu ku, aku tak akan pernah bisa berhenti jika sudah menyentuhmu. Jadi ijinkan, tolong ijinkan aku memulainya sekarang juga karena aku sudah tak tahan lagi." ucap liyon dan lira mengangguk.
"Emm."
"Lira, aku mencintaimu." bisik liyon di sela - sela permainannya.
Suara - suara nikmat yang keluar dari liyon dan juga lira dimalam itu saling bersahutan bagaikan nyanyian merdu keduanya. Liyon sangat menikmati permainannya dan lira juga menikmati disetiap sentuhan yang diberikan oleh liyon pada dirinya, mereka bagaikan dua orang yang tenggelam dalam dunia mereka sendiri.
Liyon memang tak bisa berhenti dan lira memang benar candu sang liyon, bagai tak pernah puas liyon terus menikmati lira dan terus menjelajahi disetiap sudut tubuh lira seolah dia sedang menikmati hidangan lezat yang tak akan pernah ada lagi besok.
Liyon : "Lira"
Lira : "Pelan sedikit liyon."
Liyon : "Maaf, maafkan aku"
Lira : "Hahaha." lira terbahak saat tiba - tiba saja adik kecil liyon keseleo.
Liyon : "Jangan tertawa"
Lira : "Iya iya maaf, sudah ku bilang pelan - pelan kan."
Liyon : "Sudah tersetel begini bagaimana dong.?"
Liyon dan lira menghabiskan malam dengan sangat bahagia, mereka berdua telah tenggelam dalam buaian cinta dan kasih sayang yang sangat besar dan dalam hingga mereka merasa bahwa dunia ini hanyalah milik mereka berdua saja yang lainnya ngontrak.
Pagi itu liyon terbangun dan dia melihat lira yang masih terlelap disebelahnya, liyon tersenyum dan menyibakkan rambut lira yang menutupi sebagian wajahnya.
"Kamu pasti lelah ya kak, maaf ya semalam aku tak menepati janji. Padahal aku sudah berusaha untuk pelan dan pada akhirnya aku membuat mu jadi seperti ini." liyon mengecup kening lira.
__ADS_1
"Ehm liyon." lira membuka mata dan bergerak dengan malas.
"Hem, kakak jadi terbangun. Maaf semalam aku membuat kakak kelelahan ya, padahal kakak berusaha bertahan walau sudah lelah, tapi aku tak tau diri yang terus memintanya lagi dan lagi." ucap liyon mengusap pipi lira.
"Tak apa liyon, aku juga suka." jawab lira dan menutup matanya lagi.
"Maaf ya sayang membuatmu jadi seperti ini, tidurlah lebih lama lagi." liyon mengecup lagi kening lira.
"Ehm." gumam lira dan dia pun terlelap lagi dalam tidurnya.
Liyon bangun dan setelah dia selesai mandi liyon mengaktifkan hanponnya, disana ada begitu banyak panggilan dari kakaknya, Farid, satria, ketiga temannya yang lain dan juga papanya, dan ada pesan dari kakak iparnya, satria, teman - temannya dan juga dari papanya.
"Banyak juga yang menghubungi aku." gumam liyon dan mulai membuka satu persatu pesan itu.
Satria hari minggu 20.00
"Hei kadal kau bawah kemana kakak ku? Awas ya kalau sampai kau kembalikan dia dalam keadaan rusak, ku hancurkan hidup mu" dan diakhir pesan diberi emot marah
"C*h kau akan menjadi adik ipar ku, jangan macam - macam pada ku." gumam liyon.
Brayen hari Minggu 19.15
"Liyon katakan padaku apakah benar kakak ipar adalah kakaknya si satria? Kau tega sekali pada ku, kenapa kau tak cerita aku jadi bulan - bulanan satria dia hampir sama membuat cafe ku bangkrut."
"Kau tak pernah tanya untuk apa aku cerita." gumam liyon dan lanjut membuka pesan dari Bagas
Bagas minggu 12.00
"Hei Li aku kesal dengan mitra mu yang bernama Bagas, kenapa dia memiliki nama yang sama dengan ku jadi bikin aku kesal saja. Dia datang ke rumah sakit dengan sok dan bilang kalau dia akan jadi mertua pengusaha hebat dan besar dan mau dilayani tanpa mau mengantri."
"Hem, dia mulai besar kepala rupanya." liyon tersenyum sinis dan membuka pesan Saputra.
Saputra minggu 15.00
"Liyon kau tega mengkhianati aku, bagaimana bisa kau tak cerita pada ku kalau kakak ipar adalah kakaknya satria.! Dia datang mau membuat tuntutan untuk mu karena membawah kakaknya pergi."
"Hahaha, itu adalah deritamu sebagai seorang pengacara." liyon terbahak membaca pesan Saputra.
"Mau menuntut ku karena membawah kakaknya pergi? Aku akan menuntutnya balik karena mau menghalangi aku mendekati calon istri ku." gumam liyon dan tersenyum.
Yuki minggu 13.00
"Li kau dimana sekarang? Apakah ada hal penting sampai kamu mematikan ponselmu? Tadi papa menghubungi aku dan bertanya soal lira, sepertinya ada sesuatu yang akan terjadi kamu hati - hatilah, dan apakah lira baik - baik saja?"
"Ada apa? Kenapa kakak terlihat khawatir." gumam liyon dan langsung membuka pesan dari papanya.
__ADS_1
"Deg" mata liyon terbelalak lebar membaca pesan dari papanya, liyon mengepalkan tangannya menahan amarah yang hampir memuncak.