
"Anu tuan, itu, ini sudah lewat 3 bulan dan saya ingin bicara sesuatu sama tuan." Meli berkata ragu - ragu sambil tertunduk tak berani menatap Farid karena dia sedang berusaha untuk menahan debaran dalam hatinya.
"3 bulan?" Farid berfikir sejenak, "Oh iya, aku hampir lupa jika kamu tak mengingatkan. Sudah 3 bulan lewat ya, maafkan aku, tunggu sebentar ya aku sudah menyiapkannya tapi lupa aku taruh dimana." ucap Farid yang terlihat sibuk membuka laci sedang mencari sesuatu.
Meli mencuri pandang dan dia tersenyum melihat Farid yang sedang sibuk mengobrak abrik laci meja kerjanya. "Kenapa aku baru sadar kalau dia sungguh sangat menarik, begitu lembut saat bersama dengan putri kami, dan juga begitu keras serta terlihat sangat jahat begitu berhadapan dengan orang yang dianggapnya pengganggu." gumam Meli dalam hati saat dia teringat akan Farid setiap kali ketemu kalau mengantarkan berkas papanya yang ketinggalan.
"Ini, aku sudah menanda tangani itu dan tinggal kamu serahkan ke pengadilan saja maka akan segerah diperoses dengan cepat, karen aku juga sudah bilang pada pihak mereka kalau aku akan melakukan perceraian dalam waktu dekat dibulan - bulan ini." ucap Farid dengan santai dan menyerahkan berkas surat cerai kepada Meli.
"I-ini?" Meli menerima dan membukanya, mata Meli terbelalak dan tubuhnya bergetar setelah dia melihat isi dan membaca kalau itu adalah surat cerai yang sudah ditanda tangani oleh Farid
"Iya, itu adalah surat cerai kita. Sebenarnya aku sudah menyiapkannya beberapa waktu lalu, cuma karena sibuk jadi aku menyimpannya dulu." Farid menjelaskan dengan sangat tenang seolah dia tak keberatan dan memang sudah siap untuk melepaskan Meli.
"Ini apa?" Meli bertanya saat dia mengeluarkan sebuah cek dari dalam amplop coklat itu juga.
"Oh iya, itu adalah beberapa jumlah untuk kompensasi atas waktu yang kamu habiskan bersama dengan ku, serta ucapan terima kasih dan juga maaf karena kamu sudah mau melahirkan putri ku juga kesalahanku yang sudah membuat hidupmu jadi berantakan karena ulah ku." jelas Farid lagi.
"Aau, hiks." suara Arlin yang terbangun dari tidurnya.
"Oh sayang, putri papa kebangun karena berisik ya?" Farid mendekati box bayi dan menggendong putri kecilnya.
"Jangan lupa, tutup lagi pintunya jika kamu keluar." ucap Farid berjalan melewati Meli yang masih berdiri mematung.
"Apa yang dia bilang barusan? Putrinya, melahirkan putrinya. Arlin juga adalah putriku dan aku yang mengandung dia selama 9 bulan dan dia mendominasi sendiri. Berani sekali dia.!" Meli menggerutu dengan kesal pada Farid yang sudah berlalu keluar dari ruang kerja dan menuju kedalam kamarnya.
Meli keluar dan kembali kedalam kamarnya sendiri dengan sangat marah. Melemparkan berkas surat perceraiannya begitu saja dilantai dengan cara membantingnya.
Sementara didalam kamar Farid dia sedang mengurus putrinya, memanaskan susu yang sudah disiapkan oleh Meli dan juga mengganti popoknya yang sudah penuh dengan yang bersih. Tangan Farid bergetar saat dia menggantikan popok putrinya, karena hatinya sedang tak menentu.
"Aah." Arlin seolah sedang berusaha mengajak Farid bicara.
"Apa sayang, sudah haus ya." Farid berbicara dengan lembut dan mencium pipi putrinya, dan Arlin menangkup wajah Farid dengan kedua tangan mungilnya lalu tertawa.
"Hahaha, putri papa sudah besar ya. Tapi kamu masih harus tidur lagi sayang, karena ini bukan waktunya bermain." ucap Farid menyerahkan botol susu pada putrinya dan tidur disebelah putrinya dengan mendekap putrinya.
Pelan tapi pasti Arlin pun terlelap lagi begitu juga dengan Farid. Mereka tertidur dengan sangat pulas, Farid memeluk putrinya dan Arlin yang bersembunyi didada Farid sesekali menjilat juga mengenyut kulit dada Farid yang terbuka.
Pagi hari Farid tak melihat Meli sampai dia selesai merapikan Arlin dan sarapan bahkan sampai mau berangkat kerja Meli masih juga tak terlihat, pintu kamarnya masih tertutup dengan rapat dan juga tak ada suara apa pun dari dalam kamar itu.
Farid yang merasa penasaran mengetuk dan membuka pintu kamar itu perlahan untuk melihat apakah Meli tak apa atau dia sedang sakit. Tapi belum juga selesai Farid membuka Meli sudah keluar dari dalam dan membuka pintu dengan keras sehingga membuat Farid tertarik kearahnya karena Farid juga memegang gagang pintu kamar Meli.
Bruk. (tangan Farid menahan didinding mengunci tubuh Meli)
"Maaf, maafkan aku. Aku tak sengaja, aku datang karena aku khawatir kamu masih juga belum bangun. Jadi aku datang untuk mengecek apakah kamu baik - baik saja." jelas Farid dan berusaha untuk menegakkan tubuhnya karena hampir menimpah tubuh Meli.
__ADS_1
"Terima kasih aku baik - baik saja dan tak membutuhkan perhatian tuan." jawab Meli dengan nada kesal dan melewati Farid.
"Eh, apa aku melakukan kesalahan? Kenapa dia seolah marah pada ku?" gumam Farid merapikan lengan bajunya.
"Ayo sayang kita berangkat. Surti bawah sekalian box kecil itu." ucap Farid pada Surti dan menggendong Arlin.
"Sarapannya sudah disiapkan, makanlah sebelum pergi. dan kalau mau menyimpan asi botolnya sudah aku steril semua di tempat sterillan." ucap Farid lalu dia pergi meninggalkan Meli sendiri di rumah.
"Dia benar - benar tak pekah. Apakah dia benar seorang pria?!" kesal Meli yang merasakan panas pada tubuhnya karena berdebar. "Ini tak adil, benar - benar tak adil jika hanya aku saja yang merasakan debaran ini.?!" Meli menggebrak meja makan dengan sangat kesal. Lalu keluar dari rumah menuju tempat magangnya.
...🍂🍂🍂...
Dengan kemarahan Meli memesan banyak minuman hingga dia mabuk. Dan karena emosinya yang tak stabil membuat Meli memarahi semua orang yang dia lihat, Meli juga memaki - maki mereka dan mengatakan kalau mereka tak punya perasaan dan juga bukan orang karena tak punya hati dan tak pekah.
"Aduh bisa gawat ini kalau dia marah dan mengamuk di sini." ucap teman yang satu angkatan dengan Meli dan juga magang ditempat yang sama dengan Meli.
"Anterin dia pulang saja geh." ucap teman yang lainnya lagi.
"Iya, sepertinya suasana hatinya memang sudah buruk dari sejak datang tadi pagi." sambung teman lainnya lagi. Karena mereka memang lagi berkumpul - kumpul untuk penutupan magang terakhir.
"Tapi aku tak tau rumahnya, aku pesankan taksi saja." ucap teman Meli dan membawah Meli masuk kedalam taksi saat melihat taksi pesanannya datang, "Meli alamat rumah mu mana?" tanya teman Meli yang memesan taksi untuk Meli.
"Aku tinggal dengan si ber*ngsek di alamat SS rumah nomor 26." jawab Meli yang berjalan oleng.
"Non, sudah sampai di alamat tujuan." ucap supir taksi memberi tau Meli.
"Iya, terima kasih." ucap Meli keluar dari dalam taksi dan menghubungi Farid.
Tak lama Farid keluar dari dalam rumah untuk membayar ongkos taksi dan membawah Meli masuk kedalam rumah. "Kenapa bisa semabuk ini, dan sudah jam berapa ini." gumam Farid sambil membopong Meli.
"Minggir, memangnya kenapa hah?!" teriak Meli dengan sangat marah.
"Kenapa dengan mu? Sadarlah." ucap Farid yang mulai kesal dengan ulah Meli, sudah pulang larut malam dan dalam keadaan mabuk pula.
"Awas, minggir dasar pria jahat.!" ucap Meli mendorong Farid.
"Meli kau kenapa, Minumlah dulu hilangkan mabuk mu." ucap Farid menyodorkan segelas air.
"Tidak mau.!" Meli teriak dan menepis tangan Farid sehingga gelas itu jatuh dan pecah.
"Tuan kenapa dengan nyonya?" tanya Surti yang kebangun karena mendengar keributan.
"Jaga Arlin, aku urus dia dulu." ucap Farid menyeret Meli masuk kedalam kamar tidurnya dan mengguyurnya dengan air dingin dikamar mandi.
__ADS_1
"Uhg, dingin." ucap Meli yang mulai sedikit sadar.
"Sudah sadar? Bersihkan tubuh mu dan istirahatlah." ucap Farid lalu keluar dari dalam kamar mandi kamar Meli.
"Hiks, hanya begitu saja. Hanya begitu saja responnya? Kau benar - benar menjengkelkan, aku sangat marah sekarang?!" teriak kesal Meli dan bangun lalu mencari sesuatu didalam almarinya.
"Ini adalah hukuman mu tuan Farid ber*ngsek, manusia yang tak pekah. Jika kau tak tergoda dengan godaan wanita ini maka jangan sebut aku sebagai seorang wanita. Tidak, aku adalah seorang ibu karena aku sudah melahirkan seorang anak." Meli menyeringai dan keluar dari dalam kamarnya menuju kamar Farid.
"Wao,,, seksi." gumam Meli yang melihat Farid baru keluar dari dalam kamar mandi dan berjalan ke tempat tidur.
"Meli, kau." Farid kaget karena melihat Meli berdiri didepan pintu kamarnya dengan pakaian yang sangat tipis.
"Iya ini aku Meli, wanita yang 1 tahun lalu kau gagahi dan kau renggut kesuciannya." ucap Meli berjalan mendekati Farid.
"Rupanya kau masih mabuk, berapa banyak yang kau minum dan sedang ada masalah apa kau sampai seperti ini?" tanya Farid memijat pelipisnya karena ulah Meli.
"Kenapa, apa kah kau tak tergoda dengan ku tuan Farid Sukendar?" tanya Meli mendekat dan menyentuh dagu Farid.
"Kendalikan dirimu." Farid menepis tangan Meli, "Dan jangan buat keributan karena aku tak mau waktu istirahat Arlin terganggu." ucap Farid dengan dingin.
"Benarkah, kalau begitu lakukan dengan diam - diam." ucap Meli dan mendorong tubuh Farid hingga jatuh ke tempat tidur.
Farid membelalakkan matanya melihat tingkah aneh Meli malam ini, dan saat Farid mau bangun Meli sudah lebih dulu naik dan meraba tubuh Farid. Tersenyum genit serta menggelitik disana sini, seolah sedang berusaha mencari titik lemah dari seorang Farid.
"Meli, apa kau tau dan sadar apa yang sedang kau lakukan ini?!" amarah Farid dengan nada sedikit ditahan karena gak mau membangunkan putrinya yang sedang tidur.
"Tau, dan sangat tau." jawab Meli meremas pada sesuatu dibawah sana lalu turun dan menyibakkan Juba mandi Farid.
"Sudah ku duga kalau kau tak menggunakan apa - apa dibalik jubahmu ini." ucap Meli menyeringai.
"Sial.! Kau mabuk menyingkir,,, ugh." kalimat Farid terhenti karena Meli sudah melahap dan bertengger dibawah Farid.
"Sudah siap tempur tuan." ucap Meli saat melihat rudal Farid telah siap pakai.
"Wao, sangat besar dan tegap. Sungguh menantang, apakah ini yang dulu telah membobol pertahanan ku sehingga membuat aku melahirkan Arlin." gumam Meli memainkan rudal Farid.
Bruk
Pertahanan Farid gagal, karena godaan dari Meli dan juga rudalnya yang sudah siap serat has-ratnya sudah mencapai ubun - ubun bahkan sudah mulai meluap.
"Kau yang mulai dan juga yang memancingnya. Selama ini aku sudah berusaha dengan sekuat tenaga untuk menahannya." bisik Farid dan mulai merobek baju Meli.
"Berhasil, aku berhasil. Tak ku sangka aku telah berhasil, padahal aku sudah bergetar dari tadi, takut ketahuan. Tapi dia malah menganggap aku masih mabuk itu tak masalah, justru bagus." gumam dalam hati Meli tersenyum penuh kemenangan karena dia telah berhasil menggoda Farid.
__ADS_1