
"Liyon biarkan aku yang pegang kendali." pinta Lira berinisiatif duluan dengan semangat, karena sejak hamil Lira tak lagi malu - malu menunjukkan ekspresinya pada Liyon.
"As you wish, baby" jawab Liyon menatap Lira tersenyum dan membelai wajah Lira dengan penuh sayang, lalu membiarkan Lira memainkan dirinya dengan sesuka hati.
Dengan perut buncitnya dan senyum yang terlihat manis Lira membuat Liyon selalu melayang bagai tak sadarkan diri, terkadang Liyon ingin langsung saja menerkam Lira karena saking gemasnya. Namun Liyon ingat dengan krucil yang masih bertengger didalam perut Lira.
"Gila ini istriku, dia semakin lincah saja, apa tak berat dengan perutnya." gumam Liyon dalam hati yang telah dibawah oleh Lira ke puncak alam nirwana.
"Oh, you'r drive me crazy baby" ucap Liyon lagi yang mulai menikmati setiap permainan dari Lira.
Liyon mengusap perut buncit Lira dengan penuh rasa sayang karena dia takut ada apa - apa dengan kehamilan Lira, namun Lira bagai tak ada beban dengan bergerak sangat lincah sehingga membuat Liyon merasa takut sendiri.
"Sudah sayang cukup 2 kali saja ya aku sudah lelah." ucap Liyon mengusap pipi Lira dengan lembut dan mengecup kening Lira.
"Kenapa? kamu jadi semakin loyo, gak seperti dulu lagi dan gerakan mu juga tak sekuat sebelumnya." gerutu Lira memanyunkan bibirnya saat Liyon tidur menyamping mantap dirinya.
"Lah bagaimana bisa bergerak dengan kuat sih sayang, kan masih ada para twin didalam perut kamu. Aku gak mau menyakiti dia, kalau sampai aku diprotes dan dia ngambek gimana?" Liyon tersenyum dan memeluk Lira erat.
"Sudah ayo sayang tidur kasian kalau nanti si twin jadi gak istirahat, kamu nyeri perut lagi kayak kemaren." ucap Liyon dan mengusuk punggung Lira yang akhirnya Lira terlelap dalam dekapan Liyon.
Keesokan paginya tiba - tiba saja Ferdi masuk kedalam kamar Liyon dan Lira karena saat dia terbangun tak mendapati mamanya disampingnya. Ferdi menatap kesal dan memonyongkan bibirnya saat dia melihat kalau papanya tidur dengan memeluk mamanya.
"Papa! Apa yang papa lakukan!?" teriak Ferdi dengan kesal.
"Eh sayang, ada apa kamu kesini?" tanya Liyon menatap Ferdi dengan bingung.
"Liyon jangan ditarik selimutnya." bisik Lira menahan ujung selimut.
"Oh, iya lupa sayang.".jawab Liyon juga berbisik.
"Kalian berbisik apa?! Mama tak sayang lagi sama Ferdi, mama lebih sayang sama Papa." kesal Ferdi yang masih berdiri didepan pintu.
__ADS_1
"Sayang bukan begitu mama juga sayang kok sama Ferdi, cuma semalam Papa lagi rewel. Papa kan gak seperti Ferdi yang pinter, papa mah nakal." ucap Lira mendekati Ferdi yang lagi ngambek dan cemburu sama papanya dengan melilitkan seprei di tubuhnya yang polos, sementara Liyon menutupi area bawahnya dengan bantal.
"Mama Lebih sayang sama Ferdi kan?" tanya Ferdi memeluk Lira.
"Hem,,, mama sayang kalian berdua karena kalian adalah para jagoan mama." ucap Lira memeluk Ferdi dan Liyon memeluk mereka berdua setelah dia berhasil mengenakan jubah mandinya.
"Ayo sekarang Ferdi sama papa, mandi bareng yuk." Liyon mengangkat Ferdi, "Cepat bersihkan tubuhmu sayang." ucap Liyon mengecup kening Lira.
Pagi yang menyibukkan bagi Lira karena dia harus mengatasi rasa cemburu Ferdi yang kini mulai muncul untuk papanya, karena Ferdi gak mau kalah sama papanya untuk memberikan perhatian sama mamanya dan adik dalam perut mamanya.
...🍂🍂🍂...
Sementara disisi lain Meli yang bergerak mau bangun ditahan oleh tangan Farid yang kekar, yang sedang melingkar di pinggang Meli. Farid menyusupkan wajahnya di leher Meli dan menghembuskan nafasnya yang menyapu kulit leher Meli dengan hangat, sehingga membuat bulu kuduk Meli bergidik.
"Tu-tuan, anu,,, sudah bangun ya?" Meli bertanya dengan ragu
"Hem" Farid menggeliat dan semakin mengeratkan pelukannya pada Meli.
"Sssstt,,, sayang bukankah semalam kamu bilang dilanjut besok pagi. Lalu kamu mau kemana sekarang hem." Farid membalikkan tubuh Meli dan menatapnya dengan seksama.
"Itu, anu tuan,,," kalimat Meli tertahan oleh jari telunjuk Farid.
"Kenapa kamu masih memanggil ku tuan sih sayang. Bukankan aku ini suami mu? Sama Liyon dan Satria kamu bahkan memanggil mereka dengan sebutan kakak, masak sama aku yang suami sah mu dan orang yang selalu memberikan mu kenikmatan ini kamu malah memanggil tuan." ucap Farid mengeratkan pelukannya sehingga membuat kulit mereka saling menempel karena Meli tidur menghadap Farid. " Aku jadi seperti gigolo yang hanya bisa memberikan kenikmatan saja bukan seorang suami." Farid berkata dengan raut wajah sedih.
"Hihihi,,, iya itu,,, soalnya saya masih bingung harus memanggil apa." jawab Meli berusaha menghindari tatapan Farid.
"Lihat aku kalau lagi bicara sayang," Farid memegang dagu Meli. "Bukankah kita sudah mempunyai seorang putri yang sudah berusia 1 tahun, kenapa kamu masih saja malu - malu padaku, aku pun juga sudah sering kali melihat mu tanpa baju bahkan sudah menyentuh serta menikmatinya sepuasku." ucap Farid menatap Meli dan tersenyum. "Apa kamu tau sayang? Sikap kamu yang seperti itu membuat aku selalu ingin menyentuh mu karena merasa gemas." Farid mengecup sekilas bibir Meli dan itu membuat Meli salah tingkah.
"Ayo sekarang panggil aku dengan panggilan yang mesrah istriku sayang." goda Farid pada Meli dan itu membuat Meli jadi semakin salah tingkah.
"Anu,,, itu,,, tuan. Sebenarnya saya,,, em." kalimat Meli tertelan karena kaget Farid mengecup bibirnya.
__ADS_1
"Setiap kali kamu berkata formal pada ku dan masih memanggilku tuan maka aku akan memberi mu hukuman itu." jawab Farid menyentuh bibir Meli dengan ibu jarinya.
"Terus harus panggil apa?" tanya Meli yang masih bergerak - gerak karena merasa malu kulit tubuhnya menempel pada kulit Farid.
"Duh sayang terserah kamu harus mencari sendiri dan fikirkan itu sendiri karena aku ingin terus menghukum mu jika kamu salah memanggil ku." bisik Farid dengan nada dan nafas yang mulai berat.
"Eh, tapi kan tidak mungkin kalau mau memberikan hukuman itu jika ditempat umum." ucap Meli yang lagi - lagi menghindari tatapan Farid.
"Duh bocah ini membuat aku tak sabar lagi." suara hati Farid
"Coba saja lakukan jika kamu ingin mengetesnya sendiri, apakah aku bakal menghukum mu atau tidak." jawab Farid.
"Duh sayang aku sudah tak tahan lagi." Farid sudah ada diatas Meli, menatap Meli dengan tatapan penuh kasih sayang dan kelembutan.
"Tuan jangan,,, hemm" kalimat Meli hilang.
Farid sudah tak mau mendengarkan apa yang mau dikatakan oleh Meli pada dirinya, karena Farid telah menguasai Meli dan melakukan lagi permainan yang sama seperti yang mereka mainkan semalam.
Wajah Meli telah merah padam dan tangannya mencakar punggung Farid berkali - kali karena dia telah terbawah oleh kenikmatan dari permainan Farid.
Farid seolah kalap dia melakukannya lebih banyak dari yang semalam, sehingga Meli yang biasanya tak mengeluh kini telah mengeluh dan minta berhenti. Namun karena Farid telah memasuki mode aktif yang mau mencapai puncak nirwana tak mampu menghentikannya.
Farid menatap Meli dan tersenyum, gerakan Farid semakin masuk dalam ritme yang sedikit cepat, "Sedikit lagi sayang, tatap aku, lihat aku sayang ku." ucap Farid dan ritme gerakannya jadi semakin cepat.
"Ma,,, apah." ucap Arlin yang tiba - tiba saja terbangun dan berdiri didalam box bayinya, lalu tertawa melihat Farid.
"Eh, Arlin bangun." Meli panik dan bingung karena dia tak tau harus berbuat apa.
Farid yang tadinya bersemangat dalam gerakannya untuk menggempur Meli jadi berhenti ditengah jalan secara sepontan. Farid menatap Arlin terdiam dan juga bingung mau bergerak, karena Farid tak ingin melepaskan jari kenikmatannya yang sudah mulai berkedut dibawah sana didalam sarang kenyamanannya yang paling nikmat.
"Apah,,, apah,,," suara Arlin yang terus memanggil - manggilnya.
__ADS_1
Meli mendorong tubuh Farid dan melemparkannya kesamping sehingga dengan cepat jari kenikmatan Farid yang masih berkedut tercabut secara paksa.