
Setelah selesai diinfus dan juga minum obat Lira merasa dia sudah enakan tak ada lagi rasa sakit diperutnya dan saat Farid datang Lira pun pergi dari kamar Liyon.
"Mama, Mama dari mana semalam? Ferdi tak nakal dan tidur sama nenek, terus sama nenek Ferdi diceritain kalau waktu kecil dulu Mama sangat nakal dan suka main lumpur." ucap Ferdi menceritakan apa yang telah diceritakan oleh neneknya semalam.
"Hem benarkah anak Mama ini tak nakal dan tak rewel semalam?" tanya lira sambil menciumi Ferdi dengan gemas.
"Ferdi kamu main dulu ya sama kakek karena nenek mau bicara sama Mama kamu." Bu Yulia menyuruh Ferdi pergi ke kakeknya, dan Ferdi langsung lari ke ayah Bambang.
"Kenapa Bu?" Lira menatap Bu Yulia dengan tanda tanya.
"Nak ibu mau bertanya, semalam kamu kemana? Apa kamu bermalam sama Rian?" tanya Bu Yulia.
"Tidak Bu Lira menginap ditempat lain dan tak sama Rian. Memang kenapa Bu?" Lira merasa aneh pada ibunya.
"Tidak ada, apa kamu menyukai Rian? Bagaimana dengan ayah Ferdi? Siapa ayah Ferdi sebenarnya, jika dia bukan Rian maka jangan memberikan harapkan padanya. Maafkan ibu Lira, ibu cuma ingin agar kamu tak salah pilih. Ibu tak memaksamu tapi setidaknya lakukan semua sesuai dengan kata hatimu." ucap Bu Yulia pada Lira yang terlihat termenung sedang memikirkan sesuatu.
"Lira, jika kamu menyukai Rian ibu juga senang karena dia anak yang baik, tapi jika kamu tak menyukainya maka lakukanlah dengan benar, agar dia tak berharap kepadamu terlalu dalam kasian." sambung kalimat Bu Yulia.
"Iya Bu, Lira akan memberikan keputusan pada Rian, karena Lira juga gak mau membuat Rian jadi salah paham dan menunggu Lira." jawab Lira dengan tersenyum menatap ibunya.
"Sebenarnya apakah kamu menyukai Rian atau tidak?" tanya Bu Yulia ingin memastikan perasaan Lira lebih pasti lagi.
"Tidak Bu, Lira hanya menganggap dia sebagai teman saja, namun Lira juga tak bisa memaksa dia untuk menjauhi Lira karena Lira merasa berhutang Budi padanya." jawab Lira dengan pasti.
"Baiklah kalau begitu putuskan dengan cepat agar dia tak mengharapkan kamu, jangan menggantung perasaan orang tak baik." ucap Bu Yulia menepuk bahu Lira dan Lira tersenyum pada ibunya.
"Mengenai ayah Ferdi Lira masih belum bisa bilang sama ibu, maaf." ucap Lira tertunduk.
"Tak apa ibu tak memaksamu." jawab Bu Yulia lalu pergi membantu suami dan ibunya berkemas.
"Yang dikatakan ibu ini benar, aku tak boleh lagi memanfaatkan Rian dan aku harus bicara dengan tegas pada Rian. Karena aku ingin lihat dia juga bahagia." suara hati Lira.
Setelah selesai berkemas Lira dan keluarganya mau kembali lagi pulang ke rumahnya. Terlihat semua pegawai hotel memberikan ucapan selamat pada Satria dan juga Yuniar atas lembaran baru mereka berdua yang akan menempuh hidup berumah tangga.
"Selamat ya pak Satria dan Bu Yuniar semoga kalian akan cepat mendapatkan momongan yang banyak." ucapan selamat dan do'a dari semua pegawai hotel pada Satria.
Terlihat Rian yang membatu Lira angkat barang bawahan memasukkan barang - barang kedalam mobil. Lira sengaja cuti hari ini karena dia ingin bersama dengan keluarganya dan juga memulihkan kesehatannya karena habis sakit perut.
__ADS_1
"Baiklah apa sudah semuanya?" tanya Rian dengan senyuman yang selalu mengembang dibibirnya.
"Ferdi ikut sama mobilnya Om Rian saja." ajak Rian pada Ferdi.
"Iya sebentar." teriak Ferdi dan dia lari mendekati Farid dan juga Liyon yang berdiri tak jauh dari keluarga Satria.
"Om Farid nanti Ferdi minta coklat yang sama kayak kemaren ya." ucap Ferdi pada Farid yang kemaren dibelikan coklat karena mau nangis nyariin Lira.
"Tentu, nanti kalau ketemu Om belikan lagi." jawab Farid tersenyum mengusap kelapa Ferdi.
"Tak mau pamit sama Om?" tanya Liyon pada Ferdi yang mau berbalik badan.
"Tidak Om payah." jawab Ferdi degan tatapan kesal.
Setelah itu Liyon hanya bisa menatap kosong kepergian Lira dan keluarganya. Liyon pun kembali lagi ke kantornya dengan terus bernafas dalam seolah ada beban dalam dirinya yang tak bisa dia keluarkan.
...🍂🍂🍂...
"Wah kupikir kau tak ada dikantor." ucap Bagas yang datang ke kantor Liyon bersama dengan Brayen.
"Liyon aku dengar dari Bagas kamu sudah balikan sama Lira lagi, kapan acara kalian? Dan aku juga suka dengan anak kalian. Sebaiknya kalian cepat meresmikan hubungan kalian agar bocah tengil itu bisa cepat masuk keluarga mu." ucap Brayen dan itu membuat Liyon kaget juga kesal.
"Asal bicara bagaimana, apa kau tak menyadarinya? dia terlihat begitu mirip dengan dirimu dan hampir tak ada salah pahat sedikit pun." ucap Brayen lagi dan itu membuat liyon jadi berfikir.
Namun setelah itu kata - kata Brayen pun lewat begitu saja karena Liyon sibuk dengan berbagai urusan dan juga pertemuan yang sempat terlewatkan karena acara Satria.
Suasana kantor siang itu terlihat sangat sibuk, Liyon dan Farid hampir tak bertemu satu sama lain karena Farid merangkap pekerjaan Satria yang diberi libur oleh Liyon.
...🍂🍂🍂...
Setelah sibuk seharian dikantor Liyon menikmati minuman dan juga rokonya di balkon kamarnya dengan tenang, dan sesekali Liyon mengingat apa yang dikatakan oleh Brayen padanya tadi siang.
"Apa benar Ferdi terlihat begitu mirip dengan ku? Tapi kenapa Farid dan Satria tak mengatakan apa pun padahal mereka lebih sering melihat aku bersama dengan Ferdi." gumam Liyon bertanya pada dirinya.
"Ya Ferdi memang anak yang cerdas dan juga menggemaskan, kadang aku juga merindukan dia." Liyon bergumam lagi dengan tersenyum.
"Tadi dia bilang aku apa ya," Liyon terbahak mengingat ekspresi Ferdi "dia bilang aku payah, anak itu berani sekali dia." Liyon tersenyum dan masuk kedalam kamarnya.
__ADS_1
"Apa ini, rekaman?" Liyon yang duduk di sofa sambil main hanpon menemukan sebuah rekaman dan saat dibuka Liyon sangat kaget dengan isi dari rekaman itu.
Dalam rekaman itu Ferdi mengenalkan nama lengkapnya dan juga menceritakan kalau dialah yang mencorat-coret wajah Liyon waktu itu sebagai pembalasan atas dirinya yang menindas Lira Mama-nya, dan Ferdi juga menceritakan kalau dia meninggalkan pesan untuk Liyon didalam sebuah kertas. Ferdi juga bilang kalau Liyon payah serta menjengkelkan.
Liyon terlihat sibuk mencari baju yang waktu itu dia gunakan karena dia ingin mencari pesan yang ditinggalkan oleh Ferdi untuk dirinya. Liyon mencari sampai kebelakang rumah di jemuran dan juga ruang setrika.
"Tuan muda nyari apa?" tanya bi Min saat melihat Liyon mengacak - acak baju yang mau disetrika.
"Aku mencari jas dan juga kemeja yang 1 minggu lalu aku gunakan." jawab Liyon dengan tetap mengacak baju - baju itu.
"baju yang mana ya Tuan, kalau sudah 1 minggu sepertinya sudah didalam ruang ganti Tuan semua." jawab Bi Min menatap Liyon heran.
"Apa bibi masih ingat waktu saya pulang dengan keadaan mabuk dan wajah penuh sama coretan spidol?" tanya Liyon menatap bi Min.
"Oh walah hari itu, iya ingat bajunya bibi gantung di ruang ganti semua. Memangnya kenapa tuan?" tanya bi Min lagi.
"Apa bibi melihat sebuah kertas?" tanya Liyon.
"Kertas? Maksud Tuan kertas putih yang tak ada isinya itu?" tanya bi Mi dan terlihat sedang membuka laci meja " kalau tak salah bibi simpan di sini karena kertasnya terlihat bagus." ucap Bi Min yang terlihat masih sibuk mencari. "Nah ini." bi Min menyerahkan sebuah kertas putih kosong pada Liyon.
"Ini saja?" tanya Liyon menerima dengan heran dan bi Min mengangguk.
Liyon balik sambil terus menatap kertas kosong itu, "Sepertinya ini kertas air, apa harus dibasahi dulu." Liyon membasahi sedikit kertas itu dan benar saja ada tulisan yang tercantum di kertas itu.
"Beneran." gumam Liyon dan langsung mencelupkan kertas itu kedalam air. "Deg, apa ini?" mata liyon terbelalak lebar membaca isi tulisan itu.
Halo Papa
Jika Papa ingin mendapatkan Mama maka Papa harus berjuang lebih keras lagi, karena hati Mama sangat terluka dengan Papa.
Mama selalu bilang kalau Papa aku adalah orang yang sangat keren dan hebat dalam segala hal, aku selalu ingin bisa seperti Papa. Tapi aku tak suka ya kalau Papa menindas Mama seperti tadi.
Papaku harus keren, jika tidak maka aku akan mencari Papa lain untuk ku dan Mama.
"Apa? Mencari Papa lain apanya, sembarangan saja." gerutu Liyon tersenyum membaca pesan yang tersembunyi dari Ferdi yang ternyata adalah putranya sendiri.
"Begok, kenapa aku tak bisa menyadarinya dari awal. Sekarang aku tak akan melepaskan kalian berdua, bagaimana pun caranya aku akan mendapatkan kalian berdua." Liyon bertekad.
__ADS_1
"Aku akan menjadi Papa yang keren untuk mu sayang." ucap Liyon dengan penuh semangat.