
"Hahaha,,,Mama hebat. Mamaku memang yang paling hebat." teriak Ferdi kegirangan.
"Polisi sudah datang jadi kalian aman mereka tak akan bisa berbuat apa - apa, dan tolong rahasiakan ini semua ya. Kami pergi dulu hati - hati dijalan kalian ya." ucap lira dan dia kembali kedalam mobil lalu mengambil alih kemudi dan melaju dengan cepat.
"Si-siapa sebenarnya pasangan ibu dan anak itu ya? Kenapa mereka terlihat begitu luar biasa dan sangat serasi satu sama lain." ucap orang yang tadi ditolong oleh lira.
"Benar, kita harus bilang sama bos nanti kalau kita ditolongi pasangan ibu dan anak yang sangat luar biasa." jawab temannya.
"Amankan mereka semua dan bawah ke kantor segerah." kepala polisi memerintahkan pada anak buahnya.
"Bagaimana mereka bisa jadi seperti ini semua? Kenapa dengan mereka? Tadi kalian yang menghubungi kami kan?" tanya kepala polisi pada dua orang yang dibantu oleh lira.
"Tidak pak, pasangan ibu dan anak yang membuat mereka semua seperti itu.".jawab orang yang dibantu lira.
Para preman itu pun langsung diamankan oleh polisi dan dibawah ke kantor polisi untuk diintrogasi, sementara 2 orang karyawan itu membawah truk mereka yang berisi barang baku pabrik membawah kembali barang mereka ke pabrik yang memang akan dikirimkan ke sebuah kantor untuk pembangunan sebuah mol.
Disisi lain Meli masih duduk terbengong di bangku belakang mobil menatap Lira dan Ferdi yang terlihat biasa saja padahal mereka habis berkelahi dengan 8 orang preman, terlebih lagi tak ada satu pun luka yang tergores ditubuh Lira tanda habis berkelahi.
Meli menelan salifanya berkali - kali karena dia tak habis pikir kalau orang yang dia ikuti dan terlihat lembut serta suka bercanda dan jail itu ternyata bisa berubah jadi seorang petarung yang hebat dan menakutkan saat menunjukkan seringai dengan gerakan tubuhnya yang terlihat ingin segerah mematahkan tulang - tulang dari orang yang berani mengusiknya.
"Ka-kalian sebenarnya siapa?" suara Meli keluar setelah sekian lama menatap dan berfikir.
"Hem, kamu terkejud? Maaf ya dulu aku adalah pengawal dan setelah melahirkan Ferdi aku memilih jadi pegawai kantoran." jawab lira terbahak melihat ekspresi Meli
"Tante Moli jangan kaget mamaku adalah singa yang cantik, sebab dia adalah peri kecilku yang paling menawan." jawab Ferdi sambil menghadap kebelakang dan pegangan pada sandaran kursi.
"Jadi kalian adalah pengawal? Dan Ferdi selalu berada dalam bahaya seperti tadi?" tanya meli merasa khawatir.
"Tidak, aku hanya mengajarinya ilmu beladiri biar dia bisa menjaga dirinya sendiri dan aku tadi bilang setelah melahirkan Ferdi aku beralih jadi pegawai kantor bukan lagi pemgawal, kau tak mendengarkan kata - kata ku ya." jawab lira santai.
"Maaf aku masih terkejut dengan apa yang aku lihat barusan." jawab Meli yang masih tak percaya dengan yang dia lihat barusan, dan juga dwbarannkarena rasa takut masih ada.
"Baiklah kita sudah sampai, Ferdi cepat mandi dan tidur nanti 3 hari lagi kamu akan masuk TK." ucap lira sambil menurunkan tas baju kotornya.
"Meli mau tidur di sini atau mau pulang?" tanya lira menatap meli yang masih syok dengan kenyataan lira yang ternyata bisa berkelahi dengan preman.
"Tidur di sini boleh kan mbak?" tanya meli ragu.
"Tentu saja, masuk lah." jawab lira dan berjalan masuk kedalam rumah.
...🍂🍂🍂...
Pagi hari tepat jam 9 pagi Yofi dan Yoni 2 orang pegawai yang kemaren sore dibantu oleh Lira menghadap pada atasannya untuk melakukan pelaporannya pada atasan mereka. Dan mereka berdua menceritakan aksi 2 orang ibu dan anak yang dengan hebat mengalahkan para preman - preman yang telah menghadang mereka sehingga mereka selamat dan barang yang mau mereka kirim juga tak kurang satu pun.
__ADS_1
Atasan kedua orang itu mendengarkan secara seksama cerita dari kedua anak buahnya dan dia merasa tertarik dengan ibu dan anak yang diceritakan telah membantu dan menolong orang - orangnya.
"Kamu tau siapa dia dan darimana mereka?" tanya atasan dari orang itu.
"Maaf Bos saya tidak tau siapa namanya karena dia tak memberi tau dan kami tak sempat tanya, terus lagi dia bilang agar kami merahasiakan kalau dia telah membantu kami." jawab kedua orang itu.
"Hem, pasangan anak dan ibu yang heroik ya?" bos itu bertanya dan berfikir.
"Berapa usia dari anaknya dan kira - kira apa dia orang sini?" tanya Bos itu.
"Masih muda, mungkin usianya sekitar 30 an dan anaknya masih kecil sekitar 5 atau 6 tahun, dan sepertinya mereka orang sini." jawab pegawai itu.
"Baiklah, sebarkan selebaran atas naman penyelamat dengan bayaran yang tinggi aku yakin jika melihat nominal uang yang akan kita berikan dia pasti akan muncul dan pada saat itu baru kita bahas lagi masalah ini." jawab Bos mereka.
Setelah itu langsung pengumuman dan selebaran tersebar ke seluruh kota dengan tulisan ' Dicari Penyelamat Sepasang Ibu dan Anak yang Heroik', dibawah tulisan itu tertulis nominal angka yang sangat menggiurkan bagi semua orang ya itu 50 juta rupiah.
Sore itu kabar berita tentang penyelamat itu pun telah sampai ke telinga semua orang dan semuanya lagi bercerita soal itu kemana - mana. Mendengar kabar itu Meli langsung terbelalak karena dia tau yang dimaksud dengan selebaran berita itu pasti adalah Lira dan Ferdi.
...🍂🍂🍂...
"Mbak coba lihat ini." teriak Meli begitu dia sampai di depan rumah Lira dan sedang mendapati Lira yang menyapu halaman rumahnya dengan Ferdi yang bermain mobil - mobilan.
"Kenapa, ada apa emangnya?" tanya Lira heran.
"Coba lihat selebaran ini." Meli menunjukkan selebaran yang dia bawah.
"Mbak ini kan Mbak Ani dan Ferdi, aku yakin yang dimaksud oleh selebaran ini adalah kalian. Dan sepertinya orang yang waktu itu mbak Ani bantu adalah orang kaya atau perusahaan yang mendunia." jelas Meli menggebu - gebu.
"Apa hubungannya dengan kami, aku tak tau dan tak mau tau soal itu." jawab lira masa bodoh.
"Tapi ini adalah hadiah yang sangat menggiurkan Mbak, coba mbak Ani pikir bisa beli apa saja nanti dengan uang sebanyak itu." jelas Meli namun Lira yang tak tergiur sedikit pun.
"Mel, kalau sampai ada hal seperti itu kamu harus berhati - hati jangan langsung percaya begitu saja, apa lagi dengan bayaran yang sangat tinggi bisa jadi mereka mencari karena ingin melakukan sesuatu dan meminta pada kita untuk melakukannya untuk mereka." jelas Lira pada Meli yang terlihat sangat tertarik dengan hadiah yang ditawarkan oleh selebaran itu.
"Jadi mbak Ani gak mau muncul untuk konfirmasi kabar berita yang disebar keseluru kota ini?" tanya Meli lagi dan Lira menggelengkan kepalanya.
"Ferdi ayo cuci tangan dan makan dulu nanti main lagi, apa sudah latihan tadi pagi?" tanya Lira pada Ferdi yang lagi asyik main.
"Sudah Mama, Ferdi sudah latihan dan juga sudah menyelesaikan tugas dari Mama semuanya." jawab Ferdi dengan sangat lantang saat dia telah selesai menyelesaikan semua tugas dari mamanya.
"Kalau begitu dibuang aja selebaran ini." ucap Meli dan melemparkan gulungan selebaran itu kedalam api yang dinyalakan oleh lira untuk membakar sampah didepan teras rumahnya.
"Tante Moli mau ikut makan juga?" tanya Ferdi yang selesai cuci tangan dengan sabun dari pancuran.
__ADS_1
"Aduh sayang bisa tidak untuk jangan memanggil Tante dengan sebutan Moli, kan nama Tante adalah Meli bukan Moli." rengek Meli pada Ferdi yang selalu memanggil dirinya dengan sebutan Tante Moli.
"Kenapa, karena aku suka Tante bulat kayak kue moci. Imut dan lucu." jawab Ferdi dan itu membuat Meli jadi deg - deg an.
"Duh elah ni bocah, untung masih kecil kalau sudah besar pasti akan banyak menghabiskan dan menghancurkan jantung semua para wanita." gumam Meli menatap Ferdi dan langsung menangkap serta mencium pipi Ferdi dengan sangat gemas.
...🍂🍂🍂...
"Ada apa Rid?" tanya Liyon pada Farid yang melihat dan mendengar semua para karyawannya sedang berkasak kusuk membahas soal hadiah yang fantastis untuk penyelamat pasangan ibu dan anak.
"Entahlah, katanya ada pasangan ibu dan anak yang telah jadi penyelamat dan menghabisi 10 preman apa berapa gitu, dan dilakukan seorang diri. Mereka memberikan hadiah uang 50 juta untuk pasangan itu." jawab Farid yang juga merasa penasaran dengan pasangan ibu dan ank itu.
"Hem, sepertinya Santo ingin memancing dan berusaha merekrut orang itu untuk menjadi orangnya." ucap Liyon dan masuk kedalam ruangannya.
"Gila, apa kau sudah tau Santo melakukan kegilaan. Dia ingin merekrut orang dengan iming - iming uang yang begitu besar." satria yang masuk keruangan Liyon berguman dengan kesal.
"Biarkan saja, kita lihat saja maunya dia apa. Dan kita ikuti saja permainannya." jawab Liyon santai.
"Andai ada Kakak pasti kita akan punya orang lagi untuk mendukung kelompok kita." gumam Satria.
"Deg." jantung Liyon bergetar mendengar kata kakak dari satria, karena dia tau orang yang dimaksud oleh satria adalah Lira.
"Sat bagaimana dengan hasil kerja para pegawai dan apa mereka suka dengan seragam barunya?" tanya Liyon pada Satria.
"Ya aku masih belum tanya pada pak Sugeng, dan karena tak ada laporan mungkin mereka menyukainya." jawab satria menerka - neraka.
"Baiklah, kau atasi semuanya dan apa tak ada hambatan selama ini dan bagaimana dengan pengunjungnya?" tanya Liyon lagi.
"Semuanya bagus tak ada masalah, dan untuk pengunjung sepertinya semakin meningkat dalam 2 Minggu ini." jawab satria.
Brrrrt
"Ibu?"
"Mama."
Satria dan Liyon berucap bersamaan saat melihat layar hanponnya. Lalu mereka saling pandang, "angkat teleponnya dan bilang aku sibuk." perintah liyon pada satria.
"Bu nanti Satria telon balik, Satria masih sibuk." ucap satria saat dia mengangkat panggilan dari ibunya
"Halo nyonya maaf ini Satria, Bos Liyon masih sibuk dan tak bisa menerima telepon. Apakah ada permintaan atau perintah nyonya? Biar nanti Satria sampaikan pada Bos Liyon." jawab Satria pada panggilan telpon dari mama Liyon.
"Tidak ada Sat aku cuma ingin telepon saja, dan kalau boleh tau kapan dia akan pulang? Aku akan membuatkan soto kesukaannya." tanya mama Li pada Satria.
__ADS_1
"Maaf nyonya belum pasti kapan pulangnya. Tapi saya akan sampaikan nanti pesan nyonya pada Bos Liyon." jawab Satria.
"Baiklah kalau begitu Satria,.sudah dulu ya." mama Li terdengar sedih lalu mengakhiri panggilannya.