
Setelah Ferdi mendapatkan perawatan dan obat dari rumah sakit lira membawah Ferdi pulang, namun sebelum pulang mereka sempat mampir ke supermarket untuk beli bahan - bahan buat bikin soto daging spesial buat Ferdi.
Lira terus berfikir soal apa yang dikatakan oleh teman - teman Ferdi bahwa Ferdi tak punya papa dan juga anak haram. Selama memasak soto buat Ferdi kadang fokus lira hilang.
Setelah selesai makan malam dan Meli juga sudah pulang, lira memandikan Ferdi lalu membawah Ferdi tidur. Namun saat Ferdi telah terlelap dimalam hari lira terus saja kepikiran akan Ferdi dan papanya.
"Haruskah aku mempertemukan mereka? Bagaimana jika nyonya merebut Ferdi dari tangan ku, aku tak akan sanggup kehilangan putraku." lira memeluk Ferdi.
Keesokan harinya lira berniat akan membawah Ferdi ketempat kerjanya karena dia tak ingin Ferdi masuk sekolah dulu, namun meli sudah menawarkan diri untuk membawah Ferdi ke tempat kerjanya yang di sana ada tempat bermain untuk anak - anak.
"Apakah kamu tak merasa direpotkan Mel?" tanya lira pada meli yang ingin membawah ferdi
"Tentu saja tidak." jawab meli dengan sangat senang, karena dia bisa pamer pada teman kerjanya nanti kalau Ferdi adalah anak yang pintar dan juga hebat.
"Sayang jangan nakal dan jangan menyusahkan Tate Meli ya, jangan lupa obatnya diminum dan salepnya dioleskan pada lebamnya ok." ucap lira sebelum dia turun dari mobil Meli.
"Iya Mama, selamat bekerja." jawab Ferdi dan mereka saling mencium.
"Hati - hati ya Mel." lira melambaikan tangan dan masuk kedalam hotel.
...🍂🍂🍂...
Benar saja setelah sampai di tempat kerja Meli dia langsung memamerkan Ferdi yang tampan dan juga pintar, semua teman Meli menyukai Ferdi apa lagi Ferdi sangat menyenangkan dan Ferdi juga mengajak anak pengunjung restoran untuk bermain bersama.
"Ferdi ayo makan dulu." teriak meli saat jam makan siang dan Ferdi makan bersama dengan Meli beserta teman - teman Meli di ruang istirahat.
Brrrt
"Halo ya Pa ada apa?" ucap meli menjawab telepon dari papanya
"Iya - iya nanti pas pergantian sif Meli akan langsung menyusul papa ke kantor." jawab meli dan mematikan sambungan telepon dengan papanya.
"Kenapa Mel? Apa ada masalah?" tanya teman kerja Meli.
"Tidak aku lupa dokumen Papaku terbawah di mobilku katanya di jok belakang dan aku disuruh nganter ke kantor nanti jam 2 siang karena akan digunakan untuk rapat jam 3." jawab Meli melanjutkan makannya.
"Wah kalau begitu sebaiknya langsung kamu antar habis ini saja, gak apa sif kamu biar aku gantikan nanti takut telat karena papamu kan kerja di perusahaan besar di PT. Task Corporation Grup kan? Bisa gawat kalau sampai telat karena itu perusahaan ternama yang sangat ketat dan juga disiplin." jawab teman kerja Meli.
"Baiklah kalau begitu aku mintak tolong ya dan terima kasih." ucap Meli berterima kasih.
Setelah selesai makan siang Meli dan Ferdi pergi ke perusahaan papa Meli yang tak lain adalah perusahaan Liyon. Selama dalam perjalanan Meli sesekali melihat jam karena dia takut telat sebab tiba - tiba jalanan jadi macet dan merambat.
"Huuuff, akhirnya sampai juga." gumam Meli merasa lega karena sudah sampai di perusahaan tepat waktu walau sedikit telat karena kurang 30 menit lagi sudah jam 3, dan papanya sudah berkali - kali menghubungi karena Meli tak kunjung tiba.
__ADS_1
"Ini yang namanya perusahaan ya Tante?" tanya Ferdi yang terlihat kagum dengan gedung yang menjulang tinggi.
"Iya, nanti kamu tunggu Tante di lobby ya jangan nakal." ucap meli pada Ferdi
"Papa tante sangat hebat punya gedung yang begitu besar." jawab Ferdi lagi.
"Hei bukan Papa Tante yang hebat, tapi yang punya gedung ini yang hebat karena dia telah sukses saat masih muda, lihat itu dia adalah asisten pemilik gedung ini yaitu tuan Liyon." jawa meli dan menunjukkan Farid saat Farid melintas di lobby.
"Eh, apa yang Tante katakan tadi? Gedung ini milik siapa?" tanya Ferdi kaget mendengar kata - kata Meli.
"Kenapa, apa kau tertarik? Namanya Liyon dan dia masih singel, bagaimana kalau kita kenalkan sama Mama kamu." jawab Meli dengan tersenyum.
"Ok kamu duduk di sini dulu sebentar ya, Tante akan cepat." ucap Meli saat dia melihat papanya keluar dari lif.
"Liyon, itu benar - benar Papa. aku harus mencarinya dimana ruangan Papa ya?" gumam Ferdi dalam hati dan diam - diam dia mengikuti beberapa orang yang naik lif saat Ferdi mendengar mereka akan hadir dalam rapat.
"Kemana aku harus mencari ruangan papa?" gumam Ferdi saat dia keluar dari lif dan celingukan.
"Apa aku ikuti mereka saja ya? Tapi aku tak tau seperti apa wajah Papa, bagaimana cara ku mengenalinya? Dan tau kalau dia adalah Papaku" gumam Ferdi lagi dan terus berjalan menyusuri koridor dan melihat kesetiap ruangan.
"Bagaimana hasilnya Sat, apa kau sudah mengecek semuanya?" tanya Farid pada satria saat mereka berjalan mau menuju ke ruang rapat.
"Ya aku sudah mengeceknya semua, dimana Liyon?"jawab satria dan bertanya karena tak melihat Liyon sama Farid
"Ruang President, apa ini ruangan Papa ya? Tapi kenapa tak ada namanya?" Ferdi menatap dengan mendongak tepat didepan pintu ruangan Liyon.
"Tapi tunggu dulu Papa kan pemilik gedung ini, jadi namanya pasti adalah pemilik gedung. Dimana ya ruangan pemilik gedung?" Ferdi berbalik mau mencari ruangan pemilik gedung, namun dia tergelincir bolpoin dan terjatuh.
"Eh, kau siapa dan kenapa ada di sini? Anak siapa kamu?" tanya liyon saat dia melihat Ferdi jatuh tengkurap.
"Aduh sakit, kenapa ada orang yang begitu teledor membiarkan bolpoin jatuh ke lantai." keluh Ferdi duduk dan memegangi lututnya.
"Hahaha, kau sangat lucu sudah jatuh masih saja memarahi orang. Siapa namamu anak kecil.?" tanya Liyon sambil jongkok setelah tertawa terbahak melihat Ferdi mengeluh dan mengolok seseorang.
"Om sendiri siapa?" tanya Ferdi dengan tatapan polosnya.
"Hem, bukankah aku yang bertanya dulu kenapa kamu malah bertanya balik pada ku? Tidak sopan bertanya jika belum menjawab pertanyaan dari orang yang bertanya." ucap liyon menatap Ferdi dan merasa tertarik pada Ferdi.
"Iya iya baiklah, namaku Ferdinan Putra." jawab Ferdi yang masih memegangi lututnya.
"Menarik, dia adalah anak yang begitu berani dan juga tenang walau menghadapi orang asing." gumam Liyon dalam hati sambil tersenyum menatap Ferdi.
"Baiklah Ferdi ayo masuk ke ruangan ku dulu, ku lihat apakah ada luka dilutut mu." ajak Liyon pada Ferdi yang mengeluh kesakitan.
__ADS_1
"Oh iya ini jam berapa? Karena aku harus minum obat dan juga mengoles salep." jawab Ferdi bertanya pada Liyon.
"Hem, jam 3 kurang 5 menit." jawab Liyon setelah melihat jam dipergelangan tangannya.
"Halo Sat, kamu mulai saja rapatnya karena aku ada urusan sebentar akan datang telat." ucap Liyon lewat telepon setelah dia masuk kedalam ruangannya dan mendudukkan Ferdi di sofa.
"Tunjukkan lutut mu." perintah Liyon membawakan air minum dan juga kotak obat.
"Sebentar boleh kah aku pinjam telepon Om, karena aku tadi ke sini sama Tante ku, dia pasti bingung mencari aku." ucap Ferdi dengan tatapan yang sangat menarik bagi Liyon.
Dan benar saja di lobby Meli sedang kebingungan mencari keberadaan Ferdi, dia bertanya pada semua orang di sana namun tak ada satu pun dari mereka yang melihat dan tau Ferdi pergi kemana.
"Ferdi kamu dimana? Aku pasti akan dimarahi sama Ani ini, aku harus bagaimana sekarang?" Meli dengan sangat panik lari kesana kemari mencari Ferdi dan dia juga lari ke ruang satpam dan bertanya di sana
Brrrt
"Nomor siapa ini? Halo ini siapa?" jawab Meli mengangkat sambungan telepon dari nomer yang tak dikenalnya.
"Halo Tante ini Ferdi, Tante jangan panik ya Ferdi baik - baik saja, sebentar lagi akan ke sana Tate tunggu Ferdi disana ya." jawab Ferdi dengan suara tenang dan tegas
"Apa, kamu dimana sekarang? Katakan pada Tante kamu berada dimana dan dengan siapa?" tanya Meli dengan panik.
"Ferdi ada didalam ruangan President dan tak apa sebentar lagi akan keluar menemui Tante sudah dulu ya" ucap Ferdi dan mematikan sambungan teleponnya
"Eh, apa? Dia bilang apa tadi, ruangan president. Bagaimana bisa dia ada di sana?!" teriak Meli frustasi.
Didalam ruangan liyon.
"Kamu bisa membaca?" tanya Liyon yang kaget karena Ferdi menyebut ruangan president padahal Liyon belum menyebutkan jabatannya.
"Tentu saja, aku sudah bisa membaca dan juga menulis karena Mama selalu mengajari aku semuanya saat masih kecil, jadi aku sudah bisa membaca semua tulisan yang ada, dan Mamaku juga sangat hebat." jawab ferdi dengan bangga.
Liyon tertawa mendengar jawaban dari Ferdi dan dia merasa semakin tertarik pada Ferdi. Selain anaknya pintar, tenang dan juga bisa berkomunikasi dengan lancar sama orang dewasa Ferdi juga terlihat memiliki kepribadian yang tegas dan berani.
Setelah selesai mengobati luka Ferdi Liyon mengantar Ferdi turun ke lobby untuk bertemu dengan Meli, sebenarnya Liyon masih ingin berlama - lama sama Ferdi tapi dia ada rapat penting jadi Liyon terpaksa mengantar Ferdi turun.
"Terima kasih ya Om." ucap Ferdi pada Liyon, dan Liyon tersenyum mengusap kepala Ferdi.
"Tante Moli." panggil Ferdi pada Meli yang berdiri dengan tegang didekat meja resepsionis.
"Astaga Ferdi kamu tak apa?" tanya Meli dan memutar tubuh Ferdi meneliti apakah ada luka ditubuhnya.
"Tidak apa - apa." jawab Ferdi tersenyum.
__ADS_1
"Aku belum mendapatkan apa yang aku inginkan tapi tak apa, aku sudah menyimpan nomer Om tadi jadi aku tinggal menghubungi Om itu untuk mencari tau soal Papaku nanti." gumam Ferdi dalam hati.