
"Apa ini, perasaan yang kosong ini apa? Kenapa aku merasa sedih saat dia tak memperhatikan aku, dan kenapa aku merasa sedih saat hari kelahiran sudah mulai dekat. Jika aku sudah melahirkan anak ini, maka dia akan menceraikan aku dan aku akan keluar dari rumah ini untuk selamanya, tak akan pernah lagi bisa kembali." Meli semakin sedih membayangkan hal itu dan semakin menjadi tangisnya, "Apa dia tak menginginkan aku, tak bisakah dia menahan ku demi anak ini? Karena ini juga anak ku." gumam Meli dan terus menangis sepanjang malam dengan memeluk perutnya.
Semalaman Meli menangis dan meratapi diri seolah dia sedang putus cinta. Bahkan panggilan dari Denis pun tak dihiraukannya karena dia merasa kesal dan juga sakit secara bersamaan pada Farid yang cuek pada dirinya dan tak mau memperhatikannya.
Pagi ini Meli bangun lebih awal bukan karena ingin, tapi karena dari semalaman dia tak tidur dengan nyenyak dan selalu teringat serta terbayang wajah Farid. Setelah selesai mandi Meli mengikat rambutnya dengan mengambil sebagian untuk ditarik keatas dan menjepitnya lalu merias wajahnya agar tak kelihatan kalau sembab karena menangis semalaman.
"Selamat pagi nyonya, kok tumben bangun pagi sekali? Ini masih petang, apa tidur nyonya tak nyenyak?" tanya Surti yang sudah sibuk beres - beres rumah.
"Tidak aku hanya ingin bangun pagi saja, apa tuan masih tidur?" tanya Meli setelah menjawab pertanyaan Surti.
"Tidak, tuan sudah bangun dari tadi dan sedang berolah raga diruang olah raga. Nyonya kesana lah tuan ada di sana." jawab Surti dan melanjutkan lagi pekerjaannya.
"Mau dibuatkan sarapan apa nyonya?" tanya Surti sebelum Meli beranjak pergi.
"Nasi goreng mata sapi dan sosis bakar." jawab Meli lalu berlalu ke belakang rumah untuk melihat Farid olah raga di ruang olah raga.
"Deg." Meli terpukau melihat tubuh Farid yang kekar dan menawan serta terlihat mengkilap karena berkeringat.
"Sayang lihatlah papamu sangat menawan dan keren saat dia berolah raga, dia terlihat begitu menarik. Pantas saja dia begitu sangat kuat mengangkat kita sekaligus, karena dia memang kuat sekali. Ototnya terlihat sangat memukau sayang, apa kau tak ingin melihat papa anak cantik." tanpa sadar Meli memuji Farid dan bergumam dengan mengelus perutnya yang buncit.
"Kenapa kemari, apa ada yang tidak nyaman dengan kehamilannya? Ini masih terlalu pagi baru jam 6, kenapa sudah bangun sepagi ini." tanya Farid mendekati Meli yang sedang berdiri melihatnya olah raga.
"Sangat indah." gumam Meli tanpa sadar.
"Apa? Apanya yang indah?" tanya Farid bingung dan menghentikan aktifitasnya membersihkan diri dengan handuk.
"Ah, tidak bukan apa - apa. Aduh perutku kenapa tiba - tiba sakit." Meli mengeluh dan menahan perutnya.
"Eh?!" Meli kaget karena Farid langsung mengangkat tubuh Meli dan membawahnya masuk kedalam rumah.
__ADS_1
"Nyonya kenapa tuan?" tanya Surti panik yang melihat Farid menggendong Meli masuk rumah.
"Istirahatlah, aku akan mandi dengan cepat, Surti tolong jaga nyonya karena tiba - tiba saja perutnya sakit." ucap Farid meletakkan Meli di tempat tidur dan dia masuk kedalam kamar mandi untuk mandi.
"Ini sudah waktu ya nyonya? Mungkin saja ini adalah tanda pertama. Dulu saya juga begitu saat mau melahirkan, tarik nafas saja nyonya untuk merilekskan biar rasa sakitnya sedikit berkurang." ucap Surti menceritakan pada Meli waktu dia mau lahiran dulu.
30 menit akhirnya Farid keluar dengan setelan baju lengkap dan membawah Meli masuk kedalam mobil dengan cara menggendong Meli lagi. Perlakuan Farid itu membuat Meli jadi semakin merasa aneh pada dirinya.
"Au." Meli mengeluh lagi karena perutnya jadi semakin sakit setiap kali dia memikirkan Farid.
"Hubungi pak Hendra dan bilang aku membawah Meli ke rumah sakit." perintah Farid pada Surti setelah dia meletakkan Meli didalam mobil.
"Sakit.!" Meli mulai menangis karena rasa sakitnya jadi tak bisa ditahan.
"Sabar ya sayang, tahan sebentar." ucap Farid mengusap kepala Meli dan melajukan mobilnya dengan cepat
Setelah sampai di rumah sakit Meli langsung ditangani oleh beberapa perawat dan juga dokter, setelah dilakukan pemeriksaan Meli dibawah ke ruang persalinan karena ketubannya sudah pecah dan sudah ada pembukaan tanda kalau Meli memang mau melahirkan.
"Dia dibawah ke dalam ruang bersalin barusan." jawab Farid yang terlihat tak tenang.
"Tuan, suami dari nyonya Meli silakan masuk." panggil seorang perawat dan Farid segerah masuk kedalam.
"Aaaaah. Sakit!!" teriak Meli kesakitan yang sedang tidur di tempat tidur dengan posisi kaki dibuka lebar.
"Deg." jantung Farid bergetar menatap kasian pada Meli yang sedang berjuang untuk melahirkan anaknya.
"Tuan tolong diberi semangat pada istrinya karena ini sudah tinggal lahirnya saja" ucap dokter yang menolong kelahiran Meli.
Farid mendekati Meli, menatap wajah Meli yang memerah dan air mata yang mengalir serta keringat yang bercucuran dari wajah dan tubuh Meli. Pemandangan itu membuat Farid tak tega dan tanpa sadar Farid meneteskan air matanya juga memeluk dan mengecup kening Meli dengan penuh rasa sayang.
__ADS_1
"Maafkan aku sayang membuatmu kesakitan seperti ini." ucap Farid dan mengecup pelipis Meli.
"Ayo Bu dorong lagi sekali lagi dengan kuat." ucap dokter yang menolong Meli.
Meli terus mengejan berusaha melahirkan anaknya, nafas Meli tersengal dengan pandangan mata sayu menaham rasa sakit yang amat sangat, nafas Meli mulai tersengal.
"Berjuanglah sayang, aku tau kamu bisa karena kamu adalah wanita kuat yang hebat." ucap Farid sambil mengusap keringat diwajah Meli dengan lengan kemejanya.
"Ayo Bu semangat lah, kasian si kecil. Dorong dengan kuat sekali lagi bu." ucap dokter lagi pada Meli
"Maafkan aku sayang, tolong maafkan aku. Aku mencintaimu." bisik Farid tepat ditelinga Meli dan memberinya kecupan lagi dikening Meli dengan sangat dalam.
Jantung Meli berdebar sangat kuat saat mendengar ucapan cinta Farid, dan seolah itu adalah kekuatan terbesar bagi Meli. Hingga semangatnya muncul lagi dan seolah kekuatan yang hampir hilang tadi terisi penuh lagi. Dengan sekuat tenaga Meli mengejan seakan - akan dia menggunakan seluruh tenaganya, dan suara tangisan bayi memenuhi seluruh ruangan.
"Oeee,,, oeeee." putri pertama Farid telah terlahir ke dunia dengan keadaan sehat dan lengkap.
"Terima kasih, terima kasih sayang. Kamu telah berjuang." ucap Farid terlihat sangat senang dan bahagia.
"Ak,,, emmm." kalimat Meli tertahan oleh ciuman Farid yang diberikan secara tiba - tiba karena rasa senang dan bahagianya.
Farid melakukannya dengan sangat lembut dan penuh dengan rasa sayang yang mendalam. Sehingga membuat Meli lupa situasi, mengalungkan tangannya keleher Farid dan menikmatinya.
"Maafkan aku, aku lepas kontrol." ucap Farid mengurai ciumannya.
"Bagaimana dengan putri saya, apa dia sehat?" tanya Farid pada perawat yang sedang mengurus putrinya yang baru saja lahir.
"Sangat sehat, tak ada kurang apa pun." jawab perawat itu dan menyerahkan bayi itu pada Farid setelah dibedong dengan rapi.
"Sayang, selamat datang ke dunia putri papa yang cantik." ucap Farid mengecup putri kecilnya.
__ADS_1
Sedangkan Meli yang sedang dirawat setelah melahirkan menatap iri pada putrinya karena Farid terlihat sangat menyukai putrinya itu. Meli meneteskan air matanya karena teringat akan perjanjian cerainya dengan Farid setelah dia melahirkan. Dan Meli yakin bisikan rasa sayang dan cinta Farid padanya tadi sebenarnya bukan untuk dirinya melainkan untuk putrinya, sebagai dorongan agar dia cepat lahair ke dunia.