
"Jika benar Lira adalah wanita yang telah berubah dari yang dulu maka aku harus mendapatkan dia kembali, apa pun dan bagaimana pun caranya aku akan melakukannya." tekat Denis dalam hati sambil melihat foto Lira dari handphone Santo.
"Kau Jangan berfikir macam - macam, aku tau apa yang sedang dipikirkan oleh otak kecil mu yang tak berguna itu." tukas Santo menatap Denis tajam dan mengambil kembali handphonenya dari tamgan Denis.
"Tuan Santo jangan salah paham dulu, bagaimanapun aku adalah orang yang paling mengenal dan juga mengerti soal Lira, karena aku pernah bersama dengan dia cukup lama. Jika ingin mendapatkan hati Lira biar aku saja yang mendekatinya dan membujuknya untuk bisa bergabung dengan kita." jelas Denis pada Santo karena dia juga punya niatnya sendiri.
"Hem, apa kau yakin akan bisa melakukan itu? Bukankah kau telah membuangnya bahkan sudah menghina dia dengan sangat kejam. Apa kau berfikir kalau Lira akan terkesan padamu dan akan mempercayaimu lagi seperti 10 tahun lalu? " ledek Santo pada Denis dengan tatapan meremehkan.
"Tuan Santo tenang saja, aku paling mengerti Lira dan aku yakin bisa mendapatkannya lagi." ucap Denis meyakinkan Santo.
"Ok, terserah kau saja. Aku hanya ingin membuat Liyon hancur tak peduli bagaimana pun caranya." ucap Santo santai dan melanjutkan minumnya.
Setelah membahas itu Denis beranjak pulang meninggalkan Santo seorang diri di klab. Dan Santo menatap kepergian Denis dengan seringai dibibirnya, karena dia mendekati Denis sebenarnya ada maunya dan maksud tersembunyi.
"Tuan apa anda akan menggunakan tuan Denis sebagai alat untuk memperoleh tujuan anda?" tanya anak buah Santo yang dari tadi berdiri dengan tenang dibelakang Santo.
"Satu langkah bisa mencapai 2 pulau sekaligus, bukankan itu adalah kemenangan bagus, jika aku bisa menggunakan orang bodoh itu dan dia bisa memberikan keuntungan besar padaku maka aku akan terus menggunakan dia. Bukankah aku yang akan untungkan dari semuanya? Aku bisa menghancurkan si ber*sek Liyon dan juga si begok Rian dalam sekaligus." Santo tertawa terbahak, "Aku akan merebut perusahaan Rian dan menghancurkan Liyon dengan memanfaatkan kelemahan mereka berdua." sambung Santo dengan tatapan ingin menghabisi orang.
"Kita harus punya siasat dan juga strategi untuk menghadapi 2 orang itu. Aku tak masalah jika itu adalah Rian, tapi tidak dengan Liyon. Aku harus punya persiapan sebelum dia menyerang balik. Karena aku yakin dia akan selalu waspada juga sangat hati - hati. Namun jika itu berurusan dengan wanitanya aku yakin dia tak akan bisa fokus pada yang lainnya." ucap Santo dengan keyakinan atas strateginya untuk menghadapi Liyon.
"Awasi pergerakan Denis dan laporkan setiap tindakannya pada ku. Lalu wanita itu aku ingin dia malam ini, persiapkan dia untuk ku." perintah Santo pada anak buahnya dan dia beranjak meninggalkan klab malam itu menuju ke apartemennya.
...🍂🍂🍂...
"Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Liyon pada Bagas yang datang memeriksa kondisi Lira.
__ADS_1
"Liyon aku baik - baik saja, aku sudah tak apa sekarang." ucap Lira pada Liyon.
"Ya, dia memang sudah tak demam lagi. Tapi kamu tetap harus istirahat dulu untuk memastikan tidak akan muncul lagi demam mu, sementara aku aff dulu infusnya dan jangan lupa minum obatnya juga vitaminnya." ucap Bagas memberikan sebuah resep pada Liyon.
"Kakak sebaiknya istirahat dulu, jangan cemaskan yang lain. Nanti aku akan menyuruh istri Satria datang." ucap Liyon
"Bagas tolong tinggalkan kami berdua aku ingin bicara dengan Liyon." ucap Lira dan Liyon kaget mendengar itu.
"Apa Ferdi sudah pergi ke sekolah?" tanya lira setelah Bagas keluar dari kamar mereka.
"Iya tadi pagi dia berangkat dianter sama Gali. Ada apa, apa ada yang ingin kakak tanyakan padaku? Kalau soal kepergian kakak kita bicarakan lain kali saja, kakak sembuh dulu. Jangan khawatir, aku sudah memikirkannya semalaman dan aku akan melepaskan kakak, aku sendiri yang akan mengantarkan kakak pada Rian." ucap Liyon dengan tertunduk.
"Tapi aku hanya ingin satu hal, tolong biarkan Ferdi bersama dengan ku, karena aku tak bisa melepaskan kalian berdua bersamaan." sambung Liyon liri.
Liyon berjalan mendekati Lira dan terlihat sangat jelas kalau Liyon sangat lemah dan terlihat murung. Liyon duduk disamping Lira dengan tertunduk tak berani menatap Lira seperti biasanya.
"Aku akui kalau aku takut dan tak tenang jika berada di sisimu. Karena aku pasti akan ikut terseret jika ada masalah yang terjadi dengan mu." ucap Lira membuka obrolan dengan Liyon
"Bukan aku tak mau membiarkan Ferdi bersama dengan mu, tapi dia terlalu kecil dan aku tak mau dia kenapa - napa. Aku hanya ingin dia hidup dan berkembang seperti anak kecil kebanyakan." sambung Lira mengatakan rasa khawatirnya.
"Tapi dia adalah putraku dan itu adalah kenyataannya. Itu sudah menjadi takdir dirinya, karena dia telah hadir diantara kita dan berani menjadi putraku." jawab Liyon menatap Lira.
"A-aku tau, tapi dia masih terlalu kecil untuk mengerti tentang semuanya. Aku hanya ingin dia siap saat dia sudah dewasa." ucap Lira lagi.
"Dengarkan aku, aku mengucapkan terima kasih karena kakak telah melahirkan dia untukku. Tapi yang ingin aku tanyanya pada kakak, kenapa kakak mengajari dia teknik beladiri? Aku yakin kakak telah menyiapkan dia untuk sesuatu dan kakak melakukannya dari sejak awal karena kakak mengerti dan menyadari siapa dia dan takdir apa yang akan dia jalani serta hadapi." ucap Liyon yang tepat mengena pada Lira.
__ADS_1
"Jangan takut dan jangan cemas soal itu, Ferdi adalah putra kita. Dia telah mendapatkan teknik dasar dari kakak selama ini, dan kini giliran ku. Ferdi bagaikan mata pisau, aku harus menempanya agar tajam." jelas Liyon dan Lira hanya diam melihat.
"Apa kakak tau? Mungkin kakak tak tau dan tak sadar kalau Ferdi sudah memiliki insting mengenali lingkungan sekitarnya, dia bisa membaca situasi orang yang dia anggap memiliki maksud untuk dirinya atau orang disekelilingnya. Dan aku akan mempertajam kemampuannya itu mulai dari sekarang. Untuk itu, dia harus dihadapkan pada situasi serta keadaan yang sulit dan genting.* jelas Liyon.
"Kak, Ferdi adalah putraku. Putra kandungku jadi dia harus menjadi lebih hebat dari diriku." jelas Liyon lagi.
Dan dari penjelasan Liyon yang panjang lebar pada Lira itu. Lira hanya bisa diam melihat serta mendengarkan Liyon bicara. Lira tak bisa membantah soal kelahiran Ferdi dan kenyataannya yang memang benar Ferdi adalah putra Liyon. Orang yang dia cintai dan memiliki pengaruh besar dalam segala bidang.
"Tapi Liyon,,," kalimat Lira tertahan.
"Jangan cemas, aku tak akan mencelakai Ferdi karena dia adalah putraku. Aku hanya akan mengajarinya banyak hal dan juga ketrampilan menjaga diri sendiri, walau dia masih kecil dia adalah anak yang lebih tanggap dan juga cekatan dalam segala hal." jelas Liyon lagi.
"Sudah sekarang kakak harus istirahat dulu biar kondisi kakak stabil dan lebih baik lagi. Jadi jangan pikirkan apa pun, jangan terlalu berat berfikir, menurutlah." Liyon membaringkan tubuh Lira dan memasang lagi selimut pada tubuh Lira.
"Aku akan segerah kembali setelah menebus obat untuk kakak." ucap Liyon dan keluar meninggalkan Lira.
Setelah keluar Liyon mengumpulkan semua orang - orangnya di rumah dan memberitahukan pada mereka semua. Entah apa yang dikatakan oleh Liyon kepada mereka karena terlihat mereka semua menganggukkan kepala mereka secara serempak.
"kau sendiri yang akan keluar untuk membeli obat?" tanya Bagas yang masih ada di rumah Liyon.
"Iya, ayo ikut aku ada yang ingin aku katakan padamu dijalan nanti." ajak Liyon dan Bagas mengikutinya.
Entah apa yang akan direncanakan oleh Liyon, dia terlihat sedang mengatur orang - orangnya dan juga menyimpan sesuatu niat yang mungkin nanti akan dia lakukan.
Selama dalam perjalanan Liyon menjelaskan sesuatu pada Bagas, dan terlihat Bagas seperti mengerti apa rencana Liyon dan apa yang akan dia lakukan kedepannya nanti.
__ADS_1