Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Penculikan


__ADS_3

"Hahaha,,, hati - hati dijalan, Ferdi jaga Mama dan adik - adik dengan baik ya Boy." ucap Liyon memeluk Ferdi dan mencium pipi Ferdi.


"Baik, papa. Dada semua." ucap Ferdi dan mobil pun melaju pergi dari halaman rumah Liyon.


Satria dan Farid yang juga berpamitan dan melepas kepergian para istri mereka untuk berlibur melambaikan tangan mereka dengan tersenyum bahagia."


Setelah mobil yang membawah istri dan juga anaknya pergi tiba - tiba saja Liyon merasa khawatir dan Liyon langsung menghubungi Lira lewat panggilan telepon


Brrrt


"Eh, siapa yang telepon? Ya ampun apa - apa an sih papamu" gumam Lira dengan kesal pada Liyon.


"Liyon, apa - apa an ini, aku baru saja keluar dari halaman rumah dan belum ada 5 menit." jawab Lira dengan nada kesal.


"Tidak sayang, aku cuma ngecek saja apakah hanpon mu bisa dihubungi atau tidak." jawab Liyon santai menutupi rasa tak nyaman yang tiba - tiba saja dia rasakan.


"Ya sudah, iya hanpon ku akan selalu aktif dan selalu bisa untuk dihubungi ok." jawab Lira menurunkan nada bicaranya.


"Iya sayang, setelah selesai urusan di kantor aku akan langsung menyusul kalian. Aku sayang kamu." ucap Liyon dan mematikan sambungan telepon.


"Farid atasi semua masalah hari ini dan Sat tolong kamu bilang pada Safitri untuk memajukan semua rapat menjadi hari ini semuanya." perintah Liyon dan mereka pun pergi ke kantor dengan mobil masing - masing.


Satria dan Farid merasa aneh dengan perintah Liyon yang tiba - tiba, namun mereka berdua tetap melaksanakan perintah itu dengan cepat dan sesuai dengan instruksi.


Hari itu suasana kantor Liyon sangat sibuk, dan jadwal Liyon juga sangat padat, semua orang sedang bekerja keras dan fokus pada pekerjaan mereka masing - masing.


"Aneh, kenapa aku jadi merasa sesak begini ya? Aku tak pernah merasakan sesuatu yang seperti ini sebelumnya." gumam Liyon ditengah - tengah rapat.


"Bagaimana menurut anda Bos Li apa kah penanganan seperti itu sudah sesuai? Atau mungkin ingin ditingkatkan lagi?" tanya pak Sugeng yang sedang mempresentasikan soal fasilitas dan juga kualitas hotel Sanken.


"Hem, bagiku itu cukup bagus." jawab Liyon yang sebenarnya laporan itu adalah dia sendiri yang membuat saat Lira bekerja di rumah dan hampir lembur.


"Bagaimana menurut mu Sat, apa kau ada pendapat?" tanya Liyon pada Satria yang duduk disamping kanannya.


"Dan kau Rid, keluarkan pendapat mu." ucap Liyon pada Farid juga yang sedang memimpin jalannya rapat.


Sementara disisi lain Lira dan yang lainnya menikmati perjalanan mereka dengan sangat senang. Terlebih lagi Arlin yang selama perjalanan terus saja ceria bermain dengan Ferdi.

__ADS_1


"Aku tak menyangka kalau aku bisa keluar liburan tanpa gangguan dari Satria, karena dia itu sangat melelahkan. Apa kau tau Lira,,, aku gak pernah nyangka kalau Satria bisa seganas itu padahal dulu dia hanya seorang bocah kecil yang jail." ucap Yuniar yang mulai menceritakan soal Satria pada Meli dan juga Lira dengan sangat semangat dan antusias.


"Hahaha,,, dia memang adik ku." jawab Lira tertawa terbahak mendengar cerita Yuniar soal Satria yang selalu saja tak bisa menahan diri.


"Eh, Meli kenapa kamu malah diam saja dan kenapa wajahmu jadi merah begitu? Apakah kamu demam, ada yang tak enak dari badanmu?" tanya Yuniar dengan khawatir.


"Ti-tidak aku baik - baik saja. Aku cuma gak tau harus jawab apa, kenapa mbak Yuni bisa cerita begituan dengan sangat biasa dan lugas." jawab Meli yang tertunduk.


"Eh, waaaaa,,,, jangan - jangan Farid juga begitu ya? Dia juga sangat tak sabaran dan tak bisa menahan diri?" tanya Yuniar pada Meli yang sangat tepat sasaran. Alhasil wajah Meli jadi semakin merah mendengar pertanyaan itu.


Lira dan Yuniar pun tertawa terbahak - bahak melihat reaksi Meli dan sudah menjawab semua dari pertanyaan yang telah diajukan oleh Yuniar kepada Meli yang pada dasarnya sangat pemalu. Dan Surti, Sulasih serta Warti hanya diam mendengarkan obrolan para istri dari majikannya itu sambil menemani Arlin dan Ferdi bermain.


"Mbak nanti berhenti di supermarket terdekat ya kalau ada, tadi aku lupa bawa tisu. Kita mampir beli tisu dulu." ucap Lira pada Surti.


"Baik non." jawab Surti dan menyampaikan pesan Lira pada Gali yang sedang serius menyetir sama Suryo disamping Gali.


Ya selain ke tiga wanita penjaga Liyon juga memerintahkan agar Lira membawah Gali dan juga Suryo sebagai supir, karena itu adalah syarat yang diajukan oleh Liyon agar Lira bisa pergi berlibur tanpa dirinya.


"Non di depan ada supermarket kita berhenti di situ saja ya?" teriak Suryo dan diiyakan oleh Lira.


Didepan supermarket, setelah mobil Lira diparkirkan Lira dan Yuniar keluar untuk numpang ke kamar mandi setelah itu Lira membeli beberapa tisu dan juga camilan.


"Sudah ayo berangkat lagi biar gak kemalaman kita sampainya di hotel nanti." ucap Lira dan masuk kedalam mobil lagi.


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang memasuki jalur tol. Setelah bercanda dan bercerita mereka pun merasa lelah dan istirahat. Terlihat Lira tidur dengan sangat nyaman begitu juga dengan yang lainnya.


"Lapor nyonya, sepertinya mereka menuju ke kota Bandung." ucap seseorang melaporkan pada orang yang menyuruhnya mengikuti mobil Lira saat dari supermarket tadi melalui panggilan telepon.


"Baik,. ikuti terus mereka dan laporkan selalu pengamatan mu pada ku, dan jangan lupa seret semuanya ke tempat yang sudah ku beri tau, yang paling penting adalah Lira kalau yang lain terserah mau kalian apakan." jawab orang itu dan mematikan sambungan teleponnya.


"Lira aku pasti akan membalas mu. Dan aku tau siapa orang yang harus aku mintai tolong untuk menghancurkan dirimu dan semau kebanggaan mu itu." ucap orang itu dengan nada sangat kesal dan benci pada Lira.


"Uhg, masih lama ya Gali? Apa kamu gak capek? Biar aku gantikan kalau kamu capek, istirahatlah dulu." ucap Lira yang terbangun dari tidurnya.


"Tidak non, baru saja saya gantikan Suryo kok jadi gak capek, dan bentar lagi juga akan sampai tinggal 1 jam lagi kita akan sampai di hotel." jawab Gali yang lagi fokus nyetir.


Brak

__ADS_1


"Aaarhg.!" teriak semua orang yang ada didalam mobil kaget dan Arlin pun jadi menangis karena kaget.


"Ada apa ini?" Gali bingung karena dikira ada orang yang dengan sengaja menabrak mobil mereka dari belakang.


"Gali menepi lah." ucap Lira dan Gali pun menepikan mobilnya begitu juga dengan mobil dibelakang yang menabraknya juga ikut menepi.


Gali, Suryo, Lira, Surti dan Sulasih turun untuk melihat keadaan.


"Sayang sudah jangan menangis lagi, udah gak papa, Arlin kaget ya?" ucap Meli menenangkan putrinya yang menangis karena kaget.


"Wah, maaf pak, buk saya gak sengaja karena terlalu cepat jadi menabrak mobil kalian." ucap orang yang tadi menabrak mobil Lira.


"Wah ini sedang hamil ya, apa kandungan ibu tak apa - apa?" tanya orang itu lagi.


"Tidak apa, apakah kalian sedang mabuk? Butuh bantuan?" tanya Lira dengan sopan pada orang itu.


"Maaf Bu kami hanya terlalu cepat saja tadi Bu." jawab dari salah satu orang yang menabrak tadi.


"Ya sudah kalau begitu lain kali hati - hati ya. Ayo Gali." ucap Lira dan berbalik mau berjalan menuju ke mobilnya.


"Aaaaah, kau?!" Gali mendapatkan tikaman dari dua orang yang menabrak tadi.


"Apa yang kalian lakukan?!" teriak Surti.


Suryo dan Sulasih langsung menghajar orang itu dan Lira menangani Gali yang terluka. Namun ternyata mereka tidak hanya 2 orang melainkan ada komplotan mereka yang menyusul dan ikut menghajar Suryo dan juga Sulasih.


"Non Lira.!" teriak Surti yang juga ikut kena tikam saat berusaha menolong Ferdi dan yang lain didalam mobil.


"Tidak.! Galih bertahan lah hubungi Liyon minta bantuan aku akan mengejar mereka." ucap Lira yang mengejar mobilnya yang telah dibawah lari.


"Warti bantu yang lain aku akan mengejar mereka." Lira membawah mobil orang yang tadi menabraknya dan melajukan mobil dengan kencang mengejar mobilnya yang dibawah pergi, karena didalam mobil ada semua keluarganya.


"Yang kita inginkan sudah terkabul ayo pergi" ucap teman orang yang menabrak mobil Lira.


"Kalian mau kemana?" Warti dan Suryo menghadang mereka namun malah kena pukul dari belakang sehingga jatuh pingsan.


"Tidak, kalian,,, ah" Gali berusaha untuk mendekati rekannya yang telah jatuh pingsan tapi kesusahan karena lukanya.

__ADS_1


Dengan susah paya Gali menghubungi Liyon dan Sulasih membantu Suryo dan Warti yang jatuh pingsan, dan juga Surti sama Gali yang sedang terluka.


__ADS_2