Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Restu yang datang terlambat


__ADS_3

"Ugh, sakit sekali kepala dan tubuhku. Rasanya aku habis tertabrak tronton." Lira terbangun dari tidurnya dan kaget melihat tubuhnya tanpa busana.


Zraaaas


Lira tersadar dari rasa kagetnya saat dia mendengar suara air dari kamar mandi, dengan cepat Lira mengenakan bajunya lagi dan bergegas keluar dari kamar itu karena tak mau ketahuan oleh orang yang sedang mandi.


30 menit kemudian Liyon keluar dari kamar mandi dan mendapati kamar sudah sepi dan kosong. "Dia kabur rupanya." gumam Liyon sambil tersenyum ringan.


"Siapa sebenarnya orang itu? Aku sudah berpindah dari bar ke hotel berarti ada seseorang yang membawah ku pergi dari bar itu." suara hati Lira sedang bertanya - tanya saat dia berada didalam taksi mau pulang.


"Yang terpenting sekarang aku harus beli pil dulu karena aku gak mau terjadi hal - hal yang tak diinginkan." gumam Lira dan minta pada supir taksi untuk berhenti disebuah apotik, dan setelah membeli pil Lira melanjutkan pulang ke rumahnya.


"Mama!" teriak Ferdi dari dalam rumah menyambut kedatangan Lira, yang ternyata sedang di rumah bersama Yuniar karena mau berangkat ke TK


"Sayang, kamu tak nakal kan?" tanya Lira memeluk Ferdi dan menciumnya.


"Tidak, tidak nakal." jawab Ferdi dengan tersenyum.


"Lira apa kamu tak apa?" tanya Yuniar menatap Lira tajam.


"Tidak apa, maaf merepotkan mu padahal sebentar lagi kamu akan mengadakan pesta pernikahan." jawab Lira malu menatap Yuniar.


"Apa yang kamu katakan? Aku tak apa dan aku senang, oh iya hari ini ibu dan ayah akan datang. Kamu datanglah mereka pasti akan sangat senang, kamu juga merindukan mereka kan?" tanya Yuniar setelah memberitahu Lira soal kedatangan orang tuanya.


"Iya aku akan datang nanti" jawab Lira dengan senyumannya.


"Baiklah aku akan mengantar Ferdi ke TK dulu, kamu sarapan sebelum pergi kerja aku sudah buatkan dimeja makan." ucap Yuniar sebelum keluar rumah.


"Ferdi pergi dulu Mama." ucap Ferdi mencium pipi Lira.


Setelah kepergian Ferdi dan Yuniar Lira sarapan, mandi dan bergegas pergi kerja. Namun ditempat kerjanya Lira masih kepikiran akan orang yang tidur dengannya semalam.


...🍂🍂🍂...


Saat mendengar kabar kalau orang tua Lira datang Mama Li dengan cepat minta antar pak Yus ke rumah nenek Satria untuk bertemu dengan mereka. Dan ingin meminta maaf pada keluarga Lira atas semua kesalahannya yang dulu.


"Ibu, ayah kenapa kalian tak bilang mau datang jam berapa? Kalau begitu kan Satria bisa menjemput kalian bukan tiba - tiba sudah ada di rumah nenek seperti ini." jelas Satria dengan sedih pada kedua orang tuanya.


"Maaf kami tadinya mau ngabarin kamu, tapi tiba - tiba saja disetasiun ketemu sama Dudung jadi sekalian saja bareng." jelas bu Yulia pada Satria.


"Acara kamu akan diadakan di hotel milik Bos kamu apa tak terlalu mahal disana Sat? Kenapa tak diadakan di sini saja, pelataran rumah nenek ini kan juga luas." ucap nenek Sulasih.

__ADS_1


Satria terbahak mendengar pertanyaan dari neneknya, "disana Satria tak harus bayar kok Nek. Dan besok kalian akan pergi kesana semua jadi acaranya dimulai disana." jelas Satria.


"Baik sekali Bos kamu itu ya" ucap nenek Sulasih memuji Bos Satria.


"Tapi dimana Yuniar kok kamu kesini sendirian?" tanya sang ayah karena tak melihat Yuniar datang.


"Dia akan datang nanti dan kalian akan bertemu dengan cucu juga cicit kalian yang sangat rupawan dan juga pintar." jelas Satria dengan sangat bahagia.


Sang nenek yang belum dikasi tau merasa kaget saat Satria bilang cicit karena yang dia tau Satria dan Yuniar belum punya anak lagi setelah Yuniar keguguran.


"Maksud kamu apa Sat? Siapa yang kamu sebut cicit untuk nenek hah?" tanya nenek Sulasih bingung.


"Itu adalah anak kak Lira nek." jawab Satria.


"Benarkah? Kakak mu sudah ditemukan Sat? Apa dia sehat, dia dimana sekarang kenapa tak menemui nenek yang sudah rentan ini" ucap nenek Sulasih dengan menangis karena dia sangat merindukan Lira.


"Permisi, selamat siang." ucap seorang wanita yang terlihat sangat mewah dan cantik.


"Iya selamat siang, siapa?" jawab ibu Satria


"Nyonya li." Satria merasa kaget melihat ibu dari teman sekaligus Bosnya itu berada di rumah neneknya.


"Masuklah, silakan duduk." ibu Yulia mempersilakan nyonya Li untuk masuk.


"Maaf saya adalah Li Nieam ibu Liyon." ucap nyonya Li memperkenalkan dirinya.


"Iya ada apa anda datang kesini dan apa maksud dari ucapan anda yang bilang mau meminta maaf pada kami?" tanya ibu Yulia pada nyonya Li.


"Saya langsung saja pada intinya." ucap nyonya Li dan menceritakan kejadian saat Lira pergi dan meninggalkan semuanya tanpa kabar hingga bertahun - tahun lamanya.


"Jadi sekarang saya datang memohon pada kalian untuk mengijinkan saya mengambil Lira sebagai menantu saya dan menebus segala salah saya padanya selama ini." ucap mama Li menjelaskan pada keluarga Lira.


"Saya mohon pada kalian, tolong katakan kalau kalian setuju dan juga mau mengabulkan permintaan saya ini. Bagaimana menurut kalian? Satria bagaimana, kamu yang mengetahui soal Liyon." tanya mama Li dengan tatapan sangat memohon pada semua anggota keluarga Lira


"Tolong ijinkan saya membawah Lira sebagai menantu saya dan sebagai istri dari putra saya Liyon." pinta mama Li lagi.


"Aku ijinkan, tapi tidak dengan muda." ucap Ferdi dari luar rumah.


"Saya sebagai saudara iparnya juga mengijinkan dengan syarat Lira harus bahagia dan tak menderita lagi." sambung Yuniar juga menimpali kata - kata Ferdi.


"Kalian?" mama Li menatap Yuniar dan Ferdi.

__ADS_1


"Liyon." mama Li bergumam memanggil nama Liyon saat dia melihat Ferdi.


"Yuniar, Ferdi." satria berdiri dan berjalan menghampiri mereka.


"Dia adalah Ferdi putra kak Lira." ucap Satria mengenalkan Ferdi pada semuanya saat mereka semua menatap bertanya siapa anak kecil yang begitu tegas dan juga sangat dewasa dari usianya.


"Ferdi?" ucap semua orang bersamaan.


"Aku mau Mama sama Papa bersatu lagi, tapi aku ingin menguji apakah Papa pantas bersama dengan Mama atau tidak. Karena aku gak mau kalau Papa hanya menindas Mama dan membuat Mama takut." jelas Ferdi dengan sangat tegas.


"Tentu sayang, tentu saja sesuai dengan keinginan mu." jawab mama Li dan Bu Yulia bersamaan. sehingga membuat ayah dan juga nenek Lira terkejud seolah - olah kedua ibu itu memiliki jawaban dan pemikiran yang sama.


Setelah menjawab mama Li dan Bu Yulia memeluk tubuh mungil Ferdi bersama dan mereka seolah mengatakan bahwa Ferdi adalah milik mereka bersama karena didalam tubuh Ferdi mengalir darah Lira dan juga Liyon.


"Kita sepakat akan menyatukan anak - anak kita bersama." ucap mama Li dan Bu Yulia lagi - lagi sama.


"Haaah." ayah Lira menghela nafas karena dia tau tak akan bisa mencegah jika para wanita sudah memutuskan sesuatu untuk anak - anak mereka.


"Nenek." ucap Ferdi tersenyum melihat kedua neneknya bergantian.


"Iya sayang." jawab kedua neneknya dan mencium pipi Ferdi bersamaan.


"Hahaha, kita jadi besan ya mbak." ucap mama Li pada Bu Yulia


"Iya kita akan berbesan." jawab Bu Yulia dan mereka tertawa bersama.


"Sebelum itu, tanyakan dulu pendapat putri kita Bu." celetuk ayah Lira.


"Kakek." panggil Ferdi pada ayah Lira.


"Ya ini kakek kemarilah." ayah Lira merentangkan kedua tangannya menyambut Ferdi.


"Cicitku sayang ini buyut." ucap nenek Lira membelai kepala Ferdi dalam pelukan ayah Lira.


Setelah sepakat semuanya memutuskan akan menyatukan Liyon dan Lira namun sebelum itu mereka tak akan membiarkan Liyon tau akan kebenarannya tentang Lira, dan dengan kekuatan dari keluarga Li semua data tentang Lira ditutupi sampai Liyon menyadari akan kehadiran Ferdi diantara mereka.


"Tapi nyonya Li bukankah restu anda datang terlambat untuk kakakku? Kenapa anda baru memberikan restu anda sekarang?" tanya Satria pada mama Li.


"Iya, karena aku baru tau ceritanya dari Lian bagaimana Liyon menghadapi kesulitan selama di Beijing, dan seperti apa perasaan Liyon pada Lira." mama Li tertunduk, "maaf, sebagai seorang ibu aku telah salah memilih dan menentukan jalan untuk putraku." sambung mama Li lagi dengan tatapan yang tulus atas penyesalannya.


Saat satria mau berkata lagi Yuniar memegang bahu Satria dan melarangnya dengan menggelengkan kepala karena Yuniar tau betapa sakitnya rasa menyesal setelah salah memilih pilihan dalam hidup, seperti dia yang salah memilih kekasih dulunya.

__ADS_1


__ADS_2