Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Vila untuk permaisuri


__ADS_3

Farid terus berfikir atas apa yang diucapkan oleh papa liyon dan juga rencana dari liyon sendiri.


Sebelum kejadian kedatangan yusnia dan mama Li kedalam rumah liyon.


Pukul 08.00


Hanpon Farid bergetar yang ternyata itu adalah panggilan dari liyon yang sudah ditunggu oleh Farid sejak kemaren Karena ingin melaporkan sesuatu.


Farid : "Halo aku sudah menunggu dari kemaren."


Liyon : "Hem, dengarkan aku dulu. Barusan aku membuka pesan dari papa ada kemungkinan nanti atau kapan mama dan wanita itu akan datang ke rumah tolong kau jaga keadaan selama aku tak ada, dan jangan biarkan siapa pun masuk tanpa terkecuali, kau mengerti? Dan sekarang katakan apa maksud dari pesan mu itu."


Isi pesan dari Farid minggu 17.00


"Bos Bagas telah melakukan penjualan saham kepada pihak ke tiga tanpa sepengetahuan pihak pertama yang merupakan papa bos sendiri."


Farid : "Ya kemaren aku dan gali telah menyelidiki semua properti dari perusahaan milik keluarga Bagas dan kemaren pagi aku melihat ada transaksi 1 arah, dan setelah diselidiki ternyata itu adalah saham yang ditanam oleh papa bos pada perusahaannya dan ternyata saham itu sudah berpindah tangan tanpa sepengetahuan dari papa bos, karena ikatan pertemanan kemungkinan Bagas mendapatkan tanda tangan secara licik sehingga bisa menjual saham itu. Memang tak besar hanya 3 persen saja, tapi itu sudah penyalagunaan kepercayaan."


Liyon : "Baik kau simpan hasil transaksinya sebagai bukti nanti dan tetaplah berpura - pura bodoh dan tak tau apa pun, tetap awasi dia. Aku akan kembali nanti sore."


Farid : "Baik aku akan melakukan sesuai rencana."


Kembali kesaat ini


Farid terus saja berfikir hingga kepalanya merasa sakit karena banyak berfikir. Farid meminum obat setelah itu dia istirahat karena dia yakin yusnia tak akan kembali lagi pada saat ini.


Dan disisi lain keadaan liyon dan juga lira masih dalam suasana yang penuh dengan rasa sayang dan suasana hati yang masih dimabuk cinta.


Saat lira terbangun dan membuka matanya saat matahari sudah muncul dan menampakkan sinarnya yang sangat terang, liyon sudah berdiri di teras kamar dengan wajah yang sangat kaki dan keras.


"Apa yang dia lakukan di situ dengan berdiri dan diam begitu?" lira melangkah mendekati liyon dengan memakai balutan selimut.


"Kenapa kamu bengong dengan tatapan yang tajam membuat orang takut." ucap lira yang muncul dan memeluk liyon dari belakang.


"Eh, kak. Kamu?" liyon terkejud dan membalikkan badan.


"Bukankah sudah ku bilang jangan menggodaku karena aku tak akan sanggup jika berurusan dengan mu, apa kau tak akan capek jika aku memakan mu lagi hem?" tanya liyon dengan melirik kebawah melihat sesuatu yang tak tertutup disana.


"Si - siapa yang menggoda aku hanya bertanya saja." lira menjawab dengan panik karena dia lupa kalau dia belum berbusana dan barusan kulit dadanya menempel pada kulit punggung liyon yang juga terbuka, karena liyon tak menggenakan baju.


"Sudah terlambat dia sudah bangun dan sudah sangat keras, jadi dia menantang ketangguhan dari medan tempurnya" liyon berkata dengan langsung mengangkat tubuh lira dan meletakkannya lagi ditempat tidur.


"Li - liyon, emm." liyon telah mengunci bibir lira dan dia pun memulai lagi pertempuranannya dengan sangat luar biasa serta nikmat.


Liyon tersenyum menatap lira yang ada dibawah tubuhnya dengan keringat dikenang lira dan nafas yang tersengal - sengal karena menerima serangan darinya hingga berkali - kali.


"Kamu benar - benar bukan manusia, kamu bagai mesin dan sekarang tubuhku benar - benar lelah, sepertinya aku sudah gepeng." ucap lira dengan wajah memerahnya.


"Salah sendiri, suruh siapa membangunkan dan membangkitkan si junior." liyon menjawab dengan tersenyum dan tidur disamping lira.


"Tak bisakah dia dikendalikan dan ditekan sedikit? Bagaimana jika aku sudah jadi istrimu yang setiap hari akan bertemu dengan mu, bisa - bisa aku di rumah tanpa busana sepanjang hari.!" kesal lira dan memonyongkan bibirnya


"Wahahaha, ya bisa jadi dan mungkin saja aku akan terus menempel pada mu tanpa bisa lepas." jawab liyon terbahak mendengar kata - kata lira.

__ADS_1


"Aduh aku tak bisa bangun sakit sekali." keluh lira


"Apa sesakit itu? Aku bantu kakak mandi." tawar liyon.


"Tidak, tidak usah aku bisa remuk nanti. Sebaiknya kendalikan adik mu itu." tolak lira dan dia berjalan tertatih yang akhirnya digendong liyon masuk kedalam kamar mandi.


Saat lira sedang mandi liyon membuka lagi hanponnya dan melihat lagi pesan dari papanya yang belum selesai dibacanya.


Papa minggu (09.00)


"Liyon hari ini Yusnia datang kerumah menemui mama kamu, dan dia membawah banyak barang sebagai oleh - oleh."


Minggu (10.00)


"Yusnia sepertinya sedang merayu mamamu untuk membawahnya ke rumah mu dan sepertinya dia ingin tau alamat serta password dari rumah mu, kamu berhati - hatilah."


Minggu (12.00)


"Liyon papa tau kamu lagi dekat dengan salah satu sekretaris mu, apa kah dia adalah lira? Karena papa dengar kakak dan kakak ipar mu memuji lira dan mengatakan pada papa kalau lira adalah orang yang bisa diandalkan, papa percaya dengan penilaian mereka berdua.


Minggu (12.30)


"Liyon papa tak tau apa maksud dari Yusnia tapi sepertinya dia ingin menargetkan lira, karena dia membicarakan soal lira dengan buruk, dan bertolak belakang dengan apa yang dikatakan oleh kakak dan juga kakak ipar mu."


"Katakan dengan jelas pada papa sampai mana hubungan mu dengan lira, papa yakin kamu tak akan gegabah mengambil keputusan, tapi saran papa kalau masih belum jauh hubungan kalian sebaiknya jauhi lira dari sekarang dan putuskan hubungan kalian. Jangan melibatkan orang yang tak salah dalam peperangan mu."


liyon mengusap wajahnya dengan kasar setelah dia membaca keseluruhan pesan dari papanya, apa yang dikatakan oleh papanya ada benarnya karena lira tak tau apa pun, namun liyon tak akan sanggup jika harus melepaskan lira sekarang atau pun nanti.


"Hah.! Rasanya aku gila dengan urusan ini." gumam liyon dengan sangat lelah.


"Boleh ayo." lira dengan senang hati mengikuti liyon.


"Wah Liyon, vila ini milik siapa? Kenapa pemiliknya begitu sangat kreatif ya sampai membuat kolam pancing buatan seperti ini." lira memuji sang pemilik vila sementara liyon hanya tersenyum melihat lira yang fokus memancing sambil memuji pemilik vila.


"Bagaimana aku bisa melepaskan dia sesuai dengan perintah papa? Aku tak akan bisa melakukannya, tidak akan pernah bisa." gumam liyon dalam hati sambil terus memperhatikan lira.


"Liyon aku dapat ikan." lira teriak sangat keras dengan gembira karena umpannya dimakan ikan.


"Liyon lihat umpannya sangat besar." teriak lira lagi dan itu menyadarkan lamunan liyon.


"Wah iya luar biasa, kita akan pesta makan ikan karena umpanku juga dimakan ikan kak." teriak liyon sambil menarik pancingnya.


"Wah wah nyonya dan tuan dapat ikan yang besar - besar, mau saya masakan apa untuk ikannya?" tanya ibu pengurus vila.


"Dibakar saja bi, ayo lira bantu." lira dengan semangat membersihkan ikan - ikan yang didapatkan tadi dengan dibantu ibu pengurus vila.


"Bi apa saya boleh tanya?" lira mencobak memberanikan diri tanya pada bibi pengurus siapa pemilik vila ini.


"Boleh nyonya tanya saja mau tanya apa?" jawab bibi dengan sabar.


"Siapa pemilik vila ini? Dan orang mana karena dia luar biasa kreatif, bolanya bagus dan juga sangat indah ada taman serta kolam pancing juga." tanya lira dengan sangat penasaran.


"Lah, kok nyonya malah bertanya pada saya? Emang tuan tidak bilang nyonya?" tanya balik ibu pengurus vila.

__ADS_1


"Hah? Liyon tidak bilang apa apa pada saya." jawab lira bingung dengan pertanyaan bibi pengurus vila.


"Vila ini kan atas nama nyonya Lira. Lira Anggraini itu nama nyonya kan?" ibu pengurus vila itu menjelaskan pada lira dan itu membuat lira kaget.


"Apa yang bibi katakan? Pasti bukan saya, atau hanya namanya saja yang sama dengan saya, bibi ngada - ngada ah. Kalau beneran ini milik saya maka saya gak mau pulang akan selamanya di sini dan tinggal sama bibi." ucap lira sambil tertawa dan memeluk bini pengurus vila.


"Aduh nyonya ini, bibi gak lagi bercanda ini beneran milik nyonya. Kalau nyonya gak percaya bisa tanya langsung sama tuan."


"Dan kalau nyonya mau tinggal di sini maka bibi akan sangat senang sekali."


"Apa nyonya tau? Awalnya waktu bibi diminta untuk mengurus vila ini 1 tahun yang lalu, bibi sama suami bibi merasa agak takut. Karena bibi sama suami bibi berfikir kalau nyonya dan tuan rumah ini mungkin orang yang kaku dan ya begitulah nyonya tau kan maksud bibi."


Bibi pengurus rumah bercerita sambil memasak bumbu ikan dengan sangat senang dan juga bicara santai dengan lira.


"1 tahun yang lalu? Apa bibi tidak salah? Tapi bagaimana bisa vila ini untuk saya dan atas nama saya?" lira semakin bingung karena bibi itu berkata dengan serius tanpa ada candaan dan lira berfikir seorang ibu tak mungkin alam berbohong, tapi lira masih tetap merasa aneh.


"Iya nyonya, kenapa nyonya inintak percaya sama bibi, coba saja nyonya tanya langsung sama tuan karena waktu itu yang datang ke sini adalah tuan Farid dan kalau tidak salah tua Farid adalah asisten dari tuan liyon suami nyonya iya kan? Bibi tak mungkin salah." bibi pengurus bersih keras dan itu membuat lira jadi penasaran.


"Liyon." lira memanggil liyon yang berada disamping vila menyiapkan bakaran langsung menoleh dan melihat lira penuh tanda tanya, karena lira berjalan dengan sangat terburu - buru dengan wajah yang bingung.


"Eh, kenapa? Ada apa, apa ada yang sakit?" liyon bertanya dengan bingung.


"Katakan pada ku dengan jujur dan sebenarnya, gak boleh bohong sedikit pun." ucap lira dengan sangat serius dan itu membuat liyon semakin bingung.


"Kenapa sampai serius begitu sih, kemarilah duduk dulu baru bertanya." liyon mengajak lira duduk di bangku dan menatap lira lekat.


Lira menghela nafas dalam lalu menghembuskannya, "katakan pada ku apa benar yang dikatakan oleh bibi pengurus rumah ini bahwa vila ini atas nama ku dan milik ku?" tanya lira dengan wajah dan nada bicara sangat serius.


Liyon terbahak mendengar dan melihat ekspresi wajah lira, liyon menangkup kedua pipi lira dan menatap bola mata lira dengan tatapan yang sangat penuh dengan rasa cinta dan kasih sayang.


"Vila ini untuk calon istriku nantinya dan aku menyiapkan ini sebagai kado atas pertemuanku dengannya dan juga sebagai ungkapan rasa cinta dan sayangku padanya." jawab liyon pada lira, dan lira hanya mengerjapkan mata mendengar apa yang dikatakan oleh liyon kepadanya.


"Tuh kan benar, bibi sudah pasti salah masak bibi bilang kalau vila ini atas nama ku dan milik ku itukan an..." kalimat lira tertahan dan menggantung karena lira mulai mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh liyon kepadanya.


"Apa?! Liyon apa kamu bercanda?" lira teriak begitu dia sadar semua dengan apa yang dikatakan oleh liyon.


"Hahaha, Kakak lucu sekali sih." liyon terbahak melihat ekspresi kaget lira.


"Iya sayang, vila ini memang untuk mu dan ini memang atas nama kakak. Tadinya aku ingin merahasiakan sampai kita menikah, tapi sekarang sudah ketahuan jadi bukan lagi kejutan." liyon berkata dengan memeluk lira mesrah dan itu membuat bibi dan suaminya tersenyum melihat kedekatan dan kasih sayang majikan barunya itu.


"Liyon kamu jangan bercanda dan jangan lakukan itu pada ku. Kitakan belum menikah dan kita juga belum tentu akan bis...." kalimat lira tertahan oleh jari tunjuk liyon.


"Jangan katakan hal buruk, karena aku gak mau kehilangan dirimu kak. Aku mencintaimu." ucap liyon dan langsung meraup bibir lira didepan bibi pengurus dan suaminya.


"Bukan begitu liyon, ini tak masuk akal. Sudah jangan katakan hal yang aneh - aneh kamu, aku gak mau kamu harus menggantinya, jangan sampai nanti ada yang bilang kalau aku ini wanita matre dan suka memanfaatkan kamu saja." jelas lira pada liyon agar liyon mau merubah keputusannya untuk vila ini.


"Kenapa? vila ini memang aku siapkan untuk permaisuri ku, dan hanya akan ada 1 saja permaisuri untuk liyon yaitu diri mu, hanya kamu seorang Lira." liyon berkata dengan sangat serius, dan lira tau jika liyon sudah serius segala keputusannya tak akan bisa diganggu gugat lagi.


Setelah pembicaraan itu mereka berempat makan - makan ikan bakar dan bercanda bersama dengan sangat santai seolah tak ada batasan antara majikan dan pegawai, setelah itu liyon dan lira pun pamit kembali lagi ke kota karena mereka harus kembali berkerja lagi.


Selama dalam perjalanan kembali liyon terus berfikir bagaimana caranya dia mengatasi semua maslah dengan keluarga Bagas tanpa harus meninggalkan dan melibatka lira dalam sebuah masalah.


"Liyon kenapa kamu dari tadi diam saja?" lira bertanya karena merasa aneh pada liyon.

__ADS_1


"Tidak ada aku hanya lagi berfikir bagaimana caranya agar aku bisa terus bersama dengan kakak dan bisa melihat kakak setiap hari." jawab liyon asal karena dia tak mau membuat lira khawatir.


Liyon dan lira ngobrol sepanjang perjalanan pulang hingga lira terdiam tak bersuara karena dia telah terlelap. Liyon hanya senyum menatap wajah lira yang terlihat lelah.


__ADS_2