Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Permintaan maaf liyon


__ADS_3

Satria dan liyon beradu mulut selama satria masak mie untuk liyon. Liyon yang tak mau disalahkan oleh satria tak mau kalah membela argumennya.


"Kalo begitu jangan makan biar aku makan sendiri." satria yang sudah kesal memakan mie yang tadi dia masak.


"Hei bukankah kau masakan untuk ku." liyon mengambil mie dalam mangkok itu dan memakannya.


"Sebenarnya kamu dari mana kok sampai berada didepan rumah ku." satria tanya dan duduk disebelah liyon yang sedang makan mie.


"Hem." liyon tak menjawab dan dia sedang fokus makan mie.


"Haaaah. Kamu ini, orang kaya tapi tetap saja dari dulu tak pernah pilih makanan, apa yang didepan mu selalu kamu makan." satria menghela nafas dan menggelengkan kepala merasa heran dengan temannya yang satu itu.


Dari sejak satria kenal sama liyon dan kuliah bersama, liyon tak pernah menunjukkan kuasanya sebagai anak orang kaya. Liyon lebih berbaur dengan mereka yang mendapatkan beasiswa dan selalu bekerja keras di perusahaan kakaknya.


"Tak usah kamu cuci, letakkan saja di situ." ucap satria dan dia beranjak mengabilkan liyon minum.


"Apa kakak tidak apa apa?" tanya liyon setelah dia kembali duduk di meja makan.


"Kakak?" satria menatap bingung.


"Maksudku kakakmu." jawab liyon tersenyum.


"Kakinya terkilir" sambung liyon.


"Oh, iya dia tak apa. Biasa dia suka berkelahi dan mungkin itu cedera saat dia berkelahi. Dia sudah sering seperti itu dari dulu, makanya hanya selalu kaki itu yang terluka, seolah sudah jadi cirinya." jelas satria yang berdiri menuju ruang tengah dan menyalakan tv.


"Hem." liyon merasa bersalah.


"Untuk saja aku telpon ke mbak Sriyani jadi tau kalo kekasihnya mas Surep bisa urut." sambung penjelasan satria


"Jadi orang itu punya kekasih?" tanya liyon yang ikut duduk disebelah satria menyaksikan tv.


"Orang itu? Kebiasaan ya, dia punya nama dan namanya adalah mas surep." kesal satria pada liyon yang tak pernah mau menyebut nama orang yang tak dia suka


"Ya." jawab liyon malas.


"Tapi sebenarnya kamu dari mana kok bisa sampek kelaparan dan terdampar di rumah ku, dan kemana Farid? Kenapa kamu harus keliling sendiri?" satria bertanya lagi karena penasaran.


"Ini bukan urusan pekerjaan jadi aku tak mau merepotkan Farid" jawab liyon santai.


"Lah, emang urusan apa?" satria semakin bingung


"Aku mencarik kelinciku yang kabur." jawab liyon yang lagi lagi tersenyum.


"Ha?! Emang kelinci mu lari didalam kota?" satria merasa aneh dengan temannya.


Liyon tersenyum menatap satria "begitulah, dia suka sekali kabur." jawab liyon dan beranjak menuju sofa.


"Kamu gila ya. Sebaiknya kamu pulang sekarang ini sudah malam dan aku juga sudah memberi mu makan." usir satria pada liyon.


"Tidak, aku mau tidur di sini." liyon merebahkan tubuhnya di sofa.


"Jangan aneh aneh, aku tak tertarik pada mu. Dan aku masih normal." satria melipat kedua tangannya melindungi dadanya.


"Apa kau tak waras.?! Aku juga tak tertarik pada mu." bentak liyon kesal pada satria.


"Kamu selalu tersenyum mengerikan begitu pada ku. Kalo kamu macam macam aku akan panggilkan pak RT loh." ancam satria pada liyon dengan serius.


"Haaah, sial bocah ini."


Bletak

__ADS_1


Liyon bangun dan langsung memukul kepala satria dengan kesal.


"Mau ngajak kelahi ya." satria bangun dan memegang kepalanya yang sakit karna dipukul liyon.


"Sekali lagi bertingkah aku akan benar benar menghajar mu." ancam liyon dan kembali tidur di sofa.


Satria terbahak menatap liyon yang sudah kesal dengan ulahnya, "Ya sudah tidur lah, ada kamar kakak ku kalo kamu mau karena dia tak pulang malam ini." ucap satria dan dia masuk kedalam kamarnya.


...🍂🍂🍂...


"Jadi maksud mu, setelah malam itu liyon jadi sering bermain dengan mu dan terlihat hanya ingin memanfaatkan kamu, serta cuma menyukai tubuhmu saja." Yuniar mencobak menyimpulkan apa yang diceritakan oleh lira padanya soal hubungannya dengan liyon.


"Ya begitulah, dan aku jadi semakin takut padanya. Aku tak mau terlibat terlalu jauh dengannya dan juga tak mau dipermainkan." jelas lira tertunduk.


"Tak mau dipermainkan atau kamu takut akan suka dan jatuh cinta padanya?" tanya Yuniar yang membuat lira terkejud.


"Lir, dengar tak semua orang sama dengan si bre*ngsek itu, jika kamu ingin tau dan mau memastikannya maka kamu harus berani maju dan ujila dia. Apa benar dia hanya menyukai tubuhmu saja atau dia akan memperlakukanmu dengan baik."


"Jika kamu lari dan menghindari dia maka kamu tak akan pernah tau apa yang sebenarnya."


"Saran ku sebaiknya kamu jangan lari hadapi masalah itu, jika memang sudah pasti semuanya hanya karena tubuhmu saja maka kamu bisa pergi dan memutuskannya."


Yuniar menyarankan pada lira agar lira mau menghadapi segala kemungkinan yang ada.


"Tapi aku gak mau terjerumus dan terluka lagi." ucap lira sedih.


"Aku tau, tapi setidaknya kamu harus memastikan semuanya lebih dulu. Bukankah kamu bilang kalo dia selalu memperlakukan mu dengan baik sebelnya, dan tiba tiba dia jadi kasar?" Yuniar bertanya dan lira menjawabnya dengan anggukan.


"Pasti ada alasannya kenapa dia begitu, tak Mungkin semua datang tiba tiba tanpa sebab. Dan tanyakan dengan baik agar kalian bisa memutuskan dan menemukan titik terangnya." jelas Yuniar pada lira.


...🍂🍂🍂...


"Yah, ini bocah masih tidur." ucap satria saat dia mau berangkat kerja namun liyon masih pulas dalam tidurnya dengan meringkuk di sofa.


Ceklek


"Ya satria pasti sudah berangkat. Sebaiknya aku mandi dulu lalu tidur karena semalaman aku tak tidur karena curhat sama Yuniar." lira masuk kedalam kamarnya dan melepasi semua bajunya, lalu melangkah masuk kedalam kamar mandi.


"Ah." lira terbelalak dan terpaku didepan pintu kamar mandi karena dia melihat pemandangan yang sangat indah dipagi hari.


Wajah yang tampan, rambut basah yang berantakan dan aliran air yang menetes melewati garis wajah turun sampai dagu terus mengalir melewati jakun yang indah hingga turun sampai dada bidang yang berotot.


Glek


Liyon menelan salifanya melihat penampakan lira yang berdiri tepat didepannya tanpa busana sama sekali.


"Apa aku sedang mimpi?" lira bergumam liri dan tetap terpaku ditempat.


"Hah, bagaimana bisa aku tahan dengan hal yang seperti ini." ucap liyon yang itu menyadarkan lira kalo itu bukan mimpi.


"Haaaah.!" teriak lira seketika dan lari membungkus tubuhnya dengan selimut.


Liyon melangkah keluar dari kamar mandi dengan kondisi telanjang dada


"Apa yang kau lakukan di rumah ku?! Pakai baju mu.!" lira berteriak dengan kesal dengan tubuh bergetar.


"Kau mau apa?" lira menatap dengan takut.


"Ambil baju" jawab liyon sambil menggerakkan dagunya menunjuk ke arah kursi di depan lira.


"Ya ya baiklah cepat." lira mundur dan bersandar di sandaran tempat tidur.

__ADS_1


Lira membelalakkan mata kaget saat liyon memeluk tubuh lira yang terbungkus dengan seprai sangat erat.


"Maaf kak, tolong maafkan aku, ku mohon."


"Aku tau ini salah ku, tak seharusnya aku melampiaskannya pada kakak. Tolong maafkan aku kak, aku menyesal. Aku mohon kak, hiks."


Liyon terus memohon dan meminta maaf pada lira, dia mengatakan semuanya dengan serius bahkan memohon dengan tulus hingga menangis.


"Ka - kamu menangis?" lira bertanya karena dia juga merasakan tubuh liyon bergetar.


"Kakak jangan takut pada ku, aku benar benar mintak maaf pada kakak." liyon berkata sambil menatap lira.


"Kamu..." kalimat lira gantung


"Tolong katakan apa yang harus aku lakukan agar kakak mau memaafkan aku?" liyon bertanya dengan menatap lira dengan tulus.


"Kamu mau berjanji?" lira berkata dengan suara bergetar.


"Ya aku janji, kakak katakan aku akan melakukannya." liyon berkata dengan mantap tanpa ada keraguan.


Lira : "Berjanjilah untuk tak marah dan tak kasar pada ku."


Liyon : "Ya aku janji."


Lira : "Berjanji tak akan memaksaku."


Liyon : "Aku janji kak"


Lira : "Janji tak akan menyentuh ku."


Liyon : (diam tak menjawab)


Lira : "Berjanjilah, kamu tak akan lagi menyentuhku dengan paksa dan kasar."


Liyon : "Iya, iya aku berjanji tak akan lagi menyentuh kakak tanpa persetujuan dari Kaka."


Lira : "Kamu bisa menepati semua janjimu kan?"


Liyon : "Tentu aku akan melakukan semua dan menepati semua janji yang ku ucapkan pada kakak."


Lira : (diam tak berkata)


Liyon : "Kakak mau memaafkan aku kan kalo aku melakukan semua perintah Kaka?"


Lira : "Baiklah, kamu akan menuruti perintahku kan?"


Liyon : "Tentu."


Lira : "Kalo begitu tolong keluar dan tinggalkan rumah ku sekarang juga."


Liyon : "...Baiklah, tapi kakak memaafkan aku kan? Kakak akan menerima dan mengangkat telpon dari aku kan? Kakak tidak akan mengabaikan aku iya kan?"


Lira : "Iya"


Liyon : "Iya aku pulang sekarang"


Liyon bangun dan mengancingkan bajunya yang tadi hanya di pakek belum dikancing.


"Kakak baik baik di rumah dan istirahatlah." liyon berkata sambil membelai pipi lira.


"Jangan takut pada ku, aku tak akan menyakiti kakak. Aku balik ya." liyon menggenggam tangan lira dan mengecupnya.

__ADS_1


Wajah Lira bersemu merah diperlakukan dengan baik oleh liyon, dan tubuhnya yang bergetar juga sudah tak ada lagi.


Setelah memastikan tak ada lagi rasa takut pada lira, liyon langsung beranjak pergi meninggalkan rumah lira.


__ADS_2