
"Sudah selesai atau mau nambah?" liyon bertanya dengan nada lembut pada lira.
"Sudah kenyang." lira menjawab dengan tersenyum.
"Baiklah, ayo aku antar kakak pulang." liyon bangun dan berjalan kearah lira.
"Ada apa?" lira yang melihat tatapan serius dari liyon pun bertanya.
Liyon : "Bolehkah aku memeluk kakak selama perjalanan pulang?"
Lira : "Apa?!" (melangkah mundur)
Liyon : "Jangan salah paham, aku hanya akan melingkarkan tangan dipinggang kakak saja tidak akan melakukan apa apa, lagian aku gak bisa melakukan sesuatu karena ada Farid"
Lira : "Apa." (melotot pada liyon)
Liyon : "Ya kecuali kalo cium, aku masih bisa melakukannya karena aku sudah pernah melakukannya didepan Farid" (tersenyum tanpa salah)
Lira : "Jangan macam macam, kamu sudah janji"
Liyon : "Iya, itu kalo kakak ijinkan. Bolehkah?"
Lira : "Tidak akan"
Lira berjalan melewati liyon dan liyon hanya tersenyum tipis mengikuti lira dari belakang, dan farid langsung berdiri begitu melihat bosnya keluar dari ruangan vip
"Kamu kalo belum selesai lanjutkan saja tak apa." liyon berkata tepat didepan meja Farid.
"Tidak sudah selesai." jawab Farid sopan.
"Kalo gitu bayar aku tunggu di mobil." liyon menyerahkan kartunya pada farid dan melangkah kearah parkiran.
Brrrrt
"Kakak masuk dulu aku angkat telpon sebentar." liyon berjalan menjauh dari lira dan mengangkat panggilan telpon ya.
Didalam mobil lira mengawasi liyon yang sedang telpon dengan seseorang dan sesekali menatap lira dengan tersenyum.
__ADS_1
"Maksud gimana kak? Aku masih kurang mengerti." jawab liyon dengan mengerutkan keningnya.
"Ya, mereka punya buktinya dan katanya dia berhubungan dengan mu 4 tahun yang lalu." jawab dari kakak liyon disebrang telpon.
"Eh, no...Maksudku Lira dimana bos?" Farid yang baru datang bertanya karena tak melihat liyon.
"Itu lagi telpon seseorang." lira menunjuk kearah pembatas parkiran.
"Pasti bos lagi telpon sama sama bos Lian." gumam Farid mengawasi liyon.
"Lira tak apa apa?" tanya farid pada lira yang terdengar sedikit aneh dan juga janggal.
"Maksud asisten Farid apa ya?" lira bertanya dengan memiringkan kepalanya.
Farid tertawa setelah dia sadar akan apa yang dia tanyakan pada lira, "tidak apa dan tolong panggil saya dengan nama juga saja kecuali kalo ada bos."
"Kenapa begitu?" lira bertanya dan terlihat sangat akrab.
"Bukankah Lira juga begitu sama Andi, Gali dan yang lainnya?" tanya farid yang mengetahui kebiasaan lira dengan para asisten di rumah utama.
"Ah iya, kalo begitu baiklah." lira menjawab dan tersenyum begitu juga dengan farid ikut tersenyum.
"Hebat sekali mereka, aku akan berangkat besok pagi. Kita lihat apa mau mereka sebenarnya, baiklah aku tutup dulu karena aku masih ada pertemuan." liyon menutup telponnya setelah mengucapkan kalimatnya tanpa menunggu kakaknya menjawab.
Liyon melangkah mendekati Farid dan lira yang asik mengobrol dengan menatap tajam pada Farid, sehingga membuat Farid ciut.
"Kalian ngobrolin apa, ayo berangkat." ketus liyon yamg mendorong lira masuk kedalam mobil.
Greb
"Eh, ini." lira terkejud karena liyon tidak hanya memeluk pinggangnya namun dia juga menyusupkan tangannya kedalam balik baju lira.
"Diam, ini adalah hukuman. Atau mau aku menghukum kakak dengan cara lain?" bertanya dengan seringai.
"Ti - tidak, tapi diam lah jangan banyak bergerak." ucap lira dan membiarkan tangan liyon menyentuh kulit pinggangnya dan menyandarkan kepalanya di bahu lira.
"Maafkan aku nona Lira, ini salah ku karena berbicara dengan santai pada mu, jadi membuat bos marah." gumam Farid dalam hati.
__ADS_1
"Baiklah sudah sampai kakak istirahatlah, dan besok aku akan berangkat ke Beijing." ucap liyon dan mengecup tangan lira.
Ke esokan paginya lira bekerja seperti biasa dan karena tak ada liyon dan juga Farid semua orang bekerja dengan tenang serta santai, karena tak harus takut pada bos yang mengawasi dan sibuk bekerja.
Sore itu setelah dari kantor lira langsung berangkat ke rumah neneknya karena dia sudah rindu pada sang nenek yang sudah ditinggalkan sendirian.
"Wah mbak Lira datang, sudah lama sekali mbak Lira tak main ke sini." sambut surep yang melihat lira datang berkunjung.
Dengan senyumnya yang manis lira menepuk bahu surep "nenek ada mas Surep?" tanya lira pada surep.
"Ada mbak didalam." jawab surep langsung dengan nada senang.
"Nenek...!" teriak lira menghampiri neneknya yang sedang duduk santai dengan ditemani secangkir teh.
"Anak nakal.sudah lama tak berkunjung apa tak takut kalo nenek meninggal sendirian tanpa ada yang tau hah?" kesal nenek Sulasih memukul lira.
"Hahaha, iya maaf nek." lira memeluk neneknya dengan sangat erat seolah sedang melepaskan rindunya pada sang nenek yang sudah 3 bilang tak dikunjungi.
"Lira sangat rindu pada nenek, rindu banget." ucap lira dengan posisi masih memeluk sang nenek.
"Hem, jadi ini pelukan rindu begitu." jawab nenek Sulasih yang juga membalas pelukan dari lira dengan sama eratnya.
"Kenapa kamu jadi kurus apa kamu tak makan teratur?" tanya nenek Sulasih pada lira saat mereka sudah mengurai pelukan mereka.
"Makan teratur kok nek." jawab lira dengan senyuman.
"Ada apa kemari? Apa kamu mengalami kesulitan, atau kamu ada masalah yang membingungkan, apa mungkin beban yang menyesakkan. Cucu nenek tersayang." tanya nenek Sulasih banyak pada lira dengan menatap penuh kasih sayang pada lira.
Nenek Sulasih adalah nenek dari Alm. ibu kandung lira yang sangat menyayangi lira dan selalu tau apa yang dirasakan oleh lira, sehingga lira tak pernah bisaa menyembunyikan apa pun dari neneknya. Dan itu juga yang membuat lira mengambil keputusan untuk keluar dari rumah neneknya dan membeli rumahnya sendiri dengan cicilan.
"Nek, nenek selalu tau apa yang lira rasakan." ucap lira dan akhirnya menceritakan masalah dirinya dengan liyon, yang tentunya ada sebagian cerita yang ditutupi.
"Jadi kamu sekarang sudah punya orang yang kamu suka, namun kamuntakut kalo dia akan sama dengan mantan kamu yang dulu, yang hanya akan memanfaatkan kamu saja dan tidak serius sama kamu?" nenek Sulasih bertanya untuk lebih memastikannya.
"Iya, dan masalah lainnya lagi adalah karena dia adalah anak dari majikan lira, bos yang lira layani. Setatus kami berbeda bahkan sangat jauh berbeda." jelas lira dengan tertunduk.
"Sekarang nenek tanya apa kamu suka sama dia? Dan kalo sikap dia baik pada mu selama ini coba saja untuk mencobanya, tak ada salahnya mencobak. Gagal bukan berarti kalah, namun gagal adalah pencapaian yang tertunda dan kita harus mencobanya lagi lagi dan lagi." jelas nenek Sulasih pada lira.
__ADS_1
Setelah meminta pendapat dan penjelasan dari neneknya lira pun ingin memberikan kesempatan pada liyon, namun dia masih menata hati dan juga ingin lebih memastikan perasaannya terhadap liyon.