
Selama pesta Liyon terus menghindari Lira dan mengawasi dari jauh. Tatapan Liyon sayu seolah ada luka yang tak mengeluarkan darah namun terasa sangat menyakitkan, Liyon terus mengepalkan tangannya setiap kali dia melihat senyum Lira dan tangan Rian yang menyentuh tubuh Lira baik itu dibahu atau pinggang Lira.
Mata liyon memerah karena dia menahan segala gejolak dalam hatinya, dia ingin sekali menarik Lira menjauh dari Rian dan mendekapnya erat. Bagai awan mendung wajah Liyon terlihat sangat jelas dia sedang menahan air matanya yang berusaha untuk keluar dan tumpah.
"Liyon." Farid yang menemani Liyon berkali - kali berusaha untuk menyadarkan Liyon.
"Tak apa Rid, aku baik - baik saja." jawab Liyon dengan senyuman yang dipaksakan.
Liyon terus menghindari Lira dan dia menyapa semua orang yang berada disudut terjauh dari Lira, karena Liyon tak mau Lira melihat dia lemah.
"Liyon tak ku sangka kita bertemu di sini. Kau masih punya hutang pada ku jangan lupakan itu, dan aku akan merekrut seseorang yang nantinya bisa menghancurkan mu." ucap Santo yang menyapa Liyon.
"Benarkah? Akan ku tunggu karena aku sangat menantikan saat itu agar aku bisa langsung mematahkan kedua kaki dan juga tanganmu." jawab Liyon dengan dingin.
Santo tertawa terbahak mendengar jawaban dari liyon dan dia menepuk bahu Liyon, "ingatlah Liyon jangan terlalu sombong karena nanti kamu bisa termakan oleh kesombongan mu itu." ucap Santo tersenyum menatap Liyon dengan percaya diri.
"Bukan aku tapi kau sendiri nanti yang akan termakan dengan rasa percaya dirimu yang berlebihan itu." jawab Liyon membalas ucapan Santo.
Sekitar 1 jam berlalu pesta itu, Liyon keluar lagi untuk mencari angin segar karena didalam dia tak bisa bernafas sebab pikirannya selalu saja dihantui oleh bayang - bayang Lira dan juga Rian yang bersama, dan kesalahpahaman Liyon yang menganggap dalam h@ti Liyon adalah dia menganggap Rian adalah pria yang dipilih oleh Lira selama ini.
"Liyon apa yang kau lakukan?" tanya Farid yang melihat Liyon menyalakan sebuah rokok.
"Tak apa aku hanya merasa pengap saja didalam, menghirup udara segar sebentar sambil menghabiskan ini." jawab Liyon sambil menunjukkan rokok ditangannya.
"Kamu masuklah untuk beramah tamah sebagai wakil perusahaan kita." perintah Liyon pada Farid.
Pesta malam itu berlangsung sangat meriah dan juga sangat ramai, karena didalam sana tak hanya kawan bahkan lawan pun bercampur jadi satu.
"Rian aku lelah dan mau pulang duluan karena ini juga sudah malam hampir jam 10 malam takut Ferdi mencari aku." bisik Lira pada Rian yang sedang mengobrol sama seorang pengusaha.
"Baiklah aku akan menyuruh supir untuk mengantarkan mu pulang, cepat istirahat dan jangan nakal." jawab Rian dengan bercanda, dan sialnya kalimat itu terdengar sangat jelas ditelinga Liyon yang tak sengaja masuk lagi kedalam pesta dan melewati perkumpulan Lira dan Rian.
__ADS_1
Mendengar itu hati Liyon sangat panas, Liyon langsung menuju kemeja bar dan mulai minum di sana. Liyon mengingat dengan jelas dulu dirinya juga sering membawah Lira ke setiap pesta, namun dirinya tak memperlakukan Lira sama seperti yang dilakukan oleh Rian saat ini, Rian selalu mengiringi Lira dan mengenalkannya pada para pengusaha, sedangkan dirinya dulu menjaga jarak dan menganggap Lira hanya sebagai pengawal dan juga sekretaris saja.
Liyon terlihat sangat frustasi dan dia minum begitu banyak hingga hampir mabuk dan tak bisa lagi menemani seseorang untuk ngobrol. Farid yang melihat itu dia segerah membawah Liyon keluar dari dalam pesta agar tak semakin parah mabuknya.
"Tuan Liyon? Kenapa dengannya?" tanya Rian saat dia melihat Farid memegang tangan Liyon.
"Maaf tuan Rian aku tak bisa lagi berada dalam pesta ini, karena aku merasa tak enak badan dan selamat atas semuanya." ucap Liyon yang berusaha menyadarkan dirinya.
"Iya tak masalah, terima kasih atas ucapannya dan juga kehadirannya. Kedepannya semoga kita bisa bekerja sama bersama." Rian menyambut senang ucapan selamat dari Liyon karena dia merasa menang telah mendapatkan Lira dari tangan Liyon.
"Ya, aku nantikan saat - saat seperti itu." jawab Liyon dan dia pamit untuk pulang duluan.
"Apa anda tak mau menemui Lira Tuan Liyon? Kami telah bersama dan aku tak tau apa sebabnya kalian berdua berpisah." ucap Rian saat Liyon melangkah keluar gedung pasta, dan Liyon hanya menjawabnya dengan senyuman saja lalu pergi.
"Liyon tunggu di sini aku akan mengambil mobil dulu." ucap Farid dan dia lari ke parkiran untuk mengambil mobil.
Setelah mengambil mobil Farid langsung memasukkan Liyon kedalam dan melajukan mobilnya kesebuah mol terdekat untuk mencarikan Liyon minuman penghilang mabuk di supermarket dalam mol itu.
"Liyon tunggu di sini dan jangan kemana - mana." ucap Farid lalu dia melesat lari masuk mol.
Bruk
Liyon terjatuh dan dia terduduk disamping mobilnya, dan tanpa sengaja lira yang baru selesai belanja bahan masakan untuk besok pagi keluar dari mol itu melihat liyon yang tak mampu membawah tubuhnya langsung lari mendekati liyon tanpa berfikir panjang.
"Liyon, apa yang terjadi?" tanya lira menatap liyon yang terlihat mabuk.
"Lira, apa benar kau lira?" gumam Liyon dan mulai tak sadarkan diri.
"Eh, Liyon? Dia sama siapa?" lira berdiri dan celingukan tak melihat Farid atau pun Gali disekitar sementara kunci mobil masih terpasang.
"Apa dia pergi sendirian? Kenapa kamu bisa mabuk sampai begini." Lira membawah tubuh liyon masuk kedalam mobil dan Lira mulai membawah mobil Liyon pergi dari area mol itu karena dia menganggap liyon pergi seorang diri.
__ADS_1
"Tunggu, kenapa aku membawahnya? Terus aku bawah dia kemana?" gumam Lira bertanya pada dirinya sendiri.
Disaat Lira sedang bingung mau membawah Liyon kemana, tiba - tiba saja Satria menghubungi dirinya dan mengatakan kalau Ferdi mulai mencari dia dan ingin tidur bersamanya. Dan mendengar itu Lira punya ide untuk meminta Satria mengantarkan Liyon pulang jadi Lira langsung membawah Liyon ke rumahnya.
...🍂🍂🍂...
"Ugh berat banget tubuhnya." gumam Lira saat dia bersusah payah membawah Liyon masuk kedalam rumahnya.
"Jangan tinggalkan aku kak, aku mohon jangan pergi dari ku." gumam Liyon dalam keadaan tak sadarnya.
Melihat dan mendengar itu Lira merasa sedih, dia berusaha dengan kuat menahan air matanya agar tak tumpah. "Kenapa kamu masih saja tak bisa melupakan aku Liyon." ucap Lira liri menatap Liyon yang terlelap di sofa.
"Wanita jahat, kenapa kamu pergi meninggalkan aku sendiri kak. Apakah kau tak tau seperti apa rasa sakit ku atas kepergian mu?!" teriak Liyon seketika saat dia membuka matanya.
"Liyon kau sudah sadar?" tanya Lira yang terkejud karena tiba - tiba saja Liyon membuka matanya dan langsung marah pada dirinya.
"Lira, kenapa kau pergi meninggalkan aku jawab.?!" teriak Liyon dan mencekram Lira dengan kuat.
Sementara diluar rumah satria yang dengar ada suara teriakan dia langsung lari masuk kedalam rumah karena takut ada apa - apa sama kakaknya apa lagi ini sudah malam dan pintu rumah Lira terbuka.
"Kak?"
"Mama!"
"Mbak"
Satria, Meli dan juga Ferdi berteriak bersama. Namun langsung terdiam saat melihat lira sedang dihimpit dan dicium oleh Liyon pada bibirnya. "Liyon?" gumam Satria kaget kenapa bisa liyon ada di sini.
"Emm." Lira mendorong tubuh Liyon hingga jatuh menatap meja dan Liyon jatuh pingsan.
"Ka-kalian" Lira kaget karena sudah ada 4 orang yang berdiri melihat adegan dia dan juga Liyon yang sedang tak sadarkan diri.
__ADS_1
Yuniar berlari memeluk Lira, Meli menatap bengong karena dia tau siapa orang yang sudah mencium Lira barusan dan dia sedang berusaha untuk mencerna semua yang dia lihat. Sementara Ferdi dan Satria mendekati Liyon yang jatuh pingsang dibawah meja.
"Papa, jadi dia adalah Papaku." gumam Ferdi dalam hati dan terus melihat Satria yang berusaha menyadarkan dan terus memanggil nama Liyon.