Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Terjerat permainan sendiri


__ADS_3

"Ya Ampun Liyon apa yang sedang kamu lakukan dengan selonjoran dilantai seperti ini?" tanya kakak ipar liyon yang lari setelah mendengar suara gaduh.


"Eh, jangan bilang kalo suara tadi adalah suara kamu jatuh." sambung kakak ipar liyon lagi, dan liyon hanya senyum senyum lalu bangun dari posisinya yang duduk dilantai.


"Kamu gak papa?" tanya kakak ipar liyon lagi khawatir dan merasa ada yang aneh dengan adik iparnya itu.


"Tidak apa, kenapa kakak bangun ditengah malam begini?" tanya liyon balik sambil mengurut urut pantatnya yang terasa ngilu karena jatuh.


"Oh itu kakak mu minta dibuatkan minum." jawab Yuki dan mulai membuatkan Lian minuman hangat.


"Emang kakak lagi ngapain? Apa dia masih kerja sampai tengah malam begini?" liyon bertanya dengan mengambil minuman lagi dari lemari es.


"Makanya menikah lah biar kau punya kesibukan ditengah malam." jawab yuki ketus.


"Eh, ok gitu? Ah, iya baiklah aku mengerti." jawab liyon dan pergi meninggalkan kakak iparnya untuk kembali ke kamarnya.


...🍂🍂🍂...


Disisi lain lira dan teman temannya berakhir, setelah acara makan dan karaokenya yang dilakukan sampai tengah malam mereka pun pulang sendiri sendiri.


"Selamat ketemu Senen depan semuanya." ucap Endang yang pulang searah dengan Safitri.


"Iya, iya hati hati kalian berdua." ucap lira melambaikan tangan dan berjalan pulang karena tempat karaoke dan daerah rumahnya hanya butuh 30 menit jalan kaki.


Yanuar dan Aditya berpisah dengan lira saat sampai di persimpangan jalan, karena arah rumah lira berbeda dengan mereka berdua.


"Kau yakin Lir kami tinggalkan di sini? Apa rumahmu beneran tak jauh lagi?" tanya Yanuar yang melihat lira berjalan menuju sebuah gang.


"Iya rumahku Deket tinggal jalan kaki saja dari sini." jawab lira dan melambaikan tangan lalu berjalan menjauh.


"Lira benar benar tangguh dan juga baik ya Dit." ucap Yanuar melihat lira menjauh.


"Iya dan dia juga hebat serta kuat. Hahaha" jawan Aditya dengan terbahak dan menyalakan mesinobilnya lagi karena sempat dihentikan saat dipersidangan tadi, karena mengikuti lira dan Yanuar berjalan kaki.


Lira berjalan dengan pelan dan santai melewati terotoar yang sepi karena sudah tengah malam, dan hanya ada beberapa orang yang melintas dengan pasangannya.


"Aku tak tau apa yang akan dilakukan oleh berandal itu, dia paling tau mengambil kesempatan. Memintaku untuk berada di sisinya itu apa maksudnya ya? Tapi sudah lah." lira bergumam sambil berjalan pulang.

__ADS_1


Keesokan harinya lira yang belanja kebutuhan rumah yang habis tanpa sengaja bertemu dengan dafid dan juga desi yang juga sedang berbelanja, mereka terlihat sangat cocok dan juga serasi.


"Eh, siapa ini? Apa kabar Lira tak menyangka kalo kita akan bertemu di sini seperti ini. Apakah kamu baik baik saja?" tanya Desi dengan nada sedikit menyindir.


"Iya aku baik." jawab lira datar dan berjalan pergi meninggalkan pasangan itu.


"Kenapa harus Ketemu mereka di sini sih." gumam lira sambil berjalan pergi.


Grep


"Eh.?" lira terkejut saat tiba tiba ada seseorang yang memegang tangannya.


"Lira aku ingin bicara dengan mu, ikutlah aku." dafid menarik tangan lira


"Maaf tapi aku tak ada yang ingin dibicarakan, dan tolong jangan membuat aku sulit karena aku gak mau pacar sekaligus tunanganku itu salah paham pada yang akhirnya membuat keributan." tolak lira dengan menarik tangannya yang digenggam oleh dafid.


"Aku hanya ingin bicara sebentar dengan mu" keras kepalanya dafid.


"Tunggu, aku sudah bilang kalo aku gak mau. Jangan sampai aku menghajar mu di sini." lira berkata dengan nada ditekankan.


"Apa apaan dia itu, sebaiknya aku cepat pergi dari tempat ini, karena aku merasa tak enak dan sepertinya akan terjadi sesuatu." gumam lira dalam hati.


Saat lira sedang berjalan keluar dari swalayan itu setelah membayar barang belanjaannya tiba tiba saja Desi berteriak histeris sehingga membuat semua orang melihatnya dan mengerubungi dia.


"Ada apa kenapa dengan dia." semua orang berkasak kusuk memperhatikan.


"Tolong dompet saya hilang, pasti ada yang mengambilnya saya yakin dialah orang yang telah mengambil dompet saya karena dia adalah orang yang dendam dan tak suka dengan saya." ucap Desi dengan teriak menunjuk ke arah lira.


"Eh, bagaimana bisa? Kapan aku mengambil dompet mu." ucap lira dengan santai.


"Pasti tadi waktu kita ngobrol kamu mengambilnya." ucap Desi lagi dengan senyum jahat menatap lira yang mulai dikerubungi orang dan ditanya soal dompet Desi serta diseret ke pos penjagaan.


"Nona cepat katakan dan berikan dompet dari nona ini agar urusannya tak semakin panjang lagi." ucap satpam yang mau mencobak mengadili lira.


"Tapi saya beneran tak mengambilnya pak." ucap lira bersikeras karena dia memang tak mengambil dompet Desi.


"Geledah saja pak dia pasti menyembunyikannya di dalam tasnya." ucap Desi.

__ADS_1


Satpam itu pun menggeledah isi tas lira dan mengeluarkan semua isinya, karena Desi sangat yakin kalo lira yang mengambilnya, namun didalam tas lira tak ada apa apa selain dompet lira sendiri, hanpon dan juga kertas pembayaran listrik dan juga PDAM.


"Maaf nona didalam tas nona ini tak ada dompet yang anda maksudkan, apa kah anda tak lupa menaruh dimana dompet anda." ucap satpam itu.


"Tidak bagaimana mungkin tidak ada, jelas jelas tadi..." kalimat Desi terhenti dan menatap lira dengan sangat marah karena dia tak bisa menyalahkan lira lagi.


"Bagaimana apa saya bisa pergi sekarang? Saya beneran tak mengambil dompet dia." ucap lira memunguti isi tasnya dan memasukkan lagi ke dalam tas.


"Ini tidak mungkin, kamu pasti menyembunyikannya di suatu tempat." Desi masih bersih keras ingin menyalakan lira.


Sebelum kejadian di pos satpam.


"Apa apaan dia, ingin bicara jangan konyol." gerutu lira pergi meninggalkan dafid.


"Tunggu, tadi aku merasa dia seolah sedang memasukkan sesuatu." lira membuka isi tasnya dan dia melihat sebuah dompet didalam tasnya.


"Ya ampun dia masih saja ingin menjebak aku, mereka benar benar pasangan yang cocok satu sama lain ya." geram lira dan membuang dompet itu.


"Aku ingin liat apa yang ingin mereka mainkan nanti." ucap lira tersenyum.


Kembali ke saat ini


Lira tersenyum dan mendekati Desi "Jadi ini permainan yang ingin kamu mainkan dengan ku?" ucap lira liri didekat desi.


"Tuan Dafid sebaiknya anda tenangkan tunangan anda ini agar tak mempermalukan dirinya sendiri." ucap lira menatap dafid dan berjalan kearah dafid yang berdiri didekat desi,"Dan jangan pernah memainkan permainan rendahan ini dengan ku, karena aku tak akan mau ikut serta dalam permainan kalian berdua."


"Lira kamu benar benar keterlaluan." ucap dafid merangkul Desi.


"Aku, kenapa dengan ku? Jangan menyalahkan orang lain saat kalian telah terjerat dalam permainan kalian sendiri" ucap lira menatap dafid dan Desi bergantian.


"Baiklah pak satpam saya terbukti tak bersalah dan juga tak tau menahu dengan urusan mereka apakah saya bisa pergi sekarang?" tanya lira pada satpam yang tadi berusaha mengadili lira.


"Ya, karena anda tak memiliki dompet dari nona ini dan juga tak tau apa pun anda boleh pergi." ucap satpam itu pada lira.


"Terima kasih pak." lira pergi keluar dari ruangan satpam.


"Oh iya, jika kalian punya banyak waktu sebaiknya kalian cari teman bermain yang sepadan dengan kalian. Karena aku tidak suka permainan anak kecil seperti ini." ucap lira lalu berlalu pergi.

__ADS_1


__ADS_2