
"Ferdi, Ferdi ikut dulu sama mbak - mbaknya ya. Papa mau masuk melihat mama dulu, nanti menyusul Ferdi untuk main." pinta Liyon pada putranya saat mereka sampai dihalaman mansion Liyon.
"Iya papa, tapi Ferdi mau ganti baju dulu." ucap Ferdi dengan patuh mengikuti perintah papanya.
"Ayo sama mbak Warti dan mbak Sulasih kebelakang ganti dengan baju tuan kecil yang sudah disetrika dibelakang saja." ajak Sulasih pada Ferdi. Dan Ferdi mengangguk mengikuti Sulasih dan juga Warti.
Setelah melihat Ferdi pergi kebelakang Liyon melangkahkan kakinya memasuki rumah dengan tak sabar karena dia tak ingin terjadi apa - apa pada Lira dan juga tak ingin Ferdi tau seperti apa kemarahannya, karena Liyon takut tak bisa menahan emosinya. Namun langkah kaki Liyon tertahan saat dia mendengarkan sesuatu yang diucapkan oleh Lira.
"Maafkan saya nyonya, saya tak mau menerima dan tak mau mempublikasikan bukan karena perjanjian aaya dengan nyonya, tapi karena saya tak mau terikat dengan semua ini terlalu dalam dan jauh nyonya. Saya hanya ingin memiliki kehidupan yang biasa saja, saya ingin hidup seperti orang biasa sama Ferdi, saya akan menjelaskan pada Ferdi jika dia sudah lebih besar lagi nanti."
"Karena jujur saya tak akan sanggup untuk menanggung semuanya, apa yang nyonya katakan dulu memang benar, bahwa saya bukanlah siapa - siapa dan juga tak punya apa - apa. Perbedaan diantara kami terlalu jauh, Liyon bukan ditakdirkan untuk bersama dengan saya. Dan saya hanya berterima kasih, karena dia telah memberikan Ferdi yang begitu lucu dan juga sangat berarti bagi hidup saya selama ini, selain itu saya tak menginginkan apa pun lagi."
Liyon yang mendengarkan apa yang baru saja dikatakan oleh Lira membuat Liyon merasakan rasa sakit di dadanya, Liyon mengepalkan tangannya dengan sangat kuat, dia tak pernah menyangka kalau Lira memiliki pemikiran bahwa dia akan pergi lagi dan meninggalkan hidup Liyon lagi, itu pun pergi bersama dengan putranya.
"Lalu ini apa? Saat ini apa? Kenapa Lira masih saja berfikir untuk pergi dari ku? Apa aku tak berarti baginya? Kenapa, kenapa seperti ini lagi?" gumam Liyon dalam hati.
"Lira apa yang kamu katakan? Bagaimana bisa kamu mau pergi bersama dengan cucuku? Lira tolong maafkanlah segala salah ku yang dulu, sekarang aku ingin memperbaiki semuanya, jadi tolong jangan lagi pergi meninggalkan Liyon, dan jangan bawah pergi cucuku. Aku bahkan belum melihatnya dengan jelas dan juga belum mengenalkannya pada suamiku." nyonya Li menggenggam erat tangan Lira.
"Tolong Lira jangan lagi membuat menderita diri sendiri dan jangan lagi menyakiti hatimu, aku tau kamu sangat mencintai Liyon itu sebabnya kamu melahirkan putranya." nyonya Li terus berbicara dengan sangat sedih, karena dia ingat dengan perkataan dari ibu Lira, kalau Lira akan selalu menepati semua apa yang sudah dia katakan dan janjikan dengan tulus walau harus menyakiti dirinya sendiri.
"Cukup, apa yang mama lakukan di sini?" selah Liyon yang berjalan mendekati Lira dan juga mamanya.
__ADS_1
"Liyon, Liyon mama hanya minta maaf sama Lira dan juga meminta pada Lira agar dia mau meresmikan hubungan kalian dalam pernikahan. Tapi dia, dia tak mau dan berniat untuk pergi lagi meninggalkan kita semua." nyonya Li mengadu dengan panik pada Liyon.
"Liyon, tolong maafkan Mama. Tolong kamu katakan pada Lira agar dia mau menjadi istrimu, kamu mau menikah dengan Lira kan? Kalian sudah mempunyai anak dan kalian harus memikirkan masalah anak kalian jangan memikirkan diri kalian sendiri." nyonya Li berkata dengan tulus, dan Liyon hanya menatap mamanya dan juga Lira bergantian.
"Jadi, apa maksudnya? Apa benar yang dikatakan oleh mama barusan kalau kakak berniat akan pergi lagi meninggalkan aku?" Liyon bertanya dengan pura - pura tak tau apa pun, walau sebenarnya Liyon sudah mendengar sendiri apa yang dikatakan oleh Lira pada mamanya.
Mendapat pertanyaan itu Lira tak bisa menjawab dan hanya tertunduk. "Katakan dengan benar agar aku tak salah paham dan salah dalam menafsirkan semuanya." ucap Liyon berjalan mendekati Lira.
"Itu,,, aku,,, sebenarnya aku tak punya keberanian dan juga aku berfikir kalau aku memang tak pantas untuk mu." jawab Lira ragu - ragu dan tak berani menatap Liyon, karena dia takut dengan tatapan mata Liyon. Karena semakin dewasa Liyon tatapan matanya jadi semakin tajam dan juga dingin saat dia marah atau tak suka dengan sesuatu.
"Ma, sebaiknya mama pulang sekarang. Biar Liyon yang mengatasi semuanya." ucap Liyon pada mamanya.
"Liyon,,," kalimat mama Li tertahan karena dia melihat wajah sedih dan juga rona merah dari kedua bola mata Liyon yang seolah menahan sesuatu yang menyakitkan.
Sepeninggal mama Li keadaan jadi hening tak ada yang bicara baik Liyon atau pun Lira. Liyon duduk di sofa dengan menutup wajahnya menghadap kebawah.
Lira yang melihat Liyon juga merasakan campur aduk dalam hatinya, dia tak ingin menyakiti Liyon namun dia juga tak mau sakit hati lagi seperti dulu. Karena berada sama Liyon artinya dia harus siap untuk hidup tak tenang dengan segala persoalan masalah bisnis dan juga para orang - orang yang mungkin ingin mencari masalah dengan Liyon.
"Liyon,,, deg." Lira terkejud saat dia melihat dan menatap mata Liyon yang sudah memerah dan ada butiran bening membasahi wajahnya.
"Kosongkan rumah.!" teriak Liyon dengan suara serak karena menangis.
__ADS_1
Mendengar itu bi Min dan Surti yang ada disekitar ruang tengah itu langsung keluar dan bi Min mengaktifkan pengunci pintu otomatis sehingga semua pintu akan tertutup dan terkunci dengan sendirinya secara otomatis dan hanya akan bisa dibuka dari dalam saja.
"Kenapa, apakah begitu sulit untuk bersamaku? Apa begitu susah untuk bisa berada disisiku?" tanya Liyon dengan air mata yang sudah keluar dan membasahi pipinya.
Liyon tak kuasa menahan emosinya, dia beranjak keatas masuk kedalam kamarnya untuk menenangkan dirinya, sebelum dia mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Lira. Melihat itu Lira merasa bersalah dan mengikuti Liyon ke atas, karena Lira tak pernah melihat Liyon yang menangis selama ini.
Saat Lira masuk Liyon sudah duduk di sofa dengan bersandar disandaran sofa dan menutup matanya dengan tangan kanan diletakkan diatas matanya, dan yang tangan kiri disamping badannya dengan menggemggam sebuah kertas, tak ada suara dan hanya ada hembusan nafas Liyon yang bisa dilihat oleh Lira dengan ritme tarikan nafas yang normal dari pergerakan mengembang dan tidaknya dada Liyon.
"Ma - maafkan aku, Liyon,,, aku." kalimat Lira tertahan saat Lira melihat senyum dibibir Liyon dengan posisi yang masih sama.
"Rupanya hanya aku, hanya aku saja yang menganggap bahwa kakak adalah orang yang berarti bagi ku." Liyon duduk tegap dan menatap Lira, sudah tak ada butiran bening namun matanya masih terlihat merah dan sembab.
"Bukan begitu Liyon, dengarkan aku dulu. Aku tak bermaksud begitu." ucap Lira mendekati Liyon.
"Lepas bajumu." perintah Liyon dengan dingin, dan spontan Lira langsung melepas bajunya.
"Apa artinya?! Kenapa kakak tak pernah memikirkan sedikit pun perasaanku, kenapa!!" teriak Liyon terlihat sangat kecewa dan juga marah pada Lira.
"Apa jika aku meminta mu untuk melepas ditempat umum kau juga akan melakukannya? Apa selama ini kau menganggap aku hanya seperti itu? Apa bagi dirimu aku hanya seorang baj*ngan yang hanya menginginkan tubuhmu? Apa kau tau dan pernah berfikir bagaimana rasanya jadi aku, bagaimana caraku melepas semua rasa sakit di hatiku atas kepergian mu waktu itu, pernahkah kau berfikir?!" Liyon marah dan mencekram tubuh Lira dengan kuat.
"Maafkan aku." Lira menatap Liyon dengan tatapan sulit.
__ADS_1
"Maaf, maaf. Aku tak butuh dengan kata maaf kakak! Yang aku inginkan adalah kakak, diri kakak, hati kakak. Yang aku inginkan adalah dirimu Lira, hanya kamu." Liyon memeluk tubuh Lira yang tanpa busana dengan sangat kuat dan menumpahkan air matanya lagi, seakan ada sesuatu benda besar yang menghalangi organ pernafasan Liyon dan membuatnya sesak serta sulit untuk bernafas.