
Farid melihat ada yang tak biasa pada diri liyon saat ini, liyon terlihat sedang menahan sesuatu yang tak bisa dia ungkapkan.
"Apa perlu aku cari tau apa yang sedang mereka bahas atau bicarakan?" tanya Farid yang merasa khawatir pada liyon.
"Tak usah, aku percaya pada lira, dia pastinya punya alasan tersendiri kenapa harus bertemu dengan pria itu lagi, dan mungkin saja masih ada urusan ya g harus mereka selesaikan sampai selesai." jawab liyon menghela nafas dalam.
"Hem, kalau begitu Keita kemana sekarang? Apa langsung pulang saja?" tanya Farid lagi. Liyon tersenyum dengan wajah lelahnya dan mengangguk dengan lemas.
Selama dalam perjalanan pulang liyon tak banyak bicara, dia hanya menutup matanya dan bersandar pada sandaran kursi sambil sesekali memijat pelipisnya.
Sementara di tempat lain disebuah restoran seafood lira dan Robin menikmati makan malam mereka berdua, Robin terlihat sangat senang dan bahagia bisa bertemu dan bersama lagi makan berduaan dengan lira yang selama ini dia cari tau kabarnya namun tak bisa karena Denis telah berpisah dengan Yuniar.
"Lira aku sangat senang kita bisa bersama dan bertemu lagi seperti sekarang."
"Selama ini aku berusaha untuk mencari tau tentang kabar kamu tapi Denis sudah tak bersama dengan kekasihnya lagi, jadi aku tak tau kabar kamu, dan mau menghubungi kami juga aku tak cukup berani."
"Apakah setelah ini aku bisa langsung menghubungi kamu? Mengirim pesan atau telepon yang hanya sekedar bertanya kabar satu sama lain?"
Robin bicara banyak dan panjang lebar mengungkapkan rasa senangnya bisa bertemu dan bersama dengan lira lagi serta bisa menikmati kebersamaan bersama.
"Iya tak apa, tapi sebelumnya aku mau minta maaf pada mu Robin." ucap lira tertunduk.
"Kenapa kamu harus minta maaf lira? Kamu tak salah, hanya aku saja yang kurang berani untuk melangkah dan menghubungi kamu. Tapi aku senang akhirnya kita bertemu lagi seperti sekarang." jelas Robin dengan lembut.
"Tidak, bukan itu maksud ku. Aku minta maaf bukan maksud aku untuk mempermainkan kamu, aku sudah memiliki orang yang aku sukai dan kami juga sudah berhubungan. Jadi aku minta maaf pada mu untuk hal itu, tolong maafkan aku, maaf atas kesalahan ku yang tak memberi mu kabar setelah pertemuan kita waktu itu." jelas lira pada Robin dan seketika senyum di bibir Robin menghilang.
"Maksud mu, kamu telah memiliki seorang kekasih? Apakah pertemuan yang kita lakukan waktu itu adalah sesuatu yang terjadi karena kemarahan mu dan dan akhirnya sekarang kamu bersama dengan dia lagi begitu?" tanya robin dengan sedikit rasa kecewa.
"Tidak, waktu kita bertemu aku masih belum punya kekasih dan iya, memeng benar waktu itu aku melakukannya karena kemarahan ku, aku marah pada diriku sendiri yang tak bisa menjadi wanita yang menarik dan tak bisa menjalin hubungan dengan orang lain. Maafkan aku yang telah menipu mu selama ini." jelas lira dan dia tetap tertunduk merasa bersalah dan juga malu pada Robin, orang yang sangat baik bagi lira.
__ADS_1
"Jadi setelah pertemuan kita itu kamu juga bertemu dengan pria yang sekarang telah menjadi kekasihmu itu?" Robin terus bertanya karena dia merasa telah keduluan, padahal dirinyalah yang lebih dulu mengenal dan bertemu dengan lira.
"Dia adalah orang yang sudah aku kenal dan aku temui sebelum aku bertemu dengan mu, tapi aku baru menyadari kalau aku mulai menyukai dirinya baru - baru ini. Dan kami juga baru saja menjalin hubungan tak lama ini." jelas lira lagi dengan rasa bersalah yang sangat dalam pada Robin.
"Sudah berapa lama kamu resmi berpacaran dengan dia?"
"Aku, sudah sekitar 4 bulanan aku telah berpacaran dengannya. Tolong maafkan aku Robin, karena aku sangat menyukainya." jelas lira lagi.
"Tak apa lira, kamu tak salah. Selamat ya lira atas hubungan mu, tapi kalau boleh aku tau siapa orang yangbtelah beruntung menjadi kekasihmu dan mendapatkan rasa cinta dari mu itu?" tanya robin penasaran dengan pria yang beruntung bisa mendapatkan perhatian dan rasa cinta dari lira.
"Dia, dia adalah bos ditempat ku bekerja." jawab lira liri namun Robin masih tetap bisa mendengarnya dengan jelas.
"Apa dia bilang? Barusan dia bilang bahwa dia berpacaran dengan bos tempatnya bekerja, itu berarti dia berpacaran dengan tuan Liyon Song Wei pimpinan dari PT. Task Corporation Grup." suara hati Robin dengan tatapan tak percaya.
"Tunggu lira, barusan kamu bilang bahwa pria itu adalah bos ditempat kamu kerja. Apa kah dia tuan Liyon Song Wei pimpinan dari PT. Task Corporation Grup? Kamu berpacaran dengan dia, dengan pria itu?" tanya robin tak percaya dan ingin memastikannya lagi.
Setelah keluar dari restoran lira langsung menghubungi liyon dan mengatakan kalau dia akan datang untuk menemui liyon, setelah itu lira memesan taksi menuju ke mansion atau rumah liyon.
🍂🍂🍂
Setelah sampai di rumah liyon lira langsung berjalan masuk tanpa ragu karena dia tau kunci dan juga password rumah liyon, dengan sangat bersemangat lira berjalan yang bisa dikatakan sedikit berlari.
"Non Lira." sapa bi min yang melihat lira datang dengan terburu - buru.
"Ah, iya dimana liyon.?" tanya lira yang baru sadar kalau di rumah itu tidak lagi ada liyon sendiri dengan Farid tapi juga ada para art liyon.
"Tuan ada di ruang kerjanya dari tadi belum keluar." jawab Bi min pada lira
"Terima kasih ya bi." lira langsung berjalan ke arah ruang kerja liyon.
__ADS_1
Ceklek
"Kak. Sudah datang." ucap liyon yang melihat lira masuk kedalam ruang kerjanya.
"Apa ini, bahkan saat di rumah kamu juga masih bekerja saja." ucap lira yang berjalan mendekati liyon dan langsung memeluk liyon.
"Ada apa ini? Kenapa kakak jadi berani seperti ini Hem?" tanya liyon dan membalas pelukan dari lira dengan menepuk nepuk punggung lira.
"Apa kah kamu tak merindukan aku? Aku sangat merindukan mu hari ini." ucap lira yang duduk dipangkuan liyon.
"Tentu saja rindu, dan tak perlu ditanyakan karena setiap saat aku selalu merindukan diri mu lira, sangat rindu." jawab liyon mengusap pipi lira dan memegang dagu lira.
"Benarkah? Apakah aku bisa melihat kerinduan mu itu?" ucap lira yang langsung menempelkan bibirnya pada bibir liyon.
Ruang kerja malam itu menjadi saksi bisu yang syahdu antara lira dan liyon yang salin mengutarakan rasa rindu meraka masing - masing dengan sangat bersemangat, dan dengan cara mereka sendiri.
"Hihihi, kamu begitu bersemangat ya sampai lupa kalau masih ada penghalang." ucap lira meledek liyon yang padam setelah menggebuh - gebuh.
"Jangan pernah menggodaku dengan cara ini lagi, karena aku tak akan pernah bisa berhenti jika saat itu kamu tak ada penghalang lagi." jawab liyon dengan nafas dalam dan juga murung karena tak bisa menyalurkan sesuatu yang sudah sangat ingin disalurkan.
"Hahaha, jika tidak aku tak akan berani menggoda." lira terbahak melihat liyon yang berusaha keras menahan diri.
"Jangan tertawa lagi, aku sudah gak mood untuk bekerja mau tidur saja." gerutu liyon dengan nafas beratnya dia melangkah keluar dari ruang kerjanya.
"Kakak mau kemana? Tidur ditempat lain saja." perintah liyon dengan kesal pada lira.
"Ya sudah kalau gitu aku mau ngobrol sama Farid saja karena belum ngantuk." lira berbalik dan mau ke belakang rumah.
"Gak boleh.! Gak boleh sama Farid, ayo masuk." liyon menarik tangan lira untuk masuk kedalam kamarnya.
__ADS_1