Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Terbangun dari koma


__ADS_3

Saat para investor itu mengejar Liyon keluar ternyata diluar ruangan sudah berdiri anak buah Liyon yang memenuhi perusahaan itu sehingga bisa menahan semua orang yang ingin menghadang langkah liyon.


"Tuan Liyon tolong dengarkan kami, tuan Liyon." panggil para investor itu namun Liyon cuek dan tak peduli karena sebelum datang Liyon sudah menyelidiki mereka semuanya dan ditemukan ada kecurangan serta hal - hal kecil yang menyimpang sehingga Liyon tak ingin melihat dan berurusan dengan mereka semuanya.


"Gila aku tak pernah menyangka kalau aku akan bekerja dalam perusahaan yang dipimpin langsung oleh seorang pimpinan seperti dia." ucap pegawai dari perusahaan itu.


"Benar, aku selalu itu pada mereka yang bisa lolos interview dan menjadi bagian dari perusahaannya. Sekarang aku juga akan bekerja dibawah kepimpinannya juga." sambung teman dari pegawai itu.


Liyon berjalan melewati para pegawai yang berdiri berbaris dan memberikan hormat pada Liyon yang melewati mereka. Langkah tegap Liyon dan pandangan mata yang tajam membuat Liyon dikagumi oleh semua pegawai di perusahaan yang baru saja jatuh ke tangannya itu.


"Tu-tuan,,," sapa seseorang dengan ragu - ragu pada Liyon.


Liyon berhenti dan menatap orang itu, suasana hening seolah keadaan jadi berubah ke kutub karena tak ada respon dari Liyon. Jantung orang yang tadi menyapa Liyon berdetak dengan sangat cepat serta tak berani menatap Liyon, orang itu tertunduk dengan keringat yang mulai bercucuran meluncur bergantian saling memburu.


"Manager Beni, ku serahkan semuanya pada mu berikan laporan lengkapnya pada ku dan ku beri waktu 1 minggu, kau bisa." ucap Liyon setelah membiarkan manager Beni terdiam dan membungkuk cukup lama.


"Siap tuan saya akan memberikan laporan tanpa kurang sedikit pun." jawab manager Beni dengan posisi siap.


"Santai saja, aku hanya akan mendepak orang - orang yang tak memberikan untung di perusahaan ku." jawab Liyon menepuk bahu manager Beni lalu pergi.


"Di-dia menepuk bahuku." ucap manager Beni tersenyum dan memegang bahunya sendiri yang baru saja ditepuk oleh Liyon.


"Semua telah selesai." ucap Satria yang berjalan mengikuti Liyon.


"Hem, semuanya selesai. Kita tinggal menunggu kehancuran mereka semuanya." jawab Liyon tersenyum dan masuk kedalam mobilnya.


Kegiatan Liyon setelah itu hanyalah kantor dan rumah sakit. Dan dengan saran dari Lira Farid membawah Meli keluar negeri untuk menjalani pengobatan agar Meli setidaknya bisa berjalan lagi walau dengan menggunakan kaki robot.


Selama Farid mengantar Meli semua pekerjaan Farid dilimpahkan pada Satria. Dan Brayen berusaha keras untuk mengejar Safitri hingga tiap hari datang ke kantor Liyon dengan segala alasan yang sebenarnya hanya untuk melihat Safitri saja.


...🍂🍂🍂...


"Lira,,," Yuniar menyapa Lira yang sedang menyusui bayinya di ruang bayi.


"Yun, kamu ke sini." Lira terlihat senang melihat Yuniar datang.


"Katanya mereka sudah bisa dibawah pulang." ucap Yuniar mendekat dan melihat bayi - bayi Lira.


"Ya, hari ini mereka sudah boleh keluar dari ruangan ini dan pulang, tapi berat mereka masih 2000 gram dan 2100 gram masih terlalu kecil ya." ucap Lira tersenyum.


"Ya setidaknya mereka sudah sangat kuat dan juga aktif." jawab Yuniar menggendong salah satu bayi Lira.


"Sudah ada nama?" tanya Yuniar.


"Belum, kamu?" jawab Lira dan bertanya balik.

__ADS_1


"Juga sama, belum." jawab Yuniar lalu tertawa.


"Dimana dia?" Lira meletakkan bayinya yang sudah disusui dan tertidur.


"Di ruangan Ferdi sama mas Satria dan suamimu Liyon." Yuniar menyerahkan bayi lira untuk disusui.


Sore itu Lira dan Liyon membawah pulang bayi - bayi mereka dan disambut dengan hangat oleh mama Liyon dan juga ibu Lira yang sudah menunggu di rumah Liyon, semuanya berkumpul di rumah Liyon sejak dari siang hari karena Liyon melarang mereka semua ke rumah sakit.


Walau Lira senyum Liyon tau kalau hati istrinya masih belum pas karena putra tertua mereka masih terbaring dirumah sakit dan belum sadarkan diri hingga sekarang sudah mencapai 4 bulan lamanya.


"Sayang istirahatlah nanti kamu lelah." Liyon melihat Lira masih terjaga dan menemani bayi - bayi mereka yang telah tertidur.


"Iya habis ini aku tidur." dengan senyum dan wajah yang terlihat sangat lelah Lira menatap Liyon yang datang menemani dirinya.


Malam itu adalah malam pertama bagi Lira untuk tidur menemani kedua bayinya yang masih kecil dan masih butuh banyak perhatian dari dirinya. Liyon yang menemani bergantian menjaga kedua anak mereka yang selalu bangun ditengah malam secara bergantian.


"Jangan bangunkan Lira biarkan dia tidur lebih lama lagi karena semalam hampir tak tidur." ucap Liyon pada bi Min yang mau masuk kedalam kamar Lira.


"Baik tuan muda." ucap bi Min dan masuk kedalam kamar secara perlahan.


Siang itu setelah merawat kedua putranya Lira pergi ke rumah sakit untuk menemani Ferdi yang masih tertidur tak berdaya dengan beberapa alat terpasang dibagian tubuhnya, walau kondisinya menunjukkan perkembangan baik namun sampai 4 bulan masih juga tak bangun dan itu membuat Lira sangat sedih.


...🍂🍂🍂...


"Selamat siang nyonya Lira." sapa seorang perawat yang bertugas merawat Ferdi.


"Baik saya mau pergi memanggil dokter dulu, karena barusan beberapa kali ada sensor yang mempengaruhi kerja monitornya." ucap perawat itu pada Lira.


"Apa? Memangnya kenapa, apa tidak apa - apa? Kenapa dengan dia?" Lira bertanya dengan panik dan mendekati Ferdi, menatapnya dengan seksama dan dalam.


"Tidak apa nyonya, itu pertanda baik atau buruk saya belum tau, yang jelas seperti ada yang memicu kesadaran otaknya." jawab perawat itu.


"Baik cepatlah pergi." perintah Lira dan perawat itu langsung pergi mencari dokter.


...🍂🍂🍂...


Disisi lain ditempat Farid membawah Meli untuk berobat di rumah sakit yang tepatnya dibagian dari California Amerika serikat, sedang mengalami kecelakaan saat Farid membawah Arlin kesebuah swalayan untuk belanja makanan, walau tak parah namun kecelakaan itu membuat Arlin terpental dan mengalami benturan di bagian kepalanya.


"Bagaimana dokter, apa ada masalah dengan putri saya?" tanya Farid dengan panik pada dokter yang menangani Arlin.


"Tidak masalah tuan Farid, hanya benturan ringan tidak sampai membuat cidera dan darah yang keluar cuma diakibatkan robekan kecil dan tak dalam paling cuma perlu 2 jahitan dibagian kepalanya tak masalah." jawab dokter itu menjelaskan pada Farid.


"Haaaa,,, syukurlah. Ini salah ku harusnya aku tak membiarkan anakku berjalan sendiri dan dia tak perlu tertimpa rak makanan." gumam Farid menyesal setelah membiarkan Arlin berjalan sendiri saat di swalayan sehingga Arlin harus mengalami kecelakaan itu.


"Mas apa tak apa?" tanya Meli yang sudah mulai bisa beradaptasi dengan kaki robotnya dan mulai berjalan.

__ADS_1


"Tidak apa, dokter bilang tak ada masalah. Dia masih tidur mungkin karena pengaruh obat karena dari tadi menangis terus." jelas Farid saat Meli datang ke rumah sakit diantarkan sama Surti yang memang sengaja dibawah oleh Farid untuk menemani Meli dan juga karena Arlin sudah begitu kenal serta akrab dengan Surti.


...🍂🍂🍂...


Setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter kalau Ferdi mengalami gelombang otak yang ada pemicunya namun belum tau apa membuat Lira tak mau meninggalkan Ferdi, dari siang hingga malam hari Lira berjaga dengan terus duduk disisi Ferdi tanpa beranjak sedikit pun. Lira menggenggam tangan Ferdi dengan erat seakan dia takut akan kehilangan putra pertamanya itu.


"Sayang kamu harus istirahat jangan menyiksa diri begini." Liyon berusaha membujuk Lira yang dari sore tak mau beranjak meninggalkan Ferdi.


"Liyon, dokter bilang kalau gelombang otak itu bagus lalu kenapa dia masih juga tak mau bangun?" Lira bertanya dan mulai menangis.


"Sayang sabarlah aku yakin putra kita adalah anak yang kuat, dia pasti bangun habis ini." ucap Liyon berusaha menghibur Lira.


Brrrrt


"Tunggu Farid telepon." ucap Liyon dan mau keluar untuk mengangkat panggilan dari Farid.


"Jangan pergi, angkat di sini saja." Lira menahan Liyon.


"Baiklah." Liyon tersenyum dan mulai menjawab panggilan dari Farid.


"Halo, ya Rid tak ada masalah di sana kan? Jadi pulang hari ini?" tanya Liyon pada Farid.


"Maaf menghubungi mu malam - malam, di sana pasti saat ini sudah tengah malam kan ya, aku cuma mau bilang aku akan berangkat besok ke Indonesia karena Meli sudah baik, namun Arlin mengalami sedikit kecelakaan." ucap Farid menjelaskan.


"Loh Arlin kenapa?" Liyon bertanya dengan bingung karena kemaren Farid bilang mau berangkat hari ini.


"Semalam aku membawah Arlin ke swalayan dan Arlin mengalami kecelakaan karena kecerobohan ku, tapi sudah baik sekarang jadi kami akan berangkat besok saja." jelas Farid lagi.


"Arlin kecelakaan bagaimana? Apa tak papa? Baiklah kalau begitu berangkat besok saja nanti aku akan menyuruh orang untuk menjemput kalian." jawab Liyon.


"Arlin kenapa?" Lira yang mendengar pun ikut bertanya karena penasaran.


tiit,,, titiit,,, titiiit


"Liyon Ferdi." Lira panik mendengar suara alat monitor berbunyi sangat cepat.


"Aku akan panggil dokter." Liyon juga ikut panik.


"Liyon kenapa? Liyon?!" Farid yang mendengar dari telepon ikut panik.


Lira menangis sambil tertunduk dan menggenggam tangan Ferdi, dan perlahan Ferdi membuka matanya samar menatap mamanya yang menangis disampingnya, "Ma,, ma,,," suara Ferdi yang masih lemah memanggil Lira.


"Ferdi, Ferdi sayang." Lira memeluk tubuh Ferdi yang terasa semakin kurus dengan sangat erat, serta tangis Lira semakin kencang.


"Lira dokter" Liyon terbelalak lebar saat melihat putranya telah membuka mata dan menatap dirinya sayu.

__ADS_1


"Keajaiban." ucap dokter langsung mendekat dan memeriksa keadaan Ferdi.


__ADS_2