Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Kembali keposisi sekretaris


__ADS_3

Setelah melihat lira menghilang dibalik pintu rumahnya liyon langsung melajukan mobilnya menuju rumahnya.


"Bos.!" Farid lari menuju liyon saat liyon baru keluar dari mobilnya.


"Kenapa?" liyon bertanya dengan heran karena dia tak pernah melihat Farid berekspresi panik seperti saat ini.


"Berita gawat, bos Lian barusan telpon katanya di perusahaan ada masalah dan meminta bos untuk segerah ke sana secepatnya." jelas Farid pada liyon sambil berjalan memasuki rumah.


"Hah?" liyon menghentikan jalannya dan menoleh ke arah Farid.


"Ya begitulah isi pesannya tadi." ucap Farid menatap liyon.


"Baiklah, besok hubungi pihak HRD lira akan kembali lagi bekerja dan katakan pada kak Lian aku akan datang tapi tak bisa cepat, suruh dia menghandle dulu sementara." ucap liyon dan dia berbalik masuk lagi kedalam mobilnya dan pergi.


"Lah, dia mau pergi kemana lagi?" Farid menatap kepergian liyon.


...🍂🍂🍂...


"Ya, kau benar benar kerumah ku." ucap satria menatap liyon yang terlihat aneh.


"Ya, aku butuh teman bicara." ucap liyon turun dari mobilnya dan berjalan mendekati satria.


"Kenapa sepertinya masalah serius." satria bertanya dengan khawatir.


"Haaah, kau mengawatirkan ku? Aku suka itu." liyon menjawab dengan tersenyum dan duduk di kursi depan rumah lira.


"Jangan mengada ngada." satria memukul bahu liyon.


"Kak Lian menghubungi dan memintak ku kembali ke perusahaan karena katanya di sana ada masalah." jelas liyon lesu.


"Hmmmm." satria berfikir.


"Bisakah aku tidur di sini malam ini? Aku ingin tidur dan tak ingin diganggu." pinta liyon


"Kau kebiasaan kabur ya, di rumah ada kakak ku." satria menjawab dengan sedikit khawatir


"Tak masalah." liyon menjawab santai.


"Tunggu sebentar ya." satria bangun dan masuk kedalam rumah.


Tok...Tok...Tok


"Iya masuk lah." Lira teriak dari dalam kamarnya.


"Kak, malam ini ada teman ku yang akan menginap di sini, tolong kakak untuk hati hati dan jangan biasakan keluar dengan bikini ok." satria mengingatkan lira.


"Iya iya aku tau." lira menjawab kesal.


"Hei, ayo masuk." ajak satria pada liyon yang menunggu di luar.


"Hem." liyon bangun dan masuk ke dalam rumah.


"Kau mau tidur dengan ku atau tidur di kamar tamu terserah aku sudah siapkan." ucap satria pada liyon.


"Eh, waktu itu tak ada kamar tamu, kenapa sekarang jadi ada?" liyon bertanya heran.


"Ya, waktu itu kan kamu langsung tidur di sofa tak tanya pada ku." satria menjawab dengan enteng.


"Kau, benar benar ya." liyon merasa kesal pada satria.


"Yasudah selamat istirahat kita bahas soal kak Lian besok saja karena aku ngantuk." satria melenggang masuk kedalam kamarnya, begitu juga dengan liyon masuk kedalam kamar tamu.


"Hem, sepi banget ini rumah. Satria bilang kalo temannya lagi menginap apa mereka tidur bareng dan belum bangun ya." lira celingukan tak mendapati satu orang pun yang bangun.


"Hooouam, masih ngantuk." lira menguap dan berjalan masuk kedalam kamar mandi yang ada di sudut rumah.


Ceklek


"Hoaaaaaah.!" lira berteriak kaget mendapati sosok seksi yang sedang mandi di kamar mandi dengan shower.


"Eh." liyon terkejud dan terpaku.


"Apa, ada apa?" satria melompat keluar kamarnya karena terkejud.


"Kakak?!" satria menarik lira kepelukkannya dan membawah lira keluar dari kamar mandi.


Melihat itu liyon sangat marah dan mengepalkan kedua tangannya, liyon ingin menghajar satria yang berani memeluk lira. Namun dia tak bisa marah karena mereka adalah saudara.


"Sebenarnya ada apa ini, kak aku memberitahu kakak agar tak berkeliaran tanpa busana dan berhati hati karena ada teman ku yang menginap di sini, kenapa kakak malah menerobos masuk dan melihat temanku yang tanpa busana." satria menghela nafas dan memegang kepalanya.


"Apa katanya tadi? Berkeliaran tanpa busana dan satria melihatnya?" gumam batin liyon dengan kesal menatap lira.


"Ah, aku mau ke kamar mandi tadi dan tak tau kalo didalam ada orangnya." jawab lira menunduk.


"Kenapa harus ke kamar mandi luar, didalam kamar kakak kan ada kamar mandi?" satria bertanya heran.


"Kamar mandi didalam mati airnya." jawab lira yang masih tertunduk karena malu.


"Ah iya aku lupa membetulkannya." satria baru sadar kalo kamar mandi dalam kamar lira macet.

__ADS_1


"Dan kamu kenapa pagi pagi buta sudah mandi?!" satria balik bertanya dengan kesal pada liyon.


"Kenapa aku yang di marahi? Aku yang rugi karena dilihat sedang telanjang, harusnya aku yang mendapatkan ganti rugi." jelas liyon dengan santai.


"Hey ganti rugi apanya?! Kau juga pernah melihat ku begitu.!" teriak lira tak terima.


"Apa?" satria terkejud melihat kakaknya dan sahabatnya bergantian.


"Eh, ah ti - tidak." lira menjawab dengan panik sambil menggoyang goyangkan kedua tangannya, sementara liyon hanya tersenyum menatap lira.


"Baiklah aku buatkan sarapan untuk kalian sebagai ucapan terima kasih karena menampung ku di sini." ucap liyon dan berjalan kearah dapaur.


Lira langsung masuk ke kamar mandi untuk mandi dan satria juga masuk ke kamarnya.


"Oh iya sekretaris lira sebaiknya berangkat bareng saya saja." tawar liyon pada lira setelah selesai sarapan.


"Ah iya benar, kalian kan satu tujuan jadi aku tak perlu puter puter nganterin kakak, dan apa ini, kenapa kakak masih mengenakan kaos biasa nanti telat loh." ucap satria yang beranjak masuk ke kamarnya untuk mengambil tas kerjanya.


"Aku sudah mengundurkan diri." jawab lira liri.


"Tapi aku tak setuju. Apa perlu aku berlutut lagi untuk memintak kakak kembali jadi sekretaris ku?" tanya liyon dengan tatapan dan senyuman yang menggoda.


"Tak perlu aku ganti baju dulu." lira langsung masuk kedalam kamarnya.


"Kakak belum siap? Aku pergi dulu, aku titip kakak ku pada mu dan jangan macam macam padanya." ancam satria lalu keluar rumah.


Ceklek


"Kak." liyon masuk kedalam kamar lira setelah memastikan satria pergi.


"Apa yang kamu lakukan?" lira bertanya dengan waspada.


"Ada yang ingin aku katakan pada kakak, makanya aku menginap di sini." ucap liyon duduk ditepi ranjang lira.


"Aku baru tau kamu teman adik ku." gumam lira.


"Dan aku juga baru tau dia adik kakak, tapi aku tetap gak suka melihat kalian bermesraan didepan ku." liyon berkata dengan kesal.


"Dan apa tadi, dia bilang kakak suka berkeliaran didalam rumah tanpa busa dan dia melihat tubuh kakak. Lain kali tidak boleh.! Hanya aku yang boleh melihatnya." perintah liyon pada lira yang membuat lira bingung.


"Emang kamu siapa? Satria adalah adik ku." jawab lira cuek


"Aku..." kalimat liyon gantung


"Aku adalah milik kakak dan kakak milik ku" liyon bergumam pelan namun lira masih bisa mendengarnya, tapi pura pura tak dengar.


"Aku ucapkan sambil jalan." jawab liyon berjalan mengikuti lira dari belakang.


Dan dalam perjalanan liyon mengatakan semuanya kalo dia harus pergi keluar negri untuk mengurus perusahaan yang ada di sana karena kakaknya menghubungi dia dan butuh bantuannya.


"Baiklah, kenapa kamu harus menceritakan ini pada ku? Itu kan urusanmu dan tak ada hubungannya dengan ku." jawab lira dengan santai.


...🍂🍂🍂...


"Kita sudah sampai." ucap liyon keluar dari mobil dan ikuti oleh lira.


"Bos, non lira." Farid menyapa mereka berdua.


"Asisten Farid tak perlu memanggilku dengan sebutan non, cukup lira saja." jelas lira pada Farid, dan Farid hanya tersenyum.


"Apa kamu sudah mengurus semuanya?" tanya liyon pada farid.


"Sudah bos." jawab Farid


"Kak, pergilah ke HRD ambil kembali ID Cart kakak lalu pergi ke ruangan ku ada pekerjaan yang mau aku serahkan pada kakak." liyon memerintah lira sebelum masuk kedalam lif.


"Selamat pagi Bu." lira masuk keruang HRD


"Lira, selamat datang kembali. Aku senang kamu telah kembali ke posisi sekretaris lagi." ucap ibu HRD dan menyerahkan id cart lira yang sudah diberitahukan oleh asisten Farid.


"Maaf Bu sudah merepotkan dan terima kasih banyak." ucap lira dengan malu.


"Tak apa tak apa." jawab ibu HRD itu sambil menepuk bahu lira.


Setelah itu lira pergi ke ruangannya dan dia langsung disambut oleh teman temannya dengan sangat senang.


"Lira, ya ampun akhirnya kamu kembali lagi aku senang banget." sambut Endang dan Safitri dan memeluk lira.


"Apa kamu tau mbak Lira, saat pihak tuan Haris menanyakan semua prosedur kerja samanya pada ku aku sangat bingung dan juga takut." keluh Endang pada lira dengan ekspresi sedih yang dibuatnya.


"Ma - maafkan aku." lira menjawab dengan canggung dan juga malu, karena urusan pribadinya sendiri jadi merepotkan banyak orang.


"Baiklah tadi bos bilang kalo kamu sudah datang di suruh masuk." ucap Safitri pada lira, dan lira pun langsung masuk kedalam ruangan liyon.


Deg


Jantung lira berdebar saat dia masuk kedalam ruangan liyon karena dia teringan akan adegan mesra antara dirinya dan juga liyon didalam ruangan itu.


Liyon yang menatap lira dengan malu malu tersimpul senyuman dibibirnya karena dia tau apa yang sedang lira pikirkan dan bayangkan.

__ADS_1


"Ehem." liyon menyadarkan lamunan lira.


"Ma - maaf." ucap lira malu.


"Tak papa, aku suka kakak masih ingat akan semua yang pernah kita lakukan di sini." ucap liyon bangun dan duduk di sofa.


"Baiklah, ini tugas yang yang akan aku serahkan pada sekretaris Lira. Besok aku akan berangkat dan tak tau akan sampai mana masalahnya disana."


"Aku harap sekretaris Lira tak keberatan untuk mengatur semua jadwal ku lagi. Aku janji akan segerah menyelesaikan semuanya dengan cepat "


Liyon menjelaskan pada lira apa saja yang harus lira lakukan selama dua tak ada dan juga mengatur ulang jadwal pertemuan serta rapat yang sudah terjadwal.


"Baik, aku mengerti dan akan melakukannya dengan baik." jawab lira profesional.


"Ok, aku senang dengan kerja kamu. Selamat bekerja dan selamat kembali lagi sekretaris Lira." ucap liyon dengan senyuman


"Oh iya, jangan lupa nanti aku jemput untuk makan malam." ucap liyon sebelum lira keluar dari ruangannya.


"Baik." jawab lira dan keluar.


Hari itu lira terlihat sangat sibuk dari pagi hingga siang hari, dia menghubungi semua orang dan semua pihak untuk mengatur ulang jadwal liyon yang tak atau akan kapan dijadwalkan lagi karena semua diundur sampai batas waktu yang tak ditentukan.


"Huff, akhirnya selesai juga." lira menghela nafas lega dan baru merasakan lelahnya karena sibuk seharian.


"Mbak Lira ayo pulang bareng, kerjaannya sudah selesai semuanya kan ya." ajak Endang pada lira.


"Ah, iya bentar aku siap siap dulu." lira mengemasi barangnya dan merapikan mejanya.


"Ayo sudah selesai." ajak lira pada Endang.


"Sekretaris Lira ikut dengan saya, kita pulang bareng karena ada yang mau saya sampaikan." ucap liyon mencegah lira dan Endang pulang barengan, saat liyon keluar ingin ketemu lira.


"Ah, ya ampun aku lupa kalo tadi pagi sudah janji akan makan malam bareng dia" batin lira


"Yasudah kalo begitu saya pamit dulu, mbak Lira aku duluan ya. Lain kali aja kita pulang bareng." ucap Endang dan dia pergi masuk lif sendiri.


"Apa kakak ingin meninggalkan aku sendirian? Atau kakak sengaja tak mau menemani ku." liyon berkata kesal sambil melangkah maju mendekati lira.


"Maaf aku beneran lupa." jawab lira menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Baiklah, aku percaya. Ayo kita pulang, mau makan malam dimana?" tanya liyon sambil berjalan masuk kedalam lif


"Terserah saja." lira menjawab dengan ringan


"Mau di rumah ku aku masakin?" liyon berkata dengan tersenyum menatap lira dalam lif.


"Jangan aneh aneh." lira marah karena dia malu pada farid yang juga ada bersama mereka.


"Tak usah malu pada Farid, dia sudah tau tentang kita." jawab liyon santai.


"Kamu.?" lira melirik Farid dan Farid hanya tersenyum


Dalam perjalanan liyon meletakkan kepalanya di bahu lira sedangkan Farid menyetir, wajah lira bersemu merah karena malu pada Farid atas ulah dan perilaku liyon yang tiba tiba manja pada dirinya.


"Haaaah, senang melihat bos yang sudah kembali lagi normal, nona Lira memang beneran obat dan juga gadis yang selama ini bos inginkan." gumam farid dalam hati saat melihat sekilas dari kaca spion.


...🍂🍂🍂...


"Kita sudah sampai bos." Farid memberitahu pada liyon yang selama perjalanan menutup matanya dan bersandar pada bahu lira.


"Hem, baiklah. Kamu pesan apa yang kamu mau, ayo kak." ucap liyon pada Farid dan membawah lira masuk kedalam ruangan vip.


"Besok aku akan berangkat pagi pagi sekali." ucap liyon dengan lesu.


"Tau, kamu sudah bilang pada ku saat di kantor." jawab lira.


"Selamat menikmati tuan, nyonya." ucap peramu saji dan menutup pintu ruangan liyon dan lira makan.


"Ayo aku suapin atau kakak suapin aku." ucap liyon dengan senang.


"Tidak usah aku punya tangan jadi makan sendiri." tolak lira


"Padahal besok aku pergi dan akan tak akan tau kapan kembali, ku pikir aku akan dapat perlakuan spesial." liyon berkata dengan manyun.


"Ya baiklah aku akan suapin kamu." lira mengalah.


"Benarkah." liyon berkata dengan sumringah.


"Aneh, dia adalah bos yang tegas dan juga terkesan dingin. Namun dia jadi terlihat lucu, manja dan menggemaskan saat bersama ku. Aku jadi merasa senang karena wajah ini yang selalu terlihat di depanku dan hanya aku yang bisa melihatnya." gumam lira dalam hati sambil tersenyum tanpa sadar.


"Kenapa kakak senyum senyum sendiri, sedang membayangkan apa?" liyon bertanya penasaran.


"Ah tidak, aku hanya kagum karena masakannya enak." jawab lira bohong


"Benarkah? Aku rasa biasa saja, tapi jadi terasa enak karena kakak menyuapi aku." jawab liyon tersenyum manis.


"Aaaa" liyon membuka mulutnya minta lira menyuapinya lagi.


Setelah selesai makan liyon mengantarkan lira pulang kerumahnya, dan liyon memeluk lira selama perjalanan, semua yang dilakukan oleh liyon pada lira sudah mendapatkan ijin dari lira saat dia mau keluar dari restoran.

__ADS_1


__ADS_2