Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Pendamping pesta


__ADS_3

"Ok, aku pergi sekarang. Dan jangan lupa datanglah ke pesta yang akan ku adakan untuk acara pembukaan hotel baru ku di kota ini." ucap lean sebelum dia pergi meninggalkan liyon dan juga lira.


"Ok, aku pasti datang." jawab liyon dengan pasti.


"Ayo kita pergi juga." liyon berdiri dan mau mengajak lira pergi.


"Maaf saya harus kembali lagi ke kantor karna ini masih jam kerja." jawab lira dengan sopan pada liyon.


"Anggap saja kamu kerja luar dengan mengawal aku di luar, dengan begitu bisa?" tanya liyon tak sabar.


"Baiklah, tapi aku lapor dulu sama pak Han." ucap lira dan membuka ponselnya.


"Aku adalah bosnya, ngapain lapor sama si Han.?!" kesal liyon pada lira.


"Ayo jalan sendiri atau ku gendong.!" ucap liyon dengan nada sedikit keras.


"Iya, iya baiklah." jawab lira dan langsung mengikuti liyon dibelakangnya.


Liyon membawah lira ke suatu tempat dengan membawah mobil sendiri, dan setelah sampai ternyata liyon membawah lira ke sebuah butik.


...🍂🍂🍂...


"Ayo turun kita sudah sampai." ucap liyon dan turun dari mobilnya setelah memarkirkan mobilnya diparkiran.


"Ngapain kita kesini? Apa kamu mau membeli baju lagi?" lira bertanya sambil berjalan mengikuti liyon.


"Tidak, aku beli untuk kakak. Apa kakak tak dengar apa yang dikatakan oleh lean tadi? Kalo dia mengundang kita kepestanya." jawab liyon


"Apa?"


"Terus kenapa aku?"


"Yang dia undang pasti kamu, gak mungkin kalo aku."


Lira bertanya dengan heran dan juga kesal dengan liyon yang selalu berlaku seenaknya sendiri pada dirinya.


"Tentu saja aku yang dia undang, tapi aku ingin kakak menemani aku kesana." liyon menatap lira dengan lembut.


"Tolong carikan gaun yang cocok, longgar dan nyaman untuknya, dan berikan ukuran lingkar dada 95 cm, pinggang 85 cm, pinggul 90cm." ucap liyon pada pegawai butik itu, dan membuat lira tercengang karna liyon menyebutkan semua ukuran dirinya dengan detail, padahal lira sendiri yang memiliki tubuh tak tau apa - apa dengan ukuran tubuhnya.


"Baik tuan, silakan kesini nona." ucap pegawai butik itu dan membawah lira untuk mencobak baju sesuai dengan ukuran yang disebutkan oleh liyon.


"Bagaimana dengan yang ini nona? Ini ukurannya sesuai dengan detail dari suami anda katakan tadi." ucap pegawai yang melayani lira.


"Maaf dia bukan suami saya tapi bos saya, dan tolong carikan saja baju yang mudah untuk dibuat berkelahi dengan bebas, karna saya adalah bodyguard dari bos saya tadi." jelas lira pada pegawai itu.


"Apa? Anda seorang bodyguard?! Ini sungguh luar biasa, anda begitu cantik dan juga anggun bagaimana bisa jadi seorang petarung." jawab pagawai itu kagum pada lira.


Setelah 30 menit akhirnya lira sudah menemukan baju yang dianggap pas untuknya dengan ukuran yang tadi disebutkan oleh liyon.


"Ini sungguh aneh nona, bagaimana bisa bos anda mengetahui secara mendetail soal ukuran tubuh anda. Lihatlah apa yang dia sebutkan tadi sungguh sangat tepat dan pas buat anda." ucap pegawai itu pada lira, dan lira hanya senyum menanggapinya.


"Benar juga, bagaimana dia bisa tau dengan pasti nilai ukuran dari tubuhku, padahal aku kalo beli baju hanya tau ukuran M saja tidak sampai sentimeternya." gumam lira dalam hati.


"Tuan nona sudah siap." ucap pagawai itu dan membuka korden yang memperlihatkan gaun yang dikenakan oleh lira.

__ADS_1


Dan lira merasa gaun yang dia gunakan sangat pas untuk dia menjadi pendamping pesta dan juga bodyguard, karena bagian bawahnya terbuka dengan leluasa.



Glek


Liyon menelan salifanya saat melihat lira dengan gaun warna maroon, yang menunjukkan lekuk tubuhnya dan kulit putih lira jadi terlihat sangat bersih dan juga sangat menggoda.


"Tidak ganti." ucap liyon dan memalingkan wajahnya.


"Gila, bagaiman bisa aku membawahnya dengan mengenakan gaun itu? Itu terlalu menggoda yang membuat aku ingin memakannya, bagaimana jika pria lain yang melihatnya. Aku tak relah." gumam liyon dalam hati.


"Ini tuan."



"Ganti.!"


"Tuan."



"Hem, tidak." liyon menggelengkan kepala


"Yang ini."



"Terlalu terbuka."


"Ini tuan."



"Tidak bisa kah kalian memberinya baju yang sesuai? Kenapa semuanya selalu menunjukkan pahanya dan juga tulang selangkanya." ucap liyon kesal, begitu juga dengan lira yang capek ganti baju.


"Baik tuan." ucap kedua pegawai itu.


"Yang ini tuan? nona ingin agar bajunya bisa leluasa buat berkelahi" ucap pegawai itu menjelaskan.


"Sudah cukup. Aku gak mau ganti baju lagi, aku capek. Kalo gak cocok aku gak ikut.!" teriak lira yang sudah kesal dan tak bisa sabar lagi.


Liyon menatap lira dengan sangat kagum karna tubuh lira sangat terlihat bagus dengan balutan gaun berbahan bludru itu, ringan dan mengembang, walo modelnya sederhana namun lira tetap terlihat cantik dengan gaun itu.


"Baiklah, kalo begitu bungkus semua baju yang tadi dicoba olehnya." ucap liyon berdiri dan berjalan menuju kasir. Karna sebenarnya dari tadi liyon juga menyukai semua baju yang dikenakan oleh lira.


"Apa? Hei dengarkan aku, aku gak butuh semua baju itu. Dan untuk apa aku memakai baju sebanyak itu? Dan mau kemana aku memakainya?" ucap lira mencegah liyon agar tak menghamburkan uang untuk dirinya.


"Tapi aku butuh untuk melihat kakak mengenakan baju - baju itu didepan ku saat kita berdua saja." bisik liyon ditelinga lira dan tersenyum secara misterius.


"Apa? Dasar orang gila." lira berkata dan mundur untuk menghindar serta jaga jarak dari liyon, dan liyon hanya menatapnya dengan senyuman.


"Bungkus masing - masing 2 warna disetiap modelnya." ucap liyon pada kasir dan menyerahkan kartu kreditnya.


"Baiklah tuan, dengan warna terang semua atau terang dengan gelap tuan?" tanya kasir itu untuk membungkus kan baju pesanan liyon.

__ADS_1


"Terang dan gelap" jawab liyon.


"Dan kirimkan semuanya kealamat ini." sambung liyon lalu pergi meninggalkan butik dengan lira.


"Kita mau kemana lagi?" ucap lira bertanya pada liyon.


"Mengantar kakak pulang." ucap liyon ringan.


...🍂🍂🍂...


Hari H pesta


Pagi itu suasana kantor sangat tenang dan yusnia juga terlihat sangat tenang dan tak membuat masalah.


"Lira aku dengar hari ini kamu akan pergi menemani bos untuk menghadiri pesta ya?" tanya Endang pada lira saat mereka sedang makan siang di kantin kantor.


"Hem, iya untuk menjaga keamanan dan juga keselamatannya." jawab lira biasa saja.


"Wah, kamu hebat Lir." ucap Yanuar bangga dengan lira temannya itu.


"Benar, kamu sangat keren Lira." sambung Aditya.


Mereka berempat terlihat sangat akrab dan juga menikmati makanan mereka.


Malam harinya tepat pukul 7 malam lira yang sengaja dibuat lembur oleh liyon pun telah menyelesaikan pekerjaannya.


"Sudah siap?" bisik liyon dan memeluk lira dari belakang.


Cekrek


Seseorang memotret kedekatan liyon dan lira diam - diam.


"Jangan membuat ku kaget, sudah selesai dan tolong menjauh lah, bagaimana jika ada yang melihat kita." ucap lira berdiri dan menghindari liyon.


"Di kantor sudah sepi tak ada orang lagi." ucap liyon dan ingin mendekati lira.


"Tunggu, aku ganti baju dulu. Karna jika tidak kita akan telat." ucap lira dan membalikkan badan, namun liyon sudah dengan cepat nahan pergerakan lira.


"Ganti baju di ruangan ku saja." ucap liyon dan menarik lira kedalam ruangannya.


Setelah ganti baju liyon dan juga lira berangkat kepesta pembukaan hotel lean li, dan liyon menyupir sendiri.


"Wah, akhirnya datang juga. Aku senang kalian datang." ucap lean menyambut kedatangan liyon dan juga lira.


"Gaunmu sangat bagus dan cocok dengan mu nona Lira, kamu jadi terlihat sangat cantik." puji lean Li pada lira dan itu membuat liyon kesal, karna lean terlihat dengan sengaja memuji lira didepan liyon.



"Iya terima kasih banyak tuan Lean." jawab lira dengan senyuman ramah terhadap lira.


"Sudah, jangan terlalu lama memandangnya." kesal liyon pada lean Li.


"Hahaha, baiklah ayo masuk dan nikmatilah pestanya." ucap lean Li dan membawah mereka ke tengah acara.


Dalam pesta malam itu lira menjadi sorotan dari banyak mata pria yang hadir dalam pesta itu.

__ADS_1


__ADS_2