
Satu perasaan yang tak dimengerti mulai muncul dari kecambah menjadi bibit - bibit yang mulai berbunga dan memunculkan bau harus dalam hati Meli untuk Farid. Terkadang Meli senyum - senyum sendiri saat dia melihat kedekatan Farid dengan putrinya, dan perasaan itu tak dapat dibendung atau dipungkiri oleh Meli bahwa dia mulai menyukai Farid.
Kini Meli merasa bahwa dia dan Farid bagaikan keluarga yang sesungguhnya karena dia diijinkan untuk ikut serta dalam merawat putri kecil merek. Meli selalu memberikan asi setiap dia mau berangkat ke kampusnya dan pulang dari kampus, waktu untuk bertemu dengan Denis jadi berkurang karena terkadang Meli tak tertarik untuk bertemu dengan Denis walau Denis memohon pada dirinya.
"Selamat sore Mbak Surti, bagaimana dengan putri kecilku Arlin apa kah dia tak nakal?" tanya Meli pada Surti yang sedang menggendong Arlin dan menimang - nimang Arlin di teras rumah.
"Selamat sore nyonya, baru pulang ya? Arlin tidak nakal kok ini tadi nangis karena tak bisa mengawali untuk tidur." jawab Surti menirukan suara bayi.
"Mau Surti buatkan makanan atau cemilan nyonya?" tanya Surti pada Meli dengan ramah.
"Tidak usah mbak, saya mau mandi dulu setelah itu menyusui Arlin. Tolong mbak bawah Arli kedalam kamar saya ya mbak." ucap Meli melangkah masuk kedalam rumah.
Setelah menyusui Arlin, Meli ikut tidur disebelah putrinya yang sedang terlelap dengan sangat pulas karena merasa sudah kenyang. Meli tak sadar kalau Farid masuk kedalam kamarnya dan mengambil Arli dari sebelah Meli yang tidur dengan sangat pulas.
"Arlin, gumam Meli yang mendapati putrinya tak ada begitu dia bangun, tapi Meli tak kaget karena dia bisa mendengar suara Farid diluar kamarnya, yang artinya Farid sudah pulang kerja dan Arlin pasti ada bersama dengan dirinya.
Meli perlahan keluar dari kamarnya dan benar saja dia melihat Farid sedang memberikan susu pada Arlin melalui botol susu dan sedang berbincang dengan mbak Surti seolah membahas sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan dan keadaan di rumah Liyon.
"Jadi, apa semuanya sudah ketahuan tuan siapa dalang dibalik kejadian yang waktu itu? Lalu bagaimana dengan nona Lira?" tanya Surti mengenai kejadian penyerangan Liyon dan Ferdi yang hampir meninggal karena terkena asap beracun.
"Ya semuanya sudah menemukan titik terang, tapi Liyon tak ingin menangkap mereka sekaligus. Karena dia ingin sedikit mengulur waktu dan memberikan kesempatan pada mereka." jawab Farid dengan tersenyum.
"Kenapa dia bisa bicara dengan santai bahkan tersenyum sangat tampan begitu dengan mbak Surti." gerutu Meli yang melihat Farid tersenyum pada Surti.
__ADS_1
"Nyonya." sapa Surti yang melihat Meli berjalan mendekat.
"Sudah bangun? Makanlah kau pasti belum makan malam, oh iya. Arlin sudah ku kasih asi yang kamu taruh di lemari pendingin jadi tak perlu kamu susui lagi. Nanti asi mu tolong kamu simpan dalam botol lagi saja." ucap Farid menjelaskan pada Meli karena saat ini Farid memang sedang menyusui Arlin dari botol susu.
Tanpa menjawab Meli berjalan kearah meja makan karena perutnya memang sudah keroncongan minta diisi sejak dari tadi, karena setelah menyusui Arlin tadi langsung tidur dan belum sempat makan sesuatu.
...🍂🍂🍂...
Siang itu di tempat kerja Lira dia terus saja mendapatkan panggilan dari Santo yang ingin mengajaknya bertemu diluar saat pulang kerja. Dan Santo tetap bersih keras untuk menemui Lira dengan mengancam Lira sama surat perjanjian yang mereka lakukan bersama.
"Dengarkan aku dan aku tak akan mengulanginya lagi, aku tak peduli dengan isi dari perjanjian yang sudah kita perbuat karena dari awal aku sudah mengatakan bahwa aku mau melakukan apa saja jika kau tak mengusik putraku." ucap Lira dengan tegas pada Santo yang memaksa Lira untuk bertemu dengan dirinya.
"Apa maksudmu, jelas - jelas kamu mengingkari perjanjian dan kesepakatan diantara kita. Dan asalkan kamu tau saja kalau aku tak menyentuh atau pun mengusik putramu sedikit pun." jelas Santo bersih keras karena dia merasa kesal melihat Lira yang masih tetap berhubungan dekat dengan Liyon.
"Apa? Haruskah aku mengingatkan kamu kapan dan dimana waktu nona Niyang mengusik putraku dan hampir membuatnya meninggal dengan gas beracun.!" geram Lira menatap Santo dengan tajam.
"Tanyakan pada adikmu si Niyang itu. Apa yang telah dia lakukan pada putraku. Dan setelah kau tau jawabannya tolong jangan datang lagi menemui aku dengan mengancam ku seperti ini lagi, hari ini aku menemui mu karena ingin menjelaskan hal ini pada mu tuan Santo." ucap Lira beranjak dan pergi meninggalkan Santo yang kaget karena dia sama sekali tak tau dan juga tak mendengar laporan dari anak buahnya kalau Niyang melakukan tindakan yang bahaya sampai harus membahayakan nyawa orang.
Dan ditempat yang sama dengan Lira, Meli juga sedang bertemu dengan Denis dan ingin membicarakan kalau dia ingin agar hubungannya diakhiri karena Meli tak bisa lagi melanjutkan hubungannya dengan Denis sebab hatinya sudah berpaling dari Denis dan sedang menuju pada Farid.
"Apa maksud mu sayang? Kenapa kamu tiba - tiba saja bicara seperti itu? Aku tak masalah dengan waktu kebersamaan kita yang berkurang, tapi aku tak mau dan tak ingin kita berpisah dan hubungan kita yang suah terjalin hampir 1 tahun lamanya ini berakhir begitu saja." jelas Denis pada Meli dengan nada lembut dan memohon.
"Tidak, aku belum memanfaatkan dia untuk aku bisa dekat dengan Lira. Jadi aku tak boleh kehilangan dia dulu saat ini." gumam Denis dalam hati dengan tatapan memelas dan memohon pada Meli.
__ADS_1
"Maaf tapi aku benar - benar tak bisa." ucap Meli bulat pada keputusannya untuk berpisah dari Denis.
"Tapi Meli, sayang. Aku mohon dengarkan aku dulu, jangan mengambil keputusan dengan kepala panas seperti ini, tolong pikirkan sekali lagi, aku tak mau dan tak akan pernah mau berpisah dengan mu. Aku rela kamu membagi waktu ku dengan Farid asal kamu tak mengakhiri hubungan kita." Denis tetap memohon pada Meli.
"Ya sudah, sekarang aku antarkan kamu pulang dan pikirkan lagi keputusanmu, lalu bilah dengan pikiran jernih bukan karena emosi sesaat seperti saat ini." tukas Denis dan dia mengantarkan Meli pulang.
...🍂🍂🍂...
Didalam kamarnya Meli sedang galau, dia benar - benar mengikuti saran dari Denis untuk memikirkan semua keputusannya. Karena Meli berfikir dia juga gak bisa mengakhiri hubungan dengan Denis dengan alasan yang tak sejas dan juga tak pasti. Meli terus saja menghela nafas panjang dan dalam berkali - kali seolah sedang mengusir beban dalam hatinya.
"Aku harus memastikannya sekarang karena jika aku hanya menerka saja mengenai perasaan ku ini juga tak bisa dianggap sebagai keputusan yang benar." gumam Meli dan beranjak keluar dari kamarnya menuju kamar Farid, namun tak ada siapa pun didalam kamar itu.
"Dia dimana ya? Apa didalam ruang kerjanya." gumam Meli lagi dan berjalan kearah ruang kerja Farid.
Tok tok tok
"Masuk." suara Farid dari dalam.
Meli membuka pintu itu dengan pelan dan dia mendapati Farid yang sedang duduk di kursi depan meja dengan tumpukan kertas dan juga laptop yang menyala. Meli melangkah masuk dan melihat disebelah meja kerja Farid ada box bayi yang didalamnya ada Arlin yang sedang terlelap.
"Meli, ada apa?" tanya Farid menatap Meli yang berdiri didepan meja kerjanya.
"Anu, itu, tuan ini sudah 3 bulan berlalu dan saya ingin bicara sama tuan." ucap Meli ragu - ragu sambil tertunduk tak berani menatap Farid.
__ADS_1
"Oh iya, aku hampir lupa jika kamu tak mengingatkan aku. Sudah 3 bulan lewat ya, maafkan aku." ucap Farid yang terlihat sibuk membuka laci sedang mencari sesuatu.
"Ini, aku sudah menanda tangani itu dan tinggal kamu serahkan ke pengadilan saja maka akan segerah diproses dengan cepat karena aku juga sudah bilang pada pihak mereka kalau aku akan melakukan perceraian dalam bulan - bulan ini." ucap Farid dengan santai dan menyerahkan berkas surat cerai kepada Meli.