Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Pengaruh hormon.


__ADS_3

"Tuan Liyon, aku tau kau menikahinya hanya untuk kepuasan mu saja, tidak sungguh - sungguh mencintainya. Jadi lepaskan dia karena dia berhak untuk bebas dan hidup bahagia." ucap Denis dengan teriak lantang pada Liyon yang pergi meninggalkan dirinya membawah Lira.


"C*h, dasar pria yang tak berguna." gumam Liyon mengabaikan Denis.


Denis yang melihat dirinya diabaikan merasa sangat kesal, dia pergi dari tempat itu dengan hati yang penuh dengan rasa dendam. Denis mengepalkan tangannya dan ingin menghancurkan Liyon dan merebut Lira.


"Lihatlah aku pasti akan menuntut balas atas penghinaan ini." gumam Denis dalam mobilnya.


...🍂🍂🍂...


"Masuk, aku tak tau kalau kamu masih berhubungan dengan mantan kekasih kamu itu. Apakah setelah ditinggalkan Rian sekarang berganti kepada mantan kekasih lama?" ucap Liyon mendorong tubuh Lira dengan tatapan yang sangat tajam dan terlihat kejam.


"Liyon kau salah paham aku tak berhubungan dengan dia, tadi dia yang datang mendekatiku dulu dan menemui aku." bela Lira dengan mengatakan yang sebenarnya.


"Benarkah, lalu kenapa kalian harus bergandengan tangan? Ku lihat dari jauh kamu juga tak menolaknya bahkan bergandengan tangan cukup lama." tanya Liyon yang semakin dekat dengan Lira hingga tubuh Lira terjatuh ditempat tidur.


"Itu,,, itu tadi kamu salah lihat, aku hanya tanpa sadar saja jadi tak menarik tangan." jawab Lira memalingkan wajahnya.


"Tanpa sadar itu artinya menikmatinya begitu?" tanya Liyon lagi dengan kesal yang sudah mencapai ubun - ubun


"Tidak bagaimana mungkin, bukan kah aku ini istrimu, wanita milik mu." ucap Lira berusaha menggoda agar amarah Liyon tak memuncak.


"Hei sudah jangan marah - marah lagi apa kamu tak tau kalau aku sekarang sangat ingin disentuh oleh mu." goda Lira menyentuh dada Liyon dan terus turun kebawah.


"Jangan berusaha menggodaku aku tak tertarik." jawab Liyon menepis tangan Lira dan pergi meninggalkan Lira ke kamar mandi.


Lira tersenyum dan dia pergi mandi di kamar yang lain lalu tidur dikamar Ferdi. Saat Liyon selesai mengerjakan pekerjaannya dia tak mendapati Lira di kamar dan pergi ke kamar Ferdi, mengangkat pelan tubuh Lira untuk dibawah ke kamar mereka.


"Sayang jangan banyak bergerak tidur lah." gumam Lira menepuk - nepuk dada Liyon.


"Dasar istri keterlaluan, kenapa dia terlihat begitu cantik dan manis sih kalau seperti ini, ya walau biasanya juga cantik tapi kali ini jadi jadi lebih cantik." gumam Liyon menatap Lira yang terlelap.

__ADS_1


2 minggu kemudian Satria memberikan kabar bahagia atas kehamilan istrinya pada Lira dan itu membuat Lira sangat senang, saat mereka menghubungi orang tua merek dikampung juga terdengar sangat bahagia. Satria jadi sangat posesif pada Yuniar sejak tau kalau Yuniar hamil.


Dan tak terasa 3 bulan pun berlalu, kehamilan Yuniar disambut dengan sangat senang bagi semua keluarga Lira. Mereka merayakan dengan sangat meriah acara penyambutan kehamilan Yuniar.


"Lira sayang, kau dimana?" Liyon yang baru saja pulang kerja diberitahu kalau Lira sudah pulang sejak jam 3 sore karena merasa tak enak badan.


"Eh, dicariin malah ada di sini. Kenapa tidur di sini ayo tidur dikamar saja, di sini dingin. Nanti masuk angin loh." ajak Liyon yang tau Lira sedang tidur di taman belakang rumah disebuah ayunan.


"Gak mau aku mau di sini." jawab Lira menolak.


"Oh iya, Ferdi Liburan sekolah diajak mama ke rumah kak Lian di Beijing sampai kapan? Tadi aku menghubungi Ferdi dan dia terlihat sangat bahagia di sana." ucap Lira dengan senyum yang sangat manis bagi Liyon.


"Entahlah, kakak Li juga berencana mau menyekolahkan Ferdi di sana. Lalu dihitung - hitung sekolah di sana juga bagus karena pendidikannya dan cara para guru mengajar juga bagus. Tapi semua ku kembalikan pada Ferdi karena aku tak mau memaksakan kehendak." jelas Liyon.


"Hiks,,," Lira menangis dengan sangat sedih.


"Eh, sayang kenapa menangis? Apa ada yang sakit atau kamu sedang merindukan Ferdi? Tapi dia baru berangkat tadi pagi loh." ucap Liyon merasa aneh pada istrinya.


"Ya ampun, tak ada yang akan mengambil Ferdi darimu sayang. Dia tetap milik mu seutuhnya. Sudah ayo sini jangan sedih lagi." Liyon berusaha menenangkan Lira.


"Liyon," panggil Lira yang ada dalam pelukan Liyon.


"Hem, iya sayang." jawab Liyon menepuk lembut punggung Lira.


"Gendong, aku mau digendong." ucap Lira dan Liyon tersenyum lalu menggendongnya dan kembali ke kamar mereka.


"Aku kangen sama Ferdi mau ketemu dia." ucap Lira dengan sedih pada Liyon.


"Iya, besok kita nyusul ke sana saja. Aku akan menunda semua jadwal untuk minggu depan." jawab Liyon tidur memeluk Lira.


Keesokan paginya Lira sudah rapi dan bersiap untuk berangkat kerja. "Liyon cepat sarapan nanti telat ke kantor." ucap Lira dengan tersenyum pada Liyon.

__ADS_1


"Loh katanya mau menyusul Ferdi?" tanya Liyon yang masih belum siap ke kantor karena sudah menghubungi Endang dan Safitri agar semua jadwal dialihkan ke minggu depan.


"Ngapain? Biarkan saja dia di sana bersosialisasi, sudah jangan sering memanjakan anak. Kita cukup memantau dari jauh, nanti aku akan menghubungi dia kalau kangen, Kan cuma 1 minggu dia liburan di sana." jawab Lira biasa saja


"...." Liyon menatap bingung pada Lira, yang belakangan ini jadi terasa aneh karena kadang menangis, dalang juga tertawa dan manja. Liyon melihat seolah - olah emosi Lira jadi tak stabil.


"Sayang apa kamu sakit? Atau mungkin ada yang sakit gitu." tanya Liyon yang merasa ada yang janggal dengan sikap lira belakangan ini.


"Tidak, aku tak sedang sakit apa pun dan aku baik - baik saja, malah sangat sehat." jawab Lira tersenyum menatap Liyon.


Sore itu saat Liyon pulang dia melihat Lira sedang asik nonton acara di tv dengan makan camilanyan. Lira terlihat sangat fokus menyaksikan acara itu hingga dia tak memperhatikan kalau Liyon datang.


"Sayang asik bener nontonnya sampai tak sadar kalau suami sendiri sudah datang." ucap Liyon berbisik di telinga Lira.


"Kenapa, apa kah aku salah? Kamu yang datang tanpa suara kenapa jadi aku yang disalahkan? Kalau kamu tak suka bilang saja aku tak akan menontonnya lagi." Lira berkata sambil marah dan terlihat sangat sakit hati.


"Eh, tidak bukan begitu sayang. Aku tak menyalahkan mu, aku hanya berkata saja." jawab Liyon panik melihat reaksi Lira yang meledak.


"Terus apa? Jadi sekarang kamu sudah bosan dengan ku dan tak menginginkan aku lagi, makanya kamu membuat alasan itu?" tanya Lira yang tiba - tiba saja menangis tersedu - sedu dan terlihat sangat menyedihkan.


"Tidak - tidak sayang aku tak pernah bosan dengan mu, kenapa kamu jadi menangis seperti ini? Maafkan aku ya sayang, aku yang salah bicara." ucap Liyon menarik Lira dan memeluk tubuh Lira yang gemetar entah apa sebabnya.


Setelah itu Lira melemas, dan melihat itu Liyon sangat panik dia mengangkat tubuh Lira dan membaringkannya ditempat tidur dan segerah menghubungi Bagas. Tapi dari hasil pemeriksaan Bagas tak ada masalah Lira baik - baik saja dan hanya kelelahan.


"Sayang kamu sudah sadar?" tanya Liyon khawatir.


"Iya aku hanya ngantuk saja kenapa kamu sampai memanggil Bagas kemari?" tanya Lira heran pada kekhawatira Liyon yang berlebih.


"Tak apa sayang aku hanya khawatir saja, tapi tubuhmu jadi makin berat ya sayang, sepertinya tubuhmu semakin berisi." ucap Liyon dengan senyuman, namun wajah Lira yang tadinya baik langsung mendung serta menangis dengan sangat sedih.


"Eh, sayang jangan menangis, itu tak masalah bagiku kamu tetap wanita kesayangan ku." ucap Liyon panik dia menatap Bagas dengan bingung.

__ADS_1


__ADS_2