Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Malam yang panjang.


__ADS_3

Pov Farid


"Oh ya ampun ini benar - benar gila, bagaimana aku bisa memiliki pemikiran yang nakal seperti itu." gumam Farid dalam kamar mandi yang berusaha menahan dirinya dan gejolak dalam dirinya yang mau mencuak keluar setelah dia melihat tubuh Meli.


"Entah kenapa setiap saat aku selalu saja seolah tertarik kearah Meli. Sama seperti waktu itu, saat dia menyusui Arlin dengan pakaian yang begitu tipis. Hal itu membuat aku jadi berfantasi yang tidak - tidak." Farid terus saja menggerutu dalam kamar mandi merutuki dirinya yang malang.


"Huff, ayo sadarlah Rid. Walau dia istrimu tapi itu bukan keinginannya, Aku tak bisa seperti Liyon yang selalu bersikap percaya diri setiap dia berusaha mendapatkan non Lira." Farid bernafas dalam berusaha menyadarkan dirinya.


"Ok, ayo tidur." gumam Farid lagi dan menyadarkan dirinya.


"Arlin apa popoknya sudah penuh ya." Farid mendekati putrinya dan mengecek, mengganti popok Arlin dan memberinya susu. Farid tersenyum melihat putri kecilnya itu, dan setelah Arlin merasa kenyang Arlin pun tidur dengan tenang lagi.


Farid berdiri dan membuang popok Arlin yang kotor kedalam bak sampah di dapur, "Apa dia baik - baik saja? Pasti dia sudah tidurkan." gumam Farid menatap kamar Meli yang merasa tenang juga sepi.


Setelah kembali ke dalam kamarnya Farid masuk ke kamar mandi untuk mencuci tangan lalu dia keluar dan berniat mau tidur, tapi tak diduga justru Farid melihat Meli dengan baju tidur terbuka berdiri diambang pintu dan berbicara dengan sedikit aneh bagi Farid.


"Apa yang mau dia lakukan malam - malam begini ke sini, dengan pakaian seperti itu lagi. Aku tak memakai baju dalam, dia tak akan berbuat macam - macam kan?" suara hati Farid


"Glek" Farid menelan salifanya saat Meli mendekat, menggoda dan menyentuh dagunya.


Wajah Farid memerah karena dia tergoda dengan Meli yang selalu meliuk dan bersuara sedikit mendesah didepannya. "Bahaya, aku harus mendorong dia keluar. Karena sepertinya dia masih mabuk." suara hati Farid.


"Kendalikan dirimu." Farid menepis tangan Meli, "Dan jangan buat keributan karena aku tak mau waktu istirahat Arlin terganggu." ucap Farid dengan dingin.


Namun gerakan Farid kalah cepat dengan Meli yang sudah mendorong tubuh Farid jatuh ke tempat tidur. "Sial.!" gumam Farid mau bangun dan lagi - lagi Farid kalah cepat karena Meli telah naik diatas tubuhnya sehingga Farid bisa merasakan daging kenyal yang menggesek tubuhnya.


Farid mati - matian menahan diri dan berusaha mendorong Meli dari atas tubuhnya, namun detik berikutnya Meli telah menyibakkan jubah mandi yang dikenakan oleh Farid.

__ADS_1


"Hah? Sejak kapan dia melepaskan ikatan jubahku. Ini bahaya, ayo cepat singkirkan dia Rid." suara hati Farid dan dia bangun mau menyeret Meli keluar.


"Sudah ku duga kalau kau tak menggunakan apa - apa dibalik jubahmu ini." ucap Meli menyeringai.


"Deg." Farid terkejud mendengar nada bicara Meli, Farid bergegas mau menarik tangan Meli.


"Sial.! Kau mabuk menyingkir,,, ugh." kalimat Farid terhenti karena Meli sudah melahap dan bertengger dibawah Farid.


Farid memejamkan matanya dia tak bisa lagi menetralkan akal sehatnya, terlebih lagi Farid bisa merasakan lembab dan lembut dari sentuhan bibir Meli serta lidahnya yang bermain dan juga menghisap lembut batang pejantannya.


Nafas Farid telah mulai tersengal dan memburu, dia yang dari tadi berusaha untuk menahan diri dengan kuat pun pada akhirnya telah kalah pada godaan dan juga sentuhan Meli yang seakan tak tau situasinya saat ini.


Stimulasi yang diberikan oleh Meli telah mengenai sasaran yang sangat tepat sehingga mampu membangkitkan sesuatu dalam diri Farid yang telah terdorong keluar dan menekan akal sehatnya.


"Aku tak mampu lagi menahannya." gumam Farid yang melihat Meli memainkan kejantanannya dengan senyuman nakal.


Bruk


"Setelah malam ini kau adalah wanitaku, dan tak akan pernah ku lepaskan apa pun yang akan terjadi." bisik Farid tepat ditelinga Meli dan mulai melancarkan aksinya dengan menjelajahi seluruh bagian tubuh Meli serta meninggalkan beberapa jejaknya di sana sini.


"Tubuh Meli masih tetap seperti 1 tahun lalu, begitu lembut dan juga sangat nyaman." gumam Farid dalam hati yang telah melahap seluruh tubuh Meli.


"Ugh." lengku-han Meli yang terhimpit oleh tubuh Farid dan mendapatkan sentuhan yang memabukkan dari Farid.


"Kau masih tetap sama sayang, lembut dan sangat nyaman." bisik Farid lalu menatap lembut kedua bola mata Meli yang menatapnya sayu.


"Apa kau tau, aku sangat menyukaimu. Bahkan disaat aku belum mengenal siapa dirimu, aku sudah tertarik padamu istriku. Bisakah aku memanggilmu dengan nama itu?" tanya Farid dengan tatapan lembut pada Meli.

__ADS_1


"Emm, kau sangat tak sabaran ya sayang." Farid tersenyum setelah mengurai c*umannya karena Meli menariknya.


"Kita mulai sekarang sayangku." ucap Farid dan mulai mengarahkan pejantan kearah V Meli yang sudah mulai siap untuk ditempati.


Farid tersenyum melihat Meli memejamkan matanya saat pejantan telah masuk dan menghilang kedalam tubuh Meli. Farid mendekati wajah Meli dan melahap bibir Meli lalu perlahan bergerak dengan ritme yang teratur


Farid mendapatkan balasan dari Meli, dan permainan mereka menjadi sangat seru. Keduanya berusaha saling memburu untuk mendapatkan kenikmatan mereka masing - masing.


"Apa karena dia masih mabuk?" gumam Farid bertanya karena dia merasa aneh pada Meli yang begitu agresif.


Meli hampir tak membiarkan Farid istirahat, setiap kali mereka mendapatkan puncaknya tak berselang lama Meli sudah menstimulasi Farid, dan anehnya Farid selalu saja terpancing hingga mereka melakukan bukan lagi berapa kali, tapi mereka melakukannya hingga pagi sampai akhirnya Meli tumbang karena merasa kelelahan.


"Aku harus memindahkannya sekarang." gumam Farid melihat wajah polos Meli yang terlelap.


Farid tersenyum melihat Meli yang tertidur karena kelelahan, "Akhirnya kau menyerah juga sayang? Kau belum tau siapa diriku, jadi jangan coba - coba memancing ku seperti itu" bisik Farid merapikan tubuh Meli dan memindahkan Meli kedalam kamarnya sendiri.


"Maaf ya, jika tak ku pindahkan itu akan susah bagi ku." bisik Farid dan melangkah keluar.


"Deg." Farid mematung ditempat saat dia mendapati sesuatu yang janggal dilantai kamar Meli saat dia mau keluar dari kamar itu.


"Apa karena suasananya gelap ya aku jadi tak menyadari saat masuk tadi." gumam Farid dan dia jongkok untuk melihat apa yang sedang berserakan dilantai kamar Meli.


Farid tersenyum melihat benda itu dan dia melirik pada Meli yang terlelap dalam tidurnya. "Kau tak menginginkan perpisahan kita ya? Kenapa tak bilang dari awal." bisik Farid dan menatap dalam wajah Meli yang tertidur pulas.


"Rupanya kau tak mabuk, tapi dengan sengaja menggodaku tadi, sungguh menarik." Farid berdiri dan melangkah mendekati Meli yang terlelap pulas karena kelelahan telah melayani Farid hingga pagi.


"Biarkan semuanya seperti ini, aku ingin melihat permainanmu besok pagi." Farid tersenyum setelah bergumam dan berbisik pada Meli dan melangkah keluar dari kamar Meli.

__ADS_1


Pagi telah tiba setelah Farid merebahkan tubuhnya sekitar 1 jam dan rasa lelah yang didapatkan oleh Farid yang kurang tidur tak terlihat, karena ion - ion positif yang diberikan oleh Meli menutupi segalanya dan membangkitkan aura bahagia sehingga membuat tubuh Farid jadi terlihat lebih segar dan juga fit.


"Surti jangan bangunkan Meli, biarkan dia tidur karena dia kelelahan. Hari ini kamu menjaga Arlin di rumah sendirian gak papa ya? Takut nanti Meli membutuhkan sesuatu begitu dia bangun. Karena dia pasti akan merasakan tubuhnya sakit dan juga lemas begitu dia bangun." ucap Farid sebelum dia berangkat kerja. Dan kalimatnya Farid itu menimbulkan pertanyaan bagi Surti yang tak mengerti arti dari kata - kata Farid.


__ADS_2