
Setelah liyon membersihkan tubuhnya dia melihat lira masih terlelap dalam tidurnya, liyon tersenyum dan meletakkan baju - baju lira yang waktu itu ditinggal dan dicuci liyon, setelahnya liyon langsung turun kebawah untuk membuat sarapan buat lira.
1 jam lamanya liyon pun telah menyelesaikan semua masakannya dan menatanya diatas meja makan dengan rapi.
"Apa kakak masih tidur ya? Aku tunggu sebentar lagi saja biar dia tidur lebih lama lagi." liyon bergumam dan duduk di sofa sambil menghubungi seseorang.
"Hem, harum banget aromanya." ucap lira turun dari tangga dengan langkah yang sedikit aneh dan sudah ganti baju dengan rambut yang masih setengah basah dan kering.
"Sudah bangun?" liyon menoleh kearah lira dengan senyum tipis di bibirnya.
Deg
Jantung lira berdebar saat melihat liyon yang menoleh padanya dan terlihat sangat tampan bagi lira.
"Gila, b*d*bah tengil itu selalu saja membuat jantungku berdebar. Tapi aku tak akan memaafkan dia karna sudah menyiksaku sedemikian rupa semalam. Sampek punggung dan lutut ku sakit." lira bergumam dalam hati dan menatap acuh pada pertanyaan liyon.
"Selamat pagi non Lira." sapa farid yang baru masuk kedalam rumah dengan pakaian yang sudah rapi.
"Huh." lira juga mengacuhkan Farid karna merasa Farid bersekongkol dengan liyon untuk menjebak dan menyiksanya.
Lira berjalan ke arah meja makan dan dia melihat makanan yang begitu lezat sudah tertata dengan rapi di sana.
"Kakak makan saja duluan, aku masih ada urusan dengan Farid. Nanti aku menyusul." ucap liyon pada lira dan berjalan menuju ruang kerjanya sama Farid.
"Siapa juga yang akan menunggu, aku tak peduli." jawab lira dengan nada kesal dan dingin, namun liyon hanya tersenyum menanggapi ucapan lira.
"Heeemmm, makanan ini enak banget. Siapa yang masak ya? Gak mungkin kalo bed*bah itu yang masak." ucap lira dan dia menyantap makanannya dengan sangat lahap.
Sementara di ruang kerja liyon dia membahas soal yusnia yang dengan sengaja memasukkan obat pada liyon.
"Apakah kamu sudah menemukan buktinya?" tanya liyon pada farid yang terlihat sangat tenang.
"Sudah, cobak lihat rekaman ini. Semalam aku telah mengkopi semua video ini, dan ada untungnya juga kita memasang cctv mini yang tak terlihat oleh orang lain. Karna cctv yang dipasang oleh perusahaan sengaja dimatikan pada waktu itu." jelas Farid sambil menyodorkan tablet miliknya.
Liyon mengamati dengan seksama video yang ditunjukkan oleh Farid padanya, dan detik berikutnya muncul seringai saat dia mendapati rekaman lain dari video itu dan dari ruangan yang berbeda.
"Dia benar - benar pemain pro. Tak ku sangka di perusahaan ku ada pegawai yang seperti ini." ucap liyon dan menyerahkan lagi tablet Farid.
"Urus semuanya dan aku mau semua sudah beres dan bersih sebelum aku datang." ucap liyon bangkit dari kursinya dan melangkah keluar dari ruang kerjanya.
"Baiklah, haruskah aku mengeluarkannya dengan tidak hormat atau hanya memecatnya saja.?" tanya farid untuk memastikan tindakannya.
"Terserah kamu saja, nuamun jika dia masih tak mengerti dan menyadari perbuatannya maka buat dia tak bisa diterima dimana pun." jawab liyon dan dia berjalan menuju ke ruang makan.
"Saya berangkat dulu." pamit Farid meninggalkan liyon.
__ADS_1
"Tunggu - tunggu, tunggu aku. Aku mau bareng berangkat ke kantor, tunggu ya aku ambil tas ku dulu" ucap lira menahan Farid dan dia langsung berdiri dari kursi berjalan ke arah tangga mau naik.
Greb
"Pergilah.! Dan kau, siapa yang mengijinkan mu pergi hah?!" ucap liyon yang melihat farid dan lira bergantian sambil meluk lira dari belakang.
"Baik, saya pergi." jawab Farid dan langsung bergegas meninggalkan liyon dan lira sendirian, karna dia gak mau terlibat dalam urusan mereka berdua.
Lira memegang tangan liyon dan memutarnya membalikkan posisi, tapi lira kalah cepat dengan liyon yang berhasil menguasai dan bisa membaca pergerakan lira.
"Jangan melakukan gerakan yang macam - macam, karna aku tau kakak masih merasakan sakit di daerah inti kakak." ucap liyon tepat ditelinga lira.
"Kamu?!" lira menghindar dan mendorong tubuh liyon.
"Ayo temani aku sarapan setelah itu ku bantu kakak keringkan rambut." liyon menarik tangan lira kembali kemeja makan lagi.
"Kenapa kakak makan cuma sedikit? Makan lagi, aku masak ini khusus buat kakak." ucap liyon yang mulai duduk dan memintak lira melayaninya makan.
"Tak bisakah kamu mengambil sendiri? Semuanya ada di depanmu. Dan apa benar ini masakan mu, aku tak percaya." ucap lira mengejek liyon.
Liyon tersenyum dan tetap menyodorkan piring didepan lira, untuk memintak lira mengambilkan makanan untuk dirinya.
"Kalo bukan aku siapa lagi yang masak? Aku kan tinggal sendiri sejak kelak 2 sekolah pertama, dan aku belajar masak agar bisa mengirit pengeluaran." jelas liyon pada lira yang mulai melayani liyon makan.
"Benar kah? Kamu hebat sekali." puji lira dan itu membuat liyon bangga juga senang karna dipuji oleh lira.
"Gila siapa yang nyangka diaasih mudah, tenaga dan juga otot tubuhnya begitu keras." gumam lira dalam hati yang memegang dada liyon dan melingkarkan tangan satunya dileher liyon.
"Apa kakak tak bisa menjaga diri kakak sendiri? Kalo rambut basah dibiarkan saja nanti kakak bisa masuk angin." ucap liyon sambil menyisir dan menyalakan hair dryer.
"Aku baik - baik saja selama ini." bela lira pada dirinya
"Sekarang jangan dibiasakan, kalo ada aku pasti aku akan membantu kakak untuk mengeringkannya tapi kalo aku tak ada tolong keringkan sendiri dengan benar, jangan membuat aku khawatir pada kakak." ucap liyon dan mengecup tengkuk lira.
Deg
Lira terkejud karna liyon tiba - tiba mengecup belakang lehernya, dan itu membuat lira merasakan sesuatu yang merambat di sekujur tubuhnya.
"Hahahah..Aku tau apa yang kakak rasakan, tapi aku tak akan melakukannya karna aku tau kakak masih merasakan sakit." liyon berkata sambil memeluk tubuh lira dari belakang dengan sangat erat.
"Siapa bilang aku tak memikirkan itu." jawab lira dengan memanyunkan bibirnya.
"Jangan tunjukkan ekspresi dan juga reaksi tubuh kakak ini pada pria lain selain diri ku. Karna jika tidak aku pasti akan membunuh pria yang berani menyentuh kakak." ucap liyon lagi yang terdengar seperti sebuah ancaman, sambil mengecup bahu lira dan menatap wajah lira dari pantulan cermin.
"Baiklah kakak libur saja dulu tak perlu masuk kantor, dan semua orang tau kakak mengawal mama. Jadi absen kakak masih akan tetap bertugas sebagai pengawalan." saran liyon pada lira karna dia merasa bersalah dan juga kalian melihat lira yang sulit untuk jalan.
"Tidak aku mau kerja saja karna banyak pekerjaanku yang masih belum aku selesaikan." tolak lira ingin tetap kerja.
__ADS_1
"Apa kakak akan ke kantor dengan cara jalan kakak itu? Bagaimana jika ada yang tanya, kakak mau jawab apa pada mereka? Mau bilang kalo kakak telah melayani tuan mudah dan menemaninya bermain hingga pagi?" ucap liyon menatap lira dari pantulan cermin didepan lira.
"Apa kamu gila?! Semuanya kan karna kamu.! kamu melakukannya dilantai dan itu membuat punggung juga kaki ku sakit." kesal lira pada liyon sambil berdiri dan bertolak pinggang.
"Iya iya aku minyak maaf. Makanannya kakak tak usah kerja hari ini, istirahat saja di sini dan jangan pergi kemana - mana. Jika aku tau kakak pergi dari rumah ini, maka aku akan membuat kakak benar - benar gak bisa jalan" ucap liyon dan menarik tubuh lira lalu memeluknya lagi.
"Gila, gila! Kamu sudah gila lira, tolong jangan sampai kamu masuk dalam perangkap bocah ini, dan juga jangan sampai kamu jatuh padanya." gumam lira dalam hati yang menerima pelukan dari liyon.
"Aku berangkat, istirahatlah dan jangan kemana - mana."
Cup
Liyon pun pergi setelah mengecup kening lira.
...🍂🍂🍂...
Sesuai dengan perintah liyon Farid menjalankan tugasnya, dan dia hanya membiarkan tingkah yusnia agar bisa mendapatkan bukti lebih banyak lagi.
Setelah 2 hari istirahat karna dipaksa oleh liyon akhirnya lira kembali bekerja lagi, dan selama tinggal di rumah liyon lira membohongi satria kalo dia ada tugas luar makanya tak pulang selama 2 hari.
Pagi itu yusnia terlihat kesal sama lira karna pagi - pagi liyon sudah memanggil lira dan memintak lira melakukan ini dan itu.
"Kenapa harus aku yang selalu susah, biarkan saja dia juga susah. Siapa suruh seharian hanya menggoda bos Liyon saja." gumam yusnia dan membiarkan email yang masuk untuk membahas kerja sama dengan perusahaan asing.
Dan karna kesalahan itu lira mendapat teguran serta omelan dari liyon karna perusahaan mengalami kerugian akibat semua yang terjadi.
"Bukankah aku sudah bilang mbak Lira kalo untuk emai dari pihak luar harus diperhatikan dengan seksama." ucap yusnia pada lira yang terpaksa harus lembur untuk membuat proposal demi membujuk pihak asing agar mau mengadakan lagi pertemuan yang sempat dibatalkan secara sepihak.
"Emang enak." gumam yusnia dalam hati sambil tersenyum dan memandang remeh lira.
"Itulah akibatnya kalo kerja hanya digunakan untuk menggoda pria." ucap yusnia lirih dan meninggalkan lira bekerja.
"Lira mau aku bantuin?" tanya Safitri pada lira yang harus lembur sendirian.
"Tidak usah, biar aku kerjakan sendiri." tolak lira atas bantuan Safitri
"Kalo begitu aku tinggal balik gak papa ya?" tanya Safitri yang dijawab oleh lira dengan mengangguk.
Ke esokan paginya lira sangat sibuk menghubungi pihak asing untuk melakukan janji temu lagi dan juga mau memberi tahu soala proposal yang semalam dia buat sampai lembur.
"Baik, baik saya mengerti saya pastikan akan sampai di sana tepat waktu." ucap lira dengan pasti pada seseorang lewat panggilan telpon.
"Kenapa Lir?" tanya Safitri yang melihat lira kegirangan.
"Berhasil, aku berhasil meyakinkan mereka untuk melakukan janji temu lagi siang ini." jelas lira pada safitri dengan sangat senang.
Namun lira tak tau kalo ada orang yang merasa geram dan tak suka dengan kabar darinya yang berhasil melobi lagi pihak yang awalnya mau membatalkan perjanjian, dan ingin berusaha menggagalkannya lagi.
__ADS_1