Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Kau adalah wanitaku


__ADS_3

Setelah lira bisa menguasai dirinya, lira pun berjalan mengikuti liyon dari belakang dengan rasa kesal dan juga rasa takut yang mengusik didalam pikirannya.


"Lain kali jangan diulangi lagi, karna aku tak suka melihat kakak seperti itu. Mengerti?!" kesal liyon saat keduanya sudah masuk kedalam mobil menuju ke kantor lagi.


"Iya." lira menjawab dengan pelan.


"Sebaiknya kedepannya jangan mengusiknya." lira bergumam dalam hati sambil masuk kedalam mobil liyon.


Sesampainya di kantor lira langsung melapor pada pak Hendra kalo janji temunya berjalan lancar, dan perusahaan akan mengadakan proyek sesuai dengan yang dibahas dalam janji temu hari ini.


"Baiklah Lira, terima kasih dan maaf merepotkan mu selama ini karna Safitri sibuk diluar." jawab pak Hendra yang merasa bersalah karna ini bukan seharusnya tugas lira.


"Tidak apa pak. Kalo begitu saya permisi." lira pergi meninggalkan ruang sekretaris.


Tepat pukul 6 sore lira bergegas pulang bersama dengan Endang dan yang lainnya karna dia gak mau ketemu sama liyon.


...🍂🍂🍂...


"Kak tumben pulang sore, biasanya malam bahkan gak pulang." ucap satria yang melihat lira sudah sampai rumah tepat pukul 8 malam.


"Ya karna aku merindukanmu." jawab lira asal.


"Tumben, apa kakak sedang dalam masa kawin?" satria menggoda lira sambil mengikuti lira dari belakang.


Bletak


Lira memukul kepala satria dengan kesal.


"Apa kau mau aku kawini hah?! Jangan asal kalo bicara.!" kesal lira dengan candaan dari satria.


" Aduh sakit tau kak, aku kan cuma bercanda. Apa mau aku carikan jodoh?" tanya satria lagi dan mengekor masuk kedalam kamar lira.


"Ya Ampun kak?! Bisa gak sih ganti baju dikamar mandi jangan asal buka begitu." kesal satria yang terkejud karna lira langsung buka baju didepannya.


"Lagian ngapain kamu ngikutin aku? Ini kamar ku ya suka - suka aku mau ganti baju." jawab lira cuek.


"Huh." satria mendengus dan mengikuti lira keluar dari kamar menuju ruang makan.


"Sat katakan pada ku, jika ada seorang pria yang mendekati seorang wanita tapi hanya untuk berhubungan badan saja apa kah ada kemungkinan kalo pria itu akan menyukai sang wanita?" lira bertanya saat mereka sedang berada dimeja makan.


"Heeemmm." lama satria berfikir, dan itu membuat lira tak sabar.


"Jangan terlalu lama menjawab, kau kan pria masak gak tau." kesal lira yang tak sabar menunggu jawaban dari satria.


"Kalo menurut aku sih kak 0,1% karna kebanyakan mereka hanya akan tertarik pada tubuh sang wanita saja, sama halnya dengan para pekerja malam kan. Mereka menjajakan diri mereka pada banyak orang seperti itu juga." jelas satria dengan serius.


"Tapi itu menurut pendapatku ya, gak tau kalo orang lain." sambung satria.


"Kalo misalnya itu kamu, saat kamu sama seorang wanita yang melakukan hubungan cinta 1 malam, apa kamu akan merasa terbebani dan kemungkinan bisa menyukainya dengan berhubungan sama dia lagi?" tanya lira ragu - ragu.


"Maksud kakak apa sih? Kalo aku selama itu tak ada paksaan untuk apa harus merasa terbebani dengan itu? Kalo pun kami harus berhubungan lagi semua akan sama selama kami tak merasakan paksaan satu sama lain." satria mengucapkan pendapatnya.


"Apa itu artinya kamu hanya menyukai tubuhnya tanpa harus menyukai orangnya?" tanya lira lagi dengan nada takut.


"Ya, mungkin seperti itu. Toh kami sudah sama sama dewasa." satria menjawab dengan santai tanpa sadar itu membuat tubuh lira bergetar.


Setelah pembicaraan dengan satria membuat lira tak tenang dan tak bisa tidur karna dia merasa cemas dan juga takut.


"Tidak mungkin, aku tak mungkin menyukai brandal itu. Aku harus menjaga hati ku, aku gak boleh menyukainya." lira terus bergumam dalam kamarnya.


"Ada kemungkinan juga dia sama dengan satria, dia tak mungkin memiliki perasaan terhadap ku. Pasti dia hanya menyukai tubuh ku."


"Dia kan orang luar, satria saja yang hanya belajar dibluar sudah memiliki pemikiran yang sangat bebas, apa lagi dia yang asli orang luar."

__ADS_1


Lira terus bergumam sambil melihat langit langit kamarnya.


...🍂🍂🍂...


Esokan pagi seperti biasa lira berangkat ke kantor lebih pagi karna tak mau kena hukuman oleh liyon. Dan pagi itu selain lira ternyata yusnia juga sudah datang dan sudah menyiapkan semuanya untuk liyon yang biasanya disiapkan oleh lira.


Minuman hangat dan sarapan yang terhidang diatas meja tunggu ruangan liyon serta bau segar dari pengharum ruangan yang sudah disetel dan dinyalakan oleh yusnia.


"Eh mbak Lira? Maaf mbak aku pikir mbak Lira akan datang terlambat karna kemaren habis mengurus janji temu, jadi saya datang membantu mbak Lira menyiapkan sarapan untuk bos Liyon." jelas yusnia dengan senyuman yang sangat ramah dan wajah malu malu.


"Iya gak papa, itu justru bagus terima kasih ya Yusnia." jawab lira dan juga tersenyum.


Lira pergi ke ruang sekretaris untuk mengambil data dan juga proposal yang kemaren diberikan pada Endang.


Tepat pukul 8 pagi semua orang sudah pada datang dan berada di meja kerja mereka masing masing.


Tap


Tap


Tap


Langkah kaki liyon dan juga asisten Farid melangkah dari luar menuju ke ruangan, mereka segera berdiri untuk menyambut kedatangannya, dan saat lira mau melangkah ke depan pintu ruangan liyon yusnia sudah lebih dulu menempatinya.


"Selamat pagi dan selamat datang bos Liyon." ucap Safitri, lira dan juga yusnia bersamaan.


"Hem." jawab liyon dan melangkah melewati lira juga Safitri.


Ceklek


"Silakan masuk bos Liyon, saya sudah menyiapkan sarapan untuk anda dan juga sudah membersihkan ruangan anda." jelas yusnia sambil membukakan pintu ruangan liyon.


Semua orang sangat sibuk hari itu, termasuk aku dan juga mbak Safitri yang mengerjakan tugas kami masing masing, hanya yusnia yang terlihat gelisah dan tak tenang.


Tok


Tok


"Keluar.! Jangan masuk jika tak ku panggil." bentak liyon yang bisa kami dengar dari luar.


Yusnia pun terlihat keluar dari ruangan liyon dengan tertunduk lemas kembali ketempat duduknya.


"Kenapa Yus? Apa ada masalah? Kamu terlihat gelisah dari tadi." sekretaris Safitri bertanya namun yusnia terdiam tak menjawab.


Brrrrt


"Ya halo? Baik saya akan ke sana untuk menemuinya sekarang" jawab ku pada seseorang yang menghubungi ku lewat telpon.


"Siapa Lir?" Safitri bertanya penasaran


"Asisten Farid, katanya di lobby akan ada orang yang mau bertemu dengan bos dan sudah janjian." lira menjawab dan langsung beranjak menuju lobby.


"Dimana orangnya?" lira celingukan mencari orang yang dimaksud oleh Farid.


"Kakak?" satria memanggil dengan nada bertanya tak percaya kalo kakaknya bekerja di perusahaan besar ini.


"Ngapain kamu kesini? Jangan cari masalah." lira memberi ancaman.


"Hahaha, siapa yang cari masalah sih. Aku kesini untuk bertemu dengan pimpinan di sini." satria memeluk dan mengusek usek rambut lira.


"Apa? Jadi kamu yang mau bertemu dengan bos?" tanya lira heran dan sama herannya dengan satria.


"Bos? Kenapa kakak yang menjemputmu? Bukannya kakak dibagian marketing ya?" satria bertanya karna yang menjemput pasti adalah sekretaris.

__ADS_1


Saat lira dan satria saling serang dan saling peluk tanpa disadari ada seseorang yang sedang memperhatikan interaksi mereka dan mulai merasa kesal.


Pandangan mata liyon menggelap melihat kedekatan lira dan juga satria yang tak diketahui bahwa mereka adalah saudara.


"Apa apaan mereka, bermesraan ditempat umum dan di perusahaan ku, berani sekali mereka.!" geram liyon dalam hati sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Tak bisa mengantarkan tamu langsung ke ruang rapat dan harus menggodanya di sini?!" suara liyon yang menegur dengan nada kesal.


"Ah maaf bos." jawab lira dengan menunduk.


"Hei Li dia adalah. ."


"Cepat ke ruang rapat dan jangan bertele - tele." tegas liyon dan meninggalkan satria juga lira.


"Dan kau juga ikut.!" tunjuk liyon pada lira


Mereka bertiga mengikuti liyon dari belakang tanpa bersuara, karna Satria dan juga farid sangat paham jika urusan dengan pekerjaan liyon tak pernah main main.


Setelah membahas pembahasan yang disampaikan oleh satria untuk meminta kerja sama dengan perusahaan liyon di bidang olahan bahan makanan dengan restoran yang ada dalam perusahaan liyon pertemuan itu pun berakhir.


"Farid antar satria keluar." perintah liyon dengan dingin.


"Kenapa, ada apa dengannya? Suasana hatinya sedang buruk ya?" tanya satria pada Farid saat mereka sudah keluar, padahal satria masih ingin bercanda dan memeluk lira lagi.


Sementara di dalam ruang rapat lira berdiri agak jauh dari liyon karna dia berusaha menjaga jarak dengan liyon.


"Sudah lupa dengan tugas yang ku berikan?!" tanya liyon dengan nada marah yang ditahan.


"Maaf maksud anda apa?" lira bertanya dengan perlahan membuat persiapan jika liyon melakukan tindakan kasar padanya.


"Bertanya menggunakan kata kata formal pada ku."


"Berani sekali, melanggar semua perintahku dan juga mengabaikannya."


"Apa sekarang sudah memiliki keberanian untuk melawan ku?"


Liyon berkata dengan terus melangkah maju mendekati lira, dan liyon tau lira sedang membuat pertahanan.


"Maaf, saya sudah melakukan semua tugas yang anda berikan pada saya, dan saya juga sudah menyelesaikannya dengan baik." jelas lira dengan kalimat formal lagi.


Brak.!


"Ah.!" lira terkejud dan menutup mata saat liyon menggebrak meja.


"Menyelesaikannya?! Menyuruh orang lain untuk menyiapkan sarapan dan membersihkan ruangan ku, dan juga membiarkan dia terus keluar masuk dalam ruangan ku. Itu disebut sudah menyelesaikan tugas dari ku, benar begitu hah?!"


"Bersenang senang dan tertawa terbahak serta bermesraan dengan seorang pria di lobby perusahaan ku itu juga disebut tak Melanggar perintahku, hah?!"


"Katakan.?!"


Bentak liyon yang sudah tak bisa menahan amarahnya pada lira yang sudah ditahannya dari pagi.


"Ingat, kau adalah wanitaku.! Dan aku tak akan membiarkan mu melakukan tindakan yang bisa membuat ku rugi." liyon mengatakan kata katanya dengan mencengkram kuat tangan lira.


Glek


Lira mulai merata terintimidasi oleh liyon, lira takut dan tak bisa membalas kata kata apa yang dikatakan oleh liyon pada dirinya.


"I - itu bukan..." kalimat lira gantung karna dia tak tau harus berkata apa untuk membela dirinya.


Bruk


Cup

__ADS_1


Liyon menguasai bibir lira dan melakukannya dengan kasar, dan lira tak bisa berkutik karna tubuhnya dikunci liyon di atas meja sehingga lira tak bisa bergerak.


__ADS_2