
"Maafkan aku." Lira menatap Liyon dengan tatapan yang sulit.
"Maaf, maaf. Aku tak butuh dengan kata maaf dari kakak! Yang aku inginkan adalah kakak, diri kakak, hati kakak. Yang aku inginkan adalah dirimu Lira, hanya kamu. Kenapa! Kenapa kamu melakukan ini pada ku." Liyon memeluk tubuh Lira yang tanpa busana dengan sangat kuat dan menumpahkan air matanya lagi, seakan ada sesuatu benda besar yang menghalangi organ pernafasan Liyon dan membuatnya sesak serta sulit untuk bernafas.
"Kenapa, kenapa kakak hanya menganggap aku seperti pria br*sek dan baj*ngan saja, kenapa kak?" suara Liyon semakin parau.
Lira membalas pelukan Liyon, tanpa bicara apa pun. Lira merasakan kalau Liyon menangis lagi karena tubuh Liyon bergetar dalam pelukannya.
"Apa kakak sengaja melakukan semua ini pada ku, apa Kakak ingin menyiksa ku seperti? Memberiku penyiksaan yang nikmat agar tak ketahuan kalau kakak sedang merencanakan sesuatu dibelakangku?" tanya Liyon mengurai pelukannya dan menatap Lira.
"Tidak bukan begitu." Lira menjawab dan menatap mata Liyon yang terlihat sangat merah dan juga sembab.
"Liyon." Lira menyentuh wajah Liyon dengan lembut.
"Jangan membuat aku jadi beneran seperti pria ber*ngsek kak." ucap Liyon menghindari Lira dan menutup tubuh Lira dengan selimut.
"Aku tak tau dan juga tak mengerti apa yang ada dalam hati Kakak dan juga tak tau apa yang sedang kakak pikirkan dalam kepala kecil kakak itu." ucap Liyon duduk lagi di sofa setelah menutup tubuh Lira dengan selimut.
"Apa Kakak mulai menyukai Rian karena sudah lama tinggal dengan dia? Rupanya aku masih kalah dengan dia, aku hanya tinggal 2 tahun bersama dengan kakak sebelum kakak memilih pergi meninggalkan aku. Rupanya aku masih belum ada apa - apanya dibanding dengan dia." ucap Liyon tertunduk tanpa melihat Lira.
"Tidak, bukan begitu." jawab Lira dan berjalan mendekati Liyon.
"Kakak tak perlu berpura - pura dan bersandiwara. Aku memang pria baj*ngan karena aku tak pernah bisa menahan diriku saat berhadapan dengan kakak. Aku selalu ingin menyentuh kakak, dan meraih tubuh kakak dalam dekapanku." ucap Liyon menatap Lira yang berada didepannya dengan bertumpu pada lututnya.
"Kakak adalah segalanya bagiku, aku sangat menyayangi kakak. Dan sekarang lebih sayang lagi karena ada Ferdi diantara kita berdua. Namun aku tak ingin dan tak mau membuat kakak jadi takut dan juga menjahui aku." ucap Liyon menatap dan menyentuh wajah Lira dengan lembut.
"Aku tak menyangka kalau wanita yang aku puja dan aku sayang, dia justru ingin meninggalkan diriku." Liyon tersenyum menatap Lira, dan Lira tak bisa mengartikan dari senyuman Liyon.
"Jangan tinggalkan rumah ini, karena Ferdi ada di sini. Jangan biarkan dia tau kalau orang tuanya tak harmonis." ucap Liyon dan keluar dari dalam kamar menunju ke ruang kerjanya setelah dia memberikan kecupan pada kening Lira
Lira terduduk lemas dan mulai menangis seolah ada sesuatu yang menyakitkan dan mengganjal dalam hatinya yang tak bisa dia ucapkan pada Liyon. Semua seperti belenggu dalam diri Lira.
Didalam ruang kerjanya Liyon tak mengerjakan apa pun dia hanya duduk diam tak mengerti dan tak tau harus berbuat apa. Liyon mengingat kembali kejadian 6 tahun lalu saat dirinya bertahan dalam segala hal tanpa Lira, dan yang dia tanamkan dalam dirinya untuk selalu meyakini kalau suatu hari nanti Lira akan kembali dan memeluknya lagi.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam Liyon terlihat sangat frustasi.
"Dia istriku, tapi dia berfikir ingin meninggalkan aku." gumam Liyon mengusap wajahnya kasar.
"Jadi tujuannya membuat perjanjian itu agar dia.bisa pergi meninggalkan aku lagi." Liyon memijat pelipisnya yang mulai terasa sakit.
Sementara didalam kamar, Lira masih menangis dengan menggunakan selimut untuk menggulung tubuhnya, Lira ingin menceritakan semuanya pada Liyon namun dia takut kalau nanti akan membebani liyon karena masalah yang dihadapi oleh Liyon pasti sudah sangat banyak.
Kejadian dipagi hari.
Setelah menerima panggilan telepon dari pak Sugeng Lira langsung melajukan mobilnya kearah hotel, dan sesampainya di sana Lira melihat pak Sugeng juga Santo sudah ada didalam ruangan pak Sugeng, terlihat dari tatapan mata pak Sugeng kalau ada masalah karena pak Sugeng terlihat sangat takut.
"Nona Ani atau aku harus memanggil dengan nama yang sering digunakan oleh orang - orang yang sudah mengenal mu, Lira." ucap Santo saat dia melihat Lira datang dan masuk kedalam ruangan pak Sugeng.
"Tuan Santo, ada apa ini dan kenapa anda bisa ada di sini?" tanya Lira yang merasa bingung.
Santo tersenyum dan menyilang kan kakinya dengan bersandar pada sandaran sofa dengan sangat arogan menatap kearah Lira yang berdiri dihadapannya.
"Kenapa, apakah kamu sudah lupa dengan kejadian 3 bulan lalu?" ucap Santo mencobak mengingatkan pada Lira soal kejadian penyekapan dirinya dan juga Meli.
Santo terbahak dan bangun berjalan kearah Lira, "Aku tau bahwa kamu adalah kelemahan dari Liyon, jika aku ingin menghancurkan dia maka aku cukup menghancurkan hidupmu saja, dengan cara begitu maka dengan sendirinya Liyon akan hancur." ucap Santo pada Lira.
"Apa yang kau inginkan.!" kesal Lira dengan nada sedikit ditekan.
Lagi - lagi Santo terbahak, "Kau memang pantas sebagai wanitanya Liyon, sangat cekatan dan juga cepat memahami situasi." ucap Santo berbalik dan duduk lagi di sofa.
Sementara pak Sugeng yang tak tau dan tak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Lira dengan Santo merasa bingung serta kaget mengetahui kalau Ani yang sudah lama sekali dia kenali itu adalah Lira wanita dari Bosnya atau pimpinan baru hotel tempatnya bekerja saat ini.
"Mudah saja apa yang aku inginkan, aku ingin kamu menjadi wanitaku bagaimana?" tanya Santo dengan senyumannya.
"Jangan bermimpi, aku bukan barang yang bisa kau ambil dengan mudah." ucap Lira yang juga ikut duduk di sofa depan Santo.
"Hem, jadi kau lebih suka bersama dengan Rian dari pada dengan ku? Atau kau ingin aku mengambil putramu saja." ucap Santo lagi dengan seringai.
__ADS_1
"Jangan macam - macam dengan putraku." ucap Lira dengan berani.
"Ya, aku sangat kagum dan juga sangat suka dengan wanita seperti mu ini. Aku jadi iri pada Liyon dan juga Rian bagaimana bisa mereka mengenal orang seperti mu yang begitu berani." ucap Santo dan Lira hanya menatapnya saja.
"Denis benar - benar pria bego, kenapa dia bisa melepaskan wanita seperti mu, atau jangan - jangan Liyon lah yang telah merubah mu menjadi wanita tangguh dan menarik seperti ini?" tanya Santo menatap Lira dengan senyuman.
"Kau menyelidiki aku?!" kesal Lira
Santo terbahak sangat keras, "Tentu saja, bagaimana tidak. Orang yang aku incar dan aku inginkan akan ku cari tau tentang dirinya secara mendetail." jawab Santo.
"Aku memiliki tawaran untuk mu, jadi wanitaku atau tinggalkan Liyon! Karena aku tau saat ini kau kembali lagi menjalin hubungan dengan dia." ucap Santo dan menyodorkan sebuah kertas dihadapan Lira.
"Jangan mengusik kehidupan ku dan putraku maka aku akan melakukan sesuai dengan permintaanmu." jawab Lira menatap tajam pada Santo.
"Sayang sekali, padahal aku berharap kalau kamu akan memilih untuk menjadi wanitaku." Santo berkata dengan santai.
"Aku tak tertarik dengan tawaran itu." jawab Lira langsung.
"Bagaimana jika sampai aku mengusik hidupmu setelah ini?" tanya Santo balik menatap Lira serius.
"Maka ku pastikan aku akan menghancurkan mu dengan tangan ku sendiri." jawab Lira dengan percaya diri.
"Aku suka itu, aku jadi semakin menginginkan dirimu berada disisiku. Wanita cantik dan kuat sepertimu sangat cocok untuk berada disisiku, pikirkan tawaranku yang satu itu. Jika kau berada disisiku maka aku akan memenuhi semua kebutuhan mu termasuk kekuasaan, bagaimana?" tawar Santo membujuk Lira.
"Tidak terima kasih. Sekarang pergilah aku sudah memberimu jawaban." ucap Lira menyerahkan lagi perjanjian yang sudah ditanda tangani oleh Lira.
"Sangat keras kepala. Ok." Santo mengambil kertas perjanjian dan bangun dari duduknya.
"Aku ingin melihat Liyon hancur, dan jangan sampai kau berani membocorkan pembicaraan kita ini, dan kau pak tua. Jika kau sampai berani menyebarkan ini maka keluargamu akan hancur dalam semalam." ancam Santo sebelum dia keluar dari ruangannya pak Sugeng.
Kembali ke saat ini.
"Bagaimana, bagaimana bisa aku membahayakan dia? Aku memang takut jika berada disisinya, namun aku tak bisa jika harus membebani dia dan membahayakan dirinya." Lira merasa kesal sendiri dengan keadaan dirinya.
__ADS_1
"Harusnya aku tak kembali, harusnya aku tak datang lagi ke sini." Lira terus menangis dan meratapi dirinya hingga tertidur dalam posisi bersandar pada sofa dan masih dengan tubuh terbungkus sprei.