
"Lira aku dengar kamu berhasil membuat janji temu lagi ya denga proposal yang kamu buat. Kita gak jadi rugi ya kalo begitu?" tanya endang pada lira saat mereka bertemu dilobby perusahaan.
"Iya syukurlah aku akan pergi nanti siang saat makan siang, semoga saja mereka tertarik dan mau tanda tangan untuk kerja sama denga pihak kita lagi." jawab lira dengan senang.
"Ya, semoga saja." sambung endang, dan mereka masuk ke dalam lif bersama.
"Tapi kamu ini tadi dari mana kok dari luar?" endang bertanya lagi saat mereka berada di dalam lif.
"Aku habis ngeprin untuk menggandakan proposal, karna di kantor printernya gak bisa." jawab lira dengan senyuman.
"Bagaimana mungkin? Tadi sebelum aku mengirim data penjualan masih bisa kok untuk ngeprin." jawab endang yang merasa aneh. Mendengar itu lira berfikir dan merasa ada yang aneh.
"Jika tadi bisa terus kenapa pas aku tadi gak bisa ya?" lira bergumam dalam hati dan mengingat - ingat saat dia mau ngeprin.
Sementara didalam ruangannya liyon farid memberi tau kalo lira berhasil melobi lagi pihak luar untuk membuat janji temu dengan proposal yang dikirim oleh lira pada mereka lewat email.
Liyon tampak tersenyum mendengar kabar itu, dan dia merasa bangga pada lira yang pantang menyerah dan juga selalu berusaha.
"Bagus, aku tau dia mampu untuk melakukannya." ucap liyon dengan senyiman dibibirnya.
"Kapan mereka akan melakukan janji temunya?" tanya liyon pada Farid yang masih berdiri tegak dihadapan meja kerja loyin.
"Aku dengar katanya nanti siang saat jam makan siang." jawab Farid.
"Tapi kenapa waktu itu kamu menghukum dan memarahi dia sampai sebegitu ya, apa kamu tau dia lembur semalaman dan paginya berusaha keras membujuk pihak asing agar mau memberinya kesempatan untuk menunjukkan proposal barunya." ucap Farid merasa kalo liyon terlalu keras pada lira.
"Farid, dunia ini tak akan bisa berjalan sesuai dengan keinginan mu. Dan aku tak memarahi atau menghukumnya, aku hanya mengajarkan padanya untuk bisa maju dan berusaha mencapai tujuannya dengan usahanya sendiri bukan karna dukungan dari ku." jelas liyon pada farid yang dinilai kejam pada lira.
"Tapi dia..." kalimat Farid gantung seolah tertahan diudara.
"Aku tau apa yang kamu pikirkan, tapi aku tidak hanya main - main sama dia, aku serius dan ini bukan opsesi yang datang sementara. Tapi aku sudah menyimpannya hampir 3 tahun lamanya hanya untuk seorang wanita yang tak ku kenal dan tak ku tau siap. Aku selalu menjaga diriku hingga hampir depresi karnanya." jelas liyon lagi pada Farid soal perasaannya pada lira.
__ADS_1
"Tapi aku tak mau membuat wanita yang ada disisiku mendapatkan kesuksesan karna dukungan dari ku, tapi aku ingin dia sukses dengan caranya dan usahanya sendiri. Aku ingin dia mandiri, tapi aku akan tetap ada untuknya. Namun hanya untuk memberinya dorongan dan motifasi bukan menjerumuskan dia dengan segala bantuan ku."
"Lagian aku juga tau siapa dirinya, dia tak akan mau menerima bantuan dari ku."
Liyon bicara panjang lebar dengan senyum yang selalu terukir di bibirnya, seola pembicaraan tentang lira adalah hal yang menyenangkan. Sementara farid yang mendengar hanya geleng - geleng kepala.
"Aku harus melakukan sesuatu, ya harus ku lakukan sekarang atau tidak sama sekali." yusnia mulai menyusun rencana untuk memata - matai lira agar dia bisa membongkar siapa diri lira sebenarnya.
...🍂🍂🍂...
Tepat jam 1 siang lira sudah berada didalam sebuah restoran Cina yang akan dilakukan pertemuan antara dirinya dan pihak asing yang akan melakukan tanda tangan kontra kerja sama.
"Jangan gerogi lira, ayo kamu pasti bisa. Dan jika mereka sudah setuju maka kamu bisa memanggil bosmu untuk melakukan tanda tangan bersama." lira terus mengamati dirinya dan terus meremas jemarinya untuk menghilangkan rasa gugupnya.
"Dengan sekretaris Lira?" tegur seseorang pada lira saat lira sedang berusaha menghilangkan rasa gugupnya.
"Ah, iya benar maaf tapi saya hanya datang sendirian. Kalo nanti anda sudah setuju dan juga bersedia melakukan kerjasama dengan pihak kami maka saya akan menghubungi bos saya." jelas lira dengan suara bergetar yang menandakan rasa gugupnya belum hilang.
"Maaf sekretaris Lira, saya juga datang sendiri karna prihal yang waktu itu pertemuannya batal dengan sebelah pihak saja." jelas orang itu dan semakin membuat lira merasa bersalah.
"Iya saya mengerti, tolong maafkan atas kelalaian saya. Waktu itu saya benar - benar tak sengaja melakukannya." jelas lira dengan rasa bersalah yang sangat besar.
"Baiklah, mari kita mulai saja sekarang dan dari pihak kami sungguh sangat tertarik dengan isi proposal yang anda buat dan kirimkan pada kami lewat email." jelas orang itu dengan santai.
"Iya terima kasih," ucap lira dan dia mulai mejelaskan pokok dari kerja sama yang akan dijalin oleh 2 perusahaan, begitu juga dengan keuntugan dan keeugian yang mungkin ada terjadi dan ditemukan dalam perjalanan kerja sama bisnis yang akan berlangsung dengan lama.
Sekitar 1 jam lamanya perbincangan dan pembahasan yang dilakukan oleh lira dan juga pihak asing itu, dan akhirnya menemui sepakat untuk mencobak kerja sama.
Lira merasa sangat megah dan juga senang, "Saya akan mengatur pertemuannya lagi dengan bos saya untuk melakukan tanda tangan kontrak diantara kita." ucap lira dengan semangat.
"Tak perlu melakukan janji temu lagi dari pihak kami sudah melakukan live atas apa yang kita lakukan sekarang." ucap orang itu dan membuat lira bingung.
__ADS_1
"Kalian boleh keluar sekarang, dan aku tau kamu sudah menyetujuinya." ucap orang dihadapan lira yang terlihat berbicara degan udara.
"Halo nona Lira kita ketemu lagi, dan aku tak menyangka kalo orang yang menangani proyek ini adalah anda. Tau gitu aku pasti bersedia menunggu waktu itu dan gak akan langsung meninggalkan tempat serta membatalkan kontrak." ucap seseorang yang membaut lira terkejud karna orang itu adalah taun lean Li yang dia temui saat dia menemani nyonya Li dalam perjalanannya.
"Tu - tuan Le?" lira berkata dengan kaget menatap dan berdiri dibepan lean Li.
Lean tertawa terbahak melihat lira yang terkejud, dan mereka pun kembali duduk bergabung dengan lira.
"Sebenarnya saya melakukan itu, hanya ingin memberi tahu liyon agar pegawai yang tak profesional untuk dikurangin dan jangan dipertahankan di perusahaan agar tak merugikan perusahaan." jelas lean Li pada lira.
"Baik lah, kerja sama kita berhasil nona Lira." ucap lean Li pada lira dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan lira.
"Iya terima kasih banyak." lira akan membalas jabat tangan lean Li, namun liyon sudah dengan cepat menyambar tangan lean sehingga tangan lira melayang diudara.
"Ah. Wahahahaha." lean terkejud tangan liyon menyambar tangannya dan akhirnya tertawa terbahak tanda dia mengerti.
"Ok, ok aku paham sekarang. Kamu sengaja melakukan ini semua karna kamu tau orang yang bertanggung jawab adalah nona Lira, jadi dengan sengaja kamu melatih dia untuk mandiri dan meraih keberhasilan dengan usaha dan caranya sendiri. Sungguh luar biasa caramu mengajarinya." ucap lean yang mulai paham dengan situasinya, dan hanya lira yang tak tau apa pun dan hanya bengong karna bingung.
"Jangan banyak omong, sekarang pergilah." usir liyon pada lean Karan meledek dirinya dan juga karna tau lean manatap lira dengan tatapan yang berbeda saat melihat lira dalam video.
...🍂🍂🍂...
"Aku akan mengawasinya mulai sekarang, karna aku ingin membongkar statusnya yang sebenarnya." gumam yusnia yang memasang sesuatu di tas lira.
"Apa yang kamu lakukan Nia?" tanya Safitri yang melihat yusnia memegang dan mengotak atik tas lira.
"Ah, gak papa kok mbak Fitri. Aku cuma meliaht lihat saja." jawab yusnia dan meletakkan tas lira dikursinya lira lagi.
"Heh, semua orang akan tau siapa dirimu yang sebenarnya nanti, dan kamu bekerja di sini hanya untuk menggoda pria saja. Karna gak mungkin orang yang mulia dikurusan managemenalah melamar sebagai sekretaris." gumam yusnia dengan kesal.
"Semua orang akan tau kebusukan mu, kamu di sini hanya menggoda bos saja dan berlaku j*lang pada bos." gumamnya lagi dengan sangat kesal dan melihat rekaman di hanponnya.
__ADS_1