
"Lira, kenapa kamu kok malah melamun sih, bagaimana menurut mu?" tanya Yuniar dan lira diam karena tak punya jawaban.
"Aku juga gak tau. Eh, apa kamu sudah makan aku buatkan makanan ya karena di rumah banyak bahan." lira berusaha mengalihkan pembicaraan.
Setelah selesai makan lira dan Yuniar pun bersantai didalam kamar lira sambil melihat acara di tv dan juga Yuniar yang curhat masalah hubungannya dengan pria yang bermalam dengan dirinya.
...🍂🍂🍂...
Keesokan harinya lira berangkat kerja dengan naik bis karena satria sudah berangkat pagi pagi sekali.
"Lira hari ini katanya kamu diminta nyonya Li untuk datang ke restoran." Pak Hendra menyampaikan pesan yang tadi disuruh oleh pak Yunus supir nyonya Li
"Baik pak, apa saya harus berangkat sekarang?" tanya lira pada pak Hendra begitu sampai di kantor.
"Ya kamu apsen saja dulu sekarang, setelah itu langsung berangkat takutnya nanti kamu telat."
"Baiklah kalo begitu saya akan apsen sekarang pak" lira pergi masuk untuk apsen dengan sidik jari.
Dalam perjalanan menuju ke restoran lira hanya melamun saja dalam bis, dia tak tau harus menghadapi bagaimana nyonya Li karena dia memiliki hubungan yang tak menentu dengan putranya. Dan setelah dia berbincang dengan Yuniar kemaren lira jadi semakin kepikiran soal hubungannya dengan liyon.
...🍂🍂🍂...
"Sekretaris lira sudah ditunggu nyonya didalam." ucap pegawai restoran begitu melihat lira datang.
"Iya terima kasih." lira masuk kedalam ruang kerja nyonya Li dengan pegawai yang tadi menyambutnya.
"Nyonya, sekretaris lira sudah datang." ucap pegawai yang mengantarkan lira.
"Iya iya masuklah lira, silakan duduk dulu." ucap nyonya Li mempersilakan pada lira.
"Terima kasih." lira masuk dan duduk di kursi dekat jendela.
Terlihat nyonya Li sedang berbincang dengan seorang pria dan mereka terlihat sangat akrab satu sama lain. Lira hanya diam melihat mereka berbincang tanpa bersuara.
Brrrrt
Hanpon lira bergetar tiba tiba dan itu membuat lira kaget, terlebih nama yang tertera dilayar hanponnya membuat lira takut dan dengan segerah lira langsung mematikan hanponnya.
"Wah halo nona kita bertemu lagi, masih ingat dengan aku? Kita ketemu di pesawat waktu itu." ucap pria itu pada lira dan lira beneran lupa dengan pria itu.
"Maaf saya beneran lupa dengan anda tuan." ucap lira dengan sopan.
"Kalian saling kenal rupanya." nyonya Li menimpali.
"Baguslah kalo begitu, jadi aku tak perlu mengenalkan kalian lagi." ucap nyonya Li sambil tersenyum.
"Lira, Rian adalah rekan kerja saya dan dia adalah kepala koki di restoran saya yang ada di Singapura. Hari ini dia datang kesini untuk liburan ku harap kamu bisa mengawal dia, karena dia bilang ingin pengawal yang bisa diajak ngobrol dan juga santai, jadi aku merekomendasikan kamu." jelas nyonya Li pada lira dan lira hanya mengangguk.
"Wah aku tak tau kalo ternyata kamu adalah seorang pengawal." Rian berkata dengan wajah sumringah.
__ADS_1
...🍂🍂🍂...
Sementara disisi lain liyon sangat geram karena lira menolak panggilannya dan juga mematikan telponnya tepat setelah dia menghubungi.
"Sial, dia sudah mulai berani mengabaikan aku. Sudah 2 hari tak ketemu dan sekarang dia menolak panggilanku juga mematikan hanponnya." gerutu liyon dengan kesal.
"Bos hari ini nona lira bukannya tidak masuk, dia tadi datang cuma pergi lagi dan katanya dia sedang ke restoran karena nyonya memanggilnya." lapor farid pada liyon yang sudah terlihat sangat marah dan tak sabar.
Dengan cepat liyon menghubungi mamanya dan menanyakan soal lira, karena masih banyak pekerjaan yang belum diselesaikan dan juga laporan dari tuan Haris belum juga direkap.
Nyonya Li : "Kau kan punya banyak sekretaris, suruh yang lain saja biarkan lira menemani Rian. Karena mama berencana akan menjodohkan lira dengan Rian, mama rasa mereka akan cocok." nyonya Li menjelaskan maksud dan juga tujuannya menyuruh lira menemani dan mengawal Rian.
Liyon : "Apa maksud mama?!" liyon teriak dengan kesal pada mamanya lewat panggilan telpon.
Nyonya Li : "Kenapa kamu marah, bukannya bagus jika mereka bersama." jelas nyonya Li.
Liyon sudah tak bisa berkata lagi dia mematikan sambungan telponnya dengan mamanya dan mengacak rambutnya dengan kesal, liyon tak kepikiran sejauh itu sampai mamanya berniat ingin mencarikan jodoh buat lira.
"Kenapa harus lira, kenapa?!" teriak kesal liyon.
"Cari tau mereka pergi kemana, sekarang juga." perintah liyon pada farid
"Baik, aku pergi sekarang." Farid segerah keluar dari ruangan liyon dan mencari tau keberadaan lira dengan menyebarkan seluruh orangnya kesegalah penjuru kota.
"Bos posisi nona lira dan tamu nyonya sekarang mereka ada di sebuah taman wisata." lapor farid pada liyon setelah 30 menit menunggu.
1 jam liyon sibuk dengan pekerjaannya yang menumpuk dan tak bisa ditinggal. Pikirannya kacau dan melayang pada lira. Tepat pukul 12 siang semua dokumen telah diselesaikan oleh liyon dan diserahkan pada Farid.
Liyon melajukan mobilnya dengan cepat setelah dapat info dari Farid kalo lira dan rian sedang makan siang disebuah restoran dekat taman bermain.
"Wah lira kamu tak seperti wanita pada umumnya ya" ucap rian saat mereka sedang menikmati makanan mereka.
"Wanita pada umumnya?" lira menatap rian dengan bingung
"Iya, biasanya mereka selalu jaim setiap dihadapan seorang cowok." jelas rian pada lira yang dari tadi terlihat serampangan.
"Itukan mereka dan ini aku." jawab lira dengan ringan sambil makan.
"Tidak kah kamu merasa kalo kamu harus menunjukkan tingkah imut dan lembut didepan ku, agar aku terkesan dengan mu.?" rian bertanya dengan menatap lira penuh arti.
Lira tersenyum "kenapa aku harus begitu pada mu? Aku tak sedang berkencan dengan mu, dan juga kita bukan pasangan. Aku hanya pengawal yang menemani kamu berkeliling dan menunjukkan kota ini saja, dan bukankah kamu sendiri tadi yang bilang kalo aku harus bersikap apa adanya dan santai saja." jelas lira tanpa ada rasa canggung.
"Lira tidak kah kamu mengerti atau sadar apa yang ku lakukan pada mu dari tadi? Aku meminta mu untuk bersikap santai karena aku ingin lebih dekat dengan mu, dan lagi aku sudah tau kalo kamu adalah pengawal nyonya Li. Satu lagi, aku sengaja minta pada nyonya Li untuk ditemani oleh mu karena aku ingin dijodohkan sama kamu. Lira aku suka sama kamu dan aku ingin lebih mengenalmu, jadi kamu bisa bersikap manja dan juga bergantung padaku seperti seorang wanita pada umumnya, yang selalu mengandalkan pasangannya. Jadi kamu gak usah bertingkah sok kuat didepanku." Rian berkata dengan serius menatap lira dan menggenggam tangan lira dengan paksa saat lira berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman Rian
"Ah, itu maaf sebenarnya aku tak berfikiran untuk itu dan aku juga tak bermaksud untuk memiliki hubungan dengan mu." jawab lira yang mulai merasa tak nyaman dengan sikap Rian.
"Kenapa kamu begitu lira? Aku tau kamu punya pengalaman tak baik dalam berhubungan dengan seorang pria, namun setidaknya kamu bisa memperbaiki sikap kamu, dan aku bisa untuk kamu andalkan." jelas rian dengan sikap yang sangat percaya diri.
"Adu maaf, aku..." kalimat lira terpotong dengan tangan rian yang menggenggam tangan lira lagi
__ADS_1
"Jangan menolak ku, kamu percaya saja pada ku. Aku pasti bisa menjaga kamu dan bersikaplah seperti seorang wanita pada umumnya." ucap Rian lagi.
"Kita habiskan makan dulu saja." lira berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Halo apa yang sedang kamu makan?" tanya liyon yang langsung duduk diantara mereka berdua dan langsung melahap makanan yang disendok oleh lira.
"Eh kamu?" lira terkejud menatap liyon dan liyon membalasnya dengan senyuman dengan mengunyah makanan di mulutnya.
"Bukankah dia adalah bos kamu? Dan kenapa seorang bos bersikap begitu pada anak buahnya?" ucap Rian tak suka menatap liyon
"Kenapa? Dia anak buah ku dan seperti apa sikap ku padanya itu urusan ku, bukankah anda adalah tamu yang dikawal oleh anak buah ku. Dan bukankah jam pengawalan sudah selesai? Kenapa anda masih ada di sini dan tak kembali." liyon menjawab dengan nada yang juga sangat jelas kalo dia tak suka dengan rian.
"Kalo sudah selesai makan ayo pergi." liyon bangun dan menarik tangan lira.
"Tunggu dia masih mengawal ku, dan jam pengawalan ku masih belum habis." cegah Rian.
"Apa anda tidak lihat kalo dia tak nyaman dengan anda, dan lagi aku sudah membawah pengawal yang lain untuk mengawal anda. Biar dia yang melanjutkan untuk mengawal anda, tuan Rian." ucap liyon dengan menunjukkan salah satu anak buah Farid yang dari tadi mengikuti liyon masuk kedalam restoran itu.
"Tolong kamu kawal dia dengan aman sampai tujuannya." perintah liyon pada seorang pria yang berdiri disebelah liyon.
"Baik bos." jawab pengawal itu pada liyon.
"Sial, ini sangat aneh. Kenapa seorang bos bersikap seperti itu pada bawahannya, aku yakin ada yang tak beres. Aku akan laporkan pada nyonya Li, apa yang sudah aku incar harus aku dapatkan." gumam Rian dalam hati menatap lira dan juga liyon pergi meninggalkan dirinya.
"Liyon bagaimana dengan Rian? Nanti nyonya Li marah pada ku." lira berhenti saat ditengah perjalanan menuju parkiran dan ingin kembali ke Rian.
"Dia adalah mitra mama, aku masih toleran jika kamu mengawal mama tapi tidak jika orang lain. Sudah jangan takut aku yang urus." ucap liyon meyakinkan lira.
"Ayo kita cari makan, tadi masih belum kenyang kan?" ajak liyon dan mereka pun makan siang disebuah restoran hotel berbintang.
Liyon terlihat sangat menikmati melihat lira makan dengan sangat lahap tanpa mengomentari cara dan sikap makan lira. Liyon selalu tersenyum tanpa terganggu walo dengan sengaja lira makan dibuat sembarangan dan juga bersendawa dengan sangat keras.
"Begitu nikmat makanannya sampai bersendawa sangat keras, apa perlu aku memberimu makan seperti ini setiap hari agar cepat gemuk." ucap liyon dengan senyum lebar menatap lira gemas.
"Kau pikir aku sapi yang diberikan banyak makanan dan begitu gemuk dikorbankan." ketus lira.
"Iya, kakak memang sapi tapi bukan untuk dikorbankan melainkan diperah oleh ku." goda liyon dengan senyum genit dan tatapan ingin segerah melahapnya.
Setelah selesai makan liyon tak kembali ke kantor lagi, melainkan pergi jalan jalan dan menikmati kebersamaan dengan lira di taman hiburan sampai hari menjelang malam dan liyon membawah lira ke rumahnya untuk makan malam dengan masakan liyon.
"Kenapa ada orang yang begitu baik sepertinya ya, dan dia juga tak pernah mengomentari aku soal sikap atau apa pun yang ku lakukan." gumam lira dalam hati menatap liyon yang sibuk dengan masakannya.
"Bahkan dia juga tak pernah meminta aku untuk jadi wanita seperti apa didepannya."
"Belakangan ini dia juga menepati semua janjinya untuk tak menyentuh aku dan memperlakukan aku dengan baik, aku jadi nyaman sama dia. Mungkin kalo sama dia tak papa kali ya? Apa aku coba saja dengan dia? Tapi bagaimana kalo nanti dia bosen dan berpaling dari ku setelah ditengah jalan hubungan kami."
"Tapi aku sangat nyaman dan juga senang kalo bersama dengan dia. Aku tak perlu jadi orang lain dan aku bisa bebas sesuka hati ku, Liyon apa kamu benar benar menyukaiku? Karena sepertinya aku juga menyukaimu."
Suara hati lira sedang bergemuruh dan berperang dengan akalnya, dia mulai memunculkan benih benih cinta namun juga memunculkan kecemasan atas kegagalan hubungannya yang lalu.
__ADS_1