Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Permohonan lira


__ADS_3

Suatu pagi pada hari minggu di cafe Brayen Satria menunggu kedatangan liyon untuk membicarakan sesuatu dengan serius.


"Sat mau minum apa? Sudah lama kau tak main - main ketempat ku ini, hari ini ada angin apa kau bisa sampai nyasar ke sini hah!?" tanya Brayen dengan kesal pada Satria yang tak pernah datang menemuinya.


"Kau tau sendiri pekerjaan ku seperti apa? Bagaimana aku bisa punya waktu untuk nongkrong dengan kalian semua, apa lagi sebentar lagi aku harus meminang seorang wanita yang akan menjadi pendamping hidup ku jadi aku harus lebih giat lagi dalam bekerja dan mencari nafkah kan." jawab Satria dengan tertawa riang.


"Sial, yang sudah mau menikah bikin jomblo ini sengsara saja." jawab Brayen dengan sedih.


Satria tertawa lebar melihat ekspresi Brayen "makanya kau cepat cari wanita dan menikah lah, jangan kelamaan jomblo nanti bermasalah loh sama yang itu" tunjuk tatapan mata satria turun pada daerah bawah milik Brayen.


"Hei kunyuk, sial kau. Dia masih bisa berfungsi dengan baik ya, jangan asal bicara." Brayen menjawab dengan kesal dan sewot pada satria lalu meninggalkan satria sendirian untuk mengambilkan minum buat satria.


Satria makin terbahak melihat reaksi Brayen yang kesal pada dirinya, "Dia tetap saja seperti itu, suka ngambek kayak anak cewek." gumam Satria


"Kau sudah datang rupanya." sapa liyon yang berjalan mendekati satria yang sedang duduk di depan meja bar.


Satria menatap liyon yang terlihat kusut dan juga lebih tajam tatapannya, "kita bicara di sini? Atau keruangan vip saja." satria bertanya karena tak ingin membuang waktu lama dengan liyon yang terlihat menakutkan.


"Terserah aku dimana saja boleh." jawab liyon yang duduk disebelah satria dengan tenang tanpa ada senyum diwajahnya.


"Buset dah, ni orang nakutin sekali." suara hati satria yang menatap liyon.


"Katakan, apa yang ingin kau sampaikan." suara liyon yang tajam membuyarkan lamunan satria seketika.


Satria menghela nafas panjang dan menghembuskannya pelan - pelan untuk mengatur ekspresi dan nada bicaranya. "Sebenarnya kau pasti sudah tau apa yang ingin aku bicarakan, karena ini mengenai kakak ku." kalimat pertama keluar dari mulut satria.


Liyon menatap dengan tanda tanya di kepalanya, karena yang liyon tau selama ini satria cuek sama hubungannya dengan lira bahkan tak pernah sekalipun bertanya atau berpendapat.


"Apa yang kau inginkan? Jangan macam - macam dengan ku, aku bisa melakukan apa saja asal itu tak ada hubungannya dengan Lira." jawab liyon dengan nada dingin.


"Hai Bay" Bagas memanggil Brayen dengan melambaikan tangannya, namun Brayen membentuk tanda silang dengan kedua tangannya pada Bagas, dan dengan cepat Bagas paham maksud dari tanda itu.


Bagas melangkah dengan cepat mendekati Brayen yang ada dibalik meja bar dan berada sedikit jauh dari tempat duduk Satria dan Liyon.


"Apa yang terjadi dengan mereka?" tanya Bagas berbisik pada Brayen.


"Kurang faham, tapi sepertinya itu menyangkut lira." jawab Brayen sama berbisik-nya pada Bagas.


"Kenapa? Apakah wanita yang mereka sukai itu sama? Atau jangan - jangan selama ini Liyon dan Satria menyimpan perasaan yang sama pada wanita yang sama pula." Bagas berfikir dengan imajinasinya karena melihat ketegangan antara Liyon dan juga Satria.


"Jangan bicara sembarangan, karena tadi aku dengar kalau Satria akan menikah dengan wanitanya." jawab Brayen.


"Sial, kadang aku merasa mereka berdua itu bukan temanku atau sahabatku, melainkan musuhku. Bagaimana aku bisa tak tau cerita tentang mereka berdua selama ini." kesal Bagas.


"Jadi maksudmu kamu tak mau melepaskan kakakku? Liyon kau jangan egois.!" satria berteriak marah pada liyon.


"Kau bukan siapa - siapa dalam hubungan kami, dan kau hanyalah seorang adik. Aku menahannya karena kau adalah adik dari wanitaku, tolong jangan melewati batas mu, jika tidak aku tak akan menahan diri lagi." ancam liyon pada satria.


Satria tersenyum dan menghela nafas dalam lagi "kau tak mengerti semuanya, karena kau hanya hidup dari keluarga kaya sejak kecil." satria sudah tak bisa memaksa dengan kata - kata jadi dia ingin mencobak menjelaskan dengan perbedaan setatus mereka.


"Kau jangan bicara yang tidak - tidak, apa pun itu aku tak akan pernah melepasnya walau aku harus melawan mu atau keluargaku." jawab liyon tegas.

__ADS_1


"Liyon mengertilah, kamu jangan konyol, aku tau kamu bisa melakukan apa saja tapi kamu mungkin tak akan bisa menjaga dan melindungi kakakku selama 24 jam kan? Sudah 2 kali kakakku terkena musibah atas jalinan hubungan kalian berdua. Aku tak menyalahkan mu, tapi aku tak bisa menyerahkan nyawa kakakku dan kehilangan dia." jelas satria dan liyon diam menatap satria.


"Sama seperti mu yang kerja mati - matian karena tak ingin melihat kakakmu hancur, begitu juga dengan ku. Aku tak ingin melihat kakakku hancur." satria berkata dengan nada rendah dan menunduk seolah dia memohon pada liyon agar mau melepaskan lira kakaknya.


"Satria, aku tak akan pernah melepaskan lira dari sisiku. Tapi jika dia sendiri yang memilih untuk pergi meninggalkan aku maka aku tak akan menghalanginya. Tapi kamu harus berjanji pada ku," kalimat liyon ditahan sebentar "kamu berjanjilah untuk selalu menjaga dia dan jangan biarkan dia terluka, kabari terus aku tentang dirinya." liyon terdiam lagi "aku sangat mencintainya Sat, aku tak akan sanggup jika tanpa dia. Bagiku dia adalah duniaku." liyon tertunduk.


Satria menatap liyon dengan kasian karena satria tau bagaimana perjuangan liyon selama 3 tahun menahan hasratnya hanya demi seorang wanita yang tak dia kenal yang ternyata wanita itu adalah lira kakaknya sendiri.


"Aku tau, aku hanya tak ingin melihat kakakku menderita karenanya." ucap satria lagi.


"Aku tau kekhawatiran mu, tapi aku tak bisa berjanji pada mu untuk melepaskannya sepenuhnya, karena aku pasti akan mendapatkan dia setelah aku menyelesaikan semua masalah dan urusanku." liyon menghela nafas dalam.


"Itu tergantung jodoh kalian berdua, jika suatu hari nanti kalian akan dipertemukan dan ada ikatan yang membuat kalian harus bersama aku tak akan menghalangi, tapi aku minta kamu untuk menjaga kakakku dengan benar." ucap satria memeluk Liyon dan Liyon membalas pelukan satria, tanda pembicaraan antara mereka telah selesai.


Satu bulan berlalu dan dua bulan pun telah terlewatkan dengan damai, dan selama itu pula liyon menahan diri untuk tak bertemu dan melihat lira namun dia selalu mendapatkan kabar tentang lira dari Satria yang selalu memberitahu tentang kondisi lira dan proses penyembuhan tangan lira.


...🍂🍂🍂...


Pada suatu pagi


Lira yang sudah mulai bisa beraktifitas ringan meminta ijin untuk tidak masuk kerja dulu karena alasan belum kuatnya dia untuk beraktifitas seperti biasanya.


Disebuah restoran didekat kantor lira menghubungi Safitri untuk mengajak Safitri bertemu dengan dia karena ada yang ingin ditanyakan.


"Lira. Bagaimana dengan keadaan mu? Apakah kamu baik - baik saja? Kondisi tanganmu bagaimana? Apakah sudah sembuh total? Atau masih ada rasa nyeri dan tak nyaman? Apakah kamu masih bisa untuk berkelahi lagi? Kenapa kamu tak datang saja langsung ke kantor." Safitri langsung bicara dan bertanya banyak pada lira begitu dia bertemu dan melihat lira.


"Stop, satu - satu aku bingung harus jawab yang mana dulu." lira menjawab dengan tersenyum lebar.


"Aku sangat khawatir pada mu, saat dari aku menjenguk kamu di rumah sakit sampai sekarang belum melihat mu sama sekali, aku merasa sangat bersalah." Safitri berkata dengan tulus pada lira.


"Aku dengar dia koma dan belum sadar, Bos memindahkan dia ke rumah sakit di Singapura untuk mendapatkan pengobatan yang lebih baik." jelas Safitri.


"Oh begitu ya, semoga saja beliau cepat sadar agar keluarganya tak cemas. Sebenarnya aku memanggil mbak Fitri kesini karena aku merindukan mbak Fitri dan juga ada yang ingin aku titipkan sama mbak, tolong sampaikan surat permohonan ini pada Bos." lira menyodorkan sebuah amplop pada Safitri.


"Ini apa Lira?" Safitri merasa heran dan juga bingung.


"Itu adalah surah permohonan pengunduran diri ku dari kantor mbak, aku akan berhenti dan mau kembali lagi ke kampung halaman ku, mau buka usaha saja." jelas lira pada Safitri dan sontak itu membuat Safitri terkejut.


"Apa maksudnya ini semua Lira? Jangan bilang kalau kamu sudah merencanakan ini semua dengan sengaja sejak awal." Safitri menebak karena setelah lira kembali dia tak mau mengambil bagian apa pun dari pekerjaan dan hanya mengambil alih perjanjian kerja sama dengan perusahaan tuan Haris saja.


Lira tersenyum menatap Safitri "iya aku sudah merencanakan itu semua sejak dari awal, maafkan aku mbak. Dan hari ini aku memohon bantuan dari Mbak Fitri." lira memohon pada Safitri dengan tatapan yang tak bisa ditolak.


Safitri menghela nafas dan mengeluarkannya dengan kasar "baik, aku akan sampaikan pada Bos Liyon sekarang. Kamu hati - hati ya lira, jangan lupa kabari aku terus, dan nanti kalau kamu buka usaha juga kabari aku usaha apa yang kamu buka ya." pinta Safitri dan dia kembali lagi ke kantor untuk menyerahkan surat pengunduran diri lira.


...🍂🍂🍂...


"Sekretaris Fitri, apa ini? Kamu mau mengajukan pengunduran diri? Kenapa, apa ada yang kurang nyaman buat mu selama bekerja bersama ku di sini?" tanya liyon saat Safitri yang menyodorkan sebuah amplop yang bertuliskan pengunduran diri.


"Maaf Bos, itu bukan punya saya. Itu punya Lira, saya cuma membantu dia untuk menyerahkannya saja pada Bos Liyon karena lira sedang buru - buru jadi tak bisa menyerahkannya sendiri." jelas Safitri pada liyon.


"Apa, apa yang sedang kau katakan? Dimana kau bertemu dengannya?" tanya liyon tak sabar dan meremas amplop itu dengan sangat erat.

__ADS_1


"Baru saja di restoran depan kantor." jawab Safitri.


Brak


Bruk


Grubak


Liyon seketika langsung lari dengan terburu - buru dan menabrak sana sini karena tak memperhatikan jalannya dan tak merasakan rasa sakitnya menabrak benda - benda di ruangannya.


"Eh, Bos?" Safitri terkejud dan bingung menatap liyon yang lari terburu - buru.


"Ada apa mbak. Kok Bos lari terbirit - birit seperti itu.?" Endang yang diluar ikut kaget mendapati liyon lari dengan cepat.


"Ah itu, dia sedang mengejar Lira kayaknya." jawab Safitri yang melenggang keluar dari ruangan liyon.


"Loh emang Lira kenapa? Dan dimana?" Endang bertanya dengan bingung.


"Lira sedang mengajukan pengunduran diri." jawab Safitri duduk di kursinya.


...🍂🍂🍂...


" Mbak Sri bagaimana jadi ya saya menempati rumah Mbak yang ada di kampung? Tapi saya akan pulang dulu mbak untuk ketemu sama ibu dan ayah saya." lira berbicara dengan Sriyani pegawai neneknya lewat panggilan telepon sambil berjalan di trotoar keluar dari restoran.


"Iya mbak Lira, nanti kalau sudah mau berangkat kabari Sri ya nanti kita ketemuan di setasiun." jawab Sriyani


"Iya - iya, yasudah ya aku mau siap - siap pulang dulu nanti jangan sampai ada yang tau kalau aku tinggal di rumah Mbak Sri ya." pinta lira dan mematikan sambungan teleponnya.


"Lira.!" panggil liyon yang ngos - ngosan karena lari dari kantornya sampai ke restoran depan disebrang jalan.


"Liyon?" lira memutar tubuhnya dan menatap liyon.


"Aku sudah menahan diri selama ini, kamu tak ada kabar bahkan tak menghubungi aku, dan tak pernah menerima serta membalas pesan - pesan ku." liyon berkata sambil mengatur nafasnya yang tersengal.


"Ayo kita bicara dulu dan mencari tempat yang tenang." liyon menarik tangan lira.


"Tidak liyon, kalau kamu ingin bicara di sini saja sekarang." lira menarik tangannya dari genggaman liyon.


"Lira." liyon menatap lira dengan rasa takut.


Liyon berjalan maju mendekati lira namun lira justru melangkah mundur menghindari sentuhan liyon. Melihat itu tatapan liyon menghitam dia menggertakkan giginya.


"Maafkan aku Liyon karena aku tak bisa menepati janjiku pada mu, aku mohon agar kamu jangan maju lagi." suara lira menghentikan langkah liyon.


"Apa maksudmu Lira? Kenapa kau begini?" liyon bertanya dengan menggenggam erat amplop yang dipegangnya.


"Maaf liyon, aku mohon jangan bertanya lagi dan aku tak mau lagi seperti ini. Aku mohon bebaskan aku." lira menatap liyon dengan tajam.


"Deg" jantung liyon berdebar sangat hebat, apa yang dia katakan pada Satria telah menjadi bumerang bagi dirinya. Karena berjanji jika lira sendiri yang minta maka liyon akan melepasnya.


"Bagaimana bisa kamu seperti ini pada ku?" tanya liyon pada lira.

__ADS_1


"Karena aku takut, aku takut dengan mu, aku takut dengan cinta yang kamu tawarkan padaku dan juga takut dengan hubungan kita ini. Aku takut dan aku juga gak mau terus menderita seperti ini, jadi aku mohon pada mu untuk melepaskan aku, lepaskanlah aku liyon biarkan aku bahagia." ucap lira dengan menunduk.


Semua kalimat yang telah dirangkai dan ucapkan oleh lira itu bagai petir yang menghancurkan hati dan jiwanya bagi liyon yang sedang mendengarkannya dengan terpaku ditempatnya.


__ADS_2