Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Pengaruh obat


__ADS_3

1 jam sebelumnya


"Baiklah kalian lanjutkan bicara kalian, aku akan menunggu dan berbincang dengan nona lira." ucap Le pada nyonya Li dan juga bibinya.


"Halo nona Lira, boleh kah aku duduk di sini?" sapa lean Li pada lira yang sedang menikmati minum jusnya.


"Oh, iya silakan. Maaf soal yang tadi saya tidak tau." ucap lira memintak maaf lagi atas tindakannya yang menyergap lean Li.


"Hahahaha...Tidak tidak, tidak masalah itu bukan salah kamu, aku yang salah karna datang dengan membawah pisau. Orang pasti akan berfikir kalo aku mau menyerang orang lain." jawab lean li dengan tertawa terbahak.


"Kalo boleh saya tau, sebelum kamu jadi bodyguard kamu kerja di mana?" lean bertanya karna dia merasa penasaran kenapa ada wanita yang cantik tapi justru memilih pekerjaan kasar sebagai bodyguard.


"Sebenarnya saya adalah sekretaris di perusahan milik keluarga nyonya Li, hanya saja karna saya dulu bekerja paruh waktu di restoran nyonya Li jadi sekarang saya selain jadi sekretaris kadang menemani nyonya Li dalam perjalannya, karna nyonya Li tau siapa diri saya." jelas lira tanpa ada yang dia tutupi.


"Apa? Jadi kamu sekarang bekerja dibawah kepemimpinan liyon?" tanya lean dengan senyuman yang terlihat manis bagi lira.


"Iya benar tuan Le." jawab lira dengan senyum ramah.


"Terus waktu ketemuan di Singapura kenapa kamu tak datang untuk mengawal dia?" tanya lean Li, karna dia tak melihat lira saat tanda tangan kontrak deng liyon di Singapura.


"Saya datang, tapi saya tidak ikut dalam pertemuan." jawab lira dan membuat lean Li berfikir.


"Tunggu sebentar aku akan menghubungi seseorang." ucap le dengan senyuman manisnya lagi.


"Halo, ada apa?" jawab suara dari sebrang telpon dengan nada dingin.


"Hai sobat cobak tebak aku lagi dimana dan dengan siapa?" ucap lean memberi pertanyaan dengan nada senang dan menggoda.


"Apa kau gila, bagaimana aku bisa tau kau diman...Ugh.!" suara diseberang terdengar sedang menahan sakit.


"Eh, liyon! Kau kenapa?" teriak lean yang membuat lira terkejud karna dia tak tau kalo orang yang sedang dihubungi oleh lean dari tadi adalah liyon bosnya.


"Liyon? Kenapa dengannya, kenapa tuan Le terlihat panik?" gumam lira dalam hati memperhatikan lean


"Kenapa tuan?" tanya lira karna rasa penasaran yang mengganggunya.


"Dia sepertinya...." kalimat Le tertahan karna tak tau yang sedang terjadi.


"Lira ayo kita pulang urusan ku sudah selesai." ajak nyonya Li pada lira, dan mereka langsung berpisah.

__ADS_1


Selama perjalanan lira terus berfikir soal liyon, karna dia tak tau apa yang terjadi dan juga tak berani menyalakan hanponnya karna takut liyon menghubunginya, dan alasan lainnya lira takut kalo nyonya Li tau dia sering berhubungan dengan anaknya.


Kembali pada saat ini.


"Sebenarnya apa yang terjadi ya? Tadi juga tuan lean terlihat begitu terkejud dan khawatir, dan asisten Farid terlihat sangat tergesah - gesah dan juga sama khawatirnya." lira bertanya - tanya sambil terus melangkah menaiki anak tangga menuju kelantai 2.


"Tapi ini rumah terlalu sepi dan tenang gak sih, kalo emang terjadi hal yang membahayakan. Dan juga kenapa nyonya Li tak diberi tau? Asisten Farid juga, dia langsung pergi begitu saja setelah menyuruhku aku masuk kedalam rumah." lira melangkah dengan hati - hati sambil terus bergumam, walo dia sudah pernah ke rumah liyon sebelumnya, namun lira tetap tak terbiasa.


"Tadi kata asisten Farid kamar lantai 2 kan ya, yang mana ya? Banyak kamar di sini." lira celingukan karena banyak kamar dilantai 2 rumah liyon.


Brak.


Suara dari salah satu kamar seperti ada orang yang sedang jatuh, dan lira langsung membuka pintu kamar itu dan masuk kedalam.


"Halo? Bos?" panggil Lira mencarik liyon dalam kamar itu yang tadi terdengar jatuh.


"Aaahh, uughh!" suara liyon sedang menahan rasa sakitnya.


"Ya Ampun bos apa yang terjadi?" lira melangkah maju setalah menemukan liyon jatuh disebelah tempat tidurnya.


Keringat liyon terlihat memenuhi tubuhnya, suhu tubuhnya juga sangat panas dan wajahnya memerah dengan nafas yang terengah - engah seolah sedang menahan sesuatu yang menyakitkan.


"Apa yang terjadi ini sebenarnya, kenapa dia bisa seperti ini?" lira mendekat hendak membantu liyon bangun.


"Waaaah.!" teriak lira terkejud karna liyon menerjangnya.


"Tunggu aku panggilkan asisten Farid dulu." ucap lira yang berusaha mendorong tubuh liyon dari atas tubuhnya.


"A ku, sudah tak ta han la gi." ucap liyon dengan suara terputus dan tatapan mata tak sabar, seolah melihat sesuatu makanan yang enak untuk dimakan.


"Iya, tung ehm." kalimat lira tertahan oleh liyon yang sudah menguasai bibir lira dengan sangat liar serta kasar, mengeksplor rongga mulut lira dan mengapsen deretan gigi lira.


Liyon melampiaskan semuanya pada lira dan melahap lira dengan sangat lahap serta menikmatinya.


"Hah hah..Tunggu dulu. Kau kenapa?" lira bertanya dengan mendorong tubuh liyon saat liyon melepas bibir lira.


Srak


Breeet

__ADS_1


Sret


Liyon tak mendengar kata - kata lira, dia langsung merobek paksa baju yang dikenakan oleh lira, dan dengan susah payah akhirnya baju itu sobek serta menampakkan tubuh lira yang putih.


"Susah.!" kesal liyon dan kembali meraup bibir lira sehingga membuat lira kewalahan dan kehabisan nafas karna ulah liyon yang bagai singa sedang menyantap mangsanya.


30 menit kemudian akhirnya liyon berhasil membuat lira tanpa sehelai benang pun. Liyon kembali melahap lira dan menjelajahi seluruh tubuh lira dengan sangat bersemangat dan berapi - api.


"Enak, dingin, aku suka." ucap liyon disela sela dia menjelajahi setiap inci dari tubuh lira.


Suara, suara yang keluar dari bibir lira semakin membuat liyon bersemangat dengan aksinya. Seolah dia sedang berusaha menghilangkan dahaga dalam dirinya.


Entah sudah berapa lama liyon menguasai diri lira dan mempermainkan tubuhnya, hingga membuat lira tak sanggup lagi mengimbanginya dan hanya bisa pasrah menerima apa yang sedang dilakukan oleh liyon pada dirinya.


Lira tak berkutik dia hanya bisa membiarkan liyon mempermainkan tubuhnya dengan sangat senangnya, dan menikmatinya dengan begitu nikmat seakan - akan besok tak bisa dia dapatkan.


Sampai akhirnya setelah liyon merasakan puas dengan permainannya dia baru melepaskan lira yang sudah terlihat lemas tak bertenaga.


Lira tak mampu bergerak karna tubuhnya terlalu lemas dan tak ada tenaga untuk bangun, dia hanya bisa berguling di karpet untuk menjauhi liyon yang ambruk disebelahnya dengan wajah puas dan tertidur pulas.


Lira meringkuk di karpet dengan tubuh polosnya dan merasakan sekujur tubuhnya yang ngilu akibat siksaan dari liyon yang tak mau melepaskan dirinya dan menyudahi permainannya walo dia sudah berkali - kali mendapatkan pelepasannya.


Malam itu liyon bagai kehilangan akalnya, dia terus ingin lagi, lagi dan lagi sampai lira hampir pingsan dibuatnya.


"Ehm," liyon menggeliat dan dia terkejut karena dia tidur dikarpet bukannya ditempat tidur.


"Kenapa aku tidur di sini? Aduh kepalaku sakit." liyon bangun dan memegangi kepalanya yang terasa berat dan pusing.


"Eh, kakak?" liyon terkejud melihat lira yang meringkuk tak jauh dari dirinya dengan tubuh polos dan penuh dengan tanda merah dari dirinya.


"Ya Ampun apa yang sudah aku lakukan padanya?" liyon mendekati lira dan menyentuh punggung lira yang penuh denga tanda kepemilikan darinya dan hampir memenuhi seluruh punggung lira.


"Lira, sayang?" liyon membalikkan tubuh lira yang meringkuk bagai anak kucing yang kedinginan dan menyentuh tubuh polos lira bagian depan yang juga penuh dengan tanda kepemilikan dari dirinya, dan hampir tak ada tempat untuk menandainya lagi, sama seperti dengan dibagian punggung lira.


Liyon mengangkat tubuh lira dengan pelan dan memindahkannya ketempat tidur lalu menyelimutinya.


"Apa aku begitu menyiksanya semalam? Dia tak bergerak sedikit pun, dia pasti sangat kesakitan dan tersiksa. Aku benar - benar baj*ngan, maafkan aku ya sayang. Tolong maafkan aku."


Cup

__ADS_1


liyon mengecup kening lira setelah dia memintak maaf pada lira dengan rasa bersalah yang sangat besar.


Liyon mengusap puncak kepala lira dengan penuh rasa sayang, dia tak menyangka kalo dirinya menyiksa lira sampai sedemikian rupa. Bahkan semuanya dia lakukan dilantai yang hanya dialasi karpet.


__ADS_2