Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Kembali ke tanah air


__ADS_3

Siang hari disebuah bandara Halim Perdanakusuma Internasional Airport Lira dan Ferdi telah sampai di tanah air. Jantung lira berdebar sangat hebat saat dia menginjakkan kakinya lagi di tanah air setelah sekian tahun pergi meninggalkan semuanya tanpa kabar berita.


"Waaaah sudah sampai - sudah sampai." teriak Ferdi dengan sangat riang.


"Coba lihat anak kecil itu dia sangat cakep dan ekspresinya itu dia pasti akan jadi orang hebat dan berkuasa." ucap seorang pengunjung bandar ya g melihat Ferdi.


"Benar dia sangat cakep dan juga tatapan matanya sangat tajam" timpali lawan bicara pengunjung lainnya.


Diluar tepat dibarisan para orang - orang yang datang untuk menjemput ada orang yang mengangkat papan dengan bertuliskan pegawai hotel Sanken. Semua orang yang melihat tulisan itu berkasak kusuk karena hotel Sanken adalah hotel bergensi di tanah air yang dilengkapi dengan perlengkapan modern dan serba canggih. Bagi mereka yang bisa masuk dan bekerja di hotel Sanken walau hanya seorang cleaning service itu sudah menjadi kebanggaan karena gaji mereka sangat besar.


Sementara dari barisan orang - orang yang membawah papan mana untuk orang yang mereka jemput ada seorang wanita dengan setelah jas hitam dan celana hitam juga sedang menjemput seseorang, dan wanita itu mengangkat papan nama dengan tulisan Nyonya Ani.


"Dimana ya dia? Kata pak Hendra dia akan datang hati ini." gumam wanita itu dalam hati.


"Ya pun anak kecil itu lucu sekali dia sangat tampan dan tatapan matanya sangat tajam." gumam wanita itu melihat Ferdi yang duduk dengan anteng diatas troli.


"Eh, dan wanita cantik itu berjalan ke arah ku?" wanita itu semakin gugup.


"Halo sudah lama menunggu? Maafkan kami" ucap lira sopan pad wanita itu.


"Eh, ah, apa? A-anda nyonya Ani?" tanya wanita itu ragu.


"Iya itu aku." jawab lira lagi dengan senyuman dan melepaskan kacamata hitamnya.


"Ya Ampun dia cantik sekali." suara hati wanita yang menjemput lira.


"Maaf ku pikir nyonya adalah wanita paruh baya, haruskah aku tetap memanggil anda nyonya atau nona?" tanya wanita itu.


"Tentu saja dia adalah nyonya karena dia adalah mama aku." jawab Ferdi dengan ketus.


"Eh, ya ampun lucu sekali dia. Bolehkan saya mencubitnya.?" tanya wanita itu.


"Tentu silakan"


"Tidak boleh."


Lira dan Ferdi menjawab bersamaan dengan jawaban yang berbeda dan Ferdi terlihat sangat kesal karena dianggap sebagai anak kecil yang lucu.

__ADS_1


"Ah begitu ya, baiklah kalau begitu mari ikut saya mobilnya disebelah sana." wanita itu menunjukkan arah dan membantu lira membawahkan kopernya setelah menyimpan troli yang tadi dipakai lira untuk membawah koper - kopernya.



Lira berjalan mengikuti wanita itu kearah yang ditunjukkan oleh wanita itu menuju sebuah mobil yang sudah terparkir diparkiran.


"Mama kapan kita akan berkunjung ke tempat nenek Kinja? Ferdi sudah tak sabar ingin menyapa nenek dan berbincang dengan nenek." tanya Ferdi yang tak bisa diam dan selalu bertanya kapan kesana dan kapan kesini.


"Iya nanti mama akan ajak kamu kesana, tapi hari ini kita istirahat dulu sebab tempat nenek tak dekat kita harus mencari hari libur dulu batu bisa kesana, dan lagi besok mama sudah mulai masuk untuk melaporkan kehadiran mama di hotel, kenapa kau jadi tak sabaran begini hah?" lira mencubit pipi Ferdi dan menciumnya dengan gemas.


"Aduh mama tak bisa kah mama untuk tidak mencium ku, aku adalah pria dewasa dan tak boleh disentuh sembarangan." jawab Ferdi menghapus bekas ciuman lira.


"Oh, benar kah? Tunjukkan pada ku." lira jadi terus menghujani Ferdi dengan ciuman di wajahnya secara bertubi - tubi.


"Ya ya ku serahkan diriku hanya untukmu pria kecil ku." jawab Ferdi pasrah mendapatkan ciuman dari lira.


"Hahaha." wanita yang tadi menjemput lira tertawa terbahak melihat interaksi lira dan putranya.


"Eh, kenapa kamu tertawa? Oh iya aku belum tau siapa nama kamu." tanya lira dengan sopan.


"Hem Meli, nama yang bagus. Terima kasih ya kamu sudah repot - repot menjemput saya." ucap lira dengan senyuman yang sangat manis.


"Kita sudah sampai nyonya." ucap meli pada lira dan mereka pun memasuki rumah yang sebelumnya disewa oleh lira sebelum dia balik ke Indonesia.


"Wah rumahnya adem ma aku suka banyak pohonnya." Ferdi lari kesana kemari.


"Nyonya kenapa kok tidak memilih tinggal di apartemen saja?" tanya meli pada lira sambil membantu lira menurunkan koper - kopernya.


"Tidak karena aku ada Ferdi, aku ingin agar anakku bisa bebas bermain dengan alam. Kalau di apartemen hanya bisa bermain didalam rumah saja." jawab lira dan tersenyum melihat Ferdi yang begitu semangat lari mengelilingi rumah.


"Ya benar juga, tapi kalau boleh saya tau berapa usia putra nyonya? Dia sangat pintar dan juga dewasa." tanya meli pada lira.


"5 tahun, ya dia sangat dewasa dari usianya. Aku sangat bersyukur ada dia, karena dia adalah penyemangat dalam hidup ku." jawab lira terlihat sangat senang.


"Ya ampun dia sangat lucu ya nyonya dan juga sangat lincah." jawab meli dan lira tersenyum bangga dengan putranya.


...🍂🍂🍂...

__ADS_1


Ditempat lain di rumah atau Mension liyon satria datang ingin melaporkan hasil pemotretan para pegawai yang baru datang siang tadi dari Singapura beserta baju seragam mereka semua.


"Dimana Liyon Rid?" tanya satria yang datang hanya mendapati Farid saja diruang keluarga sedang mengerjakan berkas.


"Dia diruang kerja atas." jawab Farid menunjuk dengan dagunya


"Ya ampun kenapa kamu bekerja dengan nuansa gelap begini sih. Tak enak banget." ucap satria saat dia masuk dan hanya ada lampu temaram saja di ruang kerja liyon.


"Kenapa kau berisik sekali ada apa?" tanya liyon dengan kesal.



"Ini hasil pengambilan gambar para karyawan yang datang tadi siang dan itu seragam mereka dari sana." satria menyerahkan file dan juga gambar pada liyon.



"Ganti semua seragamnya dan gaya mereka jangan bikin mereka seperti wanita yang mau menawarkan diri mereka begini." jawab liyon setelah melihat dan meneliti file itu.


"Kau ini, dari pada melihat dengan menggunakan kaca mata bukankah akan lebih baik kalau lampunya diterangi saja." ucap satria celingukan mencari tombol saklar.


"Bagaimana dengan 1 orang yang kamu bilang waktu itu apa sudah ada kabar dari pihak mereka siapa orangnya dan kapan akan datang?" tanya liyon menatap satria.


"Belum ada konfirmasi lagi, mereka hanya bilang kalau orang ini akan datang bareng dengan yang lain cuma tak akan gabung dengan mereka berenam." jawab satria.


"Ok, kau atur saja besok dan jangan lupa kita ada rapat bersama dengan para investor besok." ucap liyon dan dia keluar diikuti oleh satria.


"Kau sudah selesai Rid? Bagaimana apa kah ada balasan dari pihak mereka?" tanya liyon pada Farid yang terlihat sedang sibuk dengan pekerjaannya.


"Mereka sudah membalas dan katanya besok siang mereka akan mengadakan janji temu jika kamu mau." jawan Farid.


"Baiklah setelah rapat kita akan langsung menemui mereka secara langsung." jawab liyon dan duduk disebelah Farid begitu juga dengan satria duduk didepan Farid.


"Dan kau Sat, kapan hari pernikahan mu akan dirayakan. Bukankah kalian sudah lama menikah? Kau bisa menggunakan hotel baru kita sebagai pesta pernikahanmu bagaimana." tawar liyon pada satria.


"Kau tak akan meminta aku untuk membayar biaya sewa kan?" tanya satria dengan tersenyum.


"Tidak akan, aku hanya ingin kau segerah membuat istrimu hamil, kalian sudah menikah lama tapi masih saja tak mau hamil." jawab liyon dengan senyuman jail

__ADS_1


__ADS_2