
"Aduh sakit, kenapa kepala ku sakit sekali ya? Rasanya berat banget." gerutu Lira saat dia bangun dipagi hari.
"Selamat pagi non Lira, ini bibi buatkan minuman jahe buat ngilangin capek - capek." Bi Min masuk kedalam kamar mengantarkan minuman karena disuruh oleh Liyon.
"Hihihi, makasih ya Bi." ucap Lira nyengir karena malu ada bi Min sementara dia baru bangun tidur dan tak mengenakan baju.
"Iya, tapi kenapa kok lehernya dipegangi terus apa sakit?" tanya bi Min setelah meletakkan minuman di atas meja depan sofa.
"Iya, bangun tidur tiba - tiba saja sakit. Harusnya kan yang sakit lengan karena terluka ini malah kepala yang sakit." jawab Lira sambil memijat belakang lehernya.
"Sini biar bibi pijit agar sedikit ringan." ucap bi Min mendekat dan mengurut belakang kepala Lira.
"Tuan mudah sangat ganas ya non." celetuk bi Min
"Eh, kenapa Bi?" Lira bertanya merasa bingung.
"Ini punggung non Lira penuh dengan tanda merah kehitaman. Bibi gak nyangka kalau tuan muda jadi begitu sangat bersemangat kalau sama non Lira." ucap bi Min dan itu membuat Lira malu karena Liyon setiap kali main selalu membuat seluruh tubuh Lira rata dengan tanda darinya.
"Gak perlu malu Non, bibi justru senang. Karena dulu bibi berfikir kalau tuan muda itu orang yang belok arah karena bibi gak pernah sekali pun melihat tuan muda dekat sama seorang wanita, dan hanya dekat sama tuan Bagas, tuan Saputra, tuan Satria, bahkan sangat dekat dengan tuan Farid karena selalu mengurusi setiap harinya sampai - sampai urusan tidur. Dan bibi juga pernah lihat tuan muda selalu mengkonsumsi obat penenang dengan dosis yang sangat tinggi." sambung bi Min sambil mijitin Lira.
"Memang kenapa bi kok konsumsi obat penenang?" tanya Lira penasaran.
"Bibi juga tidak tau non. Bibi adalah orang yang merawat tuan muda sejak kecil. Terus karena suatu hal tuan muda pergi meninggalkan rumah dan tinggal di rumah tuan muda Lian dengan membawah bibi. Tiba - tiba setelah dari sini dan kembali lagi tuan muda jadi aneh sehingga bibi gak bisa mengenali sifatnya dan gak tau apa yang telah terjadi. Sampai akhirnya kembali kesini dan sudah bersama dengan non Lira." jelas bi Min panjang lebar menceritakan tentang Liyon.
Lira tanya banyak hal soal Liyon dan juga soal wanita yang pernah dekat dengan Liyon. Dan Bi Min dengan senang hati menceritakan semua yang diketahuinya pada Lira. Hingga karena terlalu asyiknya mereka tak tau kalau pembicaraan mereka didengarkan oleh orang yang sedang diomonginnya.
Liyon mencolek Bi Min agar pindah dan ganti dia yang memijat Lira, namun Bi Min tetap saja menjawab apa yang ditanyakan oleh Lira pada dirinya.
"Aduh, jangan keras - keras sakit Bi." ucap Lira dan memegang tangan Liyon yang sedang memijatnya.
"Liyon?" Panggil Lira yang tanpa melihat karena bisa mengenali tangan Liyon hanya dengan menggenggamnya.
"Begitu seru, ngomongin suami sendiri. Kalau ada yang ingin ditanyakan atau ingin diketahui dari ku kenapa tak tanya langsung padaku." ucap Liyon memeluk Lira, dan Bi Min keluar setelah melihat majikannya bermesraan.
"Kalau tanya sama kamu kan gak tau kalau nanti kamu jawabnya itu benar atau bohong." ucap Lira menatap Liyon.
"Apakah aku pernah bohong sama kakak? Aku tak pernah membohongi kakak" jawab Liyon mencubit hidung Lira.
__ADS_1
"Siapa bilang? Lah itu, kamu bilang kalau kamu steril tapi kenapa aku malah hamil." ucap Lira dengan kesal.
"Eh, kakak tau dari Satria ya?" tanya Liyon tidur terlentang disamping Lira sambil menatap langit - langit kamarnya.
"Iya, kalau kamu steril kan harusnya aku gak mungkin hamil." ucap Lira menatap Liyon penuh tanya.
Liyon menghela nafas panjang sebelum menjawab, lalu memiringkan tubuhnya menghadap Lira dan menatapnya penuh sayang. "Tidurlah." Liyon menepuk tempat tidur didepannya.
"Memang benar aku dulu steril setelah 3 bulan aku kembali dari Indonesia yang lebih tepatnya setelah aku bertemu dengan kakak." ucap Liyon menetap Lira, "Saat itu aku berfikir kalau aku gak mau salah langkah atau lebih tepatnya aku gak mau kalau nanti aku tanpa sengaja menitipkan benihku pada wanita lain selain kakak." Liyon menyentuh pipi Lira dan mengecupnya.
"Memangnya kenapa? Bukannya di sana ada malam yang bebas? Dan bukankah waktu itu kamu sangat berpengalaman." tanya Lira mengingat malam pertama yang dihabiskan bersama dengan Liyon.
"Tentu saja aku berpengalaman, karena setiap malam selama 3 tahun aku selalu bermimpi tidur dengan kakak dan selalu melakukan berbagai gaya setiap kali aku memimpikan kakak. Dan malam pertama itu adalah malam pertama ku juga. Kau yang telah merengkuh keperjakaanku dan yang menikmati ku untuk yang pertama kalinya." jawa Liyon dengan tersenyum genit.
"Aku melepaskan sterilan dan memperbaiki lagi kesehatan seperma ku saat melakukan perjalanan ke Beijing setelah aku tau kalau wanita itu adalah kakak, dan aku ingin menitipkan benihku pada kakak, karena harus kakak wanita yang akan menjadi ibu dari anak - anakku dan juga melahirkan semua keturunanku." jelas Liyon mengecup kening Lira.
"Kamu benar menyukaiku sejak dulu?" tanya Lira heran dan tak percaya kalau Liyon sudah menyukai dirinya sejak mereka belum saling kenal satu sama lain.
"Kakak pikir aku hanya bercanda? Aku menyukai kakak bahkan sebelum aku mengenal dan tau siapa nama kakak. Dan aku jadi makin menyukai kakak saat aku tau bahwa aku lah pria pertama yang menjemput kenikmatan malam pertama kakak." jawab Liyon tersenyum menatap Lira.
"Tidak, kakak adalah wanita pertama untuk ku dan pengalaman yang pertama dalam hidupku." jawab Liyon dengan serius, dan jawaban itu membuat hati kecil Lira merasa bahagia juga bangga.
"Kenapa, merasa bangga?" tanya Liyon menggoda Lira.
"Tidak, biasa saja." jawab Lira memalingkan wajahnya.
"Sebenarnya dulu ada seorang wanita yang mengejar ku dan ingin menjadi kekasihku. Sebenarnya dia adalah orang yang cantik, namun karena caranya salah membuat aku jadi ilfil padanya. Dan karena dia juga aku akhirnya membuka sterilan ku di Beijing dan ingin mengawali hidup dengan kakak serta membuat kakak hamil dan melahirkan anak ku." jelas Liyon dan Lira mendengarkan dengan seksama.
"Siapa dia, maksudku siapa namanya? Apakah dulu kalian sempat menjalin hubungan? Apa kamu pernah memiliki perasaan padanya? Jika sekarang kalian dipertemukan apakah kamu akan menyukai dia? Terus,,," Lira terdiam setelah jari telunjuk Liyon menempel pada bibirnya.
"Kenapa kakak bertanya begitu banyak. Aku harus menjawabnya dari mana dulu?" tanya Liyon dengan tatapan serius.
"Ya jawab satu persatu, aku siap kok mendengar semua jawabannya." jawab Lira dengan tenang.
"Aku tidak mau,,, aku mau menjawab semuanya sekaligus. Dan jawabanku dari semua pertanyaan kakak tadi adalah 'Tidak' aku tak akan pernah membiarkan dia masuk diantara kita. Karena cerita kita hanya ada kita saja tak ada yang lain lagi, dan ku harap kakak juga begitu." jawab Liyon dengan sangat serius.
"Jadi kamu tak pernah menyukainya ya?" tanya Lira lagi.
__ADS_1
"Tidak sama sekali, dia adalah adik dari Santo putri satu - satunya keluarga terpandang di Beijing. Asal kakak tau, walau aku sudah steril tapi aku tetap tak membiarkan wanita sembarangan menyentuhku, apa lagi menikmati ku. Aku pernah menahan semua rasa sakit karena pengaruh obat yang diberikan oleh Niyang dan mengusir wanita yang disiapkan oleh teman - teman ku, karena aku teringat kakak dan karena hatiku menolak untuk berhubungan dengan wanita itu." Liyon mengusap pipi Lira dengan lembut, "Aku ingin hanya kakak yang mengawali semuanya dan yang menjadikan pengalaman pertamaku untuk segala hal yang berhubungan dengan diriku." jelas Liyon dan mengecup kening Lira.
"Bagaimana bisa. Bagaimana bisa seorang Liyon yang hebat dan memiliki pengaruh dalam segala hal menyukai aku sampai seperti itu. Rasanya aku tak percaya dan tak mengerti segalanya." ucap Lira yang tak bisa percaya bahwa dirinya yang biasa saja bisa membuat orang sehebat Liyon memperjuangkan cintanya, sementara dulu Denis malah menghianati dirinya.
"Jangan salahkan aku yang mencintaimu sedalam dan sebesar itu. Tapi salahkan lah dirimu yang membawah pengaruh besar dalam diriku sehingga membuat aku jadi sangat menyukaimu dari pandangan pertama." jawab Liyon tersenyum sangat manis.
"Sebenarnya,,, aku melarang kamu mengumumkan pernikahan kita bukan karena aku tak mau dan tak suka dengan mu, tapi karena aku takut." Lira menghela nafas dalam.
"Takut dengan ku?" Liyon menyentuh dagu lira dan mengarahkan padanya agar bisa melihat wajah Lira yang tertunduk.
"Tidak, tapi aku takut dengan possisimu. Takut jika nanti aku dan Ferdi tak akan bisa hidup dengan tenang. Aku mempelajari Wushu juga karena aku ingin bisa melindungi Ferdi, dan aku mengajari Ferdi bela diri dasar juga supaya dia bisa menjaga dirinya jika nanti ada sesuatu yang tak diinginkan." jelas Lira dan Liyon tersenyum.
"Jadi apa itu artinya kakak menyukaiku? Karena selama bersama tak pernah sekali pun kakak bilang suka padaku, aku mendengar kalimat suka kakak hanya sekali saat kakak mabuk kemaren." Liyon berkata dengan menatap Lira dalam.
"Tidak, aku menyukaimu. Aku hanya takut dengan possisimu saja." jawab Lira dengan tenang.
"Sebagai wanita yang ku pilih kakak harus siap dengan segala resikonya. Dan sebagai wanitaku tentu aku tak akan membiarkan siapa pun menyentuh dan menyakiti kakak. Justru dengan kakak menjauh membuat aku sulit melindungi kakak secara langsung. Aku selalu meraasa tak tenang jika membiarkan kakak pergi hanya seorang diri saja, dan itu membuatku diam - diam mengirim orang untuk mengawasi kakak dari jauh." jelas Liyon dan Lira diam mendengarkan.
"Seperti kejadian kemaren. Bagaimana jika tak ada orang yang ku suruh mengikuti kakak diam - diam dan terjadi sesuatu pada kakak yang aku tak tau, aku tak akan sanggup jika harus kehilangan kakak dari hidupku yang tak bisa lagi ku gapai." Liyon menarik Lira dalam pelukannya.
"Maafkan aku, aku tak tau dengan kecemasan mu. Aku hanya berusaha melindungi diriku sendiri dan juga Ferdi saja tanpa memikirkan dirimu." jawab Lira membalas pelukan Liyon.
"Tak ku sangka dalam otak kecil ini ada begitu banyak yang dipikirkan. Mendekat lah pada ku dan jangan menjauhi ku agar aku bisa maksimal menjaga serta melindungi kalian berdua, orang - orang kesayanganku." Liyon menyentil kening Lira.
"Ayo menikah dengan ku secara resmi, aku ingin menunjukkan pada dunia kalau kakak lah wanita pilihanku." ucap Liyon mengajak Lira untuk mempublikasikan hubungan mereka.
Lira tersenyum menatap Liyon dan menganggukkan kepalanya. "Iya, ayo kita menikah secara resmi. Karena aku tak mau jauh darimu lagi." jawab Lira dan mendorong Liyon lalu naik keatas tubuh Liyon.
"Eh, aku bisa merasakan,,," Lira menempelkan jari telunjuknya dibibir Liyon.
"Aku juga bisa merasakan kalau kaki ketiga mu telah bereaksi." jawab Lira dengan senyuman menggoda.
Liyon tersenyum bahagia melihat Lira yang menyetujui kalau hubungan mereka dipublikasikan secara resmi. "Terima kasih atas kejujuran kakak, dan aku sangat mencintaimu serta menyayangimu." jawab Liyon tersenyum.
"Jangan lagi memanggilku kakak, karena aku adalah wanita mu." jawab Lira dan langsung memasukkan kaki ketiga Liyon kedalam gua miliknya.
"Ok sayang ku, bergeraklah buat aku menikmati permainanmu." ucap Liyon menarik dan melum-mat bibir Lira.
__ADS_1