
Setelah lari kesana kemari Bu Yulia kembali ke makam dan bersimpuh didepan batu nisan ibu lira dengan menangis dan keringat yang bercucuran.
"Kenapa mbak, kenapa lira tak mau menemui aku lagi? Barusan dia kesini kan, tolong katakan dimana dia sekarang mbak. Aku sangat merindukannya suruh dia untuk pulang, apa pun yang terjadi padanya aku tak akan marah padanya tolong, tolong aku mbak." Bu Yulia menangis sejadi - jadinya hingga jatuh pingsan.
Penjaga makam yang melihat bu Yulia pingsan langsung menghubungi ayah Bambang dan menceritakan keadaan Bu Yulia saat ini.
Seketika ayah Bambang langsung datang dan mendapati bu Yulia tertidur di pos penjaga makam, dengan susah paya ayah Bambang membangunkan Bu Yulia serta menenangkannya lalu membawahnya pulang kerumah.
...🍂🍂🍂...
"Mama aku mau makan soto, kita makan soto ya Ma." pinta Ferdi pada lira saat mereka mau mencari makan siang.
"Iya iya kita cari soto, Kita cari warung soto aja ya Meli." ucap lira dan mereka mencari warung soto untuk makan siang, karena Ferdi sangat suka dengan olahan soto.
Setalah selesai makan siang Lira langsung melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Jakarta, dan diawal perjalanan lira yang membawah mobil sebagai supir, sedangkan Meli dan Ferdi sebagai penumpang sedang bercerita dan bermain dengan sangat seru.
Lira sengaja tak mengunjungi ayah dan juga bu Yulia secara langsung dia hanya meninggalkan buket bunga mawar kuning kesukaan bu Yulia, beserta kata - kata yang dia tuliskan. Dan buket itu dikirim lewat kurir.
Setelah 5 jam perjalanan dan meli sudah terlihat segar karena habis bangun tidur ingin menggantikan lira untuk pegang kendali setir agar lira bisa istirahat.
"Mbak biar aku yang ganti nyetir mbak lira istirahat." ucap meli dan lira langsung menghentikan mobilnya ditepi karena dia emang sudah lelah.
"Meli nanti kalau ada warung makan atau restoran apa saja berhenti dulu ya karena aku sudah lapar." ucap lira dan meli mengiyakan dengan mengangguk.
Setelah kurang lebih berjalan 1,5 jam ada restoran, meli masuk kejalur restoran itu dan sekalian mengisi bahan bakar. Krena perjalanan mereka masih kurang 2 jam lagi.
Mereka bertiga turun untuk makan dan beristirahat sebentar sambil meluruskan kaki dan punggung yang terasa kaku setelah Berjam - jam diperjalanan.
"Ayo mbak kita lanjutkan perjalanan lagi, biar nanti nyampek rumah gak kemalaman." ajak meli pada lira.
Dan setelah istirahat sekitar 45 menit mereka pun melanjutkan perjalanan mereka lagi, karena lira merasa sangat lelah dia pun memilih tidur di kursi belakang dan Ferdi yang sudah tidur setelah makan diletakkan di kursi depan samping supir.
...🍂🍂🍂...
Di rumah orang tua lira Bu Yulia semakin histeris saat kurir pengantar buket bunga yang diminta oleh lira datang menyerahkan buket bunga itu pada Bu Yulia. Tangis bu Yulia yang tadi dengan susah payah di redam oleh ayah Bambang datang lagi.
"Lira,,,putri ku." teriak Bu Yulia memeluk buket bunga itu dengan sangat erat.
"Ibu ada apa lagi? Kenapa ibu seperti ini Bu." ayah Bambang langsung lari begitu mendengar Bu Yulia histeris lagi.
"Lira ayah, lira mengantar buket bunga untuk ibu tapi dia tak mau menemui ibu langsung." adu bu Yulia sambil menunjukkan buket bunganya.
__ADS_1
"Tenanglah Bu, lihatlah ini ada pesan yang tertulis." jawab ayah Bambang yang terlihat sangat tenang dan mulai membuka kertas yang diselipkan diantara tangkai - tangkai bunga.
Ayah, Ibu ini Lira. Tolong maafkan Lira ya? Lira benar - benar meminta maaf karena pergi meninggalkan kalian tanpa kabar.
Kali ini Lira sudah kembali tapi maaf masih belum bisa menemui ayah dan ibu secara langsung karena lira masih belum siap. Lira benar - benar minta maaf sama ayah dan ibu, lira sehat dan juga baik.
Ayah dan Ibu maaf sekali lagi untuk sesuatu yang mungkin akan membaut ayah dan ibu kaget, Lira tidak sendirian lagi Bu ada Ferdinan Putra buah hati lira. Ferdi adalah anak yang baik dan juga pintar Yah, Bu. jadi tolong terima dia karena dia sangat menunggu dan menanti untuk bertemu dengan nenek dan juga kakeknya.
"Bu cobak lihat ini, disini dituliskan kalau kita sudah punya cucu dan nanti kita akan dipertemukan dengan cucu kita, tapi sekarang Lira masih belum siap mungkin dia masih ada urusan atau ada masalah Bu." jelas ayah Bambang pada Bu Yulia.
"Jadi ibu tenang dulu dan kita tunggu saja, ayah percaya pada putri ayah dia pasti akan selalu menepati semua janjinya." sambung ayah Bambang menenangkan Bu Yulia.
"Jadi maksud dari isi surat Lira dia sudah menikah dan punya anak begitulah Yah?" tanya Bu Yulia pada ayah Bambang.
"Entahlah Bu, mungkin begitu. Kita juga belum tau pastinya, bisa saja kenyataan ini adalah palsu karena kita tak pernah tau yang sebenarnya." jawab ayah Bambang yang sebenarnya didalam hatinya dia juga sama seperti Bu Yulia menjerit dan meneriakkan nama lira dalam diam.
Kenyataan yang terlihat pada diri ayah Bambang yang begitu tenang dilihat oleh bu Yulia sebenarnya itu adalah palsu, sebab yang sebenarnya ayah Bambang juga sedang meneriakkan nama lira dan juga ingin berlari mencari tau keberadaan lira.
...🍂🍂🍂...
Ditempat lain lira tercebak dalam situasi yang sulit. Karena jalan utama ditutup karena ada perbaikan jalan jadi meli memutar lewat jalan lain sehingga lebih lama dan lebih jauh lagi, namun tiba - tiba saja dia dihadang oleh beberapa orang preman yang juga sedang menghadang mobil didepannya.
"Aduh ada apa Mel?" lira terkejud mendengar kaca mobil yang diketuk keras.
"Mama." Ferdi pun ikut kebangun dari tidurnya.
"I-ini mbak sepertinya mereka preman" jawab meli ketakutan.
"Loh kita lewat mana ini Mel?" tanya lira yang melihat situasi luar terlihat sepi.
"Tadi aku cari jalan alternatif mbak, karena jalan utama ada perbaikan." jawab meli.
Duk
"Cepat keluar.!" teriak salah satu dari preman itu.
"Bagaimana ini mbak?" tanya meli
"Bagaimana apanya." jawab lira dan Ferdi bersamaan, spontan itu membuat Meli melihat Lira dan Ferdi bergantian.
"Ferdi jaga Tante Meli, dan kunci pintu mobilnya." ucap lira dan dia keluar dari mobil.
__ADS_1
"Eh, mbak." Meli terkejud melihat lira yang dengan tenang keluar dari mobil.
"Apa mau kalian? Dan kenapa menghadang jalan kami." tanya lira pada 3 preman yang menghadang mobil lira.
"Oh nona kami tak mau kasar, kami hanya ingin kamu menyerahkan barang berharga yang kamu punya. Tapi jika kamu tak punya juga tak masalah asalkan kamu mau menemani kami untuk bermain ya gak kawan?" ucap preman itu dan bertanya pada 2 temannya yang lain.
"Hahaha tentu saja, kalau dia bisa memuaskan kita semua pasti kami akan memperlakukannya dengan lembut." jawab preman yang satunya, dan ketiga preman itu pun tertawa terbahak bersama.
"Boleh saja jika kalian mampu untuk menghadapai aku." jawab lira sambil tersenyum.
"Duh nona manis kamu pinter banget sih." ucap preman satunya lagi dan berusaha untuk menyentuh lira namun dengan cepat lira membuat tangan preman itu terpelintir kebelakang dan memukul titik syarafnya untuk melumpuhkan dia.
"Sial, kau mau cari mati ya.!" teriak preman yang melihat temannya dibuat kesakitan oleh lira.
"Majulah jika kalian dendam pada ku." jawab lira dengan seringai dibibirnya.
Tanpa basah basi kedua preman itu maju menyerang lira sehingga terjadi perkelahian satu lawan dua. Dengan lincah lira menghajar dan mengalahkan mereka berdua dan membuat mereka lumpuh. Entah titik syaraf apa yang dipukul oleh Lira sehingga membuat kedua preman itu tak bisa bangun lagi, sedangkan preman yang tadi tangannya diplintir oleh Lira juga tak bisa bergerak.
"Meli hubungi polisi sekarang, aku akan membantu yang didepan." ucap Lira
"Mbak Ani awas!" teriak Meli saat dia melihat lira mau diserang dari belakang saat lagi bicara dengan Meli.
Bruk.
"Preman jahat, berani sekali mau menyerang mama ku dari belakang." ucap Ferdi yang melesat dari belakang Meli dan memukul tepat pada batang hidung preman itu dengan balok yang tadi dibawah oleh preman yang telah dilumpuhkan oleh Lira.
"Anak pintar, hubungi polisi sekarang" ucap Lira dan memukul tengkuk preman yang tulang hidungnya dipatahkan oleh Ferdi, lalu Lira lari ke mobil depan membantu mereka menghajar para preman yang berusaha untuk menyita barang bawaan orang yang berseragam terlihat kalau mereka dari sebuah perusahaan.
Setelah Lira selesai menghajar dan memberi pelajaran pada para preman yang jumlahnya ada sekitar 8 orang itu mobil polisi pun terdengar mendekat. Lira kembali ke mobilnya dan akan meminta pada meli untuk melanjutkan perjalanan mereka karena polisi sudah datang dan juga para preman tak akan bisa bangun lagi.
"Mama menunduk dengan posisi kuda - kuda." teriak Ferdi lari kearah lira dan bersalto begitu dekat sama lira, lalu meluncur karena lompatan dan dorongan dari tangan Lira yang mendorongnya.
Brak.
Preman itu mendapat tendangan dari Ferdi dengan kedua kakinya dan langsung ambruk menghantam bak truk. Dengan cepat lira menangkap tubuh putranya yang melayang tadi dalam pelukannya.
"Berhasil." terlihat Ferdi dan Lira melakukan tos dengan tersenyum bahagia.
Meli dan 2 orang dari perusahaan melihat heran serta kagum dengan pasangan ibu dan anak yang begitu memukau dan juga sangat hebat, karena walau masih kecil Ferdi terbilang sangat berani.
Ya Lira telah mengajari Ferdi ilmu beladiri sejak Ferdi masih kecil, dan Lira juga belajar untuk lebih mendalami kemampuannya dengan mengenali titik - titik syaraf untuk bisa melumpuhkan musuh dengan sekali hajar.
__ADS_1