Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Pergi ke pantai 1


__ADS_3

Liyon dengan panik menunggu kabar pemeriksaan lira, dari sejak datang liyon tak berhenti mondar mandir didepan ruang ugd dengan tak tenang. Didalam hatinya terus saja bergejolak dan seolah ada sesuatu yang menyumbat rongga nafasnya sehingga membuat dia sulit untuk bernafas.


15 menit berlalu tak juga ada perawat atau dokter yang keluar, liyon terus menatap pintu ruangan dimana lira sedang dirawat. 45 menit berlalu dan itu membuat liyon jadi semakin tak sabar, ingin segerah menerobos masuk untuk bertanya.


"Tuan apa anda yang bernama liyon?" tanya seorang perawat yang akhirnya keluar.


"Iya benar, bagaimana keadaannya apa dia baik - baik saja?" tanya liyon tak sabar.


"Dia baik, dan sudah melewati masa kritis, namun masih belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius dengan dosis tinggi. Tapi sepertinya dalam ingatannya dia ingin bertumu anda karena dari tadi dia terus bergumam memanggil nama anda." jelas perawat itu.


"Apa saya boleh masuk?" tanya liyon lagi.


"Boleh tuan silakan." perawat itu mengijinkan liyon masuk untuk masuk melihat lira.


"Liyon." gumam lira liri dalam keadaan tak sadar.


"Apa dia benar - benar tak apa?" tanya liyon khawatir.


"Semuanya hanya luka luar tuan tak ada masalah, hanya lebam dibagian perut saja yang lumayan parah, dan sepertinya dia kena pukulan benda keras, kami tak tau pukulan itu melukai organ dalamnya atau tidak, kami harus melakukan pemeriksaan ulang lagi besok." jelas perawat itu pada liyon.


"Lira." liyon menatap dan menyentuh bagian dari tubuh lira yang dibalut oleh perban dan juga luka - luka memar yang jadi semakin kelihatan setelah dibersihkan dan dirawat.


"Ini pasti sangat sakit ya? Kenapa aku bisa sebegok ini hingga bisa kecolongan. Maafkan aku lira, aku berkata bisa menjaga dan melindungi mu namun nyatanya aku gagal." liyon menangis sambil menggenggam tangan lira.


"Liyon." gumam lira lagi.


"Iya sayang aku di sini, aku tak akan meninggalkan mu tidak akan pernah." jawab liyon yang pastinya lira tak akan bisa mendengar karena masih terlelap karena obat bius.


"Tuan biar kami pindahkan istri anda keruang rawat inap." ucap seorang suster dan liyon bangun, tapi sedetik berikutnya liyon oleng dan tumbang.


Beberapa perawat panik dan dengan segerah menangani liyon yang juga ikut jatuh pingsan karena kelelahan selama 1 monggu belum istirahat dengan benar.


Saat liyon tersadar dia sudah berada didalam ruangan dan cairan infus sudah terpasang di tangan kirinya. Liyon dengan panik bangun dan duduk mencari keberadaan lira yang tak dilihatnya.


"Bos mau kemana? Tuan Bagas bilang bos tak boleh bergerak." cegah anak buah liyon yang diminta untuk menjaga liyon.


"Dimana Lira?!" liyon bertanya dengan berteriak.


"Nyonya sedang menjalani pemeriksaan dan diantar oleh tuan Bagas." jawab anak buah liyon itu. Setelah mendengar itu liyon merasa sedikit tenang, namun dia berusaha untuk keluar mencari lira dan melihat lira sendiri


"Kau yakin tak apa?" tanya Bagas pada lira yang selesai melakukan pemeriksaan.


Sementara didalam kamar terdengar suara yang sangat ribut karena liyon yang ingin keluar dan melepas paksa infusnya dan dihalangi olah anak buahnya jadi terdengar sampai luar.


"Kau mau apa?" tanya lira yang didorong dengan kursi roda oleh Bagas.

__ADS_1


"Lira!" liyon langsung melompat dari tempat tidur dan memeluk lira dengan sangat erat, tindakan liyon itu membuat anak buahnya kalang kabut menggerakkan standar infus mengikuti login agar lepas dari tangan liyon.


"Maafkan aku, tolong maafkan aku yang tak becus dan tak berguna tolong maafkan aku, semua karena salah ku." ucap liyon sambil memeluk lira.


"Tak apa, aku tak papa." jawab lira menepuk punggung liyon.


Lira baru sadar sekarang kalau liyon tak menepati janjinya untuk merahasiakan hubungannya dengan dirinya, bahkan liyon pernah bilang didepan satria kalau dirinya adalah pacarnya, mengingat itu rasanya lira ingin memukul liyon dengan sangat keras.


Setelah 1 Minggu lamanya akhirnya semua keadaan telah kembali lagi normal, dan lira sama liyon juga sudah keluar dari rumah sakit setelah 1 minggu dirawat dan juga sudah kembali ke kota asalnya, dan mulai aktif bekerja lagi di kantor. Yang masih terlihat hanya luka dipergelangan tangan lira saja yang masih sedikit ada bekasnya.


"Wah lira aku tak menyangka kamu mengawal bos sampai mendapatkan luka seperti ini." Endang melihat bekas luka ditangan lira dengan sedih, sementara Safitri yang tau hanya diam dan menatap lira dengan sedih juga. Karena di perusahaan tersebar kabar kalau ada masalah dengan perjalanan bisnis liyon sehingga ada korban luka dalam pengawalan liyon.


Ya Safitri diminta oleh Farid untuk diam atas kasus penculikan yang terjadi pada lira karena tak mau keadaan kantor jadi semakin rumit, dan selama lira belum ditemukan Safitri juga diliburkan serta diawasi oleh anak buah Farid karena tak ingin ada hal buruk terjadi lagi. Alasan liburnya Safitri dikabarkan kalau dia sedang pulang kampung.


Setelah semua pekerjaan selesai dan semua orang telah pulang hingga tinggal Safitri dan lira saja yang dari devisi sekretaris, Safitri pun mendekati lira saat mereka hanya tinggal berdua saja,


"Lira." panggil Safitri ragu - ragu.


"Iya mbak maaf, aku juga nunggu yang lain pulang agar bisa minta maaf sama mbak Fitri." jawab lira saat Safitri memanggilnya.


"Mbak fitri tolong maafkan saya ya karena saya tak bisa melindungi mbak Fitri waktu itu dan malah saya terjebak disuatu tempat. Saya selalu memikirkan mbak Fitri ada dimana, saya sangat senang saat tau kalau Mbak Fitri tak apa - apa." jelas lira yang terlihat sangat lega."


"Iya aku yang harusnya minta maaf karena tak bisa membantu mu waktu mereka membawah kamu masuk kedalam mobil."


"Aku tak bisa berbuat apa - apa karena terlalu takut, andai waktu itu aku tak memanggilmu kamu pasti tak akan tertangkap oleh mereka." Safitri berkata dengan sangat menyesal dan menggenggam tangan lira yang terlihat masih ada bekas luka dipergelangan tangannya.


"Lira tapi kalau boleh aku tau apakah kamu dan bos sebenarnya punya hubungan?" tanya Safitri sedikit ragu.


"Oh itu sebenarnya karena aku adalah pengawalnya jadi dia merasa khawatir pada ku." jawab lira asal - asalan.


Safitri : "Tapi Lira aku lihat tak begitu, karena waktu mereka datang aku bisa melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau bos tak hanya menganggap kamu sebagai bawahannya saja."


Safitri : "Bahkan waktu di rumah sakit juga, aku yakin bos menyukai kamu. Apakah bos tak pernah mengatakan apa - apa padamu?"


Lira : "Mbak Fitri pasti salah menduga."


Safitri : "Tidak aku yakin dengan yang ku lihat, bos sangat khawatir pada mu dan rasa khawatirnya juga sangat besar hingga orang yang melihat pasti akan menilai sama dengan ku. Bos pasti menyukai mu lira. Mungkin bos masih belum bisa bilang padamu, aku sangat yakin kalau bos menyukai mu."


"Tidak mungkin, sudah ayo kita pulang Mbak." ajak lira dan saat bangun hanpon safitri terjatuh sehingga Safitri harus menunduk untuk mengambil hanponnya.


"Non Lira apa tidak pulang? Atau mau saya antarkan pulang?" tanya Farid pada lira saat Farid melihat bahwa lira sedang berdiri sendirian.


Setelah lira terus menyangkal dengan apa yang dikatakan oleh Safitri lira pun diam saat Farid dengan sengaja memanggil lira dengan sebutan nona saat lira sedang seorang diri, dan Safitri bisa mendengar dengan sangat jelas apa yang disebutkan oleh Farid merasa bingung dan bertanya - tanya.


Lira tersenyum menatap Safitri yang menatap lira penuh dengan tanda tanya karena Safitri sangat yakin antara bos-nya dan lira ada hubungan yang tak sederhana dan hanya diketahui oleh orang - orang terdekatnya saja.

__ADS_1


"Ah tuan Farid saya bisa pulang sendiri." jawab lira berusaha menghilangkan kecurigaan Safitri.


Melihat reaksi lira Farid terkejud saat tiba - tiba Safitri muncul dan berdiri disebelah lira. Farid langsung tersenyum dan meninggalkan lira juga Safitri.


Setelah itu lira dan Safitri pulang bersama sampai mereka berpisah di halte bus berikutnya karena lira turun lebih dulu.


Setelah 1 bulan pertanyaan dan kecurigaan Safitri pun hilang karena lira dan bos-nya terlihat biasa saja, tidak seperti pasangan kekasih atau orang yang saling menyukai. Hingga Safitri menganggap mungkin itu memang rasa khawatir seorang pimpinan terhadap anak buahnya saja.


"Aku dengar katanya kita ada darma wisata ke pantai, senang banget dong aku, karena bisa bermesraan dengan sang doi nanti di sana. Pantai kan sangat romantis." tutur Endang yang merasa senang karena setelah sekian lama akhirnya diadakan liburan bersama dengan orang - orang kantor.


...🍂🍂🍂...


Hari keberangkatan darma wisata liyon tak bisa berangkat bersama yang lain karena dia dan Farid mau menyelesaikan sesuatu pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan, dan akan menyusul setelah pekerjaannya selesai.


Semua orang berangkat bersama dengan sangat riang dan gembira, dan awalnya Safitri sekamar dengan Endang dan lira yang tadinya akan sekamar dengan pegawai lainnya jadi dioper lira sendiri karena pasangan lira tiba - tiba tak bisa ikut karena sakit.


Tok tok tok


"Lira?" panggil Safitri


"Iya mbak?" lira membukakan pintu dan mendapati Safitri berdiri didepan kamarnya.


"Aku tidur dengan mu boleh? Karena Endang ingin..." Safitri membisikkan sesuatu ditelinga lira dengan seketika lira mengangguk.


Keesokan paginya semua orang bersuka ria bermain dan berfoto serta melakukan kegiatan yang seru - seru.


"Lir..." Safitri yang mau memanggil lira untuk pergi makan malam bersama langkah kakinya terhenti karena dia melihat liyon yang memeluk lira dari belakang dan menc*um bahu lira.


Dengan pelan Safitri melangkah mundur perlahan dengan menutup mulutnya sendiri, Safitri berjalan sendiri ke arah aula tempat makan malam.


"Kenapa gak ditutup sih pintunya kalau ketahuan orang lain gimana?" gumam Safitri dalam hati.


"Mbak tadi katanya mau jemput lira kok gak datang padahal sudah lira tungguin." tegur lira yang baru saja datang.


"Eh iya maaf lupa" jawab Safitri bohong.


"Gak papa." lira tersenyum dan mulai mengambil makanan lalu dia makan bersama dengan Safitri dan Yanuar.


"Gak papa." lira tersenyum dan mulai mengambil makanan lalu dia makan bersama dengan Safitri dan Yanuar.


"Wah lihat bos datang." ucap Yanuar, lira dan Safitri pun langsung melihat kearah kedatangan bosnya.


"Bagaimana bisa baru datang, dan bagaimana mereka bisa bersikap biasa saja. Apa yang aku lihat tadi salah?" gumam Safitri dalam hati.


"Tidak, tidak mungkin salah jelas - jelas aku melihat tadi bos dikamar lira dan mereka..." gumam Safitri terhenti dan dia menatap lira yang terlihat cuek.

__ADS_1


Liyon bergabung dengan yang lain dan mereka semua bersenang - senang apa lagi yang lagi pacaran atau yang lagi proses pendekatan mereka menjadikan acara darma wisata dari perusahaan sebagai kesempatan untuk membuat moments romantis.


Didalam perusahaan liyon tak membatasi pegawainya untuk menjalani hubungan romantis asal mereka tak menurunkan performa kerja walau harus menjalin asmara di kantor.


__ADS_2