Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Mobil yang bergoyang.


__ADS_3

Malam itu bagaikan malam yang penuh dengan kesan untuk Liyon karena selama 1 setengah tahun dia hidup bersama dengan Lira yang sudah menyandang sebagai istri sah-nya Liyon sangat bahagia, terlebih Liyon telah diberikan kesempatan menjaga sang istri yang sedang hamil, karena saat kehamilan anak pertama mereka Liyon tak tau apa pun.


"Eh, sudah dibilangin tidur diluar dingin masih saja bersih keras mau tidur di luar, sekarang malah meringkuk." Liyon melihat Lira meringkuk disampingnya sambil memeluk lengan Liyon.


"Lucu banget, seperti anak kucing yang kedinginan saat tidur begini, namun saat tersadar dia sangat agresif dan juga Lincah. Aku tak tau setelah menjadikan mu sebagai istri ku kau sungguh sangat luar biasa dalam segala permainan dan selalu membuat aku menikmatinya sayang." Liyon melepaskan tangannya pelan - pelan dan memeluk tubuh Lira.


"Terima kasih ya sayang telah menemani aku dan melahirkan anak - anak untuk ku. Aku tak tau kenapa aku selalu tertarik ke arah mu, kau memiliki daya tarik yang sangat luar biasa bagi ku. Seolah kau adalah pengendali hati dan hidup ku." Liyon mengecup kening Lira dan memeluknya lagi dengan erat.


"Jangan bergumam seperti orang gila, apa yang sedang kau gumamkan." ucap Lira yang berada dalam pelukan Liyon.


"Kau sudah bangun sayang." Liyon tersenyum menatap Lira.


"Dingin, bawah aku kedalam." ucap Lira yang tubuhnya memang terasa sangat dingin karena dia tak mengenakan baju setelah permainan mereka semalam


"Siap, permaisuri ku." Liyon merapikan baju tidur Lira lalu mengangkat tubuh Lira dan membawahnya masuk kedalam.


"Liyon nanti kerja tak perlu kau antar aku mau berangkat sendiri karena aku mau ke rumah nenek dulu untuk mengambil sesuatu." ucap Lira saat mereka sarapan bersama.


"Tidak boleh, aku akan antar dan ke rumah nenek tunggu aku." Liyon berkata dengan tegas.


"Hei kamu kan sibuk, kata Satria kamu hari ini akan ada rapat sampai sore. Aku gak mau, ke rumah nenek bisa kemalaman kalau nunggu kamu." jawab Lira ngotot.


"Kalau aku bilang tidak boleh ya tidak boleh. Aku akan selesaikan dengan cepat. Aku gak mau membiarkan ibu hamil keluyuran sendirian." tegas Liyon dan Lira hanya bisa manyun dengan muka kesal.


"Sudah ayo aku antar, sudah jangan manyun gitu nanti aku cium loh." ucap Liyon menatap Lira yang tak bersuara.


"Hei, dasar bumil 1 ini hem." Liyon menarik kursi Lira langsung melahap bibir Lira dengan lembut.


"Jangan membuatku khawatir sayang, aku tau kamu bisa menjaga diri tapi aku tetap tak tenang. Aku ingin menjagamu sepenuhnya karena saat hamil Ferdi aku tak tau apa pun. Aku mohon padamu ijinkan aku menjagamu di kehamilan kali ini." ucap Liyon dengan lembut pada Lira setelah dia mengurai c*umannya.

__ADS_1


"Baiklah." jawab Lira singkat.


"Terima kasih sayang, nanti aku usahakan semuanya selesai dengan cepat. Sekarang ayo aku antar kamu kerja." ucap terima kasih Liyon dan mereka pun berangkat kerja bersama.


Sore itu sesuai dengan janji Liyon dia menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat karena mau mengantar Lira ke rumah neneknya, dan saat Liyon sampai di kantor Lira dia melihat Lira sedang berbincang dengan seru lewat panggilan telepon dengan putranya, Liyon mendekat memeluk dan menc*um pipi Lira.


"Ferdi?" bisik Liyon bertanya dan Lira mengangguk.


Terdengar Ferdi bercerita banyak hal selama ada di Beijing dan dia sangat senang tinggal dengan Tante Yuki juga om Lian-nya. Ferdi bercerita tanpa henti Lira hanya diam mendengarkan.


"Sayang apa kau sangat senang di sana?" tanya Liyon menyela cerita Ferdi.


"Papa, ya Ferdi sangat senang di sini." jawab Ferdi dengan riang.


"Papa juga sangat senang di sini, karena papa bisa menjaga dan merawat mama yang saat ini sedang hamil." jawab Liyon memberitahu kalau mamanya sedang hamil sekarang pada Ferdi.


"Jangan cemas, dia adalah putraku dia pasti akan menerima kehadiran adiknya dengan senang." jawab Liyon seolah tau kecemasan Lira.


"Ferdi mau pulang sekarang, mau ketemu mama sama adik yang ada di perut mama, gak mau papa yang menjaga. Nenek ayo pulang sekarang Ferdi mau ketemu adik Ferdi di perut mama, nenek.! Ferdi mau menjaga mama dan adik Ferdi, ayo kita pulang." terdengar Ferdi sangat histeris ingin segerah pulang, Lira tersenyum karena Ferdi menerima kehamilannya dengan sangat antusias.


"Sayang, sayang dengarkan Mama sekarang, Ferdi kan akan menjadi seorang kakak dan akan punya tugas melindungi adik, jadi Ferdi harus bersikap dewasa gak boleh menyusahkan nenek dan yang lainnya di di sana." Lira berusaha menjelaskan pada Ferdi agar dia tak histeris untuk minta segerah pulang.


"Kenapa mama tak bilang sama Ferdi, kenapa hanya papa yang dikasi tau?" tanya Ferdi dengan menangis karena dia tau belakangan setelah papanya.


"Sayang Mama juga baru tau seminggu lalu, dan karena yang ada di sini adalah papa maka mama ngasih tau papa duluan. Nanti Ferdi mau kan menghabiskan hari - hari sama mama terus kalau sudah pulang?" tanya Lira membujuk Ferdi.


"Iya mau, mama jangan sama papa terus." jawab Ferdi dengan terisak.


"Baiklah sayang, sekarang mama mau ke rumah nenek dulu kamu baik - baik di sana ya." ucap Lira dan Ferdi mengiyakan lalu memutus sambungan telepon.

__ADS_1


"Ya ampun dia putraku apa sainganku sih, cemburunya luar biasa dengan ku." gumam Liyon kesal.


Hari - hari berlalu dan kehamilan Lira sudah memasuki bulan ke empat, dan karena kembar perut Lira jadi terlihat lebih buncit dari pada hamil anak tunggal. Dan semua harinya Lira juga telah dikuasai oleh Ferdi seorang, Liyon hampir tak ada kesempatan untuk bersama dengan Lira, kecuali saat berangkat dan pulang kerja saja.


Sore itu Liyon akan membawah istri dan juga putranya makan diluar karena Liyon ingin menikmati akhir pekan bersama dengan keluarganya. Hari - hari terasa sangat damai bagi Liyon, tak ada keributan atau pun gangguan dari pihak luar yang ada hanya kedamaian yang sangat tenang.


Kadang kedamaian itu membuat Liyon merasa khawatir kalau nanti akan ada bom besar bagi keluarga kecilnya yang terlihat sangat bahagia ini, dan untuk itu Liyon selalu waspada serta dengan diam - diam memasang alat pelacak pada kalung yang diberikan pada Lira sebagai Hadian atas kehamilannya dan juga alat pelacak pada jam tangan Ferdi pada hadiah atas kenaikan kelasnya.


"Mama nanti Ferdi mau makan es krim ya? Karena Ferdi sudah lama tak makan es krim." pinta Ferdi pada Lira yang sedang duduk dipangkuan Lira.


"Iya, tapi gak boleh banyak - banyak." jawab Lira dengan tersenyum dan Ferdi membalas rasa terima kasihnya pada sang mama dengan memberinya kecupan di pipi mamanya.


Liyon tersenyum melihat 2 orang kesayangannya itu bercengkrama, keluarganya terlihat seperti keluarga pada umumnya dengan seorang anak kecil yang lincah dan seorang istri yang lembut. Siapa sangka Lira yang bagaikan mesin pembunuh itu terlihat sangat luwes dan juga lemah lembut bagai wanita yang tak berdaya.


"Eh, ma bukankah itu mobil om Satria." Ferdi menunjuk sebuah mobil Alphard putih yang terparkir di parkiran hotel Sanken.


"Oh, iya itu mobil om Satria." jawab Lira yang juga melihat mobil itu diparkir sedikit ke pojok yang tak dapat pencahayaan karena berada diujung parkiran.


"Hoe mau kemana bocah?" Liyon langsung menangkap Ferdi yang mau lari mendekati mobil Satria.


"Mau lihat, takutnya di mobil Om Satria ada malingnya Pa karena mobilnya dari tadi bergoyang - goyang, siapa tau ada maling yang berusaha mau mencongkel mobil om Satria." jawab Ferdi antusias karena mau menangkap maling katanya.


"Itu bukan maling sayang, tapi Om kamu sedang bermain." jawab Liyon membawah Ferdi pergi dari parkiran.


"Main apa Pa? Ferdi mau ikut kalau permainannya seru." jawab Ferdi penasaran.


"Tidak sekarang sayang, tapi nanti kalau kamu sudah besar bermainlah sendiri dengan wanita milik mu." jawab Liyon dan tersenyum menatap Lira.


"Satria benar - benar ya, tak bisakah menahan diri dan bermain di rumah? Masak iya harus didalam mobil, Yuniar pasti susah dengan perut buncitnya itu." gumam Lira dalam hati tak habis pikir dengan adiknya itu.

__ADS_1


__ADS_2