
"Selamat datang tuan, nyonya." sapa pegawai restoran hotel pada Liyon dan juga Lira yang datang.
"Panggil aku seperti biasa kamu panggil saja." ucap Lira dengan senyuman ramah dan menepuk bahu pegawai itu dengan lembut.
"Ah iya Bu Ani." jawab pegawai itu tersenyum malu
"Semua pegawai di sini begitu akrab dengan mu ya " ucap Liyon pada Lira.
"Ya karena sebelumnya aku memang uda akrab dengan mereka semua." jawab Lira santai
"Iya, aku sampai ingin mencongkel mata dan memuntir leher pegawai pria yang dari tadi menatap dirimu dengan senyum - senyum." jawab Liyon kesal.
"Aneh kau ini." jawab Lira tak peduli.
Liyon menempati ruang vip di restoran itu dan Ferdi bermain dengan bebas di situ, Ferdi lari kesana kemari karena Ferdi anaknya memang aktif dan tak bisa diam walau cara pandang dan sifatnya serta sikapnya lebih dewasa dari pada anak seusianya, namun tetap saja Ferdi masih anak - anak yang berusia 5 tahun yang masih suka bermain dan juga suka usil.
"Ferdi makan dulu sayang setelah itu main lagi." panggil Lira dengan nada penuh sayang pada Ferdi
"Iya Mama." Ferdi datang duduk di kursinya dengan tenang dan memakan makanannya.
"Papa, nanti saat pulang kita main mobil bergoyang kayak mobilnya Om Satria ya? Ferdi mau main mobil bergoyang." ucap Ferdi disela - sela makannya.
"Tidak bisa sayang, permainan mobil bergoyang hanya bisa dimainkan para orang dewasa, seperti om Satria dan Tante Yuniar. Mama dan Papa, kalau Ferdi nanti kalau uda besar baru bisa, kalau sekarang masih belum bisa sayang." jawab Liyon menjelaskan pada putranya.
"Kau bicara apa sih." Lira menegur Liyon dan Liyon hanya senyum.
"Putra kita ingin tau jadi apa salahnya kalau aku ngasih tau biar dia tau lebih dini." jawab Liyon dengan santai.
"Ferdi sudah jangan tanya yang aneh - aneh." tegur Lira pada Ferdi yang duduk disamping Liyon.
"Iya Mama, Ferdi cuma ingin tau saja." jawab Ferdi dengan senyum riang.
__ADS_1
Tempat makan itu memang ada permainan untuk anak - anak dan Ferdi bermain dengan sangat senang, serta sesekali Ferdi mendekati mamanya lalu mengecup perut mamanya yang buncit dan membelai dengan penuh sayang, seolah Ferdi sedang berinteraksi dengan adiknya yang masih didalam perut mamanya. Liyon yang melihat itu merasa iri, karena dia tak bisa melakukan itu sembarangan di tempat umum.
Sementara disisi lain Satria yang telah melepaskan dan meloloskan semua bendungan yang mengganjal di hatinya merasakan kenikmatan. Berkali - kali Satria mengecup kening istrinya yang bermandikan keringat.
"Terima kasih sayang dan maaf merepotkan kamu." ucap Yuniar pada Satria
"Tak apa sayang, untuk apa minta maaf. Aku kan memang milik mu, dan kamu berhak melakukan apa saja terhadap ku, kamu juga boleh meminta serta memainkan aku sesuka mu. Karena aku juga menyukainya." jawab Satria dengan menatap Yuniar penuh rasa sayang.
"Kita pulang sekarang?" tanya Satria pada Yuniar yang terlihat kelelahan.
"Iya, aku sudah capek dan gerah mau mandi." Yuniar menjawab dengan senyum penuh kebahagiaan.
Selama dalam perjalanan pulang Satria terus melirik pada Yuniar yang tertidur di kursi penumpang lewat kaca spion, Satria hanya bisa bergeleng - geleng kepala atas semua tindakan dan keinginan Yuniar selama dia hamil. Walau Satria bisa memenuhinya namun permintaan Yuniar selalu saja aneh. Mulai dari ingin makan masakan yang gosong, tidur di teras rumah, makan mangga langsung dari pohonnya, bahkan permainan didalam mobil dalam parkiran. Untuk permintaan yang satu itu Satria selalu dikejar dengan rasa takut ketahuan orang, karena bukan sekali dua kali Yuniar menginginkan hal itu, sehingga permainan mereka selalu seru karena penuh dengan tantangan tersendiri bagi Satria.
...🍂🍂🍂...
Keesokan harinya pada hari Senin Satria dan Farid bekerja dengan semangat begitu juga dalam menyelesaikan setiap pekerjaan yang diberikan oleh Liyon, mereka berdua seolah ingin cepat selesai dan cepat pulang kerumah. Liyon yang melihat dua orang kepercayaannya itu mulai sedikit berubah setelah mereka berdua menikah dan memiliki istri karena mereka selalu ingin cepat - cepat pulang ke rumah mereka masing - masing.
"Bos, tadi pagi ada telepon dari Singapura katanya dari nona Syakira. Dan mengatakan kalau 3 hari lagi mau datang dan ingin membuat janji dengan bos, jadi tanya bos bisanya kapan?" tanya Safitri pada Liyon.
"Halo,,," sapa Lira yang datang ke kantor Liyon tanpa pemberitahuan terlebih dahulu pada Liyon.
"Lira,,,"
"Mbak Lira."
Safitri memeluk Lira dengan erat begitu juga dengan Endang. Mereka seolah sedang bernostalgia, dan mereka bertiga bercerita banyak tentang segala hal hingga lupa waktu dan sudah memasuki waktu istirahat makan siang.
"Ya ampun sudah jam setengah satu saja, kalian sebaiknya istirahat makan dulu biar gak sakit aku mau lihat Liyon, dia didalam kan?" tanya Lira dan Safitri mengangguk.
Tok tok tok
__ADS_1
"Masuk." suara Liyon dari dalam ruangan.
"Hai,,," Lira menyembulkan kepalnya melihat Liyon dengan tersenyum manis.
"Eh, sayang kenapa kemari tak bilang - bilang." Liyon menyambut Lira dengan sangat senang.
"Sengaja, kalau bilang kan bukan kejutan namanya." jawab Lira tersenyum dan berjalan mendekati Liyon.
"Deg." jantung Liyon berdebar melihat Lira yang berjalan mendekatinya.
"Aku bawakan makanan, ayo dimakan dulu, setelah itu lanjut kerja lagi. Mungkin sudah dingin karena aku dari tadi ngobrol sama mbak Fitri dan Endang diluar." jelas Lira menata makanannya diatas meja.
"Ya ampun, hanya aku saja atau semua suami juga merasakan apa yang aku rasakan kali ini? Kenapa melihat istri ku yang lagi hamil dan perutnya yang buncit itu jadi terlihat begitu cantik, seksi dan sangat menawan." gumam Liyon dalam hati dan terus saja mengawasi Lira.
"Hei, ayo. Apa yang kau lihat?" tanya Lira yang melihat Liyon melamun dari tadi sambil menatap dirinya.
"Kenapa kamu sangat cantik dan menawan sih sayang. Aku jadi ingin memeluk mu." ucap Liyon mengungkapkan apa yang dia rasakan, bersalah mendekati Lira dan memeluk Lira.
"Bicara apa sih. Ayo makan, aku masak sendiri ini tadi." ucap Lira mendorong tubuh Liyon.
"Kemana Ferdi kok tak ikut?" tanya Liyon yang tak melihat jagoan kecilnya itu, yang tak pernah meninggalkan mamanya sendirian.
"Dia tadi dijemput sama papa, katanya mau diajak untuk mancing." jawab Lira duduk sambil mengusuk perutnya.
"Benarkah? Kalau begitu di sini saja temani aku, nanti kita pulang bareng. Kamu tak kembli lagi ke kantor kan?" tanya Liyon menatap Lira penuh dengan harap.
Setelah Lira mengiyakan permintaannya Liyon bekerja dengan sangat semangat karena ada Lira yang menanti dia. Didalam ruangan itu Lira sedang duduk membaca buku yang ada di sana, dan sesekali berdiri untuk melihat buku - buku yang lain dan memilihnya untuk dia baca lagi.
"Kenapa dia terlihat begitu menarik dan menawan sih, perutnya yang buncit terlihat sangat lucu. Apa waktu dia hamil Ferdi dulu juga terlihat seperti itu ya?" gumam Liyon, "Tunggu, apa waktu itu Rian juga melihatnya seperti ini? Apa Rian juga merasakan apa yang aku rasakan seperti yang sekarang aku rasakan ini?" Liyon bergumam dengan hati kesal membayangkan Rian juga pernah melihat Lira seperti keadaan dia saat ini.
Setelah beberapa lama Liyon tak melihat Lira mondar mandir untuk memilih buku lagi, dan saat dilihat ternyata Lira telah terlelap di sofa dengan sebuah buku ditangannya.
__ADS_1
Liyon bangun berjalan mendekati Lira, menatap dengan tersenyum lalu mengambil buku ditangan Lira dan mengangkat Lira untuk dipindahkan kedalam kamar istirahat Liyon didalam ruangan itu.
"Kau sangat cantik sayang, dan juga sangat menawan." ucap Liyon liri dan mengecup kening Lira lalu menyelimutinya.