
Tiit,,, titiit,,, titiiit
Saat Liyon menerima panggilan dari Farid dan menceritakan kalau Arlin habis mengalami kecelakaan ringan sehingga tak bisa balik hari itu tiba - tiba saja monitor yang menghubungkan dengan gelombang otak serta detak jantung Ferdi berbunyi dengan sangat nyaring, seketika hal itu membuat Lira panik begitu juga dengan Liyon.
"Liyon Ferdi, kenapa dia? Kenapa dengan alatnya, kenapa bersuara dengan cepat apa yang terjadi." Lira panik mendengar suara alat monitor berbunyi sangat cepat.
"Sayang, Ferdi ini mama nak. Sayang tolong jangan membuat mama takut. Liyon lakukan sesuatu.!!" teriak Lira dengan tangaisan yang sudah pecah.
"Aku,,, baik aku akan panggilkan dokter kau jaga di sini." Liyon juga ikut panik dan lari ke ruangan dokter yang menangani Ferdi saat Bagas tak bertugas.
"Liyon kenapa? Kenapa dengan Ferdi, Liyon, Liyon?!" suara Farid yang terdengar dari telepon yang ditinggalkan oleh Liyon terdengar ikut panik saat dia mendengar suara dari alat Ferdi dann teriakan serta tangisan dari Lira.
"Sayang tolong jangan tinggalkan mama, apa yang sakit? Apa kah kau kesakitan, Ferdi tolong kembalilah sayang." Lira menangis sambil menggenggam tangan Ferdi sangat erat dan menunduk disamping tempat tidur Ferdi.
Lira terus saja bergumam tak karuan karena dia takut kalau Ferdi akan pergi meninggalkan dirinya, air mata Lira telah membasahi penuh salah satu tangan Ferdi yang digenggamnya.
Perlahan Ferdi membuka kedua matanya dia berkedip berkali - kali karena berusaha untuk menangkap lingkungan yang ada disekitarnya. "Ma,, ma,,," suara Ferdi yang masih lemah terdengar memanggil Lira dan menggenggam balik tangan Lira yang menggenggam erat tangannya.
"Ma,,," suara Ferdi lagi berusaha membuat Lira sadar dari rasa sesak karena tenggelam dalam kesedihan dan pemikirannya sendiri.
Ferdi menarik tangannya yang digenggam Lira, sontak hal itu membuat Lira kaget lalu tersadar dan mengangkat wajahnya, menatap putranya yang sedang menatap dirinya dengan tersenyum dan menunjukkan lesung pipi yang menambah cakep wajah rupawannya.
"Ferdi, Ferdi sayang. Ferdi kau kembali nak, kau telah bangun." Lira memeluk tubuh Ferdi yang terasa semakin kurus dengan sangat erat.
Tangis Lira kembali pecah karena merasa lega dengan tersadar-nya putra pertamanya yang merupakan kekuatan dalam hatinya. Lira menumpahkan segala rasa senangnya dengan memberikan ciuman merata di seluruh wajah dan juga tangan Ferdi berkali - kali, seakan - akan dia bersyukur atas perjuangan Ferdi yang berusaha untuk tersadar kembali.
"Lira dokter sudah,,, da,,, tang." Liyon terbelalak lebar saat melihat putranya telah membuka mata dan menatap dirinya sayu dengan senyum kecilnya.
"Liyon putra ku telah kembali, dia telah kembali pada ku." Lira berkata dengan senyuman dan juga air mata kebahagiaan.
"Sayang jagoan papa." Liyon mendekat tersenyum dan juga menangis sama dengan Lira.
__ADS_1
Liyon memeluk Ferdi dan juga Lira dengan kuat, "Tak ada kebahagiaan di dunia yang melebihi kebahagian saat kita bisa melihat anak kita tersenyum kepada kita. Aku sangat bahagia, aku sayang kalian." Ucap Liyon sambil memeluk putranya yang baru saja sadar dari tidur panjangnya dan juga istrinya yang tercinta.
"Keajaiban, ini adalah sebuah keajaiban. Aku tak menyangka kalau dia bisa bangun secepat ini padahal kami sebagai tim dokter sedang meneliti apa hal yang bisa memicu reaksi otak dan juga rangsangan seperti apa yang harus diberikan" ucap dokter langsung mendekat dan memeriksa keadaan Ferdi.
Setelah diperiksa dan dinyatakan baik Ferdi masih harus tinggal di rumah sakit untuk beberapa hari untuk melakukan pemeriksaan penunjang lainnya sampai dia benar - benar dipastikan telah sehat dan bisa beraktifitas secara normal. Karena setelah tertidur 4 bulan lamanya Ferdi mengalami lemah pada otot kakinya, sehingga harus menjalani terapi secara berkala.
3 hari telah berlalu, setiap hati Kita dan liyon bergantian menjaga Ferdi di rumah sakit. Lira selalu datang disetiap pagi sampai sore dan Liyon datang sore sampai pagi datang. Mereka selalu melakukan giliran itu agar Ferdi ta merasa kalau dia diabaikan karena sudah ada adik - adiknya.
"Selamat pagi mama" sapa Ferdi dengan senyum cerahnya saat dia melihat Lira datang ke rumah sakit untuk menemani dirinya hari ini menjalani terapi.
"Pagi sayang, kamu sudah siap?" Lira bertanya dengan senyum dan mengusap kepala Ferdi penuh dengan rasa sayang.
"Iya Ferdi siap." jawab Ferdi dengan lantang. Dan mereka berdua pun pergi ke ruang terapi dengan Lira mendorong kursi roda Ferdi dengan hati - hati.
Sekitar 1 jam Ferdi belajar berdiri dan berjalan dengan bantuan alat sampai dia akhirnya bisa berjalan tanpa alat namun masih pelan dan hati - hati karena kadang jalannya masih oleng - oleng.
"Bagaimana dokter?" Lira yang menemani dan mengawasi langsung Ferdi setiap hari menjalani terapi bertanya pada dokter terapisnya soal keadaan dan perkembangan Ferdi.
"Semuanya bagus Bu Lira, tak ada masalah mungkin 3 atau 4 hari lagi Ferdi sudah bisa melepas alat bantunya secara total." jawab dokter terapis pada Lira, dan mendengar itu Lira merasa sangat senang.
"Sayang kamu harus sehat dulu baru pulang, mama gak mau kalau nanti ada apa - apa sama kamu. Bukankah kalau malam Ferdi ditemani papa sama Om Gali dan Om Suryo. Jadi Ferdi harus sabar ya." bujuk Lira pada Ferdi karena Lira gak mau kalau nanti Ferdi tau adik - adiknya bukan lah cewek melainkan cowok semua dan Ferdi syok yang akhirnya harus dirawat di rumah sakit lagi, jadi Lira ingin menyiapkan mental Ferdi untuk menerima kenyataan kalau adik yang selama ini dia tunggu tak sesuai dengan hasil USG.
"Baiklah, Ferdi akan berusaha untuk kuat dan bisa berjalan dengan cepat." jawab Ferdi dengan senyum polosnya.
Sesuai dengan janjinya Farid dan Meli telah tiba di tanah air dan langsung menuju ke rumah sakit untuk menjenguk Ferdi yang katanya sudah tersadar dari koma.
"Bagas, bagaimana dengan Ferdi?" tanya Farid saat sampai di depan rumah sakit dan berpapasan sama Bagas yang datang ingin memeriksa keadaan Ferdi.
"Farid." Bagas memeluk Farid lalu menjelaskan sambil berjalan ke arah ruangan Ferdi dirawat, karena ruangannya sudah dipindahkan ke kamar vip khusus perawatan.
"Akak,,," panggil Arlin saat dia melihat Ferdi.
__ADS_1
Dengan langkah tertatih Arlin berjalan menuju bed Ferdi dengan senyum yang mengembang dari bibir kecilnya, serta setangkai mawar yang digenggamnya.
"Eh, anak mama mau temu kangen sama kakak Ferdi ya?" tanya Meli yang sedang asyik ngobrol sama Lira dan melihat Arlin yang berjalan mendekati bed Ferdi padahal tadi Arli digendong oleh Surti.
"Ini." Arlin menyerahkan setangkai mawar pada Ferdi yang duduk tenang di bed-nya.
"Duduk dengan tenang ya sayang gak boleh menyakiti kakak Ferdi ok." ucap Meli yang mengangkat Arlin dan mendudukkan Arli didepan Ferdi.
"Akak, sakit." tanya Arli memegang tangan Ferdi dengan kata - kata cadel dan kurang jelas dari Arlin.
"Tidak, tidak sakit. Kamu terluka ya." Ferdi menyentuh kepala Arlin yang diperban.
"Sakit." Arlin tersenyum lalu mendekat dan mencium pipi Ferdi.
Semua yang melihat tersenyum melihat aktifitas dua bocah yang menggemaskan bagi mereka. Lalu timbul ide gila dari kedua mama mereka untuk mengikat kedua bocah itu dalam sebuah janji pernikahan saat mereka.pada dewasa nanti, dan para papa hanya bisa menyetujuinya saja.
"Senang kalau semuanya sehat dan juga selamat. Aku sangat bahagia." ucap Yuniar memeluk Meli dan Lira.
"Iya aku juga lega semuanya selamat." jawab Lira dan Meli mengangguk.
"Walau sebelah kakiku bukanlah kaki yang sebenarnya, namun aku sangat bangga dan tak menyesal karena sudah kehilangan kaki demi mencari bantuan dan menyelamatkan semua keluarga ku." Meli juga ikut menjawab dan ketiga wanita itu tertawa terbahak bersamaan.
"Aku tak peduli dengan yang lain, tapi aku tak bisa kehilangan kalian, karena kalian adalah kakak - kakak ku." sambung Meli lagi dengan tersenyum bahagia.
"Ya, kau adalah adik ku yang manis." Lira memegang pipi Meli dan menatapnya penuh rasa sayang seorang kakak pada adiknya.
"Hey, aku juga adik mu tau." ucap Yuniar dengan memanyunkan bibirnya.
"Iya, ya kau teman yang telah mencuri adik ku." jawab Lira memukul bahu Yuniar.
"Siapa suruh dia jatuh cinta pada ku." jawab Yuniar dan mereka kembali tertawa terbahak lagi.
__ADS_1
Melihat itu para suami merasa lega dan juga senang karena para istri mereka ternyata adalah orang - orang yang bisa pulih dengan cepat serta wanita kuat sehingga tak berlarut - larut tenggelam dalam kesedihan dan rasa trauma.
Bagi para suami istri mereka adalah matahari yang selalu memberikan sinar mereka dan juga menyalurkan energi, selama para istri bahagia dan tertawa lepas bagi para suami itu sudah cukup karena tawanya seorang istri menandakan kalau kebahagian akan selalu ada didalam rumah mereka. Dan senyuman istri adalah kebahagian bagi suami. Karena selama seorang istri bahagia maka cahaya rumah akan selalu hidup.