Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Jebakan


__ADS_3

"Om Li hari ini nenek sama kakek mau balik pulang kampung, Ferdi mau cepat ketemu sama nenek dan kakek Om." adu Ferdi memberi tahu Liyon masalah kepulangan nenek dan kakeknya.


"Eh, benarkah? Ferdi mau cepat - cepat ketemu sama mereka? Apa Ferdi tak mau mengantar mereka pulang? Kalau Ferdi mau Ferdi boleh sekalian mengantar mereka pulang." jawab Liyon sambil bertanya pada Ferdi.


"Ferdi ingin tapi Mama harus bekerja dan Ferdi masuk sekolah, Ferdi juga tak punya mobil yang panjang untuk mengantar kakek dan nenek." jawab Ferdi yang terlihat sedih.


"Mobil panjang? Kenapa harus mobil panjang?" Liyon bertanya dengan bingung dengan jawaban Ferdi.


"Iya nenek bilang datang kesini naik kereta dan kata om Satria itu adalah mobil panjang." jawab Ferdi polos.


"Dasar Satria kau membuat putraku jadi punya pemikiran aneh, apa dia sengaja ingin membuat putraku ini jadi begok seperti dirinya." suara hati Liyon dengan kesal.


"Om Satria mu tak tau apa - apa, jika Ferdi mau Om bisa membelikan kereta itu untuk Ferdi, tapi saat ini yang Om miliki adalah pesat pribadi dan helikopter. Tapi jika Ferdi ingin mengantar nenek dan kakek pulang Om bisa mengantar Ferdi dengan senang hati bagaimana?" jawab Liyon dan memberinya pertanyaan untuk mengantar.


"Sekolah dan kerjaan Mama bagaimana?" Ferdi bertanya dengan tertunduk dan menggenggam baju Liyon dengan erat.


"Soal Mama yang bekerja Om bisa memberinya libur karena Om adalah pimpinan ditempat kerja Mama, itu artinya Om adalah Bos Mama, dan soal sekolah kamu Om akan kirim orang untuk menyampaikan ijin mu ke sekolah. Dengan begitu semua beres." jawab Liyon dengan sangat tenang dan meyakinkan.


"Benarkah? Jadi Ferdi boleh mengantar nenek dan kakek pulang kampung? Dan Om akan ikut juga mengantar nenek dan kakek?" tanya Ferdi dengan wajah berbinar.


"Tentu, sesuai dengan keinginanmu Boy." jawab Liyon dengan senyuman dan genggaman tangan yang semakin erat pada tangan Lira.


Lira melirik Liyon yang menggendong Ferdi dengan satu tangannya dan berbincang dengan sangat akrab, dan senyum tanpa sadar terulas di bibir Lira.


"Sejak kapan dia jadi begitu dewasa dan keren, apa jika aku terus bersandar padanya aku akan bisa merasakan kebahagiaan." gumam Lira dalam hatinya.


"Lira." panggil Rian yang berjalan mengikuti Liyon keluar dari gedung olah raga milik lean.


"Apa kamu mau balik? Ayo aku antar karena ibu dan ayah mu mau balik sore ini kan?" tanya dan juga tawaran dari Rian karena dia yang membawah Lira kemari jadi merasa bertanggung jawab.


"Tidak Om Rian, Ferdi mau pergi mengantar nenek dan kakek untuk langsung pulang kampung bersama dengan Om Li dan juga Mama, karena Om Li adalah pimpinan dan Bos Mama jadi mengijinkan, Ferdi juga akan diijinkan ke sekolah sama Om Li." jawab Ferdi langsung mewakili Lira dan Liyon dengan sangat rinci.


Liyon tersenyum mendengarkan jawaban Ferdi secara langsung dan menolak Rian dengan sangat tenang dan juga tetap sasaran, sehingga Rian tak lagi bisa menjawab atau memaksakan dirinya lagi untuk mengantar mereka.


"Ayo Om Li nanti kita akan telat." ajak Ferdi dengan tak sabar.


"Jangan khawatir, tak akan ada yang berani meninggalkan mu." jawab Liyon dan berjalan melewati Rian.


Melihat dan mendengar jawaban dari Ferdi Rian hanya bisa terdiam dan mengepalkan tangannya karena dia pasti kalah dengan Liyon yang memiliki segalanya, apa lagi Liyon adalah ayah biologis Ferdi.


"Ikut Mama dulu Om ambil mobil." ucap Liyon yang mau menyerahkan Ferdi pada Lira.


"Ferdi mau ikut Om ambil mobil." jawab Ferdi mengeratkan pelukan tangannya dileher Liyon.


"Sayang Mama sudah jinak dan tak akan marah lagi sama Ferdi, karena Mama takut sama Om dan Mama juga sangat ingin memeluk Ferdi." ucap Liyon membujuk Ferdi dan dengan takut - takut Ferdi berbalik memeluk Lira dan berpindah ke gendongan Lira.


"Jangan kabur, karena aku pasti akan menangkap mu dan menghukum mu dengan kejam." bisik Liyon dan pergi kearah parkiran.

__ADS_1


"Masuklah sayang." teriak Liyon saat sudah berada tepat didepan Lira dan Ferdi.


Selama perjalanan Ferdi terus saja bertanya ini dan itu pada Liyon, dan juga terlihat sangat senang sehingga membuat Lira tak tega memisahkan dari Papa-nya suatu hari nanti, meskipun Lira masih belum menceritakan pada Ferdi yang sebenarnya.


"Keluarlah aku akan menghubungi Satria untuk menahan orang tua kakak agar tak pulang dulu, karena kita harus menyiapkan persiapan Ferdi dulu." ucap Liyon dan keluar dari mobil masuk kedalam rumahnya.


Setelah Liyon mengintruksikan pada semua orang yang ada di rumahnya dan juga menyiapkan apa saja yang harus dibawah oleh Ferdi yang ternyata sudah Liyon beli sebelumnya membuat Lira kaget.


"Ferdi sama Bi Min dan yang lain dulu ya karena Om mau bicara sama Mama." ucap Liyon dan Ferdi mengangguk.


"Kamu mau apa?" Lira memasang tubuh dengan waspada pada Liyon yang menariknya menuju kamar.


"Menurut lah kalau tak mau aku melakukannya di sini." ucap Liyon dengan terus menarik Lira masuk kedalam kamar.


Liyon menatap Lira degan begitu marah didalam kamar dan berjalan mendekati Lira, "Ayo mandi dulu sebelum berangkat karena tubuh kakak penuh dengan keringat." bisik Liyon pada Lira.


"Jangan macam - macam aku mandi di rumah saja." Lira mendorong tubuh Liyon


"Jangan membuang waktu karena putra kita menunggu di bawah." Liyon memeluk pinggang Lira.


"Minggir lah." Lira berjalan masuk kedalam kamar mandi.


"Li kau?!" Lira kaget karena Liyon juga ikut masuk dan mereka melakukannya didalam kamar mandi sambil mandi bersama.


"Kau benar - benar gila." ucap Lira kesal dengan penyatuan yang dilakukan oleh Liyon pada dirinya.


"Lakukan dengan cepat dan jangan terus menggigit punggung ku." jawab Lira dengan kesal pada Liyon.


Setelah selesai mandi Liyon membawah Lira dan Ferdi berangkat ke rumah nenek Satria untuk menjemput orang tau Lira yang mau pulang kampung.


Setelah semua berkumpul Liyon membawah semuanya kesuatu bandara yang disana sudah siap maskapai untuk mengantarkan khusus keluarga Lira dengan jet pribadi Liyon.


"Liyon apa - apa an ini?!" Lira dengan kesal bertanya.


"Aku tak mau membuat kalian capek dalam berjalanan." jawab Liyon merangkul pinggang Lira.


Setelah menjelaskan pada anak buahnya Liyon membawah rombongan keluarga Lira masuk kedalam pesawat, dan Ferdi terlihat sangat senang. Selama 1 setengah jam akhirnya mereka sampai di Surabaya dan Liyon langsung disambut dengan beberapa mobil yang menjemputnya untuk mengantarkan kerumah orang tua Lira.


...🍂🍂🍂...


"Ah itu terima kasih atas semuanya dan inilah rumah kami yang jelek ini, pasti tidak ada apa - apanya kalau dibandingkan dengan rumah kamu kan Bos-nya Lira." ucap Bu Yulia dengan sungkan pada Liyon.


"Tidak apa, tak masalah karena ini terasa sangat hangat." jawab Liyon tersenyum.


"Ya kamu istirahat dulu pasti kamu lelah." ucap ayah Bambang setelah melihat istrinya selesai menyiapkan kamar untuk Liyon.


"Iya terima kasih." jawab Liyon yang merasa canggung.

__ADS_1


"Rupanya dia bisa merasa canggung juga ya, namun kalau bersama aku dia bagaikan singa kelaparan." gumam Lira dalam hati yang mengawasi Liyon dan ayahnya berbincang.


Sehari telah terlewat dan Liyon sudah mulai bisa beradaptasi dengan orang - orang yang ada dirumah Lira. Dan ayah Lira yang membawah Liyon ke sanggar beladiri miliknya, disana Liyon banyak berlatih dengan para murid dari ayah Bambang. Semua murid ayah Bambang sangat mengidolakan Liyon dengan seketika.


Dan malam itu saat Lira sedang mandi Bu Yulia mengarahkan Liyon juga masuk dan mandi dikamar mandi yang sama dengan Lira, karena kamar mandi yang didalam sedang ada ayah Bambang mandi, jadi bu Yulia menyuruh Liyon mandi dikamar mandi luar yang berada disamping rumah. Tanpa disadari oleh Lira dan juga Liyon, mereka dengan kaget melihat satu sama lain.


"Liyon apa yang kau Lakukan?! Ini di rumahku." teriak Lira kaget melihat Liyon masuk dan berada didalam kamar mandi yang sudah bertelanjang dada.


"Ssst, diamlah aku tak tau kalau kakak didalam." Liyon pun juga terlihat panik karena dia mulai terpengaruh setiap kali melihat tubuh Lira, apa lagi saat ini Lira tanpa sehelai benang pun.


"Mama, kenapa Mama mandi bersama dengan Om Li?" tanya Ferdi yang membuka pintu kamar mandi dan melihat Liyon memeluk tubuh Lira.


"Lira, apa yang kalian lakukan?!" teriak Bu Yulia yang melihat Lira tanpa busana dalam pelukan Liyon.


"Ibu, ini bukan seperti yang ibu pikirkan." ucap Lira dengan panik.


"Apa yang tidak seperti aku pikirkan, kalian?! Dan kamu yang tanpa busana dalam pelukan seorang pria, apa yang harus ibu pikirkan lagi Lira.?!" teriak Bu Yulia dengan sangat marah dan murka.


Dengan cepat Lira memakai bajunya dan berusaha menjelaskan pada ibunya, namun semua tetangga sudah pada tau dan melihat kejadian Liyon dan juga Lira yang berada didalam makar mandi bersama dengan keadaan yang membuat semua orang berfikir negatif.


"Ya ampun apa - apa an itu? Jangan - jangan Lira memiliki anak juga karena hasil hubungan gelap."


"Benar - benar memalukan."


"Lalu siapa ayah dari anak Lira itu, jangan - jangan ayahnya banyak sampai tak tau siap."


Semua orang yang melihat pun ikut menghakimi dan menghina Ferdi yang hadir tanpa seorang ayah. Semua omongan itu membuat Liyon geram dan marah, namun Lira menahannya agar Liyon tak marah yang akan membuat suasana semakin runyam.


Lira berusaha menjelaskan semua kejadiannya pada ibu dan juga ayahnya dan beberapa tetangga atas apa yang sebenarnya terjadi itu tidak seperti yang mereka lihat. Namun orang - orang lebih percaya dengan penglihatan mereka secara nyata.


"Jika kalian memang sama - sama sendiri sebaiknya kalian menikah saja jangan sampa kalian membuat desa ini jadi kotor karena perbuatan kalian." saran dari pak RT


"Benar kalian harus menikah, karena bagaimana pun kalian sudah melihat tubuh satu sama lain." jawab warga yang menjadi saksi.


"Tidak, ibu tolong jelaskan kalau ini tak benar. Bukankah tadi ibu yang meminta Liyon masuk kedalam." Lira mencari pembelaan.


"Ibu tak tau kalau kamu masih berada didalam, dan ibu tak punya solusi untuk masalah ini. Mungkin benar jamuan harus menikah karena Bos mu sudah melihat tubuhmu yang tanpa busana." jawab bu Yulia


"Ibu?" Lira menatap ibunya.


"Kamu telah mempermalukan ibu Lira. Ibu dan ayah tak tau harus bagaimana lagi, dan menikah adalah solusinya." jawab bu Yulia tertunduk malu dengan menggenggam erat bajunya.


"Benar jangan berbuat zinah." teriak semua warga lagi dengan marah.


Liyon menelan salifanya dan dia tak menyangka kalau dia akan terjebak dalam situasi seperti ini, kalau bukan Lira menahannya Liyon sudah menggerakkan semua anak buahnya untuk menyelesaikan dan membungkam mulut orang - orang yang menghina dan merendahkan Lira serta mempertanyakan keberadaan Ferdi orang - orang kesayangannya.


"Cukup, sudah cukup. Aku akan menikahi Lira saat ini juga." jawab Liyon dengan nada kesal dan marah yang ditahannya.

__ADS_1


__ADS_2