
Setelah melahirkan Meli minta langsung pulang karena merasa baik dan tak ada yang dikeluhkan. Farid sudah meminta pada Meli agar dirawat di rumah sakit setidaknya sehari atau dua hari, tapi Meli menolak dan ingin agar cepat pulang dan mau istirahat di rumah saja.
Dengan terpaksa Farid pun mengikuti keinginan Meli untuk segerah pulang ke rumah, dan Farid pun mengurus semua pembayarannya agar Meli bisa segerah pulang sesuai dengan keinginan Meli.
"Nyonya Meli silakan duduk dulu biar Surti ambilkan obatnya." ucap Surti pada Meli yang baru datang kerumah bersama dengan Farid dan Surti yang menggendong putri kecilnya.
"Biarkan saya yang menggendong dia Mbak Surti." pinta Meli yang ingin menggendong putrinya yang sudah dia lahirkan 12 jam lalu.
"Tidak usah, kamu pasti capek. Sebaiknya kamu istirahat saja, setelah minum obat langsung tidur biar aku yang merawat dia." cegah Farid dan mengambil putri kecilnya lalu membawahnya masuk kedalam kamarnya.
"Halo nona Lira, bagaimana merawat bayi kecil yang baru saja lahir?" tanya Farid lewat panggilan telpon pada Lira.
"Loh sudah pulang kah? Aku baru mau ke rumah sakit besok untuk menjenguk kesana." tanya Lira yang kaget karena Meli langsung pulang begitu setelah melahirkan.
"Selalu perhatikan kenyamanannya dan sering - sering lah cek apakah dia buang air besar atau buang air kecil, lalu perhatikan asupan makannya, berikan dia minum setiap 2 atau 3 jam sekali. Begitu saja untuk awal - awal kelahirannya." jelas Lira dan Farid mencatat semua apa yang baru saja dikatakan oleh Lira.
"Oh, jadi dia ingin segerah pulang agar bisa menghubungi kekasihnya." gumam Farid yang keluar dan mendengar Meli sedang menelepon seseorang dan terdengar sangat senang.
Keesokan paginya Farid sangat sibuk dengan bayi kecilnya dan Farid mengurusnya dengan sangat telaten serta sabar.
"Tuan box bayinya sudah datang mau diletakkan dimana?" tanya Surti pada Farid yang sedang sibuk merawat putri kecilnya.
"Letakkan di kamar saja nanti aku siapkan sendiri." jawab Farid tanpa melihat Surti karena lagi sibuk memakaikan baju pada putri kecilnya setelah dimandikan. Dan Meli hanya bisa melihat dari jauh Farid sibuk dengan putrinya.
Hari - hari telah berlalu dan terlewatkan, kondisi Meli juga sudah mulai pulih dan membaik, tak ada lagi luka jahitan habis melahirkan. Namun malam itu Meli tak bisa tidur dia ingin melihat bayi kecilnya yang ada didalam kamar Farid. Sejak lahir Farid selalu merawat sendiri putri kecilnya dan Meli tak menyentuh sedikit pun karena Farid selalu mendominasi putri kecilnya itu sejak di rumah sakit.
"Aku tak bisa dengar suara mereka, apakah putriku tak menangis? Apa dia memang lahir untuk papanya? Apakah dia tak merindukan atau menginginkan aku sebagai ibunya, yang sudah mengandung dia selama 9 bulan pas, 1 bulan sudah terlewat tapi aku tak sedikitpun dibiarkan menyentuh putriku." gumam Meli menyentuh pintu kamar Farid.
Setelah sekian lama Meli berdiri didepan kamar Farid dan tak berani untuk mengetuk kamar itu, Meli pun kembali lagi kedalam kamarnya sendiri. Meli duduk termenung menatap pantulan wajahnya didalam cermin meja riasnya.
"Kamar ini disiapkan khusus untuk ku, seakan aku adalah orang yang numpang dan menyewa kamar ini." gumam Meli setelah mengawasi kamarnya.
"Tuan, apa benar dia akan melepaskan aku setelah 3 bulan kelahiran putri kami? Tapi kenapa harus menunggu 3 bulan, jika aku tak pernah diijinkan untuk mendekati putri kami sejak dia terlahir kedunia." Meli tengkurap diatas tempat tidur dan bergumam sendiri hingga tertidur.
3 bulan telah berlalu dan Meli sudah kembali aktif kuliah lagi untuk menyelesaikan waktu kuliah yang tinggal 1 tahun lagi. Kegiatan Meli sangat banyak diakhir - akhir ini karena dia harus melakukan penelitian dan juga magang kerja sebagai hasil laporan tugas akhir tahunnya.
...🍂🍂🍂...
"Sayang gadis kecil Tante sudah besar ya nak." ucap Lira yang sedang menimang putri kecil Farid yang diajak Farid main ke mansion Liyon karena mereka sedang ada pekerjaan sore itu.
"Kenapa kau begitu menyukai putrinya Farid, kita bisa membuat putri kita sendiri, ayo kita berusaha lebih keras lagi." ucap Liyon yang mendekat dan memeluk Lira dari belakang.
"Iya, aku juga ingin adik cewek yang cantik kayak mama." sambung Ferdi memberikan dukungan pada papanya.
"Oh, jagoan papa memang luar biasa." ucap Liyon mengangkat Ferdi tinggi - tinggi.
__ADS_1
"Aku suka melihat Liyon jadi sangat ceria tak lagi sedih dan murung seperti dulu." ucap Farid yang tersenyum melihat Liyon bos-nya dan juga sahabat sekaligus keluarganya itu bahagia.
"Apa kau mendukung kegilaan mereka?" tanya Lira dengan menatap tajam pada Farid.
"Tidak, bukan begitu." jawab Farid langsung dengan mengangkat kedua tangannya.
"Rid, jika kau susah menjaga putrimu kau bisa membawah dia ke mansion ini karena di sini lebih banyak orang yang bisa menjaganya nanti, jadi tak akan mempengaruhi kinerja kerjamu." jawab Liyon pada Farid yang selalu merasa khawatir karena meninggalkan putrinya dengan Surti saja di rumah.
"Apa tak apa seperti itu?" tanya Farid dengan senang.
"Tentu, kau bisa membawah Surti sekalian. Jadi Surti juga akan banyak yang membantunya di sini untuk menjaga putrimu itu." jawab Liyon.
Setelah lama bermain dengan Putri kecil Farid, Ferdi pun kelelahan dan tertidur disebelah Arlin yang juga terlelap. Nama panggilan putri Farid yang memiliki nama lengkap Farlinda Sukendar.
...🍂🍂🍂...
Sore itu sepulang dari kampusnya Meli langsung masuk kedalam rumah karena dia sudah diberi tau oleh Surti kalau di rumah tak ada orang karena tuan Farid sedang main ke rumah tuan muda Liyon, dan Surti sendiri sedang pulang kampung.
"Aduh sakit, kenapa belakangan ini aku merasakan pay*daraku jadi sering sakit dan juga membengkak ya?" gumam Meli yang sedang mandi dan melihat pantulan gambar dirinya di cermin.
Brrrt
"Halo Meli sedang apa kamu sayang? Bisakah kita ketemu sekarang karena aku sangat merindukanmu, kita sudah lama sekali tak bertemu." suara Denis dari sebrang telepon.
"Iya, sebentar lagi aku akan kesana. Kita janjian ditempat biasanya saja." jawab Meli dan mematikan sambungan teleponnya.
"Tunggu - tunggu, sabar ya sayang papa buatkan kamu susu dulu, jangan marah - marah begini. Putri papa yang baik dan juga cantik." ucap Farid berusaha menenangkan putrinya, namun tangis Arlin semakin keras dan juga tubuhnya jadi panas.
"Dia kenapa tuan?" tanya Meli yang sudah cantik dan siap untuk keluar ketemu sama Denis ditempat janjian mereka.
"Tak apa, aku bisa mengurusnya. Kamu punya janji ya? Sebaiknya kamu keluar saja tak apa." jawab Farid dengan santai, namun bagi Meli itu terdengar sangat dingin dan menyakitkan.
"Sayang, loh kenapa tubuhnya tiba - tiba jadi panas begini? Arlin, sayang." Farid panik, dan Meli yang hampir keluar rumah sempat mendengarkan juga sehingga dia mengurungkan niatnya untuk keluar dan ingin membantu Farid merawat putrinya.
"Kita ke rumah sakit ya sayang." Farid menggendong putrinya dan membawahnya ke mobil.
"Aku ikut tuan, biar aku yang gendong Arlin. Karena tuan akan susah juga menyetir sambil menggendong." ucap Meli dan dengan terpaksa Farid menyerahkan Arlin pada Meli.
Air mata Meli meluncur saling berkejaran karena dia merasa ada getaran dalam dirinya saat dia menyentuh tubuh mungil putrinya untuk pertama kalinya setelah melahirkan.
...🍂🍂🍂...
"Dokter, tolong putri saya.!" teriak Farid panik dengan berlari menggendong putrinya dan Meli mengikuti dibelakangnya.
"Bawah ke sini pak." ucap seorang perawat dan membawahnya ke ruang dokter untuk diperiksa.
__ADS_1
Tangis Arlin akhirnya berhenti setelah diberikan obat oleh dokter dan dipasang infus karena suhu tubuh Arlin sangat tinggi 38,7 derajat. Farid menyentuh tangan mungil Arlin yang dibebat dengan kain kasa dan terpasang selang infus menggantung di standard infus.
"Untung saja bapak dan ibu segerah membawah kemari, kalau sampai telat sedikit lagi putri ibu dan bapak bisa kejang karena mengalami demam tinggi." jelas dokter pada Farid dan juga Meli yang dari tadi menangis.
"Bu sebaiknya kalau ASI ibu lancar diberikan saja pada putri ibu karena ASI sangat penting bagi bayi dan juga bisa sebagai kekebalan daya tubuh, dari pada putri ibu diberikan susu formula." ucap dokter yang melihat bagian dada Meli basah karena ASI-nya keluar.
Mendengar penjelasan dari dokter Farid merasa tersentak dan juga bersalah pada putri kecilnya yang sedang terbaring lemah ditempat tidur rumah sakit.
"Maafkan saya bilang begini, sebaiknya sekarang ibu menyusui putri ibu ini karena saya lihat ASI ibu sedang produksi banyak. Karena kalau tak diberikan itu juga akan menimbulkan rasa nyeri dan tak nyaman pada ibu." jelas dokter lagi.
"Ba-baik dokter, terima kasih." ucap Meli ragu - ragu.
"Baiklah, nanti kalau ada apa - apa panggil saja saya diruangan dokter, saya permisi." ucap dokter itu dan keluar dari ruang rawat putri Farid bersama dengan perawat yang membantunya.
"Tu-tuan, bolehkan saya menyusuinya?" tanya Meli ragu pada Farid yang diam menatap putrinya.
"Bukankah tadi dokter sudah bilang, jadi lakukan saja karena itu penting untuknya." jawab Farid berdiri dan keluar dari ruangan itu.
Keesokan paginya kondisi Arlin sudah baik dan juga stabil sehingga sudah boleh pulang, karena dari hasil pemeriksaan tak ada tanda - tanda penyakit lain atau kondisi yang membahayakan.
...🍂🍂🍂...
Kegiatan Meli yang baru saat ini di rumah adalah memberikan asi untuk Arlin putrinya, karena asi Meli seolah selalu saja memproduksi berlebih, sehingga 8 jam saja tak diberikan asi itu sudah membengkak dan besar.
"Deg." Farid terkejud saat dia mau mengambil Arlin dikamar Meli, namun Meli yang sedang menyusuinya hanya menggunakan baju tidur tipis tanpa dalaman dan sedang tiduran miring sambil menyusui Arlin.
Dengan kondisi baju tidur yang sangat tipis dan tembus pandang itu membuat tubuh Meli terekspos dengan sangat jelas, terlebih lagi bagaian pay*dara yang lain juga terbuka den terpampang dengan jelas.
"Tuan, mau mengambil Arlin ya?" tanya Meli pada Farid yang berdiri diambang pintu kamar Meli.
"Oh, iya. Apa sudah selesai?" tanya Farid memalingkan wajahnya.
"Iya sudah dan Arlin sudah tidur. Tapi jika nanti mau memberinya asi lagi bagaimana? Apa saya harus menaruhnya dalam botol saja?" tanya Meli berjalan menyerahkan Arli pada Farid.
"Tidak perlu, kamu langsung masuk saja kedalam kamar. Karena aku tak mengunci pintunya." jawab Farid dan pergi membawah Arlin masuk kedalam kamarnya.
Benar saja jam 1 malam Meli terbangun dan merasakan pay*daranya nyeri karena penuh lagi.
"Aduh sakit, tapi ini masih 6 jam kenapa sudah penuh lagi." gumam Meli dan dia bangun menuju kamar Farid. Dengan pelan Meli membuka kamar itu dan dia mendapati Arlin sudah terbangun dalam box bayinya.
"Sayang, putri mama haus ya?" gumam Meli berbisik pada putrinya.
"Deg." jantung Meli berdebar sangat kencang saat dia melihat tubuh Farid yang terbuka dan menampakkan otot tubuhnya dengan sangat jelas karena suasana kamar itu sangat terang, juga sebuah sembulan dibagian ************ Farid karena piyama Farid yang tersingkap.
"Di-dia," gumam Meli menelan salifanya melihat penampakan tubuh Farid yang sangat menggoda bagi Meli.
__ADS_1
Dari sejak hari itu, hari - hari Meli jadi diisi oleh penampakan farid. Seluruh isi otaknya seolah hanya dipenuhi oleh Farid. Dan setiap mendengar nama Farid disebutkan atau melihat Farid secara langsung Meli langsung terbayang tubuh Farid yang kekar dan juga bagian kecil yang menyembul dalam ****** ******** Farid.
Satu perasaan yang tak dimengerti mulai muncul dari kecambah menjadi bibit - bibit yang mulai berbunga dan memunculkan bau harus dalam hati Meli untuk Farid. Terkadang Meli senyum - senyum sendiri saat dia melihat kedekatan Farid dengan putrinya, dan perasaan itu tak dapat dibendung atau dipungkiri oleh Meli.