Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Berbincang sama mertua


__ADS_3

Acara pesta yang diadakan oleh mama Li dan bu Yulia berjalan sangat lancar sehingga semua orang merasa puas serta bahagia. Saat semua orang sudah pada pulang Lira dan Yuniar sudah tertidur berdua di kursi belakang dengan saling menyandarkan kepala mereka berdua. Satria dan Liyon yang tau hanya tersenyum melihat itu.


"Entah kenapa kita bisa menyukai wanita - wanita ini, apa karena aku dulu sangat menyayangi kak Lira jadi ikut menyukai Yuniar juga yang merupakan teman dari kakak ku atau gimana ya?" gumam Satria menatap 2 wanita kesayangannya itu.


"Itu sih karena kau memang menyukai dia tidak ada hubungannya dengan kakak mu." jawab Liyon meledek Satria.


"Kau sendiri kenapa? Bagaimana bisa kau menyukai kakak ku sampai menjadikan dia wanita gelap mu disaat masih ada aku." kesal Satria pada Liyon


"Hei, kapan aku menjadikan kakak mu wanita gelap ku. Sembarangan saja kalau ngomong." jawab Liyon memukul bahu Satria.


"Lah kalau gak gimana bisa terlahir Ferdi, apa kau pikir Ferdi makhluk jelmaan. Benar - benar ya kau menjadikan kakak ku pelampiasan mu. Sejak kapan kau membuka sterilan mu itu sampai menanamkan bibit kecebong pada rahim kakak ku" Satria berkata dengan nada tinggi pada Liyon.


"Jangan bilang begitu, ya aku mengaku salah karena aku tak pernah bisa melepaskan kakak mu. Aku selalu tertarik kearahnya hingga membuat ku menggila dan melakukan banyak hal gila karena kakak mu itu. Tapi sekarang aku sudah menjadikan dia milikku seutuhnya, jika aku tak melakukan tindakan ekstrim hingga terlahir Ferdi aku tak akan punya alasan untuk mendapatkan dia setelah dia pergi meninggalkan diriku." jelas Liyon mengakui kesalahannya didepan Satria.


"Dasar, untung kau teman ku dan telah menerima kakak ku dengan baik jika tidak,,, maka dengan cara apa pun aku pasti akan menghancurkan mu." jawab Satria lagi yang dengan nada kesalnya.


"Kakak mu begitu cantik dan lembut aku menyukainya, namun kenapa dirimu begitu kasar dan mengesalkan sih." ucap Liyon sambil meminum minumannya.


"Kau pikir dirimu tak begitu, bahkan aku tau kau pasti menjebak kakak ku dengan cara licik mu itu." balas Satria.


Cplak


"Aduh." keluh Liyon dan Satria bersamaan.


"Kalian bukannya memindahkan istri kalian yang sedang tertidur dengan posisi begitu malah berdebat sendiri. Cepat pindahkan mereka, mereka bisa sakit punggung nanti." ucap mama Li dengan kesal pada Liyon dan Satria yang malah santai ngobrol sambil minum duduk didepan Lira dan Yuniar yang tertidur.


Liyon dan Satria pun mengangkat istri mereka masing - masing untuk dipindahkan ke dalam kamar. Satria membawah Yuniar ke kamar tamu yang sudah disiapkan dan Liyon membawah Lira masuk kedalam kamarnya di rumah itu.


"Liyon, aku capek bantu aku melepas baju." ucap Lira yang terbangun dari tidurnya.


"Kebangun ya sayang, maaf ya. Apa aku tak enak menggendongnya tadi?" tanya Liyon yang sudah meletakkan Lira ditempat tidur.


"Tidak, emang aku kebangun karena ingin buang air kecil dan lagi punggung ku sakit, ayo bantu aku lepas baju." ucap Lira mengangkat kedua tangannya dan berdiri didepan Liyon.


"Iya baiklah sayang ku, berputarlah ku buka dulu kancing belakangnya." Liyon pun membantu Lira melepaskan gaun yang dikenakannya.

__ADS_1


Cup,,, cup,,, cup


Liyon mengecup di sana sini pada tubuh Lira yang polos hanya tertutup dengan baju minim. Lalu Liyon mengelus perut buncit Lira dengan memeluk Lira dari belakang.


"Awas aku mau ke kamar mandi." Lira menepis tangan Liyon dan lari ke kamar mandi.


"Kenapa dia terlihat begitu seksi sih dengan perutnya yang membuncit begitu." gumam Liyon dan melipat asal gaun Lira tadi lalu meletakkannya di keranjang pakaian kotor.


...🍂🍂🍂...


"Haaaa, ya ampun capek banget." Meli yang baru nyampai rumah mengeluh.


"Mbak Surti langsung istirahat saja mbak, terus besok pagi gak usah masak karena saya mau pergi ke rumah papa. Jadi mbak Surti masak untuk mbak Surti sendiri saja, besok biar saja yang siapkan sarapan." ucap Meli pada Surti dan membawah Arlin masuk ke kamar.


"Aku mandi dulu ya sayang." ucap Farid memeluk Meli yang lagi menyisir rambutnya.


"Lah, kenapa pakai bilang? Biasanya juga langsung mandi begitu saja." ucap Meli bingung menatap Farid yang melenggang masuk kedalam kamar mandi.


Setelah Farid keluar dari kamar mandi ternyata Meli sudah tertidur dengan lelap sama Arlin yang menyusup masuk kedalam pelukan mamanya. Farid hanya bisa menghela nafas dalam melihat itu semua. Lalu ikut naik ketempat tidur dan berbaring disisi Arlin.


Esok paginya kegiatan Meli seperti pagi - pagi biasanya, dia menyiapkan sarapan untuk Farid dan Arli, lalu memandikan Arlin dan berangkat ke rumah papanya dengan dianter oleh Farid sebelum Farid berangkat kerja.


"Iya, tapi nanti rencananya mau menginap di sini." jawab Meli dengan tersenyum.


"Begitu, baiklah nanti aku bawakan kebutuhan Arlin kesini saat pulang kantor nanti." ucap Farid


"Tidak usah, di sini semuanya sudah ada. Sudah berangkat sana nanti dimarahi kak Liyon kalau berangkat telat." Meli mendorong Farid.


"Baiklah aku pergi dulu, dah sayang." ucap Farid mengecup kening Meli dan pipi Arlin.


"Hati - hati dijalan nak Farid." ucap pak Hendra pada Farid, karena pak hendra sudah pensiun jadi di rumah saja mengurusi bisnis propertinya.


"Ayo sini sayang cucu kakek ikut sama kakek yuk." ucap pak Hendra dan menggendong Arlin.


"Akek" ucap Arlin dengan tersenyum riang dan bermain sama pak Hendra sementara Meli pergi ke salon untuk memanjakan dirinya, letak salonnya bersebelahan dengan rumah papanya.

__ADS_1


"Ya ampun Meli aku tak menyangka kalau kamu akan menikah dan mendapatkan suami yang begitu tampan dan juga sangat luar biasa, dia adalah kaki tangan bos besar yang sangat sulit didekati. Ya ampun Farid itu sangat terkenal dikalangan wanita dia dingin dan sangat tegas sama persis dengan bosnya." ucap mbak salon yang sedang melayani Meli.


"Dingin, tegas dan sulit didekati sama persis dengan bosnya?" gumam Meli dalam hati sambil membayangkan tingkah Liyon pada Lira saat mereka hanya berdua atau hanya ada orang - orang terdekatnya saja.


Meli tersenyum dan merasa lucu dengan apa yang dia lihat dan apa yang dilihat oleh orang - orang. "Apanya yang dingin dan tegas, mereka memang sama persis. Sama - sama mesum dan jail, sama - sama tak mampu mengendalikan diri jika sudah waktunya. Dan yang tak mereka ketahui dari suamiku adalah dia itu orang yang amat sangat mesum tingkat dewa, karena dia pernah beberapa kali membuat aku bekerja keras dengan menyusui Arlin dan melayaninya sekaligus secara bersamaan." suara hati Meli.


"Oh, nak Farid sudah datang, apa pekerjaan begitu banyak?" tanya pak Hendra saat dia melihat Farid baru pulang kerja malam itu.


"Ya seperti biasa apa lagi ini akhir tahun Pa." jawab Farid agak sedikit canggung memanggil pak Hendra dengan sebutan papa.


"Hahaha,,, tak usah kaku begitu biasa saja, bapak kan sudah bukan atasan saya dan juga saya bukan lagi pegawai di kantor bos Liyon. Kita sekarang adalah keluarga. Mau minum bareng?" ucap pak Hendra yang sadar kalau Farid merasa canggung dengannya.


"Boleh, kalau begitu saya mandi dulu." jawab Farid tersenyum sambil menggaruk belakang kepalanya.


"Ya, ya ku tunggu." jawab pak Hendra menyiapkan minuman sambil duduk dikursi di samping rumah.


Setelah 35 menit Farid datang mengobrol sama pak Hendra dan juga saling bercerita bersama. Dan pak Hendra menceritakan soal Meli yang sangat nakal waktu masih kecil dan suka curi - curi untuk nonton film yang aneh - aneh sama teman - temannya, dan juga sangat mengidolakan Lira. Sehingga mempengaruhi dia ingin mengambil kuliah dengan jurusan yang sama dengan yang Lira ambil dulu dan juga belajar karate.


"Apa?!" Farid kaget mendengar cerita dari pak Hendra.


"Maksud papa Meli belajar karate? Tapi dia belajar dimana?" tanya Farid karena selama ini Farid tak tau tentang hal itu.


"Hem, dia sudah lama belajar saat dia bertemu dan melihat Lira juga putranya menghajar orang - orang yang menghadang mereka, dan setelah dia hamil dia berhenti." jelas pak Hendra.


Malam itu Farid dan pak Hendra menghabiskan malam bersama sambil berbincang dan minum, pak Hendra menceritakan banyak hal mulai dari cerita tentang Meli hingga cerita soal percintaannya dengan alm. mama Meli, sehingga membuat pak Hendra tak rela menggantikan posisi mama Meli dihatinya sampai pak Hendra kesusahan dalam menjaga dan merawat Meli yang mulai beranjak remaja.


Pak Hendra juga cerita kalau usaha properti yang sekarang dijalankannya ini adalah usaha yang dulu dirintis oleh mama Meli. Pak Hendra juga menceritakan alasan dia yang dulu memaksa Farid untuk menghabiskan malam dengan Meli saat Meli terkena pengaruh obat.


"Apa? Jadi papa sudah merencanakan semuanya, dan kebetulan itu terjadi makanya papa memanfaatkannya begitu?" tanya Farid yang mulai mabuk, "Haaaa, aku terjebak." keluh Farid.


"Hahaha,,, bukankah kau juga suka. Karena beberapa kali aku melihatmu dikantor suka curi - curi pandang pada putri ku jika dia datang mengantarkan berkas. Dan aku sengaja untuk selalu meninggalkan berkas ku agar diantar oleh Meli supaya aku bisa meyakinkan diriku kalau pak Farid tertarik pada putri ku dulu." jawab pak Hendra terbahak yang juga mulai mabuk.


"Hahaha,,, jadi aku ketahuan ya. Memang mata seorang papa tak bisa dibohongi. Tapi berkat itu aku jadi punya istri dan menikah dengan wanita yang aku sukai." jawab Farid terbahak.


"Ya, ya kau akan mengerti nanti rasanya jadi seorang ayah dari seorang anak gadis. Karena saat Arlin nanti beranjak dewasa kau pasti akan bingung dan takut melepaskan putri mu pada pria yang salah, sampai akhirnya kau akan jadi posesif pada putri mu sendiri seperti aku dulu." pak Hendra menunjuk pada Farid, "Tapi aku bersyukur sekarang aku telah memilihkan putri ku jodoh yang bagus seperti dirimu ini." sambung pak Hendra dan ambruk diatas meja.

__ADS_1


"Hei, bukan papa yang memilih tapi aku yang memilihnya. Duh kenapa sudah ambruk sih, aku belum selesai bicara." Farid menggoyang tubuh pak Hendra.


"Harus dipindahkan biar gak kedinginan." gumam Farid dan mengangkat pak Hendra untuk dibawah masuk kedalam.


__ADS_2