Berondong Nakalku Seorang President

Berondong Nakalku Seorang President
Wanita milik liyon


__ADS_3

"Gila, jadi selama 3 tahun itu wanita yang disukainya hingga dia memutuskan untuk steril adalah gadis tadi? Dan dulu liyon mengambil tindakan yang begitu besar dan nekat padahal dia belum tau apa pun soal gadis itu?" tanya Lian dengan tak habis pikir pada tindakan adiknya yang dinilai terlalu nekat.


"Sebenarnya aku juga baru tau saat ada di sini dan melihat beberapa kali mereka berhubungan dekat." jawab Farid.


"Liyon begitu nekat, bagaimana jika gadis itu sudah berkeluarga dan punya anak. Karena mereka beda 5 tahun, apakah sebegitu sukanya dia pada gadis itu? Aku tak bisa berfikir lagi." Brayen menggeleng geleng kan kepalanya tak habis pikir.


Mereka semua diam merenung memikirkan tindakan nekat liyon 3 tahun lalu dan juga kemampuannya bertahan selama ini. Suasana hening ruang tengah rumah liyon itu menjadi saksi bisu dari kebingungan mereka semuanya.


Sem|nyata didalam kamar liyon sedang berusaha menyalurkan dan menuntaskan hasr*tnya yang membuat dia tersiksa beberapa jam lamanya.


"Auw liyon pelan - pelan." ucap lira yang merasakan liyon terlalu kasar dan terburu - buru.


"Maafkan aku sudah tak tahan lagi." ucap liyon yang langsung mengarahkan senjatanya pada sarung lira.


"Aaah.! Lembut lah." keluh lira lagi dan itu membuat liyon semakin tersiksa, karena dia tak ingin menyakiti lira namun dia juga tak sanggup menahannya lagi.


Liyon meraup bibir lira agar lira tak lagi mengeluh dan berteriak kesakitan, dengan 2 kali hentakan senjata liyon melesat masuk. Triakan lira tak terdengar karena tertahan oleh bibir liyon, yang keluar hanya suara geraman lira saja.


"Maafkan aku sayang, aku tak mampu lagi bertahan tolong terimalah dan maafkan aku." bisik liyon dan memainkan permainannya.


"Lira, lira aku mencintai mu." bisik liyon disela sela permainannya.


Lira terlihat mulai menikmati permainan liyon dan itu membuat liyon semakin bersemangat dalam permainannya. Dan menguasai sepenuhnya tubuh lira.


"Lira." panggil liyon berkali kali setiap kali dia mendapatkan puncaknya.


"Aku lelah, apa dia masih belum puas juga?" gumam lira dalam hati yang sudah merasa lelah dengan permainan liyon yang tak juga selesai walau sudah hampir pagi. Dan liyon seolah tak ada bosannya mempermainkan tubuh lira yang sudah penuh dengan tanda cinta darinya hingga tak ada lagi tempat untuk menempelkan tanda cinta itu lagi.


Lira terlelap dalam pelukan liyon dengan sangat nyenyak. Liyon yang terbangun dengan keadaan segar tersenyum mendapati tubuh mungil lira yang meringkuk didalam pelukannya, dan hembusan nafas lira yang jangan menerpa dadanya membuat liyon semakin menyukainya.


Liyon mengecup kening lira dengan sangat dalam dan penuh sayang. Senyum kebahagiaan terukir sangat jelas di bibir liyon dan juga terpatri didalam hati liyon sangat dalam.


Liyon menyibakkan rambut yang menutupi wajah lira dan mengelus pipi lira, hingga membuat lira menggeliat dan semakin menyusupkan wajahnya di dada liyon, gerakan lira itu membuat liyon semakin bahagia dibuatnya.


Liyon memeluk lira lagi, "Terima salih lira kamu telah mengijinkan aku menyentuh mu dan mempercayai aku memainkan semua yang ada pada dirimu, mulai sekarang kamu adalah wanita ku. Wanita milik Liyon." gumam liyon dan tersenyum lalu ikut terlelap lagi.


1 jam berlalu liyon pun bangun dan menyelimuti tubuh lira. Liyon beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, dan didalam kamar mandi pandangan liyon menggelap serta tangan yang mengepal mengingat perbuatan yusnia padanya saat didalam mobil dan juga minumannyang diberikan oleh peramu saji padanya sebelum dia pergi mengantarkan yusnia pulang.


30 menit liyon keluar dari kamar mandi dan menuruni tangga, di sana sudah ada kakak dan juga temannya yang menunggu penjelasan dari dirinya mengenai kejadian semalam. Semua yang melihat bingung dan juga memiliki ribuan pertanyaan, lebih lebih mereka melihat raut wajah penuh dengan aura bahagia yang terpancar dari wajah liyon sangat terlihat dengan jelas.


"Aku tau kalian ingin bertanya pada ku soal semalam, aku akan menjelaskan tapi biarkan aku membuat sarapan dulu untuknya." jawab liyon seketika setelah dia sampai dilantai dasar dan berjalan kearah dapur.


Semuanya semakin bingung dan juga kaget, terlebih lebih Bagas, Brayen dan Lian. Ya, kakak liyon itu tak pernah tau sisi manis adiknya yang satu itu. Ekor matanya selalu mengikuti gerakan liyon dengan seksama dalam diam.



Liyon terlihat sangat senang menyiapkan sarapan itu dan itu membuat yang lain merasa heran.



Liyon menatanya dengan sangat teliti dan penuh perhatian.


"Manis sekali." gumam Yuki yang melihat liyon menyiapkan sarapan untuk lira.

__ADS_1


"Tolong antarkan ke kamar, letakkan saja di meja dan jangan bangunkan dia." perintah liyon pada bi min.


"Iya, aku mengerti." jawab Bi min dan langsung mengantarkan sarapan kedalam kamar lira yangbsedang tertidur pulas.


Bi min mendekati lira dan menatap wajah lira yang terlelap dengan sangat dekat. "Dia benar - benar cantik dan juga polos, semoga kebahagiaan selalu menyertai mereka berdua." gumam bi min lalu dia keluar dan menutup pintu dengan sangat pelan agar lira tak terbangun.


"Apa yang ingin kalian tau?" tanya liyon setelah dia duduk diantara mereka semua. Dan liyon melihat semua orang menatapnya dengan tatapan penuh pertanyaan, kecuali Farid yang tertunduk dengan beban dan rasa takut.


Liyon tersenyum melihat Farid, "Terima kasih, kamu tak perlu merasa bersalah. Berkat kamu aku telah bisa memiliki dia secara utuh kembali dan terima kasih sudah menghubungi dia untuk ku. Jadi kamu tak perlu merasa bersalah Rid." liyon menepuk bahu Farid.


Mendengar itu Farid merasa lega, seolah olah beban dalam diri terangkat dan dia tak lagi menunduk menyesali perbuatannya.


"Maaf aku terpaksa melakukannya." jawab Farid.


"Aku tau, dan tindakan mu tepat. Terima kasih." liyon tersenyum menatap Farid, dan Farid membalas dengan mengangguk.


"Apa kamu mengerjai dia sampai pagi?" tanya Bagas seketika dan membuat semua orang menatap Bagas.


Liyon terbahak, "Dia adalah wanita yang susah dan juga kejam, dengan kejadian itu aku jadi bisa melakukan permainanku dengan baik. Aku berterima kasih pada kalian yang mengawatirkan aku dan juga orang yang telah memberiku obat." jelas liyon dengan senyuman.


"Jadi siapa dia?" tanya Lian Dangan tatapan tajam.


"Haaaah." liyon menghela nafas dalam lalu mulai menceritakan kisahnya dari awal dia ketemu lira hingga sekarang berhubungan dengan lira.


"Maksudmu dia adalah gadis yang membuat mu gila dan menghindari semua wanita, hingga membuat aku berfikir kalo kamu itu belok?" ucap Brayen dan lagi lagi itu membuat liyon tersenyum.


"Ya dia lah orangnya yang membuat aku gila dan nekat melakukan tindakan tak masuk akal." jelas liyon santai.


"Dan sayang, bagaimana kamu bisa tau kalo liyon berhubungan dengan wanita itu? Kamu memerintahkan Farid memanggilnya seolah kamu sudah tau hubungan mereka sebelumnya." tanya Lian pada istrinya dan Yuki tersenyum


"Jadi kakak melihat kami? Dan itu sebabnya kakak bertanya soal lira sebelumnya pada ku, tapi berhenti saat mama mendekat serta menyuruh aku mengantar wanita itu pulang." ucap liyon dan Yuki mengangguk.


"Tunggu dulu lalu bagaimana dengan wanita yang dijodohkan oleh mama itu?" tanya Lian penasaran.


"Dia adalah yang licik, dia 1 tahun bekerja di perusahaan dan selama itu pula dia suka berganti ganti pasangan mulai dari kepala departemen hingga OB di kantor. Dia juga pernah berusaha memberi obat pada liyon dan merayu liyon." jelas Farid dan itu membuat liyon tersenyum.


"Haaaah, padahal dia terlihat seperti wanita lugu dan pemalu, tak ku sangka ternyata dia wanita seperti itu." Lian menghela napas dalam dan berkomentar mengenai yusnia.


Obrolan mereka terus berlanjut hingga tengah hari, pembahasan yang mereka lakukan membuat mereka tau kalo liyon tak bisa lepas dari lira dan juga tak kelainan.


"Sebenarnya aku penasaran siapa wanita itu, bagaimana jika adalah wanita yang sudah berkeluarga dan mempunyai anak. Kau bertindak terlalu jauh untuk wanita yang bahkan waktu itu belum kau ketahui identitasnya." tanya Bagas pada liyon dan tak habis pikir


"Jika punya anak aku tak masalah, namun jika berkeluarga aku yakin belum karena dia adalah wanita polos yang baik dan mudah dimanfaatkan serta ditipu." jelas liyon dan mengingat lagi kejadian pertama kali dia bertemu dengan lira.


"Hahahaha, kau memang punya selera. Tapi apa sekarang kamu sudah tau siapa dia?" Brayen ikut bertanya setelah terbahak mendengar jawaban liyon yang dirasanya konyol.


"Iya aku tau siapa dia, tapi aku tak mau menyelidikinya. Aku ingin dia sendiri yang menceritakan pada ku semuanya." jawab liyon dengan penuh keyakinan.


"Ah iya, aku akan lihat dia. Tolong jangan tertawaan dia saat bertemu dengannya suatu hari nanti karena dia orangnya sangat pemalu." ucap liyon dan beranjak menuju lantai 2 tempat lira tertidur.


"Dan jika tidak ada urusan kalian boleh pergi karena aku sudah tak apa dan baik baik saja." ucap liyon pada Bagas dan Brayen lalu menghilang dari balik tangga


"Dia benar benar teman yang tak tau berterima kasih, sudah dikhawatirkan malah menyuruh kita pergi begitu saja tanpa mengenalkan kita pada wanitanya. Tidak bisa, aku harus menunggu sampai mereka keluar dan menggodanya." tukas Brayen dengan geram.

__ADS_1


"Sudah sudah nanti kalian bisa bertemu dengannya, sebaiknya sekarang kalian pergi dulu karena aku mau meluruskan masalah dengan mereka." pinta Lian dan dengan terpaksa Brayen pun pergi bersama Bagas.


Dan didalam kamar liyon mendapati lira yang masih tak beranjak dari selimutnya, lira masih terbungkus rapi dengan selimutnya tanpa berpindah posisi pun, dan itu membuat liyon terpaksa mengusik tidurnya karena lira harus bangun untuk makan.


"Liyon biarkan aku tidur sebentar lagi." lira menggeliat dan masuk kedalam selimut lebih dalam.


"Baik kakak punya 2 pilihan, cepat bangun dan makan atau menemani aku bermain lagi." ucap liyon yang tangannya sudah bertengger di dada serta meremas gundukan kenyal milik lira itu dengan lembut.


"Tidak, iya aku bangun." lira langsung membuka matanya lebar dan duduk dengan tegap.


"Baiklah cepat bersihkan tubuh kakak lalu makan, aku sudah menyiapkannya dari pagi." ucap liyon yang mengecup pipi dan bibir lira sekilas.


Lira bangun dan langsung ambruk begitu dia menapakkan kakinya dilantai, seketika itu membuat liyon terkejud dan langsung mendekati lira.


"Ya Ampun kak, bagaimana bisa jatuh sih." liyon melihat ada memar di lutut lira.


"Kakiku lemas dan tak bisa berdiri untuk menopang berat tubuh ku." ucap lira dengan wajah sedih dan malu.


"Eh," liyon teringat kembali atas perbuatannya pada lira hingga menjelang pagi dan itu sudah pasti membuat lira kelelahan dan juga lemas.


"Maafkan aku kak, aku tak bisa mengontrol diri ku hingga membuat kakak seperti ini, Aku bantu kakak ke kamar mandi." liyon langsung mengangkat tubuh lira dan membawahnya masuk kedalam kamar mandi.


"Keluarlah aku.bisa mandi sendiri." pinta lira dan liyon langsung keluar.


"Nanti kalo sudah selesai panggil aku saja, aku tunggu didepan." ucap liyon dan lira mengangguk.


"Lira kau malu malu in, bagaimana bisa terjatuh sih." gumam lira didalam kamar mandi karena merasa sangat malu.


"Liyon kau gila ya, bagaimana bisa kau melampiaskan seluruh hasr*tamu sampai membuat tubuhnya lemah begitu. Benar benar bukan pria baik" gumam liyon mengusap wajahnya dengan kasar.


"Tapi aku memang tak pernah bisa mengendalikan diriku jika berhadapan dengannya, karena dia terlalu menarik." gumam liyon lagi dengan membayangkan permainannya semalam dengan lira.


"Aaaaah, sial." liyon sangat frustasi karena dia selalu tak bisa mengemdalikan diri jika dekat dengan lira.


Setelah selesai mandi lira berjalan dengan sudah paya mendekati tempat tidur, karena masih ada rasa sedikit nyeri diselangkangannya serta rasa bengkak sebab liyon bermain dengan penuh semangat hingga berkali kali sampai menjelang pagi.


"Kak, sudah selesai?" liyon membantu lira duduk ditepi ranjang dengan penuh sayang.


"Maafkan aku kak, sebaiknya Kakak melarang aku untuk mendekati kakak lagi saja. Aku takut tak mampu mengendalikan diri ku dan menyakiti kakak." liyon bersimpuh dengan melas dan meminta maaf sangat tulus pada lira.


"Tak apa, mungkin karena tak ada pemanasan jadi semuanya salah dan sakit. Tapi jika dengan urutan serta pemanas yang baik pasti tak akan sesakit ini." ucap lira dan itu membuat liyon terkejud.


"Maksud kakak aku masih boleh melakukannya lagi begitu? Dan tak ada larangan untuk melakukan dan menyentuh kakak sesuka ku?" tanya liyon dengan tatapan bingung dan juga senang.


"Iya tap jangan langsung seperti semalam." jawab lira dan itu menjadi angin sejuk bagi liyon, wajah liyon langsung berbinar seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah kesukaannya.


Cup


Liyon langsung menyerang lira, mendekap erat tubuh lira serta menikmati bibir lira yang lembut nan lembab setelah selesai mandi. Aroma harus menggelitik hasr*t liyon dan membangkitkan naluri prianya.


"Jangan lagi itu masih bengkak, apa kamu mau membuat aku terus baringan ditempat tidur karena tak bisa jalan." tolak lira menahan dada liyon.


Liyon tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya dan menggeleng, "Tidak mau, aku akan menikmatinya pelan pelan dan aku hanya akan melakukan ini untuk sekarang." ucap liyon dan dia menempelkan lagi bibirnya pada bibir lira.

__ADS_1


"Ayo makanlah aku akan mengeringkan rambut kakak." liyon membawah makanan kehadapan lira dan dia mulai mengeringkan rambut lira.


__ADS_2