
Dokter memutar pandangan melihat ke segala sisi. "Mana istrimu? Kenapa hanya sendirian? Istrimu sungguh keterlaluan!" Dokter itu melengos kesal pada seseorang yang tidak tahu rupanya.
"Jangan berbicara seperti itu tentang istriku, Dok. Dia sedang membantuku untuk menyalamatkan perusahaanku," sela Reza membela istrinya.
"Ekhem, maaf," ucap dokter itu dengan rasa malu. "Apa Kamu memiliki fotonya?"
Dengan cekatan dia mengambil ponsel, untuk memamerkan Aura kepada dokter yang telah menanganinya semenjak ia kecil. Lalu dia membuka galeri, memperlihatkan foto Aura. Wajah Aura di dalam foto tersebut terlihat sendu. Berbanding terbalik dengan Reza yang memperlihatkan rona kebahagiaan, karena telah mendapatkan gadis impiannya secara utuh.
Dokter melihat kejanggalan tersebut. Namun, dia tidak mengutarakan apa yang dia pikirkan. Karena Reza terlihat sangat bahagia.
"Kamu beruntung sekali mendapat istri yang jauh lebih muda ya?" ucap dokter hanya sekedar berkomentar.
"Iya, beda usia kami hampir sepuluh tahun." Reza mengelus pipi Aura yang ada di dalam foto.
"Setidaknya aku sudah mencatat memiliki istri muda menjelang usiaku yang semakin berkurang."
Dokter melihat Reza dengan tatapan panjang dan tertunduk. "Saya akan mengusahakan semuanya. Semoga ada jantung yang cocok secepatnya untukmu."
"Jujur saja, Dok. Berapa lama lagi aku bisa bertahan dengan keadaan jantungku yang seperti ini?" Dia menekan dadanya yang kembali terasa sakit.
"Kita usahakan untuk segera mendapatkannya. Mari berdoa saja! Semoga Othor memberi jalan agar jantung untukmu segera datang ke sini." Dokter mengelak lalu membelakangi Reza sambil menyeka sedikit air mata yang jatuh. Reza sudah seperti anak sendiri, karena sudah ditanganinya semenjak kecil.
"Katakan saja!" ucap Reza dengan tegas.
"Jika sudah menemukan jantung yang cocok, secepatnya kita akan melakukan operasi."
"Berarti umurku memang tidak lama lagi ya? Waah, gimana dong? Masa iya aku harus meninggalkan istriku dengan segera? Kami kan belum---" Reza menghentikan ucapannya.
"Baik lah, Dok. Dokter harus mencarikan jantung untukku dengan segera. Masa iya aku lebih dulu pergi dibanding Dokter?" Reza berusaha mencairkan suasana hati Dokter. Dia tahu, dokter tengah bersedih untuk dirinya.
"Dok, sepertinya aku sedang merindukan istriku. Aku akan melihat dia tampil untuk menyelamatkan perusahaan kami." Reza bersiap menelepon Abizar.
"Oh, kalau begitu saya menengok pasien yang lain. Untuk sementara, Kamu harus memperbanyak istirahat."
Reza hanya melihat punggung Dokter menghilang di balik pintu, menyeka air mata yang sedari tadi ditahannya. Sebenarnya dia lah yang paling takut menghadap maut.
__ADS_1
'Seharusnya dulu tidak pernah memaksanya untuk menikah denganku. Menikahinya sesaat untuk ditinggalkan. Ah, membuat status janda pada usianya yang sangat muda. Tidak boleh! Aku harus bertahan.'
Reza segera menelepon Abizar. Meminta Abizar untuk fokus menampilkan Aura saat tanpil di depan Mr. Adams. Dengan wajah kusut, belum mandi, tanpa make up, dia tampil dengan percaya diri. Tak lama sang ibu masuk menemani Reza.
💖ðŸ˜
Aksa sedang berada di atas kereta, menuju kota tempat Aura berada saat ini. Dia merasa sangat khawatir, mengapa panggilan dari gadis itu tak juga tersambung. Meski Aura sudah meminta Aksa untuk tidak menemuinya lagi, akan tetapi hatinya menolak. Dia masih ingin menemui perempuan itu.
Ucapan Eko, teman sekolahnya, masih terngiang-ngiang di telinga Aksa. Meski dia tidak memercayai berita tersebut, dia ingin menanyakannya langsung kepada Aura. Setelah sampai di stasiun, Aksa langsung menuju rumah indekos Aura. Aksa melihat beberapa penghuni kos mondar-mandir keluar masuk rumah tersebut.
"Permisi, apakah Auranya ada?" tanya Aksa menangkap salah satu penghuni kos tersebut.
Anehnya, perempuan yang ditanya itu mendengkus, dan berubah menjadi kesal. "Saya tak tahu, tanya saja sama yang lain!" ucapnya dengan ketus.
Aksa merasa sedikit kicep, lalu menganggukan kepala. "Maaf, sudah mengganggu," desisnya berlalu.
Lalu Aksa menanyakan kembali, kebetulan bertemu dengan teman kos yang pernah dikenalnya dulu. "Halo, Mbak. Apakah Aura-nya ada?"
"Aura?" Kebetulan Aksa bertemu dengan Kak Fan. Kak Fan yang menolong Aura membongkar pintu jendela.
"Kalau boleh tahu, sebenarnya Kamu ini siapa bagi Aura?"
Aksa merasa tercekat. Tidak mungkin dia mengaku sebagai pacarnya lagi. Sementara orang yang ada di hadapannya ini sudah mengetahui Aura sudah memiliki kekasih yang baru.
"Aku dan Aura itu satu kota asal. Hanya saja akhir-akhir ini dia tidak bisa dihubungi. Saya hanya ingin mengecek keadaannya. Kalau boleh tahu, kenapa Aura dibawa rumah sakit? Apa yang terjadi?"
Kaf Fan seakan mengangguk mendengar penjelasan Aksa ini. "Kurang tahu juga sih. Sebelumnya telah beberapa hari dia tidak kembali. Tau-taunya tadi malam dia kembali, dan suasana heboh sekali waktu itu. Aura kayak pingsan, dan pacarnya itu juga pingsan."
"Oh, iya. Kata warga ada maling yang mengikuti mereka. Jadinya begitu, mereka berdua sudah dibawa ke rumah sakit," jelas Kak Fan.
"Apa aku boleh tahu, rumah sakitnya ada di mana?"
Kak Fan terlihat sedikit berpikir, informasi yang ia dapat kurang maksimal. "Kurang tahu juga sih dibawa ke rumah sakit mana. Soalnya mereka dibawa oleh supir pribadi gitu."
Tubuh Aksa seakan melemas lesu. "Jadi bener-bener tidak tahu, Mbak?"
__ADS_1
Kak Fan menggeleng, "Nggak, tahu." Aksa pun tertunduk. Mengangguk sejenak, lalu membalikan badan.
"Nah, itu Aura!" ucap Kak Fan.
Mata Aksa melihat sosok gadis yang sangat dirindukannya tercenung menghentikan langkah. Aura kembali dari Harmony Grup untuk membersihkan diri menjelang balik ke rumah sakit.
Aura menggelengkan badan, berjalan mundur dan berbalik lari dengan kencang menggunakan kaki pendeknya. Aksa mengejar gadis itu dengan kaki panjang miliknya sehingga dengan mudah menyusul Aura.
Aksa menjangkau tangan Aura yang terus berlari meninggalkannya. Akhirnya Aksa berhasil menangkap Aura dan menarik masuk ke dalam pelukannya. Aura meronta, mendorong Aksa.
Dia kembali menggeleng pergi meninggalkan Aksa. Aksa terus mengejar menggapai tangan gadis itu, namun ditepis dengan tegas. Aura menghentikan langkahnya masih menggelengkan kepala.
"Kenapa Kamu ke sini? Bukan kah aku sudah memintamu untuk tidak menemuiku lagi?"
Aksa menarik Aura, agar gadis itu bicara tepat menghadapnya. Gadis itu masih menggelengkan kepala menepis tangan Aksa. Aura hanya menunduk, tidak mau melihat mata Aksa.
"Kenapa Kamu hanya menunduk begitu? Aku di sini, tepat di hadapanmu."
"Baik lah, ayo kita berbicara kembali sampai tuntas!" Aura mengajak Aksa berbicara di tempat kesayangannya. Dia memilih duduk di gazebo tepian danau buatan yang hampir menenggelamkannya beberapa waktu lalu. Sudah setengah jam mereka saling membisu tanpa suara.
"Sekarang bicara lah! Kenapa Kamu hanya diam saja?" ucap Aksa berjongkok di hadapan gadis itu yang hanya menunduk.
"Aku mohon, Bang. Jangan seperti ini! Jangan menemuiku lagi! Aku ini sudah menjadi milik orang lain! Cari lah gadis lain yang lebih pantas untukmu!"
"Aku akan bertahan!"
**Ayo, readers yang baik hati. Mampir juga ya di karya sahabat Author. Karya bergenre romansa Fantasi. Siapa tahu readers menyukai kisah fantasi ISEKAI
nama pena authornya: RYBY
judul: Antagonis Novelku Adalah Suamiku
Jadi juara 1 pada event lomba Yang Muda Yang Bercinta kemarin Lho?
Karya Author waktu itu: Detektif Muda, tapi tidak masuk list pemenang... wkwkwkkw**
__ADS_1