
"Hah? Keguguran? Emang udah jadi aja?"
Aura loading beberapa waktu. "Dulu sekolah jurusannya apa?"
"Aku? IPA ... dooong ...!" pameer.
"Tamatnya udah berapa tahun yang lalu?"
Reza menggaruk dagunya yang tak gatal. "Sepertinya udah sepuluh tahunan yang lalu."
"Masih ingat materi Biologi alat-alat reproduksi wanita?"
"Udah deh, jangan berbelit malah membuatku pusing. Coba katakan langsung! Kenapa bisa keguguran? Kita aja kurang dari dua puluh empat jam berbukanya."
Reza seperti tercekat, menginginkannya kembali. Menatap Aura dengan wajah memohon. Namun, sang istri mendorong Reza.
"Jangan mendekat! Pintunya aku segel dulu dengan pasword!"
"Hah?"
"Tolong belikan aku roti tawar! Buat yang malam dan siangnya beda ya!"
"Hah? Sekarang?"
"Tahun depan!" Aura menggerutu seakan merasa gemas menjelaskan kepada seseorang yang tiba-tiba menjadi lemot ini.
"Kanda, belikan sekarang juga yaa?"
"Beli apa tadi?"
"Roti tawar!"
"Hah?" Reza sedang loading memikirkan hubungan alat reproduksi dengan roti tawar.
__ADS_1
"Iya cepat buruan di belikan ya! Aku mau membersihkannya dulu!"
Reza menggaruk tengkuk karena bingung. Memikirkan merk roti tawar yang akan dibelikan untuk istriya. Dalam waktu sepuluh menit kemudian, Reza kembali membawa satu kantong penuh roti tawar berbagai merk beserta beberapa botol selai. Dengan santai menyiapkan roti tersebut di atas meja.j Aura pun muncul usai mandi masih dalam handukan.
"Waah, Kamu tahu aja aku lagi semangat-semangatnya nih!" ucap Reza mendekat kepada Aura mencium aroma wangi tubuh istrinya.
Aura mengelak lalu mencari kantong belanjaan yang dibawa oleh suaminya tadi. Matanya terbelalak melihat roti tawar yang begitu banyak berada di dalam sana. Secara refleks, Aura menepuk jidatnya dan mencari ponsel milik suami yang ada di kantong celana. Dia mencari sesuatu di laman pencarian. Menunjukan sesuatu yang dimaksud 'roti tawar' dan Reza mundur menggeleng tak menerima itu.
Setengah jam kemudian, Aura keluar dari kamar mandi. Suaminya menatapnya dengan panjang. Melirik segala yang dilakukan sang istri. Akhirnya Aura bersandar pada lengannya dengan cengiran yang tidak putus semenjak tadi.
"Kamu pasti sengaja ya?" rutuk Reza.
"Lah? Kenapa aku sengaja coba? Yang salah itu Kanda! Masa iya aku yang baru dua minggu lalu datang bulang, jadi datang bulan lagi? Ini pasti gara-gara Kanda tadi malam yang over dosis!"
"Habisnya, aaah ... aaaaah ...!" Reza menggaruk kepalanya karena kesal.
Baru pertama kali merasakan indahnya surga dunia, di saat rasa candu yang menggebu, di saat nikmat yang ia rasakan tiada tara, kenapa sang istri malah mengunci kembali jaringan yang berhasil dia retas?
"Sabar ya, Suamiku!" Aura kembali tertawa ngakak melihat suaminya cemberut.
Aura menarik Reza untuk menikmati roti yang dibelikan tadi. Meski merasa sedikit ogah-ogahan karena merasa sangat kesal, Reza mengikuti sang istri.
"Kanda, coba jelaskan kenapa kita bisa membeli perlengkapan untuk menginap sampai segitu banyaknya?"
Aura melihat tumpukan isi dapur yang belum sempat disusunnya. Sejak sampai di tempat ini, mereka belum sempat berbicara. Saat malamnya, waktu dihabiskan di atas ranjang tanpa memikirkan hal yang lain.
"Untuk sementara, Kamu tinggal di sini dulu!"
Mata Aura menyipit, dengan kening yang berkerut. "Aku?" Reza hanya mengangguk sambil menikmati roti yang disiapkan istrinya.
"Terus, Kamu?"
"Aku kembali ke kota setelah Bibi sampai di sini. Setelah itu, Bibi lah yang akan menemanimu di sini. Jika pekerjaanku tidak banyak, aku akan pulang ke sini."
__ADS_1
Aura meletakan kembali roti tersebut ke atas piringnya. "Terus maksudnya kita pisah dan jauh-jauhan gitu?"
"Pisah sementara, kan aku kerja di kota. Tidak bisa bolak-balik ke sana ke mari dengan mudah. Jadi, aku akan kembali minimal dalam tiga hari sekali. Nanti week end akan menghabiskan waktu bersamamu di sini."
"Kok gitu?"
"Biar Kamu lebih aman, Sayang. Aku akan membeli satu motor untukmu di sini, biar gampang bergerak ke mana pun yang kamu mau. Aku juga akan memasangkan akses wifi, biar Kamu bisa main sepuasmu, a---"
...braaak...
Aura menggeser kursinya dan segera beranjak masuk ke kamar. Reza melanjutkan untuk menghabiskan roti yang udah nanggung, tinggal satu suapan lagi. Setelah itu masuk ke kamar melihat istrinya meringkuk duduk di atas kasur.
"Kenapa Kamu terlihat sedih begitu?"
"Kenapa aku ditinggal sendirian di sini?"
Akhirnya Reza menceritakan apa yang telah terjadi. Memang semenjak pagi ini spam itu telah menghilang. Akan tetapi dia merasa khawatir jika ada yang sempat membaca dan menyadari bahwa orang yang dimaksud adalah Aura. Hal ini tentu membuat orang-orang akan berlomba-lomba melaporkan keberadaan Aura ke pihak yang berwenang.
Reza sempat berpikir bahwa orang yang membersihkan banner spam tersebut adalah Aksa. Karena ada pesan yang memperingatkan adanya informasi mengenai ulah dari seseorang. Namun, pesan itu diabaikannya, karena dia dalam keadaan kesal kepada sang istri dan Aksa.
"Untuk sementara, tempat ini adalah yang terbaik untukmu. Bibi akan segera aku panggil. Nanti aku ke kota dulu untuk mengumpulkan uang demi keluarga kecil kita."
Aura kembali meringkuk memeluk kakinya. Menyandarkan dagu pada lutut yang telah tegak terlipat. Dia hanya bisa menghela napas, mencoba menebak karea Reza tidak menjelaskan secara langsung apa yang telah terjadi.
"Apa dataku telah beredar di dalam jaringan?"
Reza menatap wanita di sampingnya ini. Merangkul Aura agar bersandar pada dirinya. "Apa pun yang terjadi, aku akan melindungi dan menjagamu, sebisa yang aku mampu."
Aura mengangguk, akhirnya dia merasakan bagaimana berdebarnya saat menjadi buronan. Dia teringat akan ancaman yang saat ini benar-benar dilakukan oleh Tuan Sistem. Padahal menikahi Reza pun karena ulah Tuan Sistem juga.
Duh, perutku rasanya nggak nyaman. Kayak ada yang berputar-putar di dalamnya.
💖
__ADS_1