
Semua mata memandang pria itu dengan nanar, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Mengartikan bahwa menangkap Aura dijadikan sebuah kontes. Siapa yang duluan berhasil menangkap Aura, maka dia akan bebas. Selebihnya, akan te was di bu nuh.
"Sekarang persiapkan diri kalian! Saya akan memberikan identitas gadis tersebut pada kalian masing-masingnya."
Seluruh tawanan Marcell mulai bergerak menyiapkan diri.
"Ingat! Jika kalian mencoba untuk berkhianat! Nasib kalian akan sama dengan tiga orang itu! Jangan sekali-kali melapor pada siapa pun! Mataku ada di mana pun kalian berada!"
Mereka hanya mengangguk, dan berkumpul di ruang komputer milik Marcell. Jejeran komputer tersebut menampilkan wajah Aura dengan sangat lebar. Ponsel mereka yang disita, dikembalikan satu per satu.
Mereka menyimpan foto Aura. Lalu mulai meninggalkan gedung tersebut. Marcell mengulas senyum tipis di bibirnya. Berharap segera menemukan gadis hacker yang membuatnya penasaran itu.
💖
"Untuk sementara, Kamu boleh beristirahat dulu di rumah. Kurangi aktifitas berat dulu."
Mendengar hal yang disampaikan oleh Dokter barusan, Reza mendelik memandangnya. Seakan memahami isi Reza, seorang pengantin baru, dokter hanya bisa terkekeh. Dokter tersebut terlihat memikirkan sesuatu.
"Jika tidak membuat tubuhmu lelah, ya terserah Kamu. Tapi, kalau Kamu pingsan lagi, ya jangan salah kan saya!"
Reza diam menatap panjang pada sang istri. Merasa akan segera melahapnya. Aura mengerutkan kening mencoba menebak isi hati Reza, dan menyipitkan matanya.
"Baik lah, Dok. Nanti kalau ada, tolong segera hubungi aku."
Dokter tersebut melirik Aura. Melihat istri seorang Reza yang berpenampilan cuek. Sama sekali tak tampak selayaknya istri pada umumnya yang lebih pantas untuk Reza.
"Ekhem, jika nanti mendapatkan kabar bagus, Kamu akan jadi prioritas utama untuk selanjutnya."
Aura masih belum paham akan pembicaraan kedua orang ini. Aura mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Lalu menyiapkan barang-barang milik Reza yang tidak terlalu banyak.
Aura diapit oleh Reza, menelusuri lorong rumah sakit. Reza terus menjepit Aura seakan takut sang istri kabur lagi. Seorang perawat yang membawa kursi roda melintasi mereka dengan terpana. Reza masih asik mencoel pipi Aura, dibalas dengan wajah manyun sang istri.
"Reza?"
Reza refleks berhenti dan menoleh pada seseorang yang memanggil namanya. Sang istri ikut berhenti menoleh pada perawat tersebut. Tampak perawat itu melepas kursi roda kosong yang dibawanya.
Reza menegang melihat wajah tersebut, kembali menarik istrinya melanjutkan perjalanan. Aura mengikuti langkah itu, hanya mengedikan bahu tanpa bertanya lebih banyak lagi.
"Reza, apa Kamu melupakan aku?"
__ADS_1
Perawat tersebut mengikuti kedua orang itu. Reza pura-pura tidak mendengar, tetapi Aura menghentikan langkahnya. Melihat sosok perawat yang mengikutinya itu.
"Iya, Sus. Ada apa?" tanya Aura.
"Oh, dia ini teman masa SMA saya," jawabnya mengulurkan tangan kepada Reza.
Reza melirik sejenak, lalu membuang mukanya. Aura langsung menyambut tangan sang perawat. "Maaf kan dia, Sus. Dia memang agak rada-rada ...," ucap Aura asal.
Reza menarik kembali tangan Aura. Aura mengikuti sambil melirik perawat tersebut yang tengah terpana. "Siapa dia?"
"Bukan siapa-siapa." Menarik istrinya masuk ke dalam rangkulannya.
"Reza, tunggu!" Perawat itu terus mengejar mereka berdua. Memotong langkah dan tepat berhenti di hadapan mereka.
Reza menatap wanita berpakaian putih tersebut dengan ujung mata. "Kenapa?" Lalu membuang muka.
"Kamu masih mengingatku kan?" tanya nya lagi.
"Terus?"
"Syukur lah kalau Kamu masih ingat. Aku hanya ingin meminta maaf pada kisah masa lalu di antara kita," ucapnya terlihat sungguh-sungguh.
Perawat tersebut memandang Reza dari atas hingga ke bawah. "Kamu terlihat beda ya?" Reza hanya diam membuang muka karena merasa jengah. Masih teringat dalam ingatannya, wanita ini menyiram minuman tepat ke wajahnya dulu.
Flashback On, masa SMA saat dia merasakan patah hati pertama kali.
"Dasar sampah! Tak tahu diri! Jangan mentang-mentang aku bersikap baik, Lu mengira gue suka sama Elu?" ucap gadis belia yang jadi primadona baru di sekolah mereka.
Reza yang memiliki tubuh kurus ceking, selalu terlihat layu, menjadi perhatian oleh semua orang di kantin tersebut. Dia baru saja menyatakan cinta pada Laras. Karena semenjak Laras bersekolah di tempatnya mengenyam pendidikan, Laras selalu terlihat baik padanya. Reza mengambil serbet yang berada di atas meja. Mengeringkan tumpahan air yang membasahi wajah dan seragamnya.
"Sebenarnya gue enggan deket sama Lu ya? Tiap saat pingsan, tiap saat pingsan, bikin gue bolak balik ke UKS mengurus Lu. Lu pikir enak apa, dikirain jadi kacung?"
Reza muda menundukan wajahnya. "Ma-maaf. A-aku pikir Kamu menyukaiku juga, karena sudah berbaik hati denganku selama ini. Tidak seperti yang lain, yang baik ketika ada maunya aja."
Gadis bernama Laras itu mendengkus. "Lu denger ya, gue capek tau nggak ngurusin Lu! Apalagi disangka jadi pacar orang yang merepotkan seperti Lu. Gue tu maunya jadi yang diperhatikan! Bukan sebaliknya!"
"Iya, maaf!"
Reza beranjak dari kantin. Sahabatnya bernama Leon melihat keadaannya yang kacau. Tetapi, Reza diabaikan. Dia memilih menghibur Laras, orang yang menolak sahabatnya. Beberapa waktu kemudian, terdengar Leon berpacaran dengan Laras.
__ADS_1
Reza meminta orang tuanya untuk memindahkannya sekolah, dan berhenti menghubungi Leon. Dia masuk ke sekolah swasta elite, di sana lah dia berkenalan dengan Gino, teman yang bekerja menjadi arsitek. Di sana lah, Reza mengubah penampilan, menjaga tubuhnya untuk tetap bugar, dan mulai menggaet gadis-gadis cantik untuk dipacarinya. Untuk memenuhi rasa penasaran, memiliki pacaran.
Flashback off
"Sekarang keadaanmu bagaimana?" tanya perawat bernama Laras itu.
Reza mengedikan bahu. "Kamu lihat sendiri, masih menyusahkan seperti katamu dulu." Merangkul Aura dengan sengaja.
"Siapa dia?" tanya Laras.
"Dia?" Tidak memedulikan keadaan sekeliling, Reza mencium bibir Aura, membuat Laras tertegun.
"Pacarmu?" tanya Laras.
"Bukan." Reza mencium bibir Aura sekali lagi. "Kamu sendiri gimana? Udah nikah belum?"
Aura mencubit Reza, yang sedari tadi jadi subjek pamernya. Reza mendekap pinggang Aura membuat Laras tergidik melihat Reza yang terlalu berlebihan.
"Belum," jawab Laras memperhatikan Reza memainkan rambut lurus gadis muda di sebelahnya.
'Apa Reza punya sugar baby? Itu cewek mau-maunya aja disentuh-sentuh kayak begitu saja. Dasar mura han.'
Mulut Reza membulat, "Ooo. Bagaimana kabarmu dengan Leon?"
"Setelah Kamu pindah sekolah, kami berdua putus."
Mulut Reza kembali membulat. "Ooo."
"Kamu sendiri bagaimana Za? Aku dengar sekarang Kamu menjadi pengusaha sukses. Penampilanmu pun juga sudah sangat berbeda."
"Ya lalu?" ucap Reza cuek.
"Siapa gadis muda di sampingmu ini? Apakah dia sejenis orang yang sering dimiliki oleh para pengusaha kaya?"
Mata Aura membesar, merasa tersindir oleh ucapan perawat ini. Dia ingin menjelaskan hubungan di antaranya dan Reza bukan seperti itu. Reza menggenggam tangan Aura, menggelengkan kepalanya.
"Dia ini lebih spesial dari yang Kamu katakan. Emangnya enak, belum nikah?"
Reza menarik Aura dan meninggalkan Laras dengan kening berkerut.
__ADS_1