CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
Ex. P7


__ADS_3

"Iya, gak apa. Ini kuliah kan tidak dipatok tamat seberapa. Kalau tidak melanjutkan pun juga tidak apa."


Aura menggeleng tegas memukul meja makan. "Tidak mau! Aku ingin menyelesaikan pendidikan. Jadi contoh buat adik-adik di kampung halamanku. Jangan sampai mereka berpikir buat apa kuliah? Toh ujug-ujugnya cuma buat sumur, dapur, kasur ..."


Secara refleks Reza tertawa dengan terbahak mendengar perumpamaan tersebut. Dia kembali menarik Aura masuk ke dalam pelukan, menyugar rambut ibu dari anaknya. Bibir sang istri dikecup hingga beberapa kali.


"Ya udah, terserah kamu saja. Yang penting kamu harus jaga kesehatan. Apa pun keputusanmu, aku akan selalu ada di sampingmu."


Reza mendekat ke telinga Aura. "Ini tandanya gak ada datang bulan yang lama kan?"


Aura mendorong Reza lepas dari pelukan. Membelakangi Reza dan bersidekap dada karena merasa kesal. "Taunya cuma itu aja?"


Reza kembali mendekat memeluk istrinya dari belakang. "Aku ini laki-laki. Tak aku pungkiri bahwa itu memang kebutuhan utama seorang laki-laki. Nanti yang lain akan menyusul aja. Tidak dapat juga tidak masalah. Berbeda sama kaum perempuan. Kebutuhan utamanya adalah materi dan kasih sayang. Apakah selama bersamaku kamu pernah merasa kekurangan dengan yang dua itu?"


Aura memikirkan sesuatu untuk menjawab pertanyaan Reza. Ternyata dia tidak menemukan jawabannya. Dia kembali memutar tubuh dan memeluk Reza, menyandarkan kepala pada dada bidang sang suami.


"Terima kasih, Kanda. Semenjak mengenalmu, aku merasa tak ada lagi yang namanya kekurangan."


"Waaauuww ... sejak mengenal ... Lama juga rupanya."


Aura melepas pelukannya dan ngacir. "Iya, sejak mengenalmu. Semenjak aku meretas perusahaanmu." Dia terkekeh menjauh, dikejar oleh Reza.


"Dasar tukang retas. Terima hukuman buat tukang retas!"


Tak lama setelah itu, tengah malam Aura terbangun mengguncang tubuh Reza. "Kanda ... Kanda ...?"

__ADS_1


Namun, orang yang dibangungkan masih belum juga bergerak. Aura kembali membangunkan sang suami. Kali ini dia menjepit hidung Reza, hingga sang suami bergerak kesulitan bernafas. Perlahan dia membuka mata melihat wajah istri telah tepat berada di depan hidungnya.


Reza melihat waktu masih menunjukan pukul dua pagi. "Ada apa, Dinda?"


"Mau rujak mangga muda ..."


Reza bangkit dan duduk sambil mengucek mata. "Rujak? Buat apa?"


"Iiihh, pakai nanya lagi. Ayooo, belikaaan ..."


Akhirnya kesadaran Reza terkumpul dengan sempurna. "Kamu ngidam?"


"Aku pengen banget makan itu. Duuuh, iler aku gak kebendung membayangkan menikmatinya saat ini juga."


Aur muka Aura berubah 180 derjat. Tanpa berkata apa-apa, dia kembali masuk ke dalam selimut. Tubuhnya terguncang dan terdengar isakan.


"Lho? Kenapa kamu malah menangis?"


"Aku mau rujaknya sekarang. Kamu bilang esok? Hiks ..."


Reza menggaruk kepalanya dengan kasar. Ini pertama kali Aura membangunkannya malam-malam karena ingin sesuatu. Padahal waktu hamil Aksa dulu, Aura tak pernah minta macam-macam kecuali saling usap dengan Aksa.


"Harus sekarang juga?"


Aura kembali duduk dan mengangguk. "Ayooo, cari rujak mangga muda!"

__ADS_1


Reza masuk kamar mandi sejenak untuk mencuci mukanya. Demi mengusir kantuk bertualang demi istri dan buah hati. Setelah itu mengenakan jaket dan memasang resletingnya hingga ke atas. Aura juga bangkit mencari jaketnya membuat kening Reza berkerut.


"Kamu mau ke mana?"


"Aku mau ikut." Aura mengikat rambutnya.


"Lalu Aksa?"


"Pokoknya aku mau ikut!"


Aura kembali mendekap Reza membuat suaminya semakin heran. Tingkah Aura kali ini benar-benar berbeda dari biasanya. Akhirnya mereka memutuskan membangunkan Bibi, meminta untuk menjaga Aksa.


"Tuan, Nona mau kemana malam-malam begini?" tanya Bibi dengan heran.


"Ini ada yang ngidam rujak mangga muda. Kemana nyarinya jam segini ya, Bi?"


"Bumbu rujaknya tinggal Bibi buatkan saja. Tetapi mangga muda ..." Sejenak Bibi tampak berpikir. "Oh, iya ... Di komplek sebelas ada yang punya pohon mangga. Kebetulan mangganya lagi berbuah. Bagaimana kalau minta saja sama yang punya? Biasanya orang mau saja memberikan jika ada ibu hamil yang ngidam."


Reza mengangguk paham, melirik istri yang terus menempel tanpa malu meski di hadapan Bibi. Reza menelengkan kepalanya, merasa heran.


Apa bawaan tiap kehamilan itu berbeda ya?


Reza bergerak menuju kendaraannya. Melajukan mobil tersebut ke komplek sebelah seperti yang bibi katakan. Aura dan Reza menyusuri rumah ke rumah, mencari orang yang memiliki pohon mangga. Akhirnya setelah menelusuri belasan rumah, mereka menemukan pohon mangga yang dikatakan Bibi. Mereka bergerak hendak masuk ke halaman rumah tersebut, ternyata ada hewan berlari ke arah mereka.


guk ... guk ... guk ...

__ADS_1


__ADS_2