
"Ibu ini makin canggih aja, sudah tau istilah sugar baby pula ya? Hmmm ..." Aura tampak berpikir kembali.
"Sepertinya, dalam rumah tangga kami, aku ini jadi istri sekaligus sugar baby nih, Bu. Kalau dia masih macem-macem, aku akan suruh dia puasa, gak akan aku kasih ja tah lagi."
Ibu hanya menggelengkan kepala. Tersenyum melihat rona kebahagiaan di wajah putri sulungnya ini. "Kamu jangan macem-macem! Nanti dia malah kabur!"
Reza terkekeh menguping pembicaraan istri dan mertuanya itu. Dia memiliki rencana atas peringatan sang mertua tersebut.
💖
"Kanda, terima kasih ya. Kamu sudah baik banget padaku dan keluargaku. Bahkan Kanda membuatkan rumah yang amat bagus dan luas."
Aura bersandar pada sang suami, di bangku kelas eksekutif kembali menuju ke kota. Mereka mengambil penerbangan pertama agar Reza tetap bisa masuk bekerja. Aura tetap masuk kuliah. Aura mendapat bekal buatan ibu yang sangat banyak. Karena harganya mahal gara-gara ongkos, maka sang ibu membuatkan makanan tersebut banyak sekaligus.
Keadaan ibu Aura sudah jauh lebih baik, karena sudah rajin dibawa terapi oleh ayah. Aura dulu sempat mengirimkan sejumlah uang yang didapat dalam hasil meretas, dengan angka yang cukup fantastis. Dia memberi alasan itu adalah uang diberi oleh suaminya. Sehingga tidak menimbulkan kecurigaan bagi keluarganya.
Reza melebarkan senyuman membelai rambut panjang Aura. "Keluargamu adalah keluargaku juga. Nah, kapan giliranmu mau main dan nginap di rumah orang tuaku?
"Akhir minggu kita ke sana. Aku memang belum pernah main ke sana ya? Aku hanya---"
"Kamu merasa tak nyaman pada mamaku ya?"
Aura hanya menyunggingkan senyum kikuk. "Mamaku emang rada-rada. Tapi sebenarnya baik kok. Jika kamu pinter ngambil hati mama, nanti semua yang tersembunyi akan diserahkan oleh mamaku kepada kamu. Yakin deeh."
Lalu sepanjang perjalanan, mereka mendiskusikan apa yang disukai oleh kedua orang tua Reza dan Rezi, si bungsu yang lebih tua daripada Aura.
Usai perkuliahan, Aura mengajak Stella untuk menemaninya membeli sesuatu untuk mertua dan adik iparnya. Reza sengaja memberikan black card miliknya kepada sang istri untuk membelikan sebuah perhiasan untuk mama mertua dan adik iparnya. Mata Stella terbelalak melihat angka yang harus dikeluarkan demi benda itu.
"Bagaimana lagi, La. Biar mertua seneng kan? Kata Kanda, mamanya suka banget sama perhiasan beraksen berlian. Jadi yaaa, terpaksa."
"Gimana jika benda-benda itu untuk kamu saja? Sayang sekali segitu buat mertua," celetuk Stella.
Aura nyengir dan menggelengkan kepalanya. "Ini uang anaknya sendiri kok. Biar aja. Kalau orang tua seneng nanti rezeki anaknya makin mengalir dengan deras kan? Aku juga yang seneng doong."
Stella mengangguk. "Bener juga ya. Waaaah, melihat kamu nyaman begini dengan pernikahanmu, aku jadi pengen cepet-cepet nikah juga jadinya."
__ADS_1
"Sama siapa? Kak Devan? Dah baikan?"
Stella mengangguk. "Katanya dia sudah putus dengan semua pacarnya. Dia janji untuk setia sama aku aja."
Aura jadi teringat kembali kembali di masa dia menyaksikan Reza memutuskan pacar-pacarnya menjelang mereka menikah.
"Semoga saja dia baik dan tulus ya," ucap Aura. "Soalnya temanku Stella ini baik banget. Maka, harus dapat pasangan yang baik juga."
"Aaaamin."
"Tapi menurutku, lebih baik kamu nikahnya udah tamat aja. Soalnya banyak banget masalah kalau sudah berumah tangga ini. Jadi pusing bagaimana cara menyelesaikannya di saat semua tugas juga minta untuk dibereskan."
Stella menganggukan kepalanya kembali. "Kita lihat aja nanti. Saat ini aku mau jadi penonton kebahagiaan kalian dulu."
💖
💖
💖
Aura menggunakan gaun yang anggun dengan rambut tertata cantik, tengah bergelayut pada lengan sang suami hendak masuk menuju rumah keluarga besarnya.
Reza membelai pipi Aura dengan mesra. "Kamu adalah adalah wanita paling cantik malam ini, Sayang."
"Gombal." Aura mendekap erat lengan suaminya menunggu pintu dibuka.
"Kamu jangan aneh-aneh lagi malam ini kayak dulu." Reza mengingatkan kembali pada peristiwa yang telah berlalu
Aura terkekeh mengingat usahanya dulu ingin membuat sang mertua menolak dirinya. Namun itu ternyata hanya sebuah usaha yang sia-sia. Reza tidak memedulikan pendapat mamanya. Karena dia tak memedulikan tanggapan sang ibu. Tetap memaksa untuk menikah dengan Aura.
ceklek
Pintu besar laksana gerbang itu dibuka dari dalam. Tampak asisten yang membukakan pintu tersebut.
"Tuan muda Reza udah datang. Akhirnya datang juga setelah sekian lama tidak ke sini semenjak menikah." Bi Sumi menyilakan pasangan merpati itu masuk ke dalam.
__ADS_1
Papa Barack pun keluar dari sebuah ruangan. Mama Kinanti muncul dari arah ruang makan. Rezi muncul dari atas menuruni tangga.
Aura dan Reza segera menberi salam kepada kedua orang tua tersebut. Seperti biasa, sambutan hangat dari sang mama masih belum berubah. Mata yang masih melirik Aura dengan tatapan yang tidak menyenangkan.
"Menantu apaan? Berasa tak punya menantu tuh," gumam sang ibu.
"Ekheeemm, Mama jangan begitu. Ini kali pertama mereka menemui kita di sini setelah hampir lima bulan menikah, seharusnya disambut dengan baik dong." ucap Papa Barack.
Mama Kinan mengernyitkan wajahnya. "Nah, itu ... udah hampir lima bulan. Masih berada di kota yang sama. Masih di waktu yang sama, masa iya tak sempat menengok kita ke sini?"
Dengan perasaan canggung Aura memeluk tubuh ibu mertuanya itu. "Maafkan aku ya, Ma. Beberapa waktu lalu kami masih beradaptasi untuk saling nyaman dalam satu atap yang sama. Jadi baru sempatnya sekarang setelah kami saling mengenal."
Wajah Mama Kinanti hanya melengus. Aura memasangkan kalung berlian di leher sang mertua. Mama Kinanti tersentak melihat benda yang telah melingkar cantik di lehernya. Mama Kinanti meraba dan melihat benda itu dengan seksama.
Mulut Mama Kinanti membulat tak percaya. "Waaah, ini pasti menghabiskan uang yang banyak." gumam mama mertuanya takjub namun tampak sangat senang.
"Tidak apa Ma. Demi mama berapa pun itu tak masalah." Aura melirik suaminya. Reza memberikan kedipan kepada Aura sebagai tanda dukungan untuk melanjutkan rayuan kepada sang mertua.
Setelah itu Aura mengeluarkan gelang yang sengaja dibelikan untuk adik iparnya, yang calon dokter masa depan. Aura langsung memasangkan kepada Rezi. Rezi langsung memeluk Aura senang.
"Makasi ya kakak iparku." Lalu Rezi sedikit menyanyi memperhatikan detail gelang yang dia dapat.
Setelah itu Aura, memberikan benda yang paling besar, berupa laptop untuk sang papa mertua. "Semoga ini bisa membantu melancarkan pemberian materi saat perkuliahan nanti, ya Pa."
"Ekheeem, sebenarnya untuk Papa tidak perlu, Ra. Bagi papa, kalian berdua hidup bahagia saja, sudah lebih dari cukup." Papa Barack mengusap rambut menantunya sebagai tanda sayang kepada Aura.
"Tidak apa, Pa. Terima kasih sudah menjadikan suamiku sebagai pria bertanggung jawab untukku."
Setelah itu mereka duduk bercengkrama sesaat. Reza memberitahukan seluruh keluarganya bahwa Aura tengah mengandung cucu mereka.
"Waaah, benar kah? Kemarin bukannya bilang gak siap untuk hamil?" tanya sang mama mertua dengan wajah julidnya.
"Apa kamu beneran berhasil menghamili istrimu ini, Mas?"
Papa Barack belum menyampaikan kepada istrinya bahwa Reza telah melakukan operasi jantung. Karena Papa Barack sendiri baru mengetahuinya saat Aura sudah ke kampus kembali.
__ADS_1
"Seharusnya Mama seneng dong. Katanya mau menimang cucu hasil dari bibit aku? Ini dia sudah hamil anakku dengan usia kandungan dua bulan."
"Waaahh ... Mama mau kasih apa ya buat cucu Mama?"