CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
169. Aksara yang kedua


__ADS_3

Setelah memberi beberapa kecupan, Mama Kinanti kembali mengambil bayi mungil itu dari pelukan Reza.


"Yaaah? Baru sebentar, Ma?" ucap Reza kecewa.


"Kamu kan lagi sakit? Lebih baik istirahat aja." Mama Kinanti membawa baby boy mereka kembali ke ruang bayi.


"Yaaah, kenapa buah hasil pembibitan setelah dua puluh delapan tahunku dibawa Mama?"


Aura melihat suaminya, tampak sudah mulai kembali seperti biasa. "Apa tidak sakit?"


"Masih nyeri, mungkin karena obat penghilang rasa sakit, semuanya tidak begitu terasa." Reza mengulurkan tangannya. Disambut oleh tangan Aura. Aura berusaha bangkit dari kursi rodanya.


"Syukur lah ...." Mata Aura mulai berkaca melihat ke arah dada suaminya. Di sana ada jantung Aksa.


Reza mengusap pipi Aura yang dijatuhi oleh air mata. "Kenapa kamu menangis?"


"Aku bahagia, aku sangat bahagia, Kanda."


Reza mencoba untuk bangun, tetapi sepertinya dia masih belum sanggup melakukannya. "Aku ingin sekali memelukmu, Sayang. Namun, tubuhku terasa begitu kaku. Untuk duduk saja aku belum sanggup."


Aura membelai pipi suaminya. "Tidak apa Kanda. Kanda istirahat saja. Nanti lambat laun semua bisa kembali seperti semula. Namun, operasi kedua ini mungkin penyembuhannya jauh lebih lambat dari sebelumnya."


"Jiiaaahh, padahal aku ingin sekali menggendong si Boy," gumam Reza.


"Kanda, sudah menyiapkan nama untuk anak kita belum?"


Mata Reza seakan mengambang memikirkan sesuatu. "Aku ingin tanya sama kamu dulu. Apa kamu sudah memiliki nama untuk si Boy?"


Aura mengangguk, tetapi dia tampak ragu. "Aku rasa aku punya nama, tapi aku yakin Kanda tak akan suka."


"Coba katakan, nanti kita satukan dengan nama yang telah aku siapkan."


"Aksara," ucap Aura.


Hal ini membuat Reza tercenung beberapa saat. Seakan ada sentruman di dadanya ketika nama itu disebut oleh Aura. "Coba katakan lagi!"


"Aksara."


deegh


"Aaaghh." Reza merasakan sesuatu yang membuat dadanya terasa sakit.


"Kanda kenapa?" Aura meraba dada Reza yang masih tertutup perban yang sangat kebar.

__ADS_1


Reza melambaikan tangannya merasa sedikit sesak. "Kenapa harus nama itu? Kamu tidak bosan apa dengan nama itu? Aaagh, mengingat nama itu saja membuatku menjadi kesal."


Aura mengerutkan keningnya. Menurutnya ucapan Reza barusan terasa sungguh sangat tidak pantas. Apalagi di dalam dirinya, ada bagian penting milik Aksa yang membuatnya kembali hidup seperti saat ini.


"Kanda sungguh jahat!"


Aura melangkahkan kakinya meninggalkan Reza sendirian. Reza merasa bingung kenapa Aura malah tiba-tiba marah seperti ini?


degh


degh


degh


Jantungnya berdetak tak karuan sehingga membuatnya merasa panik sendiri.


💖


Hingga esok malam, Aura masih belum menemui Reza. Reza sudah gulang guling karena panik menghadapi istrinya yang ngambek tak jelas kembali. Reza dibantu Papa Barack mencoba untuk bisa bergerak dan duduk.


"Aura ke mana, Pa? Kenapa dia belum muncul juga?"


Papa Barack tadi melihat Aura dan istrinya keasikan bermain dengan baby boy yang baru launching di dunia ini. Beliau hanya menggelengkan kepala. Hal ini malah membuat Reza semakin panik, mengira istrinya masih marah, seperti tadi malam.


Papa Barack mengerutkan keningnya. Nama itu adalah nama yang memberikan jantung kepada Reza. Mahasiswa yang dulu diam-diam masuk dalam perkuliahannya. Mahasiswa tampan yang cerdas, yang mengiringi Aura.


"Kenapa kamu larang?"


"Waduuuh, Pa. Itu kan nama mantannya? Masa aku memanggil anakku dengan nama rivalku?" sungut Reza, kesal.


"Ekheeem, apa dia tidak menceritakan sesuatu tentang seorang bernama Aksara kepadamu?"


Reza menggeleng. "Ada apa memang?" Reza melihat ayahnya itu terus melihat ke arah dadanya. Reza meraba dada dan tiba-tiba menyimpulkan sesuatu.


"Jangan katakan dia yang menyumbangkan jantungnya untukku?"


"Ekheeemm ..." Papa Barack ikut keluar meninggalkan Reza dengan sejuta tanya.


Reza menyentuh dadanya yang masih diperban itu. "Apa yang terjadi? Kenapa jantungnya bisa bersamaku?"


Reza teringat akan ingatan yang tak pernah dia alami itu. Sekarang dia mengerti, semua ingatan yang muncul dalam pikirannya itu adalah ingatan milik Aksara. Ingatan tetang Aura. Aura yang telah disukainya, semenjak dia masih duduk di bangku SMA.


"Aksa, maafkan saya."

__ADS_1


💖


Keesokan harinya, Reza hanya duduk merenung sepi sendiri. "Ya, semua marah padaku. Mereka pasti berpikir bahwa aku ini adalah orang yang tidak tahu berterima kasih. Makanya aku dikucilkan sendiri seperti ini."


Pada malamnya, Aura akhirnya datang membawa anak mereka. Reza menyambut kedatangan istrinya dengan wajah dingin. Lalu menatap bayi mereka yang ada dalam pelukan istrinya.


Aura tanpa bicara duduk di bangku samping brangkar. Dia asik menimang bayinya untuk tidur. Reza menatap bayi yang terselimut dalam kain bedongan. Dia terlihat sangat lucu dan menggemaskan.


"Kalau cuma diam, lebih baik kamu keluar. Aku akan beristirahat."


Reza mencoba membaringkan tubuhnya, dengan rintihan kesakitan dia menyelimuti tubuhnya sendiri hingga kepala. Aura mencoba bangkit dan bergerak keluar dari kamar suaminya itu.


"Aku setuju, jika kamu memberi nama anak kita Aksara," ucap Reza dalam selimutnya.


"Benarkah?"


Reza menurunkan selimut yang menutupi wajahnya. "Iya, maafkan aku jadi orang yang tidak tahu diri."


"Hmmm ...." Aura bergerak keluar dan dia mundur beberapa langkah. Melihat orang yang datang dari jauh dengan muka amarah.


"Ta-tante?" tanya Aura yang melihat sosok ibu dari Aksara.


"Kamu? Kamu sesama dari Padang juga kan? Kenapa kamu tidak memberitahukan bahwa anak saya mengalami kecelakaan? Bahkan kami keluarganya pun tidak satu pun yang mengikuti prosesi pemakamannya di sini." ucap wanita paruh baya cantik itu sedih dan marah.


"Sa-saya ...." Aura tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bisa tertunduk lesu.


"Mana dia? Mana orang yang memakai jantung anak saya?"


Ibu itu menerobos sedikit mendorong Aura untuk minggir. Reza tengah berusaha kembali untuk ke posisi duduk. Dia memperhatikan sosok ibu yang benar-benar telah kehilangan putranya. Putra yang telah lama tidak pulang, dan kini telah pulang untuk selamanya ke pangkuan Yang Maha Kuasa.


"Maafkan saya, Bu. Jantung Aksara saat ini memang ada dalam tubuh saya. Berapa yang harus saya bayar untuk bisa membalas semua jasa anak Ibu?"


"Kau pikir, semua bisa dibeli dengan uang?" ucap ibu itu dingin.


"Kembalikan Aksaraku! Dia adalah tumpuan harapan kami. Kenapa kau ambil anak kami? Putra kesayangan kami?"


Reza tertunduk, rasa bersalah pun menggelayuti hatinya. Dia nelihat sosok yang sedang digendong oleh Aura.


"Dinda, ke mari lah sejenak!"


Aura bergerak lambat, masih menimang bayi tampan yang ada dalam pelukannya. Aura berdiri di sisi ibu Aksara. "Ada apa, Kanda?"


Reza memberi kode agar Aura menyerahkan putra mereka untuk digendong oleh ibu tersebut. Ibu Aksa gelagapan namun tetap menerima bayi yang diberikan kepadanya itu.

__ADS_1


"Terima kasih sekali atas kebaikan hati Aksara kepada saya. Ibu boleh menganggap dia sebagai ganti Aksara. Karena dia adalah Aksara kedua bagi kami. Kami sengaja memberi nama Aksara."


__ADS_2