
"Whaaat?"
Stella segera menarik lengan Aura. "Jangan bilang dia hanya membual?"
Aura membelalakan matanya pada Reza. Namun pria itu bersiul membuang muka. Aura mengedikan bahu dan menggeleng. Kembali melirik pria itu.
"Apa?" tanyanya pada Aura.
Aura menarik tangan Stella untuk meninggalkan Om Mesum tersebut. Reza melipat kedua tangan melihat kedua gadis tersebut yang pergi meninggalkan mereka. "Sampai kapan Kau akan terus begitu, Dinda?" Senyuman kecut merekah di bibirnya dan melangkah kembali ke mobil yang ditinggalkannya tadi.
Setelah sampai, ternyata sudah ada mobil yang terparkir di belakang kendaraan miliknya. Reza memperhatikan kendaraan roda empat itu dengan seksama. "Bukan kah ini ...,"
Dari arah gang jalan masuk kosan Aura, muncul pria pemilik kendaraan. Dia teringat bahwa pria itu tak mau menerima uang permintaan maaf darinya. Reza segera mendekat pada pria itu.
"Selamat pagi," sapa Reza mengulurkan tangannya pada pria itu.
Pria tersebut terlihat sangat canggung. "Pagi," ucapnya sembari menyambut tangan Reza.
"Bagaimana dengan mobilnya Mas? Saya belum membayar ganti rugi kendaraan ini," ucap Reza.
"Oh-oooh, tidak usah dipikirkan!" Memperhatikan kendaraan milik Reza. "Ada urusan apa Anda ke sini?" tanya Marcell.
"Oh, ada urusan dengan seseorang yang kebetulan tinggal sini. Kalau begitu saya cabut dulu." Reza melambaikan tangan sekilas dan masuk ke dalam kendaraan miliknya.
Marcell menatap kepergian kendaraan tersebut, melipat kedua tangannya dan terus berpikir. "Urusan dengan siapa dia di sekitar sini?"
Marcell ingin menemui Aura ke rumah indekos gadis itu. Namun, kata teman satu kosannya, dia sudah berangkat ke kampus bersama pria yang menjemputnya.
Siapa kira-kira pria yang menjemput Nona Hacker-ku?
💖
"Gimana Ra dengan ujian susulannya?" tanya Stella setelah Aura keluar dari ruangan tempat dia mengerjakan semua soal itu.
"Mumet!"
Stella terkekeh, merasakannya sendiri betapa susahnya soal-soal yang diberi oleh dosen mereka. Stella masih merasa penasaran dengan yang diucapkan Reza tadi. Aura akan menikah dengan pria itu.
__ADS_1
"Ra, aku tanya serius sama Kamu ya, jadi aku harap Kamu menjawabnya dengan serius juga!" Stella mendekap lengan Aura. Tanpa mereka sadari, seseorang sedang mengikuti langkah mereka.
"Iya, apa itu?" tanya Aura.
"Apa benar Kamu akan menikah dengan Om Mesum itu?" Aura tiba-tiba menghentikan langkahnya.
...bruuughhh...
Orang yang mengikuti tadi tak sempat menginjak rem, karena mereka berhenti dengan mendadak. Sehingga cowok itu menabrak mereka. Kedua gadis ini menatap Arga yang tiba-tiba sudah berada di belakang mereka.
"Eh, Kamu ngapain nguping pembicaraan Kami?" rutuk Stella mendorong cowok itu yang masih dalam posisi menyandarkan kepalanya kepada mereka.
"Tadi aku mendengar Aura mau menikah? Apa benar?"
Aura membelalakan matanya kepada Stella. Takut rencana untuk menyembunyikan status pernikahannya nanti malah menjadi gagal. "Stella tuh?" ucal gadis itu mengelak.
"Jadi yang mau menikah itu, Stella apa Aura?" tanya Arga.
"Kamu salah paham kayaknya. Maksud Stella ini menanyakan aku nanti mau menikah dengan siapa, kalau sudah kerja," jelas Aura yang semakin jago ngeles.
"Bener kan La?" tanya Aura membesarkan matanya.
"Udah, Kami cabut dulu!"
"Tunggu! Aku ing---" Arga tidak jadi mengatakan maksud hatinya. Mereka sudah jauh darinya. Arga balik kanan dengan wajah lesu. "Kenapa makin hari mereka semakin menjauh? Padahal gue mau main bertiga kembali seperti dulu."
Aura terus menarik Stella menjauh dari tempat tadi. Mencari tempat yang sejuk untuk berbicara berdua. Stella hanya mengernyitkan dahinya melihat tingkah sahabatnya ini. Setelah sampai di tempat yang mereka rasa cukup nyaman, akhirnya Stella memulai pembicaraannya.
"Kenapa Kamu tidak jujur saja padanya? Agar dia tidak terus berharap padamu!" ucap Stella yang masih mengingat Arga menyukai Aura.
"Hmmmfff, sebenarnya aku belum sanggup untuk membuka semuanya padamu. Namun, agar tidak terjadi lagi hal seperti ini aku akan menceritakan semuanya!"
Kedua alis Stella menyatu, matanya menyipit, dan kening berkerut mencoba mencerna maksud perkataan sahabatnya ini. "Apa yang sudah Kamu rahasiakan terhadapku?"
"Intinya aku terlibat sebuah hutang dengan Om Mesum. Hal itu memaksaku untuk memutuskan hubunganku dengan Bang Aksa dan menikah dengannya. Kamu tahu bagaimana rasanya terjebak dalam situasi ini?"
Stella menaruh tangannya pada pundak sahabatnya. "Apa Kak Aksa tahu alasan kenapa kalian berakhir?"
__ADS_1
Aura mengangguk. "Kami dihadapkan oleh pilihan yang sangat berat. Kami tidak bisa mengambil pilihan yang kami inginkan. Memaksa untuk mengakhiri semua dan memulai yang baru dengan Om Mesum itu."
"Apa Kamu bersedia menceritakan kepadaku, awal mula semuanya terjadi?"
Aura hanya menggelengkan kepala. "Aku merasa itu bukan hal yang bisa aku ceritakan kepadamu untuk saat ini. Namun aku janji, suatu saat bila semua sudah berakhir aku berjanji akan menceritakan semuanya kepadamu."
Aura menarik kedua tangan Stella. "Kamu mau berjanji padaku untuk merahasiakan semua kepada semua civitas akademika di kampus ini?"
Stella mengangguk. "Baik lah, aku akan merahasiakan semuanya untukmu. Bagaimana orang tuamu? Apakah mereka tidak boleh mengetahui semuanya juga?"
"Aku sudah meminta izin kepada mereka. Om Mesum mengatakan, dia lah yang akan mengurus semuanya. Ini hanya pernikahan rahasia, mungkin tidak akan ada yang namanya pesta."
Stella mengangguk pelan. Namun dia kembali teringat saat orang tuanya mengatakan bahwa Pak Reza sepertinya menyukai Aura, membuat perasaan Stella menjadi sedikit lega. "Setidak nya dia akan berusaha untukmu, nantinya!"
Aura hanya mengedikan bahu. Menatap danau buatan yang ada di kampus mereka ini. Menikmati sepoinya angin yang berhembus menerpa wajah mereka.
💖
Reza memasuki rumah keluarga besarnya. Mencari sosok yang selalu merecokinya untuk segera menikah. "Ma? Mama? Any body home?"
Wanita paruh baya itu keluar dari kamar. Mengernyitkan keningnya, terheran mengapa putra sulungnya ini sudah berada di rumah siang hari begini. "Kamu gak kerja, Za?"
"Aku lagi mengurus banyak hal, Ma. Sebentar lagi aku akan menikah, Ma."
Orang tua itu seketika terduduk karena mendapat kabar yang mendadak seperti ini. "Ka-kamu kenapa memberi kabar hoax tiba-tiba begini?"
"Lhoh? Kok dibilang hoax? Aku seriuuus."
Sang ibu mengernyitkan keningnya. Baru beberapa hari yang lalu sang anak menginap di rumah ini. Tak ada satu patah kata pun membahas soal pernikahan. Lalu tiba-tiba datang mengatakan hal mengejutkan seperti ini.
"Mau menikah dengan siapa? Dengan pacarmu yang dokter itu?"
Reza menggelengkan kepalanya. "Aku sudah putus dengannya. Mama terlambat."
"Terus sama pacarmu yang mana? Dah berapa lama kenal? Bagaimana bibit, bebet, dan bobotnya?"
Reza mengusap dagunya bingung. Dia sendiri kurang tahu bagaimana detailnya keadaan keluarga gadis itu. "Kami belum pernah pacaran. Maunya langsung nikah saja. Keluarganya ada di Sumatera."
__ADS_1
"Apa? Kenapa Kamu mencari orang jauh seperti itu? Seperti tak ada wanita lain saja di sekitar ini? Tidak boleh!"