CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER

CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER
51. Hukuman


__ADS_3

"APAAAAAA?"


Devan menjauhkan telepon genggam tersebut dari telinganya. "Kenapa histeris kali Boss? Apa Anda mengenalnya?"


"Kamu jangan main-main! Masa dia yang jadi hacker? Dia saja tak memiliki laptop," bentak Reza.


"Kenapa Anda yakin dia tidak memiliki laptop? Bisa jadi dia memiliki satu unit PC juga, atau kemungkinan-kemungkinan yang lain."


Reza merenungkan apa yang telah yang disampaikan oleh detektif barusan. Dalam pikirannya teringat semua kelakuan gadis itu yang tak ada bedanya seperti gadis biasa.


"Ini tidak bisa dibiarkan!"


Reza mengotak-atik ponselnya. Menghubungi seseorang yang dia kenal. "Saya membutuhkan bantuan kalian."


"Woooaahh, big boss ... Tumben sekali menghubungi kami. Bantuan apa gerangan Boss?"


"Menangkap seorang cewek!"


"Baik, Boss! Kirimkan saja foto dan datanya. Kami pastikan malam ini juga dia akan kami bawa."


Panggilan ditutup, dan Reza merenungkan semua kejadian yang telah dia alami. Termasuk menangkap gadis itu saat menyusup di kantornya. Dia teringat, sempat memeluknya sejenak. Memperhatikan kedua tangannya yang hanya sekejap mendekap gadis itu.


Apa yang gue pikirkan? Dia itu penjahat! Gue harus memberinya pelajaran! Jangan-jangan dia sengaja menyisipkan kekasihnya itu untuk menghancurkan perusahaan yang gue dirikan? Hmmm, tak gue sangka dia selicik itu.


Reza menekan panggilan cepat, yang langsung tertuju pada Abizar. "Zar, segera ke ruang kerja saya!"


"Baik, Boss."Tak lama Abizar mengetuk pintu ruang kerja Reza.


"Masuk!" titah Reza.


"Ada apa Boss? Kenapa wajah Anda terlihat sangat serius?"


Reza masih memikirkan hal yang menurutnya sangat tidak masuk akal. Sehingga dia tidak bisa menceritakan hal tersebut kepada Abizar. "Bagaimana kabar salah satu dari tim protektor yang bernama Aksara itu?"


"Ya, setelah kekalahan tadi malam, belum ada kontak dari dia lagi Boss. Mungkin masih sibuk dengan ujian di kampusnya."


Bullshit, dia pasti sengaja menghilang.


"Kenapa Boss?" tanya Abizar terheran melihat raut wajah Reza yang semraut.


"Oh, enggak. Hanya saja saya memikirkan bagaimana nasib seluruh karyawan jika perusahaan kita hancur jika selalu diserang seperti ini."


Abizar mendekat ke sisi Reza. Menepuk-nepuk bahu Reza sebagai tanda prihatin atas apa yang dikhawatirkan oleh sahabatnya ini. "Semoga detektif itu segera menemukan siapa pelaku di balik ini semua."


Reza menatap Abizar dengan nanar, dia hanya bisa menggelengkan kepala. Masih merasa tak percaya atas segala hal yang baru saja dia dapatkan. Gadis itu, perempuan yang diam-diam menyisip di dalam hatinya.


Kenapa harus dia?


Tiba-tiba Reza menggaruk kepalanya dengan kasar. "Aaagghhh..."


"Sabar Boss! Sabar! Siapa sabar p*ntatny lebar!" canda Abizar berusaha menurunkan suasana hati Reza yang tengah membara.


Reza mendelik menatap Abizar dengan tajam. "Nanti setelah Aksa menghubungimu, segera hubungi saya. Saya ingin bicara dengannya langsung."


"Waah, jadi sekarang bukan saya lagi CEO nya Boss?" Abizar membesarkan mata. Memikirkan apa yang membuat Boss konyolnya ini tiba-tiba menjadi serius.


"Apa saya terlihat sedang bercanda?" Reza menyandarkan tubuhnya pada kursi kerjanya. Menatap Abizar dengan tatapan tajam. "Kamu boleh pergi!"


Abizar menelan salivanya karena merasa sangat tegang. "Ba-baik Boss!" Abizar melangkah dengan cepat meninggalkan ruangan itu. Abizar sedikit menelengkan kepala melirik kembali ke arah pintu, membayangkan sesuatu yang ada di balik pintu tersebut.


"Ada apa dengannya?" Abizar menggeleng sejenak lalu kembali ke ruang kerjanya.

__ADS_1


💖


💖


💖


Hari ini ada empat mata kuliah yang diuji. Dia pulang dari kampus menjelang malam. Mata ujian terakhir tidak diambil bareng dengan Stella. Stella sudah pulang duluan. Temannya itu hanya menjalani tiga ujian hari ini.


Sebelum pulang ke rumah indekos, Aura berencana ingin membeli nasi untuk makan malamnya. Dia ingin membeli nasi padang, dengan porsi yang luar biasa. Perutnya terasa sangat lapar, dan dia sangat merindukan makanan khas kampung halamannya itu.


Saat perjalanan menuju warung nasi padang, ada panggilan telepon dari sang ayah. Aura segera menjawab panggilan tersebut. "Halo Yah."


"Halo Ra, Kamu baik-baik saja kan? Ibumu mengatakan pada Ayah, bahwa dia merasakan sesuatu yang tidak enak. Ibumu takut Kamu sesuatu buruk terjadi padamu."


"Aura tidak apa-apa Yah. Semua aman terkendali." Aura merasa ada yang mengikutinya. Mengedarkan pandangannya pada seluruh sisi tempat itu.


"Sekarang Kamu lagi apa?"


"Aku lagi beli di luar, Yah. Baru pulang ujian. Mau mencari makan dulu sebelum kembali ke kosan."


"Ooh, Kamu masih di luar? Kalau begitu hati-hati ya? Nanti kita lanjutkan kembali."


"Baik Yah." Panggilan ditutup. Batinnya merasakan ada yang tengah memperhatikannya. Netranya kembali liar menoleh ke segala sisi.


Aura berjalan langkah demi langkah untuk memastikan ada orang yang mengikutinya. Dari arah belakang, terdengar langkah beberapa orang yang mengikuti. Aura berhenti dan kembali melihat ke belakang, tetapi tak ada satu pun yang terlihat.


Aura kembali melangkahkan kakinya. Terdengar kembali suara langkah kaki yang mengikuti. Aura mempercepat langkahnya, terdengar suara langkah semakin cepat juga mengikutinya.


Akhirnya Aura berlari, yang mengikuti juga berlari mengejarnya. Aura mempercepat lari melihat tiang listri dan menyangkutkan kedua tangannya pada tiang listrik tersebut. Membuat tubuhnya terangkat berputar 180 derjat menghadap para algojo tadi yang mengikutinya diam-diam.


Aura menepuk telapak tangannya, menghadang orang-orang tersebut. Menatap mereka satu per satu, berdiri dengan tubuh ancang-ancang bersiap menghajar.


"Kenapa kalian mengikuti saya?"


"Kalau saya tidak mau?" Aura mengencangkan kuda-kudanya, bersiap melawan orang-orang tersebut yang mulai mencoba menangkapnya.


Aura mengeluarkan kemampuan pencak silat yang masih minim itu. Mulai berlari dan menumpukan kedua tangannya pada tanah dan terdengar suara tumburan kaki Aura dan tubuh algojo tersebut bertumbur.


...duugh...


Sang algojo mundur beberapa langkah, tetapi maju kembali. Mencoba meraih tubuh Aura yang terus mengelak. Algojo yang lain juga mencoba menangkap Aura, namun ditangkis oleh pukulan gadis itu. Tubuh tambun para algojo, tak membuat Aura gentar sedikit pun.


Salah satu algojo mencoba memukul Aura, dengan tangkas Aura menangkis dengan tangan kecil miliknya. Tak sengaja savety detector yang diberi oleh Aksa dulu, ikut tertekan. Hal itu membuat pasangan benda itu yang berada di tangan Aksa, bereaksi. Hal ini membuat cowok itu menjadi waswas.


Apa yang terjadi? batin Aksa.


Aksa mencoba menghubungi Aura, tetapi tak ada jawaban juga. Panggilan diulangnya hingga tiga kali, namun tanpa jawaban sama sekali. Lalu Aksa segera menghubungi Stella, satu-satunya orang yang dikenalnya sebagai sahabat kekasihnya.


Aura masih berjibaku melawan para algojo. Akhirnya dia memilih melarikan diri kembali. Tenaganya semakin terkuras habis. Dia berlari dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki.


Akhirnya dia merasa kehabisan tenaga. "Hah-hah-hah …." Aura mulai terengah. Dia berlari, mencoba bersembunyi dari kejaran algojo tersebut, yang merupakan suruhan dari Reza Firto Adijaya.


Aura bersembunyi di balik bak sampah yang sangat bau. Dia menahan rasa mual karena bau sampah yang sangat busuk. Akhirnya dia tidak tahan dengan aroma menyengat itu, Aura berencana beralih posisi. Namun nahas, Algojo tersebut tepat berada di hadapannya.


"Hallo Nona Hacker, akhirnya kami menemukanmu! Mau melawan atau lari lagi?"


Aura mencoba memberi perlawanan, tetapi dia benar-benar kehabisan tenaga. Setiap perlawanan yang diberikannya, hanya bagai gelitikan bagi para algojo tersebut. Hingga Aura benar-benar kehabisan tenaga. Nafasnya terengah.


Aura tertangkap, gadis itu masih mencoba memberontak, "Tooloong!" pekiknya dengan sisa tenaga yang ada.


Namun, dia dibekap dengan sapu tangan yang telah dibubuhi obat bius. Kepalanya mulai merasakan pening yang luar biasa.

__ADS_1


"Lepas!" Teriaknya terus meronta.


Beberapa algojo mulai memegangi kedua tangannya. Aura dibuat bertekuk lutut. Beberapa waktu Aura merasa tubuhnya mulai merasa mengambang dan persendiannya mulai terasa kebas.


Matanya mulai berat, lama-lama mulai tidak sadarkan diri. Aura diangkat, dimasukkan ke dalam sebuah mini bus, lalu dibawa ke mansion milik Reza. Seperti yang telah diperintahkan sebelumnya.


💖


Reza mendapati Aura yang tengah dibopong oleh orang-orang suruhannya. Pria itu mendekat, tetapi wajahnya mengernyit. Indera penciumannya mengendus bau yang tidak sedap dari gadis itu. Dia mundur menutup hidungnya.


"Apa yang terjadi padanya?"


"Tadinya dia mencoba melawan Boss, tapi tetap gak bisa dong. Kami laki, ada empat orang. Dia perempuan, cuma sendirian. Tentu kami yang menang," jelas sang ketua.


"Bukan itu! Kenapa dia bau sekali?"


Para algojo saling lirik dan terkekeh. "Dia sembunyi di balik bak sampah, Boss. Ya aroma sampah itu ikut melekat."


Reza melirik gadis yang tertidur dengan pulas itu. Meraih dagunya, sembari mengembangkan senyum kecut.


Kamu terlalu berani bermain denganku Bocah! Kau akan menerima ganjaran atas segala yang Kau lakukan padaku!


Lalu Reza meminta orang suruhannya itu meletakan Aura di kamarnya.


"Mau diapain Boss?" Mereka tersenyum mengira-ngira sesuatu yang panas akan dilakukan oleh pria ini.


"Saya ingin menghukumnya!"


Algojo meletakan Aura di atas tempat tidur yang besar milik Reza. Mengingat Aura baru saja dari tempat sampah, membuatnya menjadi merasa jijik. Reza menyuruh asisten rumahnya untuk mengganti pakaian milik Aura.


"Ini pacar Tuan Muda?" tanya wanita separuh baya yang sudah menemaninya tinggal sejak beberapa tahun terakhir.


"Bukan, tapi dia akan kujadikan istri!"


"Waah, tiba-tiba udah mau nikah aja? Terus ganti dengan baju apa?" tanya asisten tersebut.


"Dengan pakaian yang ada di dalam lemari sana!" Menunjuk lemari yang sudah lengkap dengan isinya. Serangkaian lingerie yang dia siapkan untuk calon istrinya nanti.


💖


💖


Aura tersadar dari obat bius yang membuatnya tidur semalaman. Dia terbangun di atas sebuah tempat tidur dan mendapati tubuhnya telah mengenakan busana yang sangat minim.


"Bajuku, bajuku, bajuku?" Dia menjerit mendapati pakaiannya telah diganti oleh seseorang.


"Siapa keparat yang berani menukar pakaianku?" jeritnya.


Lalu terdengar suara dari luar. Sebuah suara yang menandakan kunci pintu itu tengah dibuka oleh seseorang dari luar. Terlihat seorang pria, yang hanya menggunakan handuk, menatap Aura dengan nanar.


"Kau akan menyesali semua yang telah kau lakukan kepadaku Nona Mie Instan--tepatnya Nona Hacker!"




Pertemuan pertama, ia di cela tapi pertemuan kedua ... ia di cari. Maysaroh Safir, anak seorang pedagang lontong sayur keliling. Tanpa sengaja, gerobak ayahnya menyenggol mobil mewah seorang CEO. Saat bertemu lagi untuk kedua kalinya dengan pria itu, ia menyelamatkan nyawanya. Pria itu kemudian mencarinya dan menjadikannya bodyguard. Petualangan pun di mulai hingga tanpa di sadari tumbuh bunga-bunga cinta di antara mereka.


...*bersambung*...


...Jangan lupa menekan tanda Favorit, Like, Gift, Vote, dan Komentar ya!...

__ADS_1


...Terima kasih!...


__ADS_2